Senin, 08 September 2014

Chapter 9: Royal eye

Tidak seperti hari biasanya, siang itu lebih banyak awan memenuhi langit, mempersusah usaha matahari untuk menghangatkan padang rumput jauh di bawah sana. Di tengah-tengah padang rumput itu, sebuah jalan setapak membelahnya. Jalan yang cukup luas untuk dilewati kereta kuda itu berakhir di sebuah bangunan pertahanan yang megah dan kokoh. Tembok luarnya terbuat dari batu berdiri tinggi menantang para penyerang. Dua buah daun pintu raksasa yang digunakan untuk keluar masuk saat ini tertutup rapat. Di balik tembok pertama itu ada sebuah lapangan untuk apel prajurit dan lokasi bertarung pertama ketika ada musuh menyerang. Setelah itu tembok kedua benteng memisahkan lapangan apel dengan bagian terdalam benteng, dimana sebuah menara tunggal menjulang tinggi di sana, tempat jenderal benteng itu memberi perintahnya. Dari kejauhan, benteng itu terlihat bagai lawan yang tangguh bagi penyerang.



Dua orang prajurit sedang berjaga di lengkungan di atas pintu masuk benteng, tiba-tiba saja salah satu dari mereka menunjuk ke sesuatu di jalan setapak, dimana tiga orang pria berdiri di sana. Salah seorang dari mereka tinggi besar dengan rambut pirang yang dicukur pendek. Ia mengenakan jubah yang menjuntai sampai ke mata kakinya. Seorang lagi wajahnya tertutup perban seluruhnya hingga hanya kedua matanya yang terlihat. Perban itu dipenuhi oleh tulisan-tulisan dalam bahasa yang tidak bisa dimengerti. Pria itu mengenakan pakaian lengan panjang dengan lengan baju yang membesar di pergelangan tangan, membuat pakaiannya terlihat sedikit kedodoran. Seorang lagi tingginya tidak berbeda dengan pria yang diperban, rambutnya hitam pendek tapi masih lebih panjang dari pria berbadan besar itu. Baju yang ia kenakan terlihat mewah dengan tunik berwarna hijau.



"Itu dia Benteng Galtar, aku merasa bersemangat sekali." ujar yang berbadan besar.

"Tenanglah Jack" sahut yang berperban, "Biarkan Zivon maju dulu."

"Aku mengerti Dagarath." balas Jack.

"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu." ujar Zivon. Tak lama kemudian tubuh Zivon memudar, hingga transparan, hingga kemudian menghilang.

Segera sesudah Zivon menghilang, Jack dan Dagarath berlari menuju pintu Benteng Galtar, sebuah tindakan yang membuat para penjaga gerbang membunyikan terompet tanduk pertanda bahaya.

"Akan kuhancurkan gerbang kayu itu!" seru Jack.

"Tahan dulu Jack, gerbang itu merupakan jalan keluar masuk gerbang, titik terlemah dibandingkan tembok batunya. Aku rasa gerbang itu dimantrai dengan sihir pelindung, biar aku duluan yang menyerang. Sihirku bisa menihilkan efek seperti itu." sahut Dagarath.

Dagarath mengayunkan tangannya, lalu setengah lusin kertas persegi empat melesat keluar dari lengan bajunya yang kedodoroan, masing-masing kertas dengan tulisan aneh dalam bahasa yang tidak dimengerti.

Dengan ajaib, kertas-kertas itu menempel di pintu gerbang bagai memiliki perekat. Pada saat itu, huruf-huruf aneh di kertas-kertas itu menyala merah terang.

"Hancurlah!" seru Dagarath. Seakan mendengarkan komandonya, kertas-kertas itu meledak bersamaan dan menghancurkan pintu gerbang. Jack dan Dagarath masuk melalui gerbang yang kini menganga.

Di balik tembok pertama, mereka berdua disambut oleh ratusan prajurit dengan tongkat sihir teracung.

Chapter 8: A blooming flower

Cahaya bulan membelah awan di langit, menerangi sebagian bumi dengan cahaya redupnya. Serangga malam berbunyi di beberapa sudut hutan, meramaikan suasana malam yang sunyi, selain suara serangga-serangga itu yang terdengar hanyalah bunyi burung hantu di kejauhan.

Cahaya bulan menyinari seorang pria yang sedang duduk di atas sebongkah batu Rambut putih pendeknya tidak sesuai dengan wajahnya yang masih muda. Pandangan matanya bersinar lebih terang dari cahaya rembulan, memancarkan keteguhan hati dan tekad yang luar biasa. Jubah hitamnya tidak membantu memantulkan sinar bulan. Wajah tampannya menambah daya tarik dari tubuhnya yang atletis.

Ia dikelilingi beberapa orang, yang keseluruhan sosoknya tertutup bayangan ranting, dahan, dan pepohonan sehingga tidak jelas rupanya. Ada yang tinggi besar, ada yang lebih pendek, salah seorang jelas berambut panjang.

"Kita akan mulai mengambil kembali harta-harta purbakala. Lokasi harta purbakala yang pertama sudah diketahui." ujar pria itu, suaranya benar-benar penuh karisma, suara seorang pemimpin.

"Akhirnya, dimana?" balas salah seorang dari pengikutnya. Suaranya berat dan menakutkan.

"Benteng Galtar." jawab si pemimpin, "Yang menjaganya adalah seorang jenderal sihir bernama Sagas. Harta purbakala itu disimpan dalam ruangan tersegel di bawah tanah benteng, karena itu Zivon kau akan pergi, kalau kau pasti bisa membuka segel seperti apapun."

"Bagaimana dengan jenderal itu?" tanya yang dipanggil Zivon, "Aku tidak bisa melawannya dan mencuri harta purbakala bersamaan."

Si pemimpin itu menoleh ke yang berbadan tinggi besar lalu berkata, "Kau ikut, Jack. Buat jenderal itu sibuk, dan kalau bisa bunuh dia juga."

"Apa maksudmu 'kalau bisa'? Apa kau meremehkan kemampuanku?" balas Jack dengan suaranya yang berat.

"Aku juga ikut, aku juga ingin bersenang-senang." ujar salah seorang dari mereka.

"Baiklah Dagarath, kau boleh ikut kalau mau. Sisanya diam di sini, kita akan tunggu kepulangan mereka bertiga."



Langit siang itu cerah tak berawan. Menghangatkan bumi dan memanasi empat orang anggota guild yang sedang mengerjakan misi mereka. Ray, Ruby, Elise dan Raisha sedang berada di sebuah bukit agak jauh di luar Recht, di arah yang berlawanan dengan hutan tempat mereka kemping sebelumnya. Ray dan Ruby memimpin jalan, Raisha hanya beberapa langkah di belakang mereka, Elise seperti biasa berjalan sambil memeluk lengan Raisha erat.

"Jadi bunga apa yang kita cari tadi? Aku lupa." tanya Ray pada teman-temannya.

"Bunga Laura Biru." jawab Ruby, "Bunga langka yang hanya mekar dua kali dalam setahun. Bunga itu tumbuh di puncak bukit ini, atau mungkin di tempat lain di bukit ini, aku tidak yakin. Yang pasti kita harus menemukannya dan membawanya ke klien kita, karena dia tidak bisa pergi sendiri karena kakinya patah."

"Klien kita akan memberikan bunga itu untuk istrinya sebagai hadiah peringatan ulang tahun mereka yang ke-25, romantis kan?" ujar Raisha dengan penuh semangat, "Karena itu kita harus bisa menemukannya."

"Tapi itu bunga langka kan? Apalagi dia cuma mekar dua kali dalam setahun, apa kita bisa menemukannya?"

"Kata-kata kak Ray terdengar seperti kata-kata Kak Edge." balas Raisha

"Pasti bisa kok, klien kita sendiri bilang dia memetik bunga itu di sekitar bulan ini 25 tahun yang lalu sewaktu dia melamar istrinya." ujar Ruby, yang disambut teriakan bersemangat dari para gadis sewaktu mendengar kata 'melamar'.

"Lamaran ya? Kira-kira kapan ya akan datang orang yang akan melamarku?" tanya Ruby, wajahnya sedikit memerah dan matanya menerawang, mengimajinasikan masa depannya. Raisha dan Elise tersenyum lebar mendengarnya, sementara Ray hanya bereaksi aneh.

"Ray? Apa kau sedang menahan tawamu?" pertanyaan Ruby disertai dengan hawa membunuh.

"Tihihidak kok... ubh."

Ruby membuat pedang air, menodongkannya ke punggung Ray, lalu mengulangi pertanyaannya, "Apa kau sedang menahan tawamu?" hawa membunuh itu semakin besar.

"Aku merasa nyawaku terancam, tidak peduli aku menjawab pertanyaanmu atau tidak."

"Benar sekali, nyawamu memang sedang terancam sekarang, jadi kusarankan kau jangan menambah ancaman yang sudah mengancam nyawamu sekarang. Jalan saja dan jangan banyak bicara."

"Siap nona."

Dan mereka pun melanjutkan perjalanan dengan Ruby menodongkan pedang ke Ray

"Omong-omong, kenapa Edge dan Lilly tidak ikut kita?" tanya Ruby.

"Oh, Kak Lilly perutnya sedang sakit jadi dia tidak ikut, dia bilang dia tidak mood melakukan apa-apa. Kalau Kak Edge sih, dia bilang dia tidak mau ikut." jawab Raisha, "Menurutku sih, Kak Edge tidak ikut karena Kak Lilly juga tidak ikut. Mereka kan selalu bersama."

"Apa ada hubungan khusus antara Edge dan Lilly?" tanya Ruby, dari nada bicaranya dia terdengar bersemangat.

"Aku sih tidak yakin soal perasaan Kak Lilly, tapi kelihatannya Kak Edge menyukai Kak Lilly."

"Begitu... kita harus tanya Lilly kalau ada kesempatan." lanjut Ruby dengan semangat yang sama.


Minggu, 07 September 2014

Chapter 7: Camping

Langit biru siang hari ini terlihat membosankan hanya dengan beberapa awan yang berarak di sana. Membuat matahari dapat dengan bebasnya menyinari kerajaan Arkascha. Ray memandangi langit ini melalui jendela di sebuah rumah sakit di Recht. Beberapa bagian tubuhnya dibalut perban putih, dia kini berbaring di tempat tidur dalam sebuah ruangan bersama dengan Edge, Lilly, dan Ruby yang kondisi mereka tidak jauh berbeda. Kupu-kupu terbang masuk dari jendela itu, lalu hinggap di salah satu bunga di kamar itu.

"Jadi? Bagaimana kesan kalian dengan misi bersama kita yang pertama?" tanya Lilly tiba-tiba.

"Menyakitkan." sahut Edge.

"Oh? Kenapa dengan nada bicaramu itu Edge? Kau mau kubuat lebih sakit lagi dari kondisimu sekarang?" balas Lilly.

"Tapi musuh kita itu memang benar-benar kuat, dia bahkan bisa mengalahkan kita berempat sendirian." ujar Ruby.

"Yang kudengar, sihir tipe shapeshift adalah sihir yang paling susah untuk dikuasai, tapi begitu berhasil dikuasai, itu adalah salah satu sihir terkuat yang pernah ada." kali ini Ray yang berbicara.

"Yeah... maaf ya, aku tidak menduga kita akan berurusan dengan shapeshift." ujar Lilly.

"Tapi coba lihat sisi positifnya, ini berarti kita semua cukup kuat untuk berhadapan dengan salah satu sihir terkuat kan?" kata Ray dengan intonasi yang optimis. Kata-kata itu disambut dengan senyum oleh semua yang ada di dalam kamar.

"Positif sekali dirimu." timbrung Edge



Mereka berempat terkejut oleh suara pintu yang diketuk dua kali, ketika pintu terbuka, Raisha dan Elise melangkah masuk.

"Hi semua! Bagaimana kabar kalian?" tanya Raisha lengkap dengan nada cerianya.

"Sakit. Bagaimana lagi." sahut Edge.

"Edge! Jangan menjawabnya seperti itu." bentak Ruby.

"Ah haha. Tidak apa-apa kok, kak Edge memang selalu seperti itu. Ini, kami berdua punya oleh-oleh untuk kalian semua." Raisha mengakhiri kalimatnya dengan mengacungkan sekeranjang penuh buah-buahan.

"Berdua?" tanya Ray. Seusai menanyakannya, dia mengintip sedikit ke balik Raisha, dan memang benar Raisha tidak sendirian. Sahabatnya yang berambut hitam panjang, bersembunyi di baliknya, semakin mundur ke balik Raisha saat dipandang Ray.

"Kau menakutinya Ray." ujar Ruby.

"Ah, tidak... a-aku tidak bermaksud..."

"Tenanglah Elise, tidak apa-apa, tidak perlu takut." Raisha berusaha menenangkan Elise. Ia lalu menaruh keranjang itu di meja di samping Lilly.

"Kak Lilly, siapa yang kakak lawan di misi terakhir ini? Tidak biasanya kakak bisa terluka sampai separah ini." tanya Raisha, memulai pembicaraan terhadap Lilly

"Oh, kami melawan seorang penyihir shapeshift. Ia benar-benar kuat, baru pertama kali aku melawan orang seperti dia."

"Shapeshift?" ujar Raisha, yang kelihatannya lebih karena reflek. Dia melirik ke Elise di sampingnya, Elise memeluk lengan Raisha lebih erat.

"Tapi kakak berhasil mengalahkannya kan? Kakak hebat!" puji Raisha.

"Yeah, tapi kita semua dihajarnya sampai babak belur. Kekuatan shapeshift itu luar biasa." sahut Edge.

Elise memeluk lengan Raisha lebih erat.

"Ah, kenapa tidak kalian coba buah-buahan ini? Kami membawanya tidak untuk jadi pajangan lho." setelah mengucapkannya, Raisha membagikan buah itu ke setiap orang terluka di sana.

"Bagaimana rasanya?"

"Manis." jawab Ruby

"Benar." sambung Ray.

"Aku senang kalian menyukainya." ujar Raisha sambil tersenyum senang.

Raisha berpaling ke Lilly sebelum berkata, "Omong-omong kak Lilly, kau mau pergi ke suatu tempat sesudah ini? Sesudah kakak sembuh maksudku."

"Eh? Entahlah, tapi kenapa kau menanyakannya?"

"Oh, aku hanya mengira kakak butuh refreshing setelah misi yang berat ini untuk menyegarkan pikiran. Bagaimana?" dia menoleh ke yang lainnya di ruangan itu sebelum melanjutkan, "Tentu saja, kalau kalian mau ikut, aku tidak keberatan."

"Jadi? Bagaimana?" Lilly menanyakan pertanyaan ini ke rekan-rekan setimnya

"Aku sih tidak keberatan." jawab Ruby

"Aku sih ikut saja." kali ini Edge yang menjawab

"Aku juga ikut, aku kira kita semua butuh istirahat sesudah misi yang kita jalani." ujar Ray.

"Baiklah, kita semua sudah sepakat." kata Lilly.

"Tapi... kemana?" untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan, Elise berbicara.

Raisha memejamkan mata sambil menyentuh pipi dengan jarinya, setelah beberapa menit, dia punya jawabannya

"Bagaimana kalau di hutan di luar kota? Ada tempat yang bagus untuk kemping di sana. Aku dan Elise sudah pernah ke sana sebelumnya."

"Maksudmu... yang di... tepi sungai?" tanya Elise.

"Iya. Bagaimana?" pertanyaan Raisha lebih diarahkan untuk keempat orang terluka di ruangan itu.

"Oke." Lilly menjawab.


Chapter 6: One tough opponent

Borus berdiri perlahan sambil mengamati lawan barunya.Lilly berdiri menantangnya di sisi Ruby yang terkapar di tanah. Rambut pirangnya yang indah berkibar-kibar tertiup angin.

"Ruby, kau diamlah di situ. Biar aku yang mengurus orang ini." ujar Lilly, tidak melepaskan pandangannya dari Borus.

Borus menggeram, lalu melesat menyerang Lilly. Lilly memainkan serulingnya, nada-nada yang indah memenuhi udara. Sesaat kemudian serangan-serangan tak kasat mata menghantam Borus.

Borus terdorong mundur, tapi masih bisa tersenyum setelah menerima serangan Lilly.

"Sudah kuduga, pertahanan shapeshift memang luar biasa."

Lilly berjalan menyamping, mencoba menjauhkan Ruby dari pertempuran, dia memainkan serulingnya sambil menggiring Borus ke tempat lain.

Strategi Lilly berhasil, mereka kini ada di tempat di mana Ruby pasti tidak akan terkena dampak pertarungan.

"Sudah puas? Kau tampaknya ingin sekali menjauhkan temanmu itu dari pertarungan kita." tanya Borus.

"Kau menyadarinya? Berarti kau sengaja ikut permainanku ya."

"Ya. Aku sudah tidak tertarik dengannya lagi, tapi aku lebih tertarik denganmu yang lebih tangguh."

"Baiklah kalau begitu, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengecewakanmu." sesudah mengucapkannya, Lilly memainkan serulingnya sekali lagi, serangan-serangan sihir yang tak terlihat menyobek udara, mengoyak tanah, dengan cepat dan tepat melesat menuju Borus.

Borus tidak sempat menghindar, dia menyilangkan tangan di depan dadanya untuk menahan serangan Lilly. Gelombang energi tercipta saat serangan Lilly mengenai sasaran, menerbangkan angin, debu, dan rerumputan. Setelah debunya mereda, Borus masih berdiri di tempatnya.

"Kau kuat juga ya." ujar Lilly.

"Menyerangnya dari dekat akan susah." pikir Borus, "Baiklah, akan kuikuti permainanmu bertarung dari jauh."

Borus membuka tangannya, dan membuat bola energi berwarna putih di telapak tangannya.

"Terima ini!" seru Borus sambil menembakkan bola energi itu. Melihat serangan itu, Lilly memainkan lagu untuk membuat perisai. Bola energi itu meledak ketika bertemu dengan perisai Lilly.

"Boleh juga kau!" seru Borus, setelah itu dia langsung menembakkan beberapa bola energi yang serupa ke arah Lilly.

Kaget dengan jumlah serangan itu, Lilly langsung memainkan melodi cepat. Jari jemarinya menari di atas serulingnya, membuat beberapa perisai sekaligus.

Beberapa ledakan energi meledak saat peluru-peluru itu mengenai perisai Lilly. Debu-debu beterbangan, tanah berlubang, beberapa pohon pun tumbang. Lilly terkapar beberapa meter dari lubang terdekat, tubuhnya terluka, darah mengalir keluar dari mulutnya.

Lilly mencoba untuk bangkit, saat melakukan itu, dia melihat musuhnya masih berdiri tegap di tempatnya, menyeringai mengejek.

Saat sudah berhasil berdiri, Lilly memainkan melodi dari serulingnya lagi. Sekali lagi, serangan serangan suara yang hanya bisa didengar itu melesat cepat menuju sasarannya. Borus tidak diam saja, dia kembali menembakkan bola-bola energinya. Kedua serangan itu meledak saat bertemu di udara. Tekanan energinya sampai membuat Lilly terpental ke belakang, Borus terdorong mundur satu langkah.

Chapter 5: The A level mission

Area melangkah masuk setelah dipersilahkan oleh Diaz.Raut wajahnya tidak terlihat terlalu gembira saat ia memasuki ruangan.Diaz mengesampingkan dokumen yang tadi di hadapannya. Lucia yang berdiri di samping meja utama menyambut Area.

"Selamat datang kembali Area, kami senang kau kembali dengan selamat. Mengingat misi yang kau terima sangatlah berbahaya."

"Yeah, mengintai segerombolan orang2 berbahaya tanpa ketahuan dan mencoba mengambil informasi penting dari mereka. Salah sedikit aku pasti sudah mati."

"Jadi? Aku asumsikan itu berarti misimu berhasi;?" tanya Diaz

"Tidak, sayang sekali aku gagal. Aku ketahuan oleh salah seorang dari mereka. Aku hampir mati tapi untungnya aku berhasil melarikan diri. Tapi lihatlah sisi baiknya, aku tidak kembali dengan tangan kosong. Aku bisa menguak sedikit informasi dari mereka." Area berdehem, membersihkan tenggorokannya sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Ekspresi wajah Diaz dan Lucia berubah serius, "Seperti yang sudah diperkirakan, guild mereka adalah kumpulan para kriminal dan buronan berbahaya level S. Aku melihat 4 orang anggota kelompok mereka, tapi dari yang kudengar, jumlah mereka lebih banyak dari itu. Mereka menyebut guild mereka sendiri dengan White Moon."

"Begitu... apa lagi yang kau dapat?" tanya Diaz

"Sebelum aku ketahuan, aku sempat mendengar bahwa mereka mencari 'Harta Purbakala', artifak2 dalam legenda, walaupun aku belum sempat mencari tahu untuk apa mereka mencari Harta Purbakala itu."

Diaz terdiam, Lucia pun tak berkata apa-apa. Tapi dari suasananya, Area bisa menebak bahwa dia baru saja memberitahu sesuatu yang sangat penting, atau berbahaya, atau malah gabungan dari keduanya.

"Kau tahu apa fungsi dari Harta Purbakala?" sekali lagi, Diaz mengajukan pertanyaan pada Area.

Area terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat lagi tentang legenda Harta Purbakala, sebelum akhirnya dia menjawab.

"Menurut legenda, Harta Purbakala akan membuka kunci menuju kerajaan yang hilang, Astelaath. Astelaath, kerajaan besar yang dulu pernah berjaya di Benua Dorton ini, menghilang secara misterius ratusan tahun lalu. Tidak ada yang pernah tahu apa penyebabnya, tapi kalau seseorang berhasil menemukan kesemua Harta Purbakala, maka dia bisa membuka kembali Astelaath."

Diaz menganguk-angguk mendengar penjelasan Area, jelas jawaban itu memuaskannya.

"Kau tahu Area? Ada alasannya mengapa ada guild kita dan Gold Hawk didirikan di kota ini."

Area tidak bisa menjawab, tapi ekspresi wajahnya tidak mengagetkan Diaz sama sekali.

"Dua guild ini didirikan dengan menanggung satu rahasia, satu tanggung jawab besar. Apa yang akan aku beritahu padamu adalah rahasia besar, kau harus menjaganya seakan-akan itu adalah nyawamu yang kedua. Area Spires, apakah kau sanggung membawa rahasia itu di pundakmu?"



Matahari bersinar cerah di atas kepala mereka berempat. Awan-awan berarak tinggi di angkasa, angin yang lembut menyapu wajah mereka. Sudah beberapa hari berlalu sejak mereka memutuskan untuk mengambil misi bersama. Ray, Ruby, Lilly, dan Edge kini berada di mulut sebuah hutan lebat di ujung timur kerajaan Arkascha. Padang rumput yang luas di belakang mereka, pepohonan yang tinggi menjulang di hadapan mereka.

"Jadi... di sini kah?" tanya Edge.

"Ya." jawab Lilly yakin, "Buron itu berhasil kabur saat sedang dibawa menuju kota penjara Il Janra di selatan kita, kalau dia lari menuju selatan itu sama saja menyerahkan diri. Kota-kota lain di selatan adalah kota pelabuhan, dia bisa saja pergi ke sana tapi pelabuhan pasti dijaga ketat oleh para prajurit. Jadi satu-satunya tempat lari adalah hutan ini. Hutan luas yang karena luasnya, ujung timurnya bahkan belum terpetakan."

"Tapi bisa saja kan dia lari ke utara? Ada beberapa desa ke sana." sahut Edge sambil melirik ke arah yang dia maksud.

"Tapi tetap saja bukan tempat persembunyian yang bagus, lokasi desa-desa itu terlalu terbuka, dia bisa ketahuan kalau pergi ke sana. Kalau pergi ke hutan dia bisa bersembunyi dan sekaligus mendapatkan bahan makanan selama menghilang."

"Oke! Jadi dia di sini ya? Mari kita tangkap dia!" seru Ray.

"Kau membuatnya terkesan mudah saja." balas Edge.

"Oh? Aku tidak tahu kalau ada orang juga di sini?" ujar sebuah suara dari belakang mereka.

Saat mereka menoleh mereka melihat seorang laki-laki dan perempuan berjalan menghampiri mereka.

Rambut hitam panjang si perempuan berkibar-kibar ditiup angin. Matanya yang biru memancarkan kedamaian, kulitnya yang putih bagaikan memantulkan cahaya matahari.

Si laki-laki berjalan sedikit di belakangnya. Wajahnya datar, tidak terlihat ekspresi apapun di sana selain tanda kemudaannya. Mata hitamnya mematahkan segala upaya siapapun yang mencoba membaca pikirannya.

"Boleh aku tanya siapa kalian dan sedang apa kalian di sini?" tanya perempuan itu sekali lagi.

"Bisa beritau aku kenapa aku harus memberitahu kalian?"
"Edge!" bentak Lilly.

"Maafkan dia. Kami dari Silver Line, namaku Lilly, anak kurang ajar ini Edge, ini Ruby, dan dia Ray. Kami sedang menjalankan misi kami di sini."

"Namaku Eleanor Davre, dan dia Fabio Rolendis. Kami dari Gold Hawk dan kebetulan kami juga sedang melakukan misi di sini."

"Benarkah? Aku penasaran... apakah mungkin misi kita sama?" tanya Ruby.

"Oh ya? Kami sedang memburu seseorang... ini dia." Eleanor menunjukkan sketsa wajah seseorang, yang dikenali oleh rombongan dari Silver Line

"Itu dia! Kami juga sedang mengejar orang itu!" ujar Ruby.

"Kalau kau juga datang kemari berarti kita memikirkan hal yang sama." kata Lilly.

"Jadi? Apa kita semua akan mencarinya bersama-sama?" usul Ray.

"Hah? Tapi kita dari guild yang berbeda." bantah Edge

"Benar... akan timbul masalah nanti kalau dua guild berbeda menyelesaikan satu misi yang sama... misalnya saja pembagian uang dan reputasinya jadi bagaimana kalau begini saja: siapa yang menemukan buron itu duluan, dia yang mendapat hadiahnya. Setuju kan? Kalau berkompetisi seperti ini jadinya makin menyenangkan." usul Eleanor.

Mereka berempat saling memandang satu sama lain, mencoba mencari kesepakatan visual di antara mereka.

"Aku tidak keberatan." ujar Edge

"Aku setuju." jawab Ruby

"Kedengarannya seru, aku setuju!" sahut Ray.

"Aku juga setuju." ujar Lilly

"Baiklah kalau begitu, ayo kita mulai!" seru Eleanor