Minggu, 07 September 2014

Chapter 7: Camping

Langit biru siang hari ini terlihat membosankan hanya dengan beberapa awan yang berarak di sana. Membuat matahari dapat dengan bebasnya menyinari kerajaan Arkascha. Ray memandangi langit ini melalui jendela di sebuah rumah sakit di Recht. Beberapa bagian tubuhnya dibalut perban putih, dia kini berbaring di tempat tidur dalam sebuah ruangan bersama dengan Edge, Lilly, dan Ruby yang kondisi mereka tidak jauh berbeda. Kupu-kupu terbang masuk dari jendela itu, lalu hinggap di salah satu bunga di kamar itu.

"Jadi? Bagaimana kesan kalian dengan misi bersama kita yang pertama?" tanya Lilly tiba-tiba.

"Menyakitkan." sahut Edge.

"Oh? Kenapa dengan nada bicaramu itu Edge? Kau mau kubuat lebih sakit lagi dari kondisimu sekarang?" balas Lilly.

"Tapi musuh kita itu memang benar-benar kuat, dia bahkan bisa mengalahkan kita berempat sendirian." ujar Ruby.

"Yang kudengar, sihir tipe shapeshift adalah sihir yang paling susah untuk dikuasai, tapi begitu berhasil dikuasai, itu adalah salah satu sihir terkuat yang pernah ada." kali ini Ray yang berbicara.

"Yeah... maaf ya, aku tidak menduga kita akan berurusan dengan shapeshift." ujar Lilly.

"Tapi coba lihat sisi positifnya, ini berarti kita semua cukup kuat untuk berhadapan dengan salah satu sihir terkuat kan?" kata Ray dengan intonasi yang optimis. Kata-kata itu disambut dengan senyum oleh semua yang ada di dalam kamar.

"Positif sekali dirimu." timbrung Edge



Mereka berempat terkejut oleh suara pintu yang diketuk dua kali, ketika pintu terbuka, Raisha dan Elise melangkah masuk.

"Hi semua! Bagaimana kabar kalian?" tanya Raisha lengkap dengan nada cerianya.

"Sakit. Bagaimana lagi." sahut Edge.

"Edge! Jangan menjawabnya seperti itu." bentak Ruby.

"Ah haha. Tidak apa-apa kok, kak Edge memang selalu seperti itu. Ini, kami berdua punya oleh-oleh untuk kalian semua." Raisha mengakhiri kalimatnya dengan mengacungkan sekeranjang penuh buah-buahan.

"Berdua?" tanya Ray. Seusai menanyakannya, dia mengintip sedikit ke balik Raisha, dan memang benar Raisha tidak sendirian. Sahabatnya yang berambut hitam panjang, bersembunyi di baliknya, semakin mundur ke balik Raisha saat dipandang Ray.

"Kau menakutinya Ray." ujar Ruby.

"Ah, tidak... a-aku tidak bermaksud..."

"Tenanglah Elise, tidak apa-apa, tidak perlu takut." Raisha berusaha menenangkan Elise. Ia lalu menaruh keranjang itu di meja di samping Lilly.

"Kak Lilly, siapa yang kakak lawan di misi terakhir ini? Tidak biasanya kakak bisa terluka sampai separah ini." tanya Raisha, memulai pembicaraan terhadap Lilly

"Oh, kami melawan seorang penyihir shapeshift. Ia benar-benar kuat, baru pertama kali aku melawan orang seperti dia."

"Shapeshift?" ujar Raisha, yang kelihatannya lebih karena reflek. Dia melirik ke Elise di sampingnya, Elise memeluk lengan Raisha lebih erat.

"Tapi kakak berhasil mengalahkannya kan? Kakak hebat!" puji Raisha.

"Yeah, tapi kita semua dihajarnya sampai babak belur. Kekuatan shapeshift itu luar biasa." sahut Edge.

Elise memeluk lengan Raisha lebih erat.

"Ah, kenapa tidak kalian coba buah-buahan ini? Kami membawanya tidak untuk jadi pajangan lho." setelah mengucapkannya, Raisha membagikan buah itu ke setiap orang terluka di sana.

"Bagaimana rasanya?"

"Manis." jawab Ruby

"Benar." sambung Ray.

"Aku senang kalian menyukainya." ujar Raisha sambil tersenyum senang.

Raisha berpaling ke Lilly sebelum berkata, "Omong-omong kak Lilly, kau mau pergi ke suatu tempat sesudah ini? Sesudah kakak sembuh maksudku."

"Eh? Entahlah, tapi kenapa kau menanyakannya?"

"Oh, aku hanya mengira kakak butuh refreshing setelah misi yang berat ini untuk menyegarkan pikiran. Bagaimana?" dia menoleh ke yang lainnya di ruangan itu sebelum melanjutkan, "Tentu saja, kalau kalian mau ikut, aku tidak keberatan."

"Jadi? Bagaimana?" Lilly menanyakan pertanyaan ini ke rekan-rekan setimnya

"Aku sih tidak keberatan." jawab Ruby

"Aku sih ikut saja." kali ini Edge yang menjawab

"Aku juga ikut, aku kira kita semua butuh istirahat sesudah misi yang kita jalani." ujar Ray.

"Baiklah, kita semua sudah sepakat." kata Lilly.

"Tapi... kemana?" untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan, Elise berbicara.

Raisha memejamkan mata sambil menyentuh pipi dengan jarinya, setelah beberapa menit, dia punya jawabannya

"Bagaimana kalau di hutan di luar kota? Ada tempat yang bagus untuk kemping di sana. Aku dan Elise sudah pernah ke sana sebelumnya."

"Maksudmu... yang di... tepi sungai?" tanya Elise.

"Iya. Bagaimana?" pertanyaan Raisha lebih diarahkan untuk keempat orang terluka di ruangan itu.

"Oke." Lilly menjawab.


Chapter 6: One tough opponent

Borus berdiri perlahan sambil mengamati lawan barunya.Lilly berdiri menantangnya di sisi Ruby yang terkapar di tanah. Rambut pirangnya yang indah berkibar-kibar tertiup angin.

"Ruby, kau diamlah di situ. Biar aku yang mengurus orang ini." ujar Lilly, tidak melepaskan pandangannya dari Borus.

Borus menggeram, lalu melesat menyerang Lilly. Lilly memainkan serulingnya, nada-nada yang indah memenuhi udara. Sesaat kemudian serangan-serangan tak kasat mata menghantam Borus.

Borus terdorong mundur, tapi masih bisa tersenyum setelah menerima serangan Lilly.

"Sudah kuduga, pertahanan shapeshift memang luar biasa."

Lilly berjalan menyamping, mencoba menjauhkan Ruby dari pertempuran, dia memainkan serulingnya sambil menggiring Borus ke tempat lain.

Strategi Lilly berhasil, mereka kini ada di tempat di mana Ruby pasti tidak akan terkena dampak pertarungan.

"Sudah puas? Kau tampaknya ingin sekali menjauhkan temanmu itu dari pertarungan kita." tanya Borus.

"Kau menyadarinya? Berarti kau sengaja ikut permainanku ya."

"Ya. Aku sudah tidak tertarik dengannya lagi, tapi aku lebih tertarik denganmu yang lebih tangguh."

"Baiklah kalau begitu, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengecewakanmu." sesudah mengucapkannya, Lilly memainkan serulingnya sekali lagi, serangan-serangan sihir yang tak terlihat menyobek udara, mengoyak tanah, dengan cepat dan tepat melesat menuju Borus.

Borus tidak sempat menghindar, dia menyilangkan tangan di depan dadanya untuk menahan serangan Lilly. Gelombang energi tercipta saat serangan Lilly mengenai sasaran, menerbangkan angin, debu, dan rerumputan. Setelah debunya mereda, Borus masih berdiri di tempatnya.

"Kau kuat juga ya." ujar Lilly.

"Menyerangnya dari dekat akan susah." pikir Borus, "Baiklah, akan kuikuti permainanmu bertarung dari jauh."

Borus membuka tangannya, dan membuat bola energi berwarna putih di telapak tangannya.

"Terima ini!" seru Borus sambil menembakkan bola energi itu. Melihat serangan itu, Lilly memainkan lagu untuk membuat perisai. Bola energi itu meledak ketika bertemu dengan perisai Lilly.

"Boleh juga kau!" seru Borus, setelah itu dia langsung menembakkan beberapa bola energi yang serupa ke arah Lilly.

Kaget dengan jumlah serangan itu, Lilly langsung memainkan melodi cepat. Jari jemarinya menari di atas serulingnya, membuat beberapa perisai sekaligus.

Beberapa ledakan energi meledak saat peluru-peluru itu mengenai perisai Lilly. Debu-debu beterbangan, tanah berlubang, beberapa pohon pun tumbang. Lilly terkapar beberapa meter dari lubang terdekat, tubuhnya terluka, darah mengalir keluar dari mulutnya.

Lilly mencoba untuk bangkit, saat melakukan itu, dia melihat musuhnya masih berdiri tegap di tempatnya, menyeringai mengejek.

Saat sudah berhasil berdiri, Lilly memainkan melodi dari serulingnya lagi. Sekali lagi, serangan serangan suara yang hanya bisa didengar itu melesat cepat menuju sasarannya. Borus tidak diam saja, dia kembali menembakkan bola-bola energinya. Kedua serangan itu meledak saat bertemu di udara. Tekanan energinya sampai membuat Lilly terpental ke belakang, Borus terdorong mundur satu langkah.

Chapter 5: The A level mission

Area melangkah masuk setelah dipersilahkan oleh Diaz.Raut wajahnya tidak terlihat terlalu gembira saat ia memasuki ruangan.Diaz mengesampingkan dokumen yang tadi di hadapannya. Lucia yang berdiri di samping meja utama menyambut Area.

"Selamat datang kembali Area, kami senang kau kembali dengan selamat. Mengingat misi yang kau terima sangatlah berbahaya."

"Yeah, mengintai segerombolan orang2 berbahaya tanpa ketahuan dan mencoba mengambil informasi penting dari mereka. Salah sedikit aku pasti sudah mati."

"Jadi? Aku asumsikan itu berarti misimu berhasi;?" tanya Diaz

"Tidak, sayang sekali aku gagal. Aku ketahuan oleh salah seorang dari mereka. Aku hampir mati tapi untungnya aku berhasil melarikan diri. Tapi lihatlah sisi baiknya, aku tidak kembali dengan tangan kosong. Aku bisa menguak sedikit informasi dari mereka." Area berdehem, membersihkan tenggorokannya sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Ekspresi wajah Diaz dan Lucia berubah serius, "Seperti yang sudah diperkirakan, guild mereka adalah kumpulan para kriminal dan buronan berbahaya level S. Aku melihat 4 orang anggota kelompok mereka, tapi dari yang kudengar, jumlah mereka lebih banyak dari itu. Mereka menyebut guild mereka sendiri dengan White Moon."

"Begitu... apa lagi yang kau dapat?" tanya Diaz

"Sebelum aku ketahuan, aku sempat mendengar bahwa mereka mencari 'Harta Purbakala', artifak2 dalam legenda, walaupun aku belum sempat mencari tahu untuk apa mereka mencari Harta Purbakala itu."

Diaz terdiam, Lucia pun tak berkata apa-apa. Tapi dari suasananya, Area bisa menebak bahwa dia baru saja memberitahu sesuatu yang sangat penting, atau berbahaya, atau malah gabungan dari keduanya.

"Kau tahu apa fungsi dari Harta Purbakala?" sekali lagi, Diaz mengajukan pertanyaan pada Area.

Area terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat lagi tentang legenda Harta Purbakala, sebelum akhirnya dia menjawab.

"Menurut legenda, Harta Purbakala akan membuka kunci menuju kerajaan yang hilang, Astelaath. Astelaath, kerajaan besar yang dulu pernah berjaya di Benua Dorton ini, menghilang secara misterius ratusan tahun lalu. Tidak ada yang pernah tahu apa penyebabnya, tapi kalau seseorang berhasil menemukan kesemua Harta Purbakala, maka dia bisa membuka kembali Astelaath."

Diaz menganguk-angguk mendengar penjelasan Area, jelas jawaban itu memuaskannya.

"Kau tahu Area? Ada alasannya mengapa ada guild kita dan Gold Hawk didirikan di kota ini."

Area tidak bisa menjawab, tapi ekspresi wajahnya tidak mengagetkan Diaz sama sekali.

"Dua guild ini didirikan dengan menanggung satu rahasia, satu tanggung jawab besar. Apa yang akan aku beritahu padamu adalah rahasia besar, kau harus menjaganya seakan-akan itu adalah nyawamu yang kedua. Area Spires, apakah kau sanggung membawa rahasia itu di pundakmu?"



Matahari bersinar cerah di atas kepala mereka berempat. Awan-awan berarak tinggi di angkasa, angin yang lembut menyapu wajah mereka. Sudah beberapa hari berlalu sejak mereka memutuskan untuk mengambil misi bersama. Ray, Ruby, Lilly, dan Edge kini berada di mulut sebuah hutan lebat di ujung timur kerajaan Arkascha. Padang rumput yang luas di belakang mereka, pepohonan yang tinggi menjulang di hadapan mereka.

"Jadi... di sini kah?" tanya Edge.

"Ya." jawab Lilly yakin, "Buron itu berhasil kabur saat sedang dibawa menuju kota penjara Il Janra di selatan kita, kalau dia lari menuju selatan itu sama saja menyerahkan diri. Kota-kota lain di selatan adalah kota pelabuhan, dia bisa saja pergi ke sana tapi pelabuhan pasti dijaga ketat oleh para prajurit. Jadi satu-satunya tempat lari adalah hutan ini. Hutan luas yang karena luasnya, ujung timurnya bahkan belum terpetakan."

"Tapi bisa saja kan dia lari ke utara? Ada beberapa desa ke sana." sahut Edge sambil melirik ke arah yang dia maksud.

"Tapi tetap saja bukan tempat persembunyian yang bagus, lokasi desa-desa itu terlalu terbuka, dia bisa ketahuan kalau pergi ke sana. Kalau pergi ke hutan dia bisa bersembunyi dan sekaligus mendapatkan bahan makanan selama menghilang."

"Oke! Jadi dia di sini ya? Mari kita tangkap dia!" seru Ray.

"Kau membuatnya terkesan mudah saja." balas Edge.

"Oh? Aku tidak tahu kalau ada orang juga di sini?" ujar sebuah suara dari belakang mereka.

Saat mereka menoleh mereka melihat seorang laki-laki dan perempuan berjalan menghampiri mereka.

Rambut hitam panjang si perempuan berkibar-kibar ditiup angin. Matanya yang biru memancarkan kedamaian, kulitnya yang putih bagaikan memantulkan cahaya matahari.

Si laki-laki berjalan sedikit di belakangnya. Wajahnya datar, tidak terlihat ekspresi apapun di sana selain tanda kemudaannya. Mata hitamnya mematahkan segala upaya siapapun yang mencoba membaca pikirannya.

"Boleh aku tanya siapa kalian dan sedang apa kalian di sini?" tanya perempuan itu sekali lagi.

"Bisa beritau aku kenapa aku harus memberitahu kalian?"
"Edge!" bentak Lilly.

"Maafkan dia. Kami dari Silver Line, namaku Lilly, anak kurang ajar ini Edge, ini Ruby, dan dia Ray. Kami sedang menjalankan misi kami di sini."

"Namaku Eleanor Davre, dan dia Fabio Rolendis. Kami dari Gold Hawk dan kebetulan kami juga sedang melakukan misi di sini."

"Benarkah? Aku penasaran... apakah mungkin misi kita sama?" tanya Ruby.

"Oh ya? Kami sedang memburu seseorang... ini dia." Eleanor menunjukkan sketsa wajah seseorang, yang dikenali oleh rombongan dari Silver Line

"Itu dia! Kami juga sedang mengejar orang itu!" ujar Ruby.

"Kalau kau juga datang kemari berarti kita memikirkan hal yang sama." kata Lilly.

"Jadi? Apa kita semua akan mencarinya bersama-sama?" usul Ray.

"Hah? Tapi kita dari guild yang berbeda." bantah Edge

"Benar... akan timbul masalah nanti kalau dua guild berbeda menyelesaikan satu misi yang sama... misalnya saja pembagian uang dan reputasinya jadi bagaimana kalau begini saja: siapa yang menemukan buron itu duluan, dia yang mendapat hadiahnya. Setuju kan? Kalau berkompetisi seperti ini jadinya makin menyenangkan." usul Eleanor.

Mereka berempat saling memandang satu sama lain, mencoba mencari kesepakatan visual di antara mereka.

"Aku tidak keberatan." ujar Edge

"Aku setuju." jawab Ruby

"Kedengarannya seru, aku setuju!" sahut Ray.

"Aku juga setuju." ujar Lilly

"Baiklah kalau begitu, ayo kita mulai!" seru Eleanor


Kamis, 28 Agustus 2014

Chapter 4: Mad and Area

Awalnya Ray mengusulkan untuk langsung kembali ke guild untuk melapor dan menandai bahwa misi yang mereka ambil selesai dengan sukses, tapi Ruby menolaknya, dia bilang Ray harus lebih sadar akan kondisinya dan beristirahat dulu selama sisa hari. Awalnya Ray menolak, tapi Ruby bersikeras memaksanya, hingga iapun menyadari bahwa ia tidak bisa menang berargumen melawan Ruby. Mereka sepakat untuk bertemu keesokan harinya. Hanya saja ada satu masalah: tempat bermalam. Mereka berdua adalah pendatang, dan tidak memiliki sanak saudara di kota ini.

"Bagaimana kalau kita mencari penginapan dulu, di kota sebesar ini pasti ada satu atau dua penginapan." usul Ruby

"Oke, aku juga tidak ada ide lain." sahut Ray.

Mereka berjalan bersama-sama hingga mereka menemukan satu bangunan yang cukup cocok disebut penginapan. Bangunan berlantai dua dengan beberapa jendela persegi empat di lantai duanya. Gorden sebagian jendela itu terbuka, sisanya tidak. Sepasang tanaman di tanam di dalam potnya di depan pintu. Sebuah papan besar menggantung di atas pintu, "Penginapan" tertulis di situ.

"Dua kamar untuk anda berdua?" tanya resepsionis kepada Ray dan Ruby.

"Benar, dua kamar." jawab Ruby.

"Baiklah, 50.000 Oeri untuk satu kamar, sudah termasuk makan malam dan sarapan. Terima kasih."

Setelah mendapat kunci kamar masing-masing, mereka berdua langsung beristirahat.

Ray mendapati bahwa kamarnya lebih bagus dari yang dia kira. Kamarnya cukup besar, atau malah terlalu besar, untuk satu orang. Ranjangnya terletak di tepi jendela yang gordennya tertutup. Di satu sisi kamar terdapat lemari kosong, yang Ray yakin adalah tempat untuk para pengelana dari jauh menaruh barang-barangnya, sementara di samping tempat tidurnya terdapat meja kecil tempat menaruh lilin untuk menerangi ruangan. Ray duduk di kasurnya sambil memandangi kamar tempatnya bermalam.

"50.000 Oeri memang agak mahal, tapi sepadan dengan kamar ini, aku jadi penasaran seperti apa sarapan besok pagi. Dengan hasil dari satu misi, kami bisa dapat cukup uang untuk bermalam di hotel seperti ini... tapi kalau terus-menerus sepertinya tidak akan mencukupi, haha. Mungkin sebaiknya kami mulai mencari tempat lain untuk tinggal."

Setelah sarapan yang sedikit terlalu mewah untuknya, Ray menunggu Ruby di luar penginapan. Tidak lama kemudian, Ruby muncul dari dalam penginapan dan mereka pun lalu berangkat bersama menuju guild.

Sesampainya di guild, tadinya mereka berharap untuk bisa bertemu dengan Lilly atau Edge, karena mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menandai bahwa sebuah misi telah selesai dilaksanakan dengan sukses. Tapi mereka tidak berpapasan dengan entah Lilly ataupun Edge dalam perjalanan, hingga sampai ke guild.

"Mungkin mereka ada di ruang misi, coba kita lihat ke sana." usul Ray.

Ruby setuju, dan mereka memeriksa ruangan dimana terdapat papan permohonan misi, Lilly dan Edge tidak bisa ditemukan di sana.

"Bagaimana ini? Mereka juga tidak ada di sini." ujar Ruby.

"Bagaimana kalau kita langsung saja ke ruangan wakil ketua guild? Kemarin Lilly dan Edge juga langsung menemuinya kan?" usul Ray.

"Baiklah, ayo kita ke sana."

Ray dan Ruby berjalan ke lantai 2 guild, mereka berhenti di depan pintu yang mereka kenali sebagai pintu ruang ketua guild. Ray mengetuk pintu, satu detik kemudian sebuah suara membalas dari dalam. Suara itu baru bagi telinga Ray dan Ruby, sebuah suara yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya. Untuk sesaat mereka ragu, tapi karena sudah dipersilahkan masuk, Ray mendorong pintu itu ke dalam.

Benar, seorang pria yang tidak pernah mereka temui sebelumnya duduk di kursi yang Lucia duduki saat terakhir kali mereka kemari. Pria itu tidak mungkin lebih muda dari Lucia, paling tidak dia beberapa tahun lebih tua. Rambut hitamnya dipotong pendek. Ia memandang Ray dan Ruby dengan wajah tegas dan kokoh, yang menggambarkan kekuatannya. Pandangan matanya serasa menusuk, bukan kepada kawan, tapi lawan. Ray sampai yakin kalau dia bukan orang Silver Line pasti pria ini tidak akan segan-segan menghajarnya. Lucia sendiri berdiri di samping meja besar di tengah ruangan itu, dengan selembar dokumen di tangannya.

"Kalian anggota baru kah?" tanya pria itu. Suaranya berat dan tegas.

"I-Iya, kami baru saja bergabung beberapa hari yang lalu." jawab Ray.

"Yang bersama Edge dan Lilly? Jadi itu kalian?" lanjut pria itu

"Be-Benar." kali ini Ruby yang menjawab.

"Begitu... aku sudah mendengar tentang kalian, tapi ini pertama kalinya kita bertemu langsung. Aku Diaz Vanarth, ketua Guild Silver Line. Salam."

"Ah, sa-saya Ray Silverheart."

"Dan saya Ruby Marchant. Senang bertemu anda." setelah itu suasana sunyi, Ray dan Ruby tidak tahu apa lagi yang harus dikatakan.

"Tujuan kalian kemari adalah?"

"Ah, kami ingin melaporkan keberhasilan misi kami." Ruby langsung menyahut, "Misi mencari seorang anak yang hilang di hutan di luar kota terlah berhasil dengan sukses."

"Kerja bagus. Ada lagi?"

"Tidak, hanya itu saja." jawab Ray.

"Begitu? Kalau tidak ada yang lain, kalian boleh pergi."

"Baik." jawab Ray dan Ruby bersamaan, sebelum mereka meninggalkan ruangan.

"Jadi dia ketua guild ini? Pancaran wibawanya terasa sekali ya." ujar Ray sambil menghela nafas saat mereka berdua menyusuri tangga ke lantai satu.

"Oh? Jadi kalian berdua sudah menemui ketua?"

Ray dan Ruby menyadari sebuah suara dari ujung bawah tangga. Edge dan Lilly berdiri di sana.

"Lilly! Aku mencarimu sejak pagi tadi, kemana saja kamu?" ujar Ruby, riang. Ia langsung memeluk Lilly.

"Ahaha, maaf maaf, tadi malam aku baru saja menyelesaikan misiku, aku kecapekan jadi hari ini aku tidur sampai agak siang."

"Bukannya setiap hari kau bangun siang?" sahut Edge.

"Oh Edge, aku tidak tahu kamu ingin aku hajar sekali lagi. Maukah kamu? Mau kan?" Lilly menarik keluar serulingnya.

"Ah tidak, terima kasih. Aku sudah tau kok rasanya."

"Hey, bagaimana kalau sesudah ini kita makan bareng? Kebetulan aku masih belum makan." tawar Lilly pada Ruby.

"Eh? Tapi aku sudah sempat sarapan tadi."

"Ayolaaah, sebagai anggota baru kalian tidak boleh menolak tawaran senior kalian. Aku yang traktir deh."

"Baiklah kalau kau memaksa."

"Begitu dong, tunggu dulu ya sampai aku selesai melapor." ujar Lilly.

Chapter 3: First Quest

Setelah sepakat mengambil misi mereka, Ray dan Ruby pergi bersama ke tempat klien mereka untuk mendapat informasi lebih detil tentang pekerjaan kali ini. Mereka berjalan menyusuri kota hingga sampai ke daerah permukiman. Sesampainya di sana mereka memperhatikan rumah demi rumah yang mereka jumpai, sampai akhirnya mereka sampai di salah satu rumah. Pagar kayunya dipasang setinggi pinggang orang dewasa, sebuah taman kecil berisi bebungaan mengisi jarak antara pagar dan rumah, Ruby mencocokkan nomor rumahnya dengan alamat yang mereka terima di surat permohonan misi.

"Bagaimana? Ini kah?" tanya Ray.

"Iya, ini dia. Ayo kita masuk."

Ruby mengetuk pintu depan dua kali, tapi tak ada jawaban. Setelah beberapa lama, dia mengangkat tangannya untuk mengetuk sekali lagi. Sebelum dia sempat melakukannya, pintu depan terbuka, yang menyambut mereka adalah seorang wanita dengan rambut hitam panjang, walau Ruby kesulitan menebak usianya tapi pasti tidak jauh dari 30-an.

"Kalian siapa?" tanyanya.

"Kami dari guild Silver Line, kami melihat permohonanmu yang kau pasang di guild kami." jawab Ray, Ruby mengacungkan kertas kecil yang dikenali wanita itu sebagai permohonan misinya.

Wajah perempuan itu bertambah cerah, ia membuka daun pintunya lebih lebar.

"Masuklah, aku senang kalian datang."

Mereka bertiga duduk di ruang tamu wanita itu. Ray dan Ruby duduk di kursi panjang, si perempuan duduk di kursi di hadapan mereka, sebuah meja kecil mengisi celah di antara mereka. Peremuan itu, yang mengenalkan dirinya dengan nama Katrina, mulai bercerita tentang anaknya yang menghilang. 2 hari yg lalu, pada siang hari anaknya pergi ke hutan yang terletak di luar kota, tapi sampai malam hari dia tidak kembali juga. Besoknya dia minta tolong pada prajurit penjaga kota, tapi mereka tidak berhasil menemukan anaknya. Sore harinya dia menaruh permohonan ke guild. Hari ini Ray dan Ruby datang ke rumahnya.

Ruby meletakkan segelas limun yang baru saja diminumnya, "Jadi para penjaga kota tidak menemukan anak itu, ataupun petunjuk tentang anak anda?"

"Tidak, tidak sama sekali." Katrina menggelengkan kepalanya saat menjawab, "Putriku yang malang..." air mata meleleh dari matanya.

"Kalau begitu kami akan segera berangkat. Kita harus menemukan anak itu secepat mungkin." ujar Ray.

"Tolonglah... temukan anakku..."ujar ibu itu, suaranya nyaris tak terdengar karena isak tangisnya.

"Tenanglah bu, kami pasti akan menemukannya." ujar Ruby.

Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah keluar dari gerbang kota. Setelah menyusuri jalan setapak kecil, Ray dan Ruby sampai di mulut hutan tujuan mereka. Deretan pepohonan yang kembar entah berapa ribu batang itu mengapit jalan setapak yang mereka lalui. Cahaya matahari mencoba menerobos dari sela-sela pucuk pohon. Seekor tupai kecil melintas di depan mereka sebelum hilang lagi di balik rerumputan.

"Siapa nama anak itu tadi? Aku lupa." tanya Ray.

"Selena, namanya Selena." jawab Ruby.

"Oh ya benar. Selena! Apa kau bisa mendengarku? Kami datang untuk mencarimu!" Ray berteriak-teriak selagi mereka berjalan. Hanya untuk dijawab suara cicip burung.

"Ray, kalau kita bisa menemukannya semudah itu, para penjaga kota tidak mungkin kesusahan. Dia pasti ada jauh di dalam hutan."

"Baiklah kalau begitu, sekarang ini ayo kita maju terus."

"Omong-omong, di sini ada binatang buasnya atau tidak sih?" tanya Ray ketika mereka semakin jauh di dalam hutan.

"Entahlah, tapi kalau harus kutebak... mungkin saja ada."

"Begitu..."

"Kalau menurutmu bagaimana?"

"Kalau harus kutebak... di sini pasti ada satu atau dua jenis ular berbisa. Mungkin loh." jawab Ray.

Dan dengan cepat percakapan mereka menjadi semacam permainan tebak-tebakan, dimana mereka mencoba menebak binatang apa saja yang ada di hutan ini, dari binatang buas sampai yang jinak.

Jalan setapak mereka bercabang ke dua arah. Setelah perdebatan kecil, Ray akhirnya memutuskan untuk mengikuti Ruby ke kiri. Setelah berjalan beberapa lama, jalan mereka berbelok ke kiri. Selagi berjalan, Ray dan Ruby memeriksa dengan seksama jalan setapak yang mereka lalui dengan harapan menemukan jejak anak kecil. Tapi yang mereka temukan hanyalah jejak kaki dari sepatu bot yang saling menumpuk satu sama lain. Jelas sekali jejak itu berasal dari para penjaga kota yang juga mencari Selena kemarin.