Dua
bulan telah berlalu semenjak insiden penyerangan White Moon yang
mengambil artefak purba. Cuaca sudah semakin dingin, walaupun salju
belum turun. Musim dingin sudah datang di Arkascha. Di musim ini Recht
kedatangan tamu musiman: para pedagang keliling yang selalu berkelana ke
seluruh penjuru Arkascha, membeli dan menjual barang-barang mereka dan
barang-barang orang lokal.
Musim
dingin ini adalah giliran Recht yang mereka datangi. Mereka semua
mendirikan tenda-tenda di luar Recht, kereta kuda masing-masing tidak
jauh dari tenda. Ada penjual daging yang diasinkan, ada penjual baju,
ada penjual perhiasan, dan ada banyak lagi pedagang yang mendirikan
tendanya di luar kota Recht.
Semua
penduduk Recht keluar dari rumah mereka, ada yang sekedar
melihat-lihat, ada yang membeli barang, ada juga yang menjual barang
mereka.
Termasuk
juga para penyihir Silver Line. Diaz, Lucia, Ray, Ruby, Lilly, Edge,
Area, Raisha, dan Elise, tapi ada pemandangan yang berbeda, ada satu
orang yang jarang terlihat, tapi kali ini hadir bersama mereka. Mad
Vrey.
Mad
berjalan di sebelah Elise, paling jauh dari Diaz. Wajahnya tidak
berekspresi selain sesekali melirik ke Diaz, seakan berhati-hati
padanya.
Raisha melirik ke Mad dengan tatapan yang tajam, dia berbisik "Jangan macam-macam ya."
Mad hanya mendengus kesal.
"Aku akan pergi sendiri." ujar Mad sambil berlalu. Raisha memandangi dia pergi.
"Aku akan mengikuti Mad, aku tidak ingin dia berbuat onar seperti sebelumnya." ujar Raisha pada Elise.
"Kalau begitu, aku ikut denganmu, Raisha." balas Elise. Mereka berdua berjalan mengikuti Mad.
"Mau apa kalian ikut?" tanya Mad agak kasar kepada dua gadis yang membuntutinya.
"Bukan
kenapa-kenapa, cuma memastikan kau tidak dengan tanpa sengaja membuat
keributan yang akan mempermalukan guild." jawab Raisha.
"Demi menjaga nama baik guild? Apa pentingnya guild ini bagi kalian?"
"Guild
ini... sangat penting bagiku." kali ini Elise yang menjawab, "Ketua
Diaz menerimaku... saat aku tidak punya tempat lagi... guild ini...
sudah seperti rumahku sendiri. Aku tidak akan membiarkan... kau
mengotori namanya."
Mad menoleh ke Elise, tatapannya dibalas sorot mata yang kuat dan tegas, beda dengan Elise yang biasanya.
"Terserah kalianlah." jawab Mad, sekenanya.
Mereka
bertiga berjalan bersama bagai satu rombongan. Rombongan aneh yang
terdiri dari seorang pria tinggi besar botak, bersama dua orang gadis
kecil.