Senin, 02 Maret 2015

Chapter 23: Winter comes

Dua bulan telah berlalu semenjak insiden penyerangan White Moon yang mengambil artefak purba. Cuaca sudah semakin dingin, walaupun salju belum turun. Musim dingin sudah datang di Arkascha. Di musim ini Recht kedatangan tamu musiman: para pedagang keliling yang selalu berkelana ke seluruh penjuru Arkascha, membeli dan menjual barang-barang mereka dan barang-barang orang lokal.

Musim dingin ini adalah giliran Recht yang mereka datangi. Mereka semua mendirikan tenda-tenda di luar Recht, kereta kuda masing-masing tidak jauh dari tenda. Ada penjual daging yang diasinkan, ada penjual baju, ada penjual perhiasan, dan ada banyak lagi pedagang yang mendirikan tendanya di luar kota Recht.

Semua penduduk Recht keluar dari rumah mereka, ada yang sekedar melihat-lihat, ada yang membeli barang, ada juga yang menjual barang mereka.

Termasuk juga para penyihir Silver Line. Diaz, Lucia, Ray, Ruby, Lilly, Edge, Area, Raisha, dan Elise, tapi ada pemandangan yang berbeda, ada satu orang yang jarang terlihat, tapi kali ini hadir bersama mereka. Mad Vrey.

Mad berjalan di sebelah Elise, paling jauh dari Diaz. Wajahnya tidak berekspresi selain sesekali melirik ke Diaz, seakan berhati-hati padanya.

Raisha melirik ke Mad dengan tatapan yang tajam, dia berbisik "Jangan macam-macam ya."

Mad hanya mendengus kesal.

"Aku akan pergi sendiri." ujar Mad sambil berlalu. Raisha memandangi dia pergi.

"Aku akan mengikuti Mad, aku tidak ingin dia berbuat onar seperti sebelumnya." ujar Raisha pada Elise.

"Kalau begitu, aku ikut denganmu, Raisha." balas Elise. Mereka berdua berjalan mengikuti Mad.

"Mau apa kalian ikut?" tanya Mad agak kasar kepada dua gadis yang membuntutinya.

"Bukan kenapa-kenapa, cuma memastikan kau tidak dengan tanpa sengaja membuat keributan yang akan mempermalukan guild." jawab Raisha.

"Demi menjaga nama baik guild? Apa pentingnya guild ini bagi kalian?"

"Guild ini... sangat penting bagiku." kali ini Elise yang menjawab, "Ketua Diaz menerimaku... saat aku tidak punya tempat lagi... guild ini... sudah seperti rumahku sendiri. Aku tidak akan membiarkan... kau mengotori namanya."

Mad menoleh ke Elise, tatapannya dibalas sorot mata yang kuat dan tegas, beda dengan Elise yang biasanya.

"Terserah kalianlah." jawab Mad, sekenanya.

Mereka bertiga berjalan bersama bagai satu rombongan. Rombongan aneh yang terdiri dari seorang pria tinggi besar botak, bersama dua orang gadis kecil.


Mereka berhenti di tenda seorang pedagang yang menjual mantel tebal, penjualnya tidak perlu mengingatkan para penduduk akan musim dingin yang sudah datang, mereka bertiga pun melihat-lihat koleksi pakaian tebal pedagang itu.

"Hey, bolehkah aku bertanya?" tanya Raisha tiba-tiba, "Kenapa kau bergabung dengan guild? Padahal kau tidak suka bergaul dengan orang-orang guild. Ketua Diaz juga tidak pernah mengatakan itu pada kami."

Mad diam sejenak, sebelum akhirnya menjawab, "Kalau aku tidak ada di sini, aku tidak akan bisa menatap wajah si bodoh itu di alam seberang sana."

"Eh? Apa maksudmu?"

"Aku tidak ingin menjawabnya."

"Ho? Walaupun aku yang menanyakannya?" pertanyaan Raisha kali ini disertai dengan nada yang lebih mengancam.

Mad terdiam, wajahnya berpaling dari Raisha.

"Cuma bercanda kok. Kalau kau tidak ingin membahasnya, aku juga tidak akan menanyakannya."

Elise mendadak memeluk lengan Raisha lebih erat, sambil menunjuk ke salah satu mantel.

"Raisha, yang itu lucu ya?"

Raisha melihat yang ditunjuk Elise. Sebuah mantel panjang berwarna merah dengan bulu putih di ujung lengan. Bulu putih yang sama juga ada di ujung rok mantel, dan di bagian kerudung. Kancing-kancing putih besar terangkai di bagian depan mantel.

"Iya, lucu. Kita beli yuk?"

Elise mengangguk setuju.

Setelah mereka bertiga membeli mantel masing-masing, mereka kembali menyusuri tenda-tenda pedagang lain.

Tanpa sengaja, Elise menyenggol seseorang, ketika dia menoleh, ternyata itu Ray. Tapi dia tidak sendirian, Ruby berjalan di sisinya.

"Kak... Ray? Dan Kak Ruby?" ujar Elise spontan.

"Wah, Elise dan yang lain. Kebetulan sekali kita bertemu di sini." ujar Ray. Ruby cuma terdiam, sambil memicingkan mata ke Elise.

"Kenapa... kalian cuma berdua? Bagaimana dengan... yang lainnya?" tanya Elise, matanya mengecek apakah Ray dan Ruby bergandengan tangan, ternyata tidak.

"Oh, tadi kami semua ingin melihat-lihat bagian tenda-tenda pedagang yang beda-beda, jadi tanpa sengaja kami terbagi jadi tiga kelompok. Ketua Diaz bersama Lucia, Edge pergi dengan Lilly." jawab Ray.

"Dan aku bersama Ray." tambah Ruby, "Keberatan?"

Ekspresi wajah Elise menjawab pertanyaan itu tanpa harus disampaikan lewat mulutnya.

"Tunggu, lalu ke mana Kak Area?" kali ini Raisha yang bertanya.

"Entahlah, dia tiba-tiba saja menghilang sebelum kami berpencar." jawab Ray.

"Hey... bagaimana kalau... kita melihat-lihat sama-sama? Ini pertama kalinya... kakak melihat rombongan pedagang... ini di Recht, kan?" Elise lalu merapat ke sisi tubuh Ray yang tidak ada Ruby. Wajah Ruby menyatakan deklarasi perang terhadap Elise.

"Kalau begitu aku akan mencari Kak Area." ujar Raisha sambil tersenyum nakal ke Elise. Ia menoleh ke Mad, "Kau ikut denganku ya."

Raisha berjalan ke arah yang berlawanan dengan rombongannya Ray, Mad mengikuti beberapa langkah di belakangnya.

"Mencari Area itu alasan, atau kau memang ingin mencarinya?" tanya Mad sesudah Elise dan yang lain di luar jarak jangkau suaranya.

Wajah Raisha sedikit merona sebelum menjawab, "Keduanya kok."

"Jadi kau memang ingin mencarinya ya?"

"Sudah ah, jangan dibahas."

Mereka berdua berjalan menyusuri hutan tenda yang dibangun tanpa aturan itu. Sesekali, mereka membeli sesuatu yang menarik mata. Raisha membeli beberapa kue untuk kudapan, Mad membeli sepatu bot baru.

Sesudah beberapa belokan, mereka bertemu dengan ketua Diaz dan Lucia. Saat ini mungkin satu diantara sedikit sekali kesempatan bagi siapapun untuk berpapasan dengan Lucia tanpa dia membawa sebuah dokumen guild.

"Selamat siang Ketua Diaz, Nona Lucia."

Lucia membalas balik sapaan Raisha sebelum kemudian tersenyum. Rambut pirang panjangnya yang diikat di belakang kepalanya terlihat seolah menyala saat diterpa cahaya matahari.

"Jarang sekali aku melihatmu akrab dengan anggota guild, Mad. Biarpun aku lebih suka kalau kau juga mau bergaul dengan anggota guild yang lain." sindir Lucia.

Mad mendengus kesal, "Kau tahu kan, kenapa aku tidak bisa membantah anak ini?" Lucia menjawab dengan senyum.

"Sudahlah, tidak perlu membahas hal memalukan itu." ujar Diaz, "Mad, bagaimana kalau kita mencari bir?"

"Baiklah, aku tidak keberatan."

Mereka berempat lalu berjalan bersama. Diaz dan Mad masih tidak bisa menemukan bir hingga mereka sampai di sebuah tenda yang sangat besar, sekelompok orang menggelar tikar di tanah. Masing-masing orang membawa alat musik masing-masing. Ada beberapa yang membawa genderang, ada yang membawa gitar, ada juga yang menggunakan seruling.

"Kelompok pemusik ini datang lagi ya." ujar Lilly tiba-tiba. Raisha sampai kaget saat mengetahui dia dan Edge sudah ada di sampingnya.

"Tahun lalu mereka juga datang" tambah Lucia.

Tak lama setelah itu, nada-nada seruling disenandungkan, gitar dipetik, dan genderang-genderang dimainkan. Tak butuh waktu lama agar nada-nada yang indah memenuhi udara, menghibur semua yang ada di sana, baik penduduk Recht maupun pedagang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar