Lagu-lagu indah yang memenuhi siang itu perlahan memudar sebelum akhirnya berhenti. Seorang pemain gitar membungkukkan badan beberapa kali ke arah penonton yang bertepuk tangan. Seorang anak kecil berkeliling sambil menadahkan topi lebar, ke sanalah para penonton melempar koin-koin mereka.
Lilly, Edge, Raisha, Lucia, Diaz, dan Mad juga termasuk diantara yang melemparkan koin mereka ke anak kecil itu.
"Lagu yang indah ya? Sayang sekali Ruby tidak mendengarkannya." ujar Lilly.
"Elise juga." sahut Raisha, "Mereka sedang bersama Kak Ray."
"Hoo, beruntung sekali Ray, menghabiskan waktu bersama dua perempuan cantik." ujar Lilly lagi.
"Berarti aku yang bersamamu ini sedang sial, ya?" sambung Edge.
"Wah, Edge, kau mau musim dingin ini kubuat jadi musim dingin yang terakhir untukmu?" Lilly mengeluarkan serulingnya.
"Tidak, terima kasih. Aku masih ingin menikmati musim semi."
"Edge?" tiba-tiba sebuah suara memanggil.
Semuanya menoleh ke asal suara, dan mereka melihat seorang perempuan berumur sekitar pertengahan 20-an, tingginya tidak jauh beda dengan Lilly, mungkin cuma lebih tinggi sedikit. Rambutnya sama merahnya dengan rambut Edge, hanya saja lebih panjang hingga melewati bahu.
"Kak Arieta." panggil Edge pada perempuan itu, sebelum mendekat. Semua orang saling bertukar pandang saat Edge memanggil perempuan itu.
"Edge tidak pernah memberitahuku dia punya kakak." ujar Lilly.
"Iya, dia juga tidak memberitahuku." sahut Diaz. Lucia juga memberi respon yang sama.
"Ya... kalau Kak Edge tidak memberitahu Kak Lilly, wajar saja kalau dia tidak menceritakannya pada yang lain."
"Tunggu dulu Raisha, apa maksudmu dengan itu?"
Raisha menjawab Lilly dengan setengah berbisik, "Soalnya, semua orang juga sudah tahu perasaan tersembunyi Kak Edge pada Kak Lilly."
Diaz, Lucia, dan Mad mengangguk setuju terhadap kata-kata Raisha.
"Kenapa kau tidak pernah pulang? Ayah dan ibu khawatir setiap kali aku kembali ke rumah. Kau tambah tinggi ya? Terakhir kali aku melihatmu kau tidak setinggi ini. Bagaimana makanmu? Sehat? Bagaimana kabarmu di guildmu?"
"Aku kan sudah menulis surat kak. Ya, aku bertambah tinggi, aku masih dalam masa pertumbuhan. Aku makan dengan baik kok kak. Dan, orang-orang di guild menerimaku dengan baik." jawab Edge pada pertanyaan kakaknya yang bertubi-tubi.
"Omong-omong soal guild, kebetulan anggota guildku sedang bersamaku." Edge mengacungkan ibu jarinya ke rombongan di belakangnya.
Arieta berjalan ke samping Edge, ia membuka mulutnya untuk memperkenalkan diri, namun mendadak kata-katanya berhenti di tenggorokannya. Matanya membelalak tak berkedip saat melihat Lilly.
"Iris?"