Kamis, 28 Agustus 2014

Chapter 4: Mad and Area

Awalnya Ray mengusulkan untuk langsung kembali ke guild untuk melapor dan menandai bahwa misi yang mereka ambil selesai dengan sukses, tapi Ruby menolaknya, dia bilang Ray harus lebih sadar akan kondisinya dan beristirahat dulu selama sisa hari. Awalnya Ray menolak, tapi Ruby bersikeras memaksanya, hingga iapun menyadari bahwa ia tidak bisa menang berargumen melawan Ruby. Mereka sepakat untuk bertemu keesokan harinya. Hanya saja ada satu masalah: tempat bermalam. Mereka berdua adalah pendatang, dan tidak memiliki sanak saudara di kota ini.

"Bagaimana kalau kita mencari penginapan dulu, di kota sebesar ini pasti ada satu atau dua penginapan." usul Ruby

"Oke, aku juga tidak ada ide lain." sahut Ray.

Mereka berjalan bersama-sama hingga mereka menemukan satu bangunan yang cukup cocok disebut penginapan. Bangunan berlantai dua dengan beberapa jendela persegi empat di lantai duanya. Gorden sebagian jendela itu terbuka, sisanya tidak. Sepasang tanaman di tanam di dalam potnya di depan pintu. Sebuah papan besar menggantung di atas pintu, "Penginapan" tertulis di situ.

"Dua kamar untuk anda berdua?" tanya resepsionis kepada Ray dan Ruby.

"Benar, dua kamar." jawab Ruby.

"Baiklah, 50.000 Oeri untuk satu kamar, sudah termasuk makan malam dan sarapan. Terima kasih."

Setelah mendapat kunci kamar masing-masing, mereka berdua langsung beristirahat.

Ray mendapati bahwa kamarnya lebih bagus dari yang dia kira. Kamarnya cukup besar, atau malah terlalu besar, untuk satu orang. Ranjangnya terletak di tepi jendela yang gordennya tertutup. Di satu sisi kamar terdapat lemari kosong, yang Ray yakin adalah tempat untuk para pengelana dari jauh menaruh barang-barangnya, sementara di samping tempat tidurnya terdapat meja kecil tempat menaruh lilin untuk menerangi ruangan. Ray duduk di kasurnya sambil memandangi kamar tempatnya bermalam.

"50.000 Oeri memang agak mahal, tapi sepadan dengan kamar ini, aku jadi penasaran seperti apa sarapan besok pagi. Dengan hasil dari satu misi, kami bisa dapat cukup uang untuk bermalam di hotel seperti ini... tapi kalau terus-menerus sepertinya tidak akan mencukupi, haha. Mungkin sebaiknya kami mulai mencari tempat lain untuk tinggal."

Setelah sarapan yang sedikit terlalu mewah untuknya, Ray menunggu Ruby di luar penginapan. Tidak lama kemudian, Ruby muncul dari dalam penginapan dan mereka pun lalu berangkat bersama menuju guild.

Sesampainya di guild, tadinya mereka berharap untuk bisa bertemu dengan Lilly atau Edge, karena mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menandai bahwa sebuah misi telah selesai dilaksanakan dengan sukses. Tapi mereka tidak berpapasan dengan entah Lilly ataupun Edge dalam perjalanan, hingga sampai ke guild.

"Mungkin mereka ada di ruang misi, coba kita lihat ke sana." usul Ray.

Ruby setuju, dan mereka memeriksa ruangan dimana terdapat papan permohonan misi, Lilly dan Edge tidak bisa ditemukan di sana.

"Bagaimana ini? Mereka juga tidak ada di sini." ujar Ruby.

"Bagaimana kalau kita langsung saja ke ruangan wakil ketua guild? Kemarin Lilly dan Edge juga langsung menemuinya kan?" usul Ray.

"Baiklah, ayo kita ke sana."

Ray dan Ruby berjalan ke lantai 2 guild, mereka berhenti di depan pintu yang mereka kenali sebagai pintu ruang ketua guild. Ray mengetuk pintu, satu detik kemudian sebuah suara membalas dari dalam. Suara itu baru bagi telinga Ray dan Ruby, sebuah suara yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya. Untuk sesaat mereka ragu, tapi karena sudah dipersilahkan masuk, Ray mendorong pintu itu ke dalam.

Benar, seorang pria yang tidak pernah mereka temui sebelumnya duduk di kursi yang Lucia duduki saat terakhir kali mereka kemari. Pria itu tidak mungkin lebih muda dari Lucia, paling tidak dia beberapa tahun lebih tua. Rambut hitamnya dipotong pendek. Ia memandang Ray dan Ruby dengan wajah tegas dan kokoh, yang menggambarkan kekuatannya. Pandangan matanya serasa menusuk, bukan kepada kawan, tapi lawan. Ray sampai yakin kalau dia bukan orang Silver Line pasti pria ini tidak akan segan-segan menghajarnya. Lucia sendiri berdiri di samping meja besar di tengah ruangan itu, dengan selembar dokumen di tangannya.

"Kalian anggota baru kah?" tanya pria itu. Suaranya berat dan tegas.

"I-Iya, kami baru saja bergabung beberapa hari yang lalu." jawab Ray.

"Yang bersama Edge dan Lilly? Jadi itu kalian?" lanjut pria itu

"Be-Benar." kali ini Ruby yang menjawab.

"Begitu... aku sudah mendengar tentang kalian, tapi ini pertama kalinya kita bertemu langsung. Aku Diaz Vanarth, ketua Guild Silver Line. Salam."

"Ah, sa-saya Ray Silverheart."

"Dan saya Ruby Marchant. Senang bertemu anda." setelah itu suasana sunyi, Ray dan Ruby tidak tahu apa lagi yang harus dikatakan.

"Tujuan kalian kemari adalah?"

"Ah, kami ingin melaporkan keberhasilan misi kami." Ruby langsung menyahut, "Misi mencari seorang anak yang hilang di hutan di luar kota terlah berhasil dengan sukses."

"Kerja bagus. Ada lagi?"

"Tidak, hanya itu saja." jawab Ray.

"Begitu? Kalau tidak ada yang lain, kalian boleh pergi."

"Baik." jawab Ray dan Ruby bersamaan, sebelum mereka meninggalkan ruangan.

"Jadi dia ketua guild ini? Pancaran wibawanya terasa sekali ya." ujar Ray sambil menghela nafas saat mereka berdua menyusuri tangga ke lantai satu.

"Oh? Jadi kalian berdua sudah menemui ketua?"

Ray dan Ruby menyadari sebuah suara dari ujung bawah tangga. Edge dan Lilly berdiri di sana.

"Lilly! Aku mencarimu sejak pagi tadi, kemana saja kamu?" ujar Ruby, riang. Ia langsung memeluk Lilly.

"Ahaha, maaf maaf, tadi malam aku baru saja menyelesaikan misiku, aku kecapekan jadi hari ini aku tidur sampai agak siang."

"Bukannya setiap hari kau bangun siang?" sahut Edge.

"Oh Edge, aku tidak tahu kamu ingin aku hajar sekali lagi. Maukah kamu? Mau kan?" Lilly menarik keluar serulingnya.

"Ah tidak, terima kasih. Aku sudah tau kok rasanya."

"Hey, bagaimana kalau sesudah ini kita makan bareng? Kebetulan aku masih belum makan." tawar Lilly pada Ruby.

"Eh? Tapi aku sudah sempat sarapan tadi."

"Ayolaaah, sebagai anggota baru kalian tidak boleh menolak tawaran senior kalian. Aku yang traktir deh."

"Baiklah kalau kau memaksa."

"Begitu dong, tunggu dulu ya sampai aku selesai melapor." ujar Lilly.

Chapter 3: First Quest

Setelah sepakat mengambil misi mereka, Ray dan Ruby pergi bersama ke tempat klien mereka untuk mendapat informasi lebih detil tentang pekerjaan kali ini. Mereka berjalan menyusuri kota hingga sampai ke daerah permukiman. Sesampainya di sana mereka memperhatikan rumah demi rumah yang mereka jumpai, sampai akhirnya mereka sampai di salah satu rumah. Pagar kayunya dipasang setinggi pinggang orang dewasa, sebuah taman kecil berisi bebungaan mengisi jarak antara pagar dan rumah, Ruby mencocokkan nomor rumahnya dengan alamat yang mereka terima di surat permohonan misi.

"Bagaimana? Ini kah?" tanya Ray.

"Iya, ini dia. Ayo kita masuk."

Ruby mengetuk pintu depan dua kali, tapi tak ada jawaban. Setelah beberapa lama, dia mengangkat tangannya untuk mengetuk sekali lagi. Sebelum dia sempat melakukannya, pintu depan terbuka, yang menyambut mereka adalah seorang wanita dengan rambut hitam panjang, walau Ruby kesulitan menebak usianya tapi pasti tidak jauh dari 30-an.

"Kalian siapa?" tanyanya.

"Kami dari guild Silver Line, kami melihat permohonanmu yang kau pasang di guild kami." jawab Ray, Ruby mengacungkan kertas kecil yang dikenali wanita itu sebagai permohonan misinya.

Wajah perempuan itu bertambah cerah, ia membuka daun pintunya lebih lebar.

"Masuklah, aku senang kalian datang."

Mereka bertiga duduk di ruang tamu wanita itu. Ray dan Ruby duduk di kursi panjang, si perempuan duduk di kursi di hadapan mereka, sebuah meja kecil mengisi celah di antara mereka. Peremuan itu, yang mengenalkan dirinya dengan nama Katrina, mulai bercerita tentang anaknya yang menghilang. 2 hari yg lalu, pada siang hari anaknya pergi ke hutan yang terletak di luar kota, tapi sampai malam hari dia tidak kembali juga. Besoknya dia minta tolong pada prajurit penjaga kota, tapi mereka tidak berhasil menemukan anaknya. Sore harinya dia menaruh permohonan ke guild. Hari ini Ray dan Ruby datang ke rumahnya.

Ruby meletakkan segelas limun yang baru saja diminumnya, "Jadi para penjaga kota tidak menemukan anak itu, ataupun petunjuk tentang anak anda?"

"Tidak, tidak sama sekali." Katrina menggelengkan kepalanya saat menjawab, "Putriku yang malang..." air mata meleleh dari matanya.

"Kalau begitu kami akan segera berangkat. Kita harus menemukan anak itu secepat mungkin." ujar Ray.

"Tolonglah... temukan anakku..."ujar ibu itu, suaranya nyaris tak terdengar karena isak tangisnya.

"Tenanglah bu, kami pasti akan menemukannya." ujar Ruby.

Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah keluar dari gerbang kota. Setelah menyusuri jalan setapak kecil, Ray dan Ruby sampai di mulut hutan tujuan mereka. Deretan pepohonan yang kembar entah berapa ribu batang itu mengapit jalan setapak yang mereka lalui. Cahaya matahari mencoba menerobos dari sela-sela pucuk pohon. Seekor tupai kecil melintas di depan mereka sebelum hilang lagi di balik rerumputan.

"Siapa nama anak itu tadi? Aku lupa." tanya Ray.

"Selena, namanya Selena." jawab Ruby.

"Oh ya benar. Selena! Apa kau bisa mendengarku? Kami datang untuk mencarimu!" Ray berteriak-teriak selagi mereka berjalan. Hanya untuk dijawab suara cicip burung.

"Ray, kalau kita bisa menemukannya semudah itu, para penjaga kota tidak mungkin kesusahan. Dia pasti ada jauh di dalam hutan."

"Baiklah kalau begitu, sekarang ini ayo kita maju terus."

"Omong-omong, di sini ada binatang buasnya atau tidak sih?" tanya Ray ketika mereka semakin jauh di dalam hutan.

"Entahlah, tapi kalau harus kutebak... mungkin saja ada."

"Begitu..."

"Kalau menurutmu bagaimana?"

"Kalau harus kutebak... di sini pasti ada satu atau dua jenis ular berbisa. Mungkin loh." jawab Ray.

Dan dengan cepat percakapan mereka menjadi semacam permainan tebak-tebakan, dimana mereka mencoba menebak binatang apa saja yang ada di hutan ini, dari binatang buas sampai yang jinak.

Jalan setapak mereka bercabang ke dua arah. Setelah perdebatan kecil, Ray akhirnya memutuskan untuk mengikuti Ruby ke kiri. Setelah berjalan beberapa lama, jalan mereka berbelok ke kiri. Selagi berjalan, Ray dan Ruby memeriksa dengan seksama jalan setapak yang mereka lalui dengan harapan menemukan jejak anak kecil. Tapi yang mereka temukan hanyalah jejak kaki dari sepatu bot yang saling menumpuk satu sama lain. Jelas sekali jejak itu berasal dari para penjaga kota yang juga mencari Selena kemarin.

Rabu, 27 Agustus 2014

Chapter 2: Silver Line

Satu hari sudah berlalu sejak insiden bandit di Ruava. Belum lama berlalu sejak matahari terbit seutuhnya di ufuk timur. Dua ekor kuda menarik sebuah kotak besar dengan 4 roda di bawahnya. Edge, Lily, Ray dan Ruby menaiki kereta kuda itu dalam perjalanan mereka.

"Jadi kita sekarang menuju Recht?" tanya Ruby di tengah perjalanan.

"Benar, kami harus kembali melapor ke guild bahwa pekerjaan sudah selesai." jawab Lily.

"Berapa lama perjalanannya?" kali ini Ray yang bertanya

"Sekitar dua atau tiga hari naik kereta." Kembali Lily menjawab.

"Jauh juga ya."

"Tidak juga, aku pernah ke tempat yang lebih jauh lagi." Edge menimpali, "Dan omong-omong kenapa kalian berdua ikut dengan kami? Kalian tidak ada urusan kan di Recht?"

"Sebenarnya kami berdua sedang mencari guild, kami belum memutuskan untuk bergabung dengan guild yang mana." Jawab Ruby

"Ya, Ruava adalah tujuan pertamaku untuk mencari guild, sebelum tiba-tiba kalian muncul dan menolong kami." Kali ini Ray menyahut.

"Berarti umur kalian 18 tahun ya? Baru lulus sekolah sihir?" tanya Lily.

"Iya, benar." Jawab mereka berdua bersamaan.

"Lalu kenapa kalian memilih Silver Line?" tanya Edge sambil bertopang dagu.

"Kenapa? Salah satu alasannya karena kalian menolong kami. Dan lagi, kalian terlihat seperti orang-orang yang baik. Pasti menyenangkan bergabung ke guild yang sama dengan kalian." Jawab Ruby sambil tersenyum.

"Bagus kan Edge? Kamu punya yunior." Edge hanya mendengus saja mendengar perkataan Lily barusan.

"Eh? Berarti Edge anggota baru di guild?" tanya Ray.

"Iya, dia baru bergabung tahun kemarin jadi nantinya kalian akan menjadi yunior pertamanya dia."

"Dengar ya, aku ini tetap saja senior kalian. Jadi jaga sikap kalian di depanku." ujar Edge agak sombong.

"Omong-omong Ray, bagaimana lukamu?" tanya Lily sambil memperhatikan Ray.

"Oh aku sudah tidak apa-apa kok. Kebetulan lukaku tidak seberapa parah dan kemarin ada dokter yang bisa sihir penyembuh, dan lagi aku beruntung kau menolongku di saat yang tepat kemarin."

"Apanya yang tidak parah? Kemarin kau hampir mati tau." sahut Edge, "Kalau kemarin Lily tidak melindungimu kau pasti sudah berakhir lebih parah lagi dari sekarang. Kau kira musuhmu itu lemah? Pemimpin bandit itu termasuk penyihir Level B. Bukan lawan orang yang baru saja lulus dari sekolah."

"Level B? Lalu bagaimana Lily bisa mengalahkannya begitu mudah? Jangan jangan Lily juga level B?" tanya Ray

"Iya, itu benar." Jawab Lily sambil tersenyum.

"Aku bisa menebak kalau kau adalah orang level C, jadi lain kali jangan bertindak gegabah seperti itu."

"Santailah Edge, kau juga sama-sama level C kan?" Lily menimpali

"Beda! Kemampuan dan pengalamanku jelas jauh di atas orang yang belum pernah bergabung ke guild." bantahnya.

"Oh ya? Jangan tersinggung, tapi aku yakin aku lebih kuat darimu." Ruby menyahut, "Karena aku penyihir level B. Aku salah satu murid terbaik di sekolahku dulu lho." lanjutnya sambil tersenyum.

Edge dan Ray melongo. Lily dan Ruby berpegangan tangan lalu mengayunkan tangan mereka ke atas dan ke bawah sambil bersorak, "Cewek memang hebat!"

Dua hari kemudian mereka sampai di tempat tujuan mereka. Kereta kuda berhenti tepat di luar gerbang kota. Ketika mereka berempat turun dari kereta, Ray bisa melihat tembok setinggi bangunan berlantai dua memagari kota. Tempat berhenti mereka dan gerbang masuk kota dihubungkan oleh jembatan yang melintangi sungai kecil. Sepasang penjaga menunggui gerbang itu.

"Besar sekali. Aku pernah mendengar tentang Recht, tapi aku tidak menduga aslinya seperti ini." Ray tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.

"Recht memang salah satu kota terbesar di Arkascha." Lily menimpali, "Dan lagi ada dua guild yang bermarkas di sini, jadi wajar saja kalau pertahanan kota ini kuat."

"Dua? Selain Silver Line, guild apa lagi yang ada di sini?" tanya Ruby.

"Gold hawk." Jawab Edge, "Tenang saja, tidak akan terjadi hal buruk kok biarpun dua guild letaknya di kota yang sama. Lagipula kami memang tidak musuhan."

Chapter 1: Bandid Invaded Town

Matahari bersinar tinggi di langit, menyingkirkan awan-awan yang baru selesai melaksanakan tugasnya, dan menghangatkan kembali dunia yang baru basah oleh hujan. Air menetes jatuh dari tangkai bunga. Cicit-cicit burung bersahutan. Kupu-kupu menari di udara. Sebuah sepatu menyipratkan genangan air, seseorang berlari di jalan setapak menuju sebuah kota yang dia lihat di ujung matanya. Nafasnya terengah-engah. Dahinya basah, entah karena keringat atau akibat gerimis barusan.

Lelaki muda itu terus berlari melewati sawah-sawah penduduk hingga akhirnya dia sampai di gerbang kota kecil itu. Sebuah nama, Ruava, ditulis di papan di atas gerbang.

"Akhirnya aku sampai di Ruava, tujuan pertamaku. Sekarang... akhirnya aku bisa..."

KRUYUUK

Perut pemuda itu berbunyi bahkan sebelum ia menyelesaikan kalimatnya sendiri.

"Akhirnya aku bisa beli makanan. Aku lapar sekali."

Di kota itu, si pemuda menemukan sebuah restoran sederhana, di dalamnya terdapat sebuah meja panjang di ujung ruangan, selain 4 set meja dan kursi. Seorang bartender mengelap gelas kosong di balik meja panjang. Daging ayam, roti, dan segelas sari jeruk pesanannya terhidang di mejanya.

"Mari makan!" ujar pemuda itu. Tanpa menghabiskan waktu, ia mulai menyantap hidangannya. Ia menghampiri bartender setelah ia selesai dengan makanannya. "Jadi berapa semuanya untuk makananku tadi?"

Bartender itu meletakkan gelas yang digosoknya lalu menjawab "3000 oeri, tuan"

"HAAAH!? TIGA RIBU?? kenapa makanan seperti tadi bisa seharga 3000 oeri? Mustahil, seharusnya tidak mungkin melebihi seribu oeri."

"Itulah harga di sini, anda pasti baru di sini sampai-sampai tidak tahu."

"Ini pemerasan. Tidak, mungkin lebih tepat disebut perampokan. Kenapa makanan sederhana di kota kecil begini bisa semahal itu?"

Wajah bartender itu berubah muram sebelum menjawab "Dulu keadaannya tidak seperti ini. Kota kami lebih sejahtera, harga-harga tidak semahal sekarang, dan kami bisa menikmati hasil sawah kami sendiri. Tapi dua tahun lalu, ada segerombolan bandit datang ke kota kami. Mereka meminta upeti berupa uang dan hasil sawah kami dalam jumlah besar. Kami tidak ada pilihan selain menuruti keinginan mereka."

"Kalian tidak melawan?"

"Kami sudah mencobanya, dan kami kalah. Para bandit itu memiliki sihir yang benar-benar kuat. Akibat pemberontakan kami itu, mereka meminta upeti yang lebih besar lagi."

"Begitu, jadi para bandit itu sumber masalahnya di sini ya?"

Bartender dan si pemuda menoleh ke asal suara. Seorang gadis cantik berambut pendek, yang kelihatannya juga baru saja menyelesaikan makan siangnya.

"Kalau mereka dibereskan, maka masalah akan beres bukan begitu?"

"Solusi itu lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan, kami sudah bilang kami kalah melawan mereka. Apa yang membuatmu berpikiran kau bisa melawan mereka?" tanya si bartender

"Sederhana. Sihirku lebih kuat dari orang kebanyakan." jawab gadis itu.

"Lupakan saja nona, lagipula kami sudah meminta bantuan guild resmi. Kalian berdua hanyalah pendatang, jangan melibatkan kalian dengan masalah kami."

Baru saja bartender itu menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari luar. Bartender itu langsung gemetar, keringat dingin menuruni keningnya. "Mereka datang."

Lima orang berkuda berkumpul di tengah kota, mereka mengitari seorang pria tua dengan pakaian berwibawa.

"Mana upeti bulan ini, walikota sialan?" teriak salah seorang bandit ke pria tua itu.

"Semua sedang disiapkan, kalian akan menerimanya kalau mau bersabar sedikit."

"Hah? Sabar??" bandit itu melepaskan hempasan angin ke walikota, dia langsung jatuh terjerembab.

"Kami sudah bilang kan! Upeti harus sudah siap begitu kami memintanya! Apa masih kurang jelas?!"

Belum sempat bandit itu mengatupkan rahangnya, sebuah bola air sebesar genggaman tangan menghantam wajahnya, bandit itu pun terjatuh dari kudanya.

"SIAPA ITU!?" Para bandit menoleh ke asal serangan. Gadis muda dari restoran tadi berdiri menantang mereka, satu tangan teracungkan ke para bandit.

"Aku Ruby Marchant. Aku tidak akan membiarkan kalian menindas para penduduk kota lebih dari ini."

"Siapa gadis ini? Hei walikota, apa kau ingin melawan kami lagi hah!"

"Tidak tidak. Kami tidak kenal dengan gadis ini."

"Aku melawan kalian karena keinginanku sendiri, tidak ada hubungannya dengan penduduk desa."

"Kau akan merasakan akibatnya kalau berani melawan kami!"

Tanpa dikomando, empat orang bandit lainnya menerjang Ruby. Ruby mengayunkan tangannya, sambil berteriak "Whip!"

dia membuat sebuah cemeti air yang langsung menjatuhkan satu bandit dari kudanya. Salah seorang bandit menyerang Ruby dengan bola api. Ia menahan serangan itu dengan mencipatakan sebuah perisai sihir tak kasat mata. Ruby melancarkan cemeti air lagi, kali ini serangan itu berhasil ditahan dengan perisai sihir.

Tanpa disadari Ruby, sebuah tali cahaya melesat cepat ke arahnya, menempel langsung ke tangan kirinya.

"Apa ini?"

Tali cahaya itu menarik Ruby dengan kuat hingga menyeretnya di tanah ke arah sumber tali itu, sebuah tongkat pendek yang ditancapkan ke tanah, bandit yang diserangnya pertama kali tadi berdiri di dekat tongkat itu.

"Kaget? Kau tidak bisa melawan kami sekarang." Ujar bandit itu ketika tangan Ruby sudah terikat kuat dengan tongkat. Ia mencoba mengumpulkan kekuatan sihirnya, tidak bisa. Ia mencoba mengangkat tangannya, tidak mampu.

"Uukh... tongkat ini...menyegel kekuatanku?"

"Benar. Artifak ini mampu menyegel kekuatan seseorang. Sekarang,sebagai hukuman karena berani melawan kami, kau akan ikut kami ke bos." Bandit itu menatap para penduduk sebelum melanjutkan ancamannya. "Upeti akan kami naikkan karena kalian berani melawan kami. Dan juga, apa yang akan terjadi pada gadis ini akan menjadi contoh bagi kalian semua kalau berani melawan kami." Selesai mengucapkannya, bandit itu membopong Ruby ke atas kuda, lalu pergi meninggalkan kota.

Semua orang gemetar ketakutan setelah apa yang terjadi. Beberapa orang menyesalkan seseorang ikut terlibat masalah mereka.

Bartender restoran tadi mendekati pemuda pendatang baru itu dan berkata, "Pergilah kau selagi sempat. Jangan sampai kau juga terkena masalah."

"Sebenarnya aku ingin pergi, tapi ada dua masalah: Pertama, kalau aku pergi sekarang aku tidak bisa membayar makanan mewahmu tadi, paling tidak aku harus membayarmu dengan sesuatu. Kedua, Aku Ray Silverheart tidak pernah membiarkan seorang perempuan dalam bahaya. Aku akan menolongnya."

Para bandit yang baru saja dari Ruava tadi membawa Ruby ke dalam hutan. Agak jauh ke dalam sana, terdapat sebuah perkemahan bandit. Tenda-tenda didirikan di beberapa tempat, salah satu tenda menyimpan upeti mereka dari penduduk Ruava. Di tengah perkemahan, berdiri tenda paling besar. Ruby dibawa masuk ke sana.

"Bos, kami baru kembali dari Ruava." ujar salah satu bandit. Di dalam tenda, seorang pria berbadan besar duduk di tengah ruangan. Rambutnya yang gondrong dibiarkan berantakan. Tubuh bagian atasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan sebuah tato cakar di dadanya.

"Lalu? Kau sudah dapat upetinya?" tanya pria yang dipanggil 'Bos' itu.

"Itu... belum bos, para penduduk itu melawan lagi"

"Kalau belum kenapa kau kembali ke sini! Apa kau kalah oleh mereka hah!?"

"Tidak, tentu tidak bos. Aku sudah mengancam mereka untuk meningkatkan upeti dan lagi..." Ia menoleh ke Ruby yang digendongnya, tangannya terkulai lemas tanpa tenaga. "Aku menangkap orang yang berani melawan kita. Masih muda bos, bos bisa menikmatinya dulu sebelum para penduduk itu datang dengan upeti mereka."

Bos bandit itu menyeringai puas. Ruby ditidurkan di salah satu kursi panjang sebelum bandit itu keluar dari tenda. Bos bandit itu mendekati Ruby, senyumnya makin lebar. Wajah Ruby ketakutan, tangannya gemetaran, dia mencoba bergerak walau keliatannya sia-sia.

Di luar tenda, bandit itu bertanya pada yang lainnya "Apa sudah ada kiriman upeti lagi dari Ruava?"

pertanyaan itu dijawab dengan gelengan kepala oleh dua bandit lainnya.

"Para penduduk itu sebaiknya cepat menyiapkannya, kalau tidak mungkin kali ini kita harus mengambil gadis yang memang penduduk mereka."

Mendadak, seseorang jatuh dari langit dan mendarat tidak jauh di depan perkemahan disertai hempasan angin. Mengagetkan para bandit yang ada di situ.

"Siapa kau? Mau apa kau datang ke sini?"

"Aku? Aku Ray Silverheart. Aku datang ke sini untuk menolong perempuan tadi."

Sejenak semua orang terdiam, lalu tawa para bandit itu meledak.

"Apa katamu? Memangnya apa yang bisa kau lakukan sendirian?" tanya salah satu bandit di tengah tawanya.

"Ini. Little typhoon" Ujar Ray sambil mengibaskan tangannya, membuat angin puyuh kecil menerjang bandit-bandit itu. Para bandit itu membuat perisai sihir untuk menahan serangan Ray.

"Oke, kelihatannya kau bukan cuma bisa mengeong saja. Mari kita lihat sehebat apa kau."

Sementara itu di dalam tenda, bos bandit sudah mendekati Ruby yang tergeletak tak berdaya. Wajahnya terlihat senang melihat Ruby yang ketakutan.

"Nah... mari kita mulai." katanya pada akhirnya.

Pada saat itu seseorang terhempas memasuki tenda. Bos itu mengenalinya sebagai salah seorang bandit.

"Apa yang terjadi?" ia pun pergi ke luar tenda. Di sana dia melihat seorang pemuda sendirian melawan para anak buahnya. Seorang bandit terkapar di tanah, sisanya berhadap-hadapan dengan pemuda ini.

"Ada apa ini? Siapa dia?" tanya bos bandit

"Namaku Ray Silverheart. Aku datang untuk menolong perempuan itu."

"Begitukah? Kau cukup punya nyali juga nak, tapi itu saja tidak cukup untuk memenuhi keinginanmu."

"Aku sudah mengalahkan anak buahmu."

"Belum semuanya."

"Kalau begitu akan kukalahkan semuanya, berikut juga denganmu."

"Kau tidak akan bisa. Wind blast!" bos bandit itu menghempaskan angin dengan kekuatan yang besar. Ray seketika membuat perisai sihir untuk menahannya.

PRAANG

perisai sihir Ray pecah, dia terdorong mundur karena tekanannya. "Kuat sekali." katanya terkejut.

"Sudah kubilang nak, kau tidak akan bisa. Orang-orang desa itu bahkan tidak bisa mengalahkanku seorang diri." ujar bos bandit itu sombong.

"Aku lebih kuat dari mereka." Ray langsung menghimpun tenaga sihir di kedua tangannya, membuat angin berputar hebat.

"Wind buster!" teriaknya saat melepaskan kumpulan tenaga angin itu.

BLAAAM

terdengar dentuman besar saat serangan itu mengenai sasaran. Ketika debu dan angin memudar, si bos bandit itu masih berdiri tegak.

"Mustahil... bagaimana mungkin?" Tanya Ray, nafasnya terengah-engah karena menghabiskan banyak tenaga.

"Harus kuakui kau hebat bocah, tidak banyak yang bisa menghancurkan perisaiku seperti tadi. Tapi, pertarungan kita hanya sampai sini. Wind blast!"

Ray berdiri terdiam, dia tidak bisa menghindar dan juga tidak punya kekuatan untuk membuat perisai sihir.

BAAM

sebuah perisai sihir tercipta di hadapan Ray, melindunginya dari serangan terakhir tadi. Para bandit terkejut, sementara Ray masih berusaha mengendalikan nafasnya.

"Kau tidak apa-apa?" ujar sebuah suara lembut dari belakang. Ray menoleh, dia melihat rambut pirang panjang indah berkibar ditiup angin, yang dibingkai oleh rambut itu adalah sebuah wajah yang cantik dengan senyum yang menawan, mampu memikat pria manapun.

Kekaguman Ray belum hilang ketika tiba-tiba beberapa bola api melesat, masing-masing bola api mengenai satu bandit dengan perkecualian si bos bandit itu sendiri. Para bandit itu langsung terkapar di tanah, tak bergerak lagi.

"Ah payah! Masa tidak bisa menahan serangan seperti itu sih?" ujar suara lain, datangnya dari belakang perempuan tadi. Seorang laki-laki datang mendekat, nyala api masih berkobar di tangan kanannya, menerangi sisi tubuhnya. Di wajahnya tergambar kekecewaan karena lemahnya musuhnya.

"Si.. siapa kalian?" akhirnya Ray bertanya.

"Aku Lily Maxillian dan ini partner-ku Edge Reddam, kami berdua dari Silver Line. Penduduk Ruava meminta bantuan kami untuk menyingkirkan para bandit." Jawab perempuan itu.

"Brengsek... para penduduk itu benar-benar menyewa bantuan guild untuk melawanku? Akan kubuat mereka menyesal karena pernah berfikir untuk melakukannya."

"Lebih baik kau fikirkan nasibmu sendiri, karena kelihatannya tidak akan berakhir baik." sahut Edge

Menyadari dirinya terdesak, pemimpin bandit itu membuat perisai di depannya. "Bagaimana? Kau tidak akan bisa menembus perisaiku ini." tantangnya.

"Bodooooh." ejek Edge. Lily mengeluarkan sebuah seruling, lalu memainkannya. Awalnya terdengar nada yang indah, kemudian dia memainkan sebuah nada tinggi.

Udara terkoyak, begitu pun tanah di bawahnya, membentuk sebuah garis lurus dari Lily hingga ke pemimpin bandit itu. Serangan suara itu membelah perisai seperti pisau memotong keju, dan langsung melukai pemimpin bandit itu.

"Lily, kau tidak membunuhnya kan?" tanya Edge.

"Tidak kok, sebisa mungkin aku berusaha membiarkannya hidup."

Ray tercengang melihat demonstrasi kekuatan barusan. Ia tidak menyadari mulutnya menganga sedari tadi.

"Kenapa? Kaget?" tanya Lily yang diakhiri dengan senyum indahnya.

"Ah.. tidak... aku hanya..."

"Pemimpin bandit ini sudah kalah, pekerjaan kita sudah selesai di sini kan?"

"Belum Edge, kita harus menyerahkan mereka pada kerajaan agar mereka dipenjara."

"Tunggu, tunggu dulu." Ray menyela, "Ada seseorang di sini, sandera. Aku datang untuk menolongnya tadi."

"Benarkah? Ayo kita tolong." Lily berjalan memasuki tenda terbesar. Di sana dia menemukan Ruby tergeletak di meja.

"Anak malang, kau tidak apa-apa? Oh, artifak itu... kekuatanmu disegel? Tunggu sebentar biar kulepaskan untukmu."

Begitu segelnya dilepas, Ruby duduk di kursi dan berkata "Terima kasih, aku sudah tidak apa-apa sekarang."

Edge dan Ray memasuki tenda. Ray berkata "Kau tidak apa-apa kan? Aku kemari untuk menolongmu."

"Kau? Kau yang tadi tidak bisa membayar makanan di kota. Kenapa kau datang menolongku?"

"Seorang Silverheart tidak pernah membiarkan orang lain kesusahan." Jawabnya dengan bangga. "Dan omong-omong, kau bisa tidak mengingat sesuatu yang lebih bagus daripada soal bayar makanan tadi?"

"Ahahaha, maaf ya. Terima kasih sudah menolongku."

"Ayo, sebaiknya kita cepat menyerahkan mereka pada pihak yang berwajib. Dalam keadaan hidup-hidup tentunya." ujar Edge.

Begitulah akhir dari penderitaan penduduk Ruava. Para bandit diikat dengan artifak penyegel sihir lalu diserahkan pada pihak berwenang. Para penduduk bersorak-sorai dalam sukacita. Bartender menggratiskan biaya makan Ray dan Ruby. Dan dalam selebrasi singkat itu, mereka berdua mengetahui bahwa para penolong mereka berasal dari sebuah guild bernama Silver Line.