Setelah Raisha memberikan obat yang dibuat dari pencariannya ke Elise yang sakit, dia kembali ke apartemennya untuk membuatkan Rico sebuah sup hangat. Raut wajah anak laki-laki itu terlihat sangat senang saat memakannya. Di pagi yang sama, Edge sedang memelanai kuda, Lilly di sebelahnya sudah selesai mengerjakan hal yang sama.
"Kau sudah siap, Edge?" tanya si perempuan. Tubuhnya mengenakan mantel berwarna putih yang agak tebal.
"Ya. Baru saja." jawab yang ditanya. Edge langsung melompat ke punggung kuda, tangannya yang dibungkus sarung tangan memegang tali kekang. Penyihir api itu mengenakan mantel berwarna merah terang, seolah menegaskan identitasnya sebagai penyihir api.
"Ayo kita bergegas, ada seorang gadis yang perlu diselamatkan." katanya kemudian, kepada rekannya.
Lilly lalu naik ke atas kudanya, "Para bandit itu mengharapkan orang tua gadis itu memberikan tebusan waktu matahari terbenam nanti, tapi kita akan menghancurkan harapan itu."
Mereka berdua memacu kudanya, meninggalkan jejak-jejak tapak kuda di sepanjang jalan bersalju di luar kota.
Hari sudah mendekati tengah hari, sewaktu mereka bisa melihat tempat yang diinginkan para bandit untuk menyerahkan tebusan. Edge dan Lilly berhenti di sebuah bukit tinggi, dari situ, mereka melihat Pohon eik besar dengan dahan tertutup salju yang menyebar ke segala arah. Di bawah pohon itu, terlihat seperti titik-titik kecil di atas salju, tujuh orang bandit sedang mengelilingi seseorang yang diikat di tengah-tengah mereka.
"Itu dia, orang yang harus kita selamatkan." ujar Edge, "Ada ide bagaimana kita akan melakukannya? Menyerang langsung dari depan bukanlah gagasan yang bagus."
"Bagaimana dengan strategi sederhana? Aku akan memancing perhatian mereka dari depan, sementara itu kau mendekat dari belakang dan menolong anak itu." usul Lilly.
"Dan bagaimana caraku mendekati mereka dari belakang? Tanah salju ini begitu terbuka. Tidak ada apapun yang bisa kupakai untuk bersembunyi sambil mendekat dalam jarak 300 meter."
"Kenakan mantelku dan menunduklah, dan juga jangan terlalu membuat suara."
Segera, mereka bertukar mantel. Lilly merasa agak dingin karena mantel Edge tidak setebal miliknya, tapi ia tidak mempermasalahkan hal itu. Kuda-kuda ditinggalkan, Lilly bergerak terlebih dulu, baru setelah beberapa langkah kemudian Edge berjalan mendekat.