Lilly terbaring lemah di atas tempat tidur, luka-lukanya sudah terobati tapi perban masih menutupi beberapa bagian tubuhnya. Raisha menarik selimut menutupi tubuhnya. Ia berpaling ke arah Elise yang tertidur di lantai.
"Kau tidak bisa tidur seperti itu." ujarnya, lalu mengambil selimutnya yang satu lagi, kemudian menyelimuti Elise dengan itu.
Raisha melihat ke luar jendela, ke bulan tak sempurna yang sebagian tertutup awan.
"Aku harap... Kak Area baik-baik saja, Kak Area memang kuat tapi tetap saja aku khawatir..." ujarnya pada diri sendiri, "Lagipula, kadang dia tidak sekuat kelihatannya."
Baru saja dia selesai mengucapkan itu, sebuah cahaya biru bersinar di belakangnya, sewaktu dia menoleh, cahaya itu digantikan oleh Area, Ruby, Edge, dan Ray.
"Kak Area! Oh, Kak Ruby terluka parah, duduklah kak, biar kuobati." ujarnya pada mereka semua, dengan sigap dia membimbing Ruby duduk di kursi, lalu memulai sihir pengobatannya.
"Bagaimana Lilly?" tanya Edge.
"Tidak perlu dikhawatirkan, luka-luka yang parah sudah kusembuhkan, Kak Lilly cuma perlu istirahat." jawab Raisha sambil menyembuhkan Ruby, "Luka Kak Ruby tidak separah Kak Lilly, dalam waktu singkat, aku bisa menyembuhkan kakak."
"Iya, beberapa orang penyembuh menyembuhkanku, mereka tidak ingin aku mati sebelum pertarungan kehormatan berakhir." ujar Ruby.
"Apa kalian juga terluka? Aku bisa menyembuhkan kalian juga." tanya Raisha, masih sambil menyembuhkan Ruby.
"Edge, dan Area terluka, aku sih tidak karena tidak sempat bertarung. Tapi apa kau tidak capek menyembuhkan banyak orang sekaligus, Raisha?" jawab Ray.
"Tidak apa-apa, aku sempat istirahat sebentar kok tadi. Kak Ruby, kakak sudah selesai kusembuhkan, tapi jangan bertarung dulu untuk sementara atau lukanya akan terbuka." Raisha mengakhiri pengobatannya pada Ruby, lalu menghampiri Edge. Tanpa menunggu lama, dia menggunakan sihir penyembuhannya ke bahu Edge, dalam waktu singkat luka itu sembuh.
"Sekarang giliran Kak Area." ujarnya sambil mendekati Area. Ia lalu menyentuh sisi tubuh Area, yang disentuh mengerang sebagai respons.
"Pelan-pelan, sakit."
"Kak Ray, Kak Edge, dan Kak Ruby, bisa pulang sekarang, kalian sebaiknya istirahat. Khusus Kak Ruby jangan bertarung atau mengambil misi dulu untuk sementara sampai benar-benar pulih. Aku akan menyembuhkan Kak Area."
"Baiklah, aku mengerti." ujar Ruby sambil berdiri dari kursi, menyadari Area juga akan dirawat di situ. Tanpa mengucapkan apa-apa, mereka keluar dari ruangan.
"Ayo, duduk di sini." ujarnya sambil menuntun Area ke kursi, sesudah Area duduk, ia langsung memulai sihir pengobatannya.
"Bagaimana kakak bisa terluka? Kakak pasti menganggap enteng lawan lagi kan?"
"Tidak kok. Hanya saja musuhku kali ini punya taktik serangan yang tidak biasa."
"Kakak selalu menganggap enteng lawan, kakak memang punya sihir pertahanan yang hebat tapi kalau kakak ceroboh begini, aku kan jadi... um... jadi..."
"Khawatir?"
wajah Raisha merona merah sebagai jawaban.
"Tidak usah khawatir, kalau dalam keadaan bahaya, aku akan serius kok."
"Jadi harus menunggu kakak dalam bahaya dulu?" Raisha memprotes.
"Haha, tenang saja. Aku senang kau mengkhawatirkanku, tapi tenang saja, aku bisa menjaga diri kok."
Raisha menghentikan penyembuhannya, sambil mengela nafas, dia berkata, "Sudah selesai kak, tapi kakak jangan memaksakan diri kalau bertarung."
"Berarti kalau bertarung biasa boleh kan?"
"Tetap tidak boleh!" Larang Raisha, "Aku tidak akan menyembuhkan kakak kalau kakak tidak mendengarkanku!"
"Baiklah, baiklah." ujar Area.
Suasana sunyi sejenak, sebelum Area mengganti topik.
"Maaf ya aku meninggalkan kalian berdua. Di saat Mad tidak di kota, Lilly terluka, dan aku pergi, guild kita lumayan kosong. Kalau terjadi sesuatu, kita harus bergantung pada kalian berdua."
"Kakak khawatir ya?"
Area tidak menjawab, dia cuma menggaruk-garuk belakang kepalanya.
"Kakak tenang saja, masih ada Ketua Diaz dan Guild Gold Hawk di sini. Dan jangan lupa, kita juga punya Elise, biarpun dia tidak bisa menggunakan sihirnya karena masih takut tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Tapi aku senang kalau kakak khawatir." Raisha mengakhiri kalimatnya dengan senyuman khasnya, tapi senyumannya kali ini beda, rona merah di wajahnya membuat wajahnya terlihat lebih manis.
Selasa, 09 Desember 2014
Senin, 20 Oktober 2014
Chapter 19: Efreet's eye
Edge berjalan mantap menuju tengah lingkaran, saat berhenti di situ, dia berkata "Aku Edge Reddam, aku petarung selanjutnya, mana wakil kalian?"
Seolah menjawab pertanyaannya, seorang pria melangkah maju, rambut merahnya yang sepanjang bahu berkibar ditiup angin. Matanya yang sama merahnya seperti terbakar api, hanya saja tidak ada kehangatan yang terpancar dari situ, melainkan tatapan dingin seorang pembunuh.
"Namaku Marva Sang Penebas Api, akulah yang akan menjadi lawanmu." ujar orang itu. Seketika itu juga, pria itu membuat pedang api di tangannya.
"Pengguna elemen api hah? Kebetulan, aku juga sama." Edge membuka telapak tangannya, bola api membara di situ.
"Kalau begini, kemenanganku sudah dipastikan" ujar Marva, "Kau tahu kenapa aku disebut Sang Penebas Api? Karena apiku mengalahkan api lain, tidak peduli sekuat apapun itu."
"Kalau begitu, mari kita buktikan!" Edge melemparkan bola api itu ke Marva, yang langsung menebasnya menjadi dua bagian, melewati bagian kiri dan kanan tubuhnya.
Marva menerjang Edge, menyabetkan pedangnya beberapa kali. Edge dengan lincahnya menghindari semua tebasan itu.
Edge melompat mundur, mengambil jarak sebelum akhirnya dia melemparkan satu api pada Marva, "Fire finger!" teriaknya. Api tipis dan panjang melesat menuju sasarannya.
Marva menahan serangan itu dengan pedangnya, sebuah ledakan tercipta, tapi dia tidak terlihat terluka sama sekali.
"Hee... boleh juga kau." puji Edge.
"Sudah kubilang, kan? Apiku mengalahkan api yang lain, termasuk apimu juga!"
Chapter 18: Wood controller
Semua penonton terdiam seolah leher mereka tercekat. Wajar saja, dua orang petarung mereka baru saja dijatuhkan oleh satu orang, hal yang pasti sulit dipercaya oleh siapapun juga. Beberapa orang berbisik-bisik tentang nama Area Sang Perisai dari Guild Silver Line, sebagian lagi tak percaya dengan kemampuannya.
Ruby berjalan ke tengah arena pertarungan, matanya menantang Niozo, tanpa perlu kata-kata sekalipun, laki-laki itu tahu apa yang ingin dikatakan Ruby.
Ia menoleh ke arah para petarungnya, lalu berteriak, "Farast! Kini giliranmu bertarung!"
Seorang perempuan berambut panjang dan indah menjawab panggilan itu, sebagian rambutnya menutupi mata kanannya saat dia berjalan. Perempuan itu membawa tas kecil di balik pinggangnya.
"Aku sudah mendengar tentangmu" ujar Farast tiba-tiba
"Oh ya? Apa yang kau dengar?" tanya Ruby
"Kudengar kau kalah telak dalam upaya penangkapan beberapa hari lalu, kalau bukan karena Sang Perisai, saat ini kau pasti sudah mati dan kami tak perlu melakukan pertarungan merepotkan ini. Karena hasilnya akan sama saja."
"Saat itu aku dikeroyok, kalau pertarungan keroyokan yang bisa kalian banggakan, berarti kalian pasti payah dalam pertarungan satu lawan satu. Lagipula, sudah terbukti dua penyihir kalian kalah dengan mudah."
Ekspresi wajah Farast berubah, dari yang tadinya tersenyum mengejek menjadi marah.
"Akan kubuat kau menyesal karena sudah mengatakan itu." ujarnya.
Farast meraih ke dalam tas kecil di pinggangnya, mengeluarkan sebatang tongkat kecil. Ia menodongkannya pada Ruby, sesaat kemudian tongkat itu memanjang. Bukan cuma memanjang, tapi juga meliuk-liuk bak ular hidup.
Ruby yang terkejut mencoba menghindar, tapi tongkat itu berhasil melilit lengan kiri Ruby. Dengan mudahnya, Farast membanting Ruby ke tanah.
"Kau... pengguna elemen kayu?" tanya Ruby, masih setengah terkejut.
Jumat, 10 Oktober 2014
Chapter 17: Battle of honor
Matahari sudah tertidur di ufuk barat, di langit yang gelap ini bulan menggantikannya untuk menjadi penerang, walaupun bentuknya tidak bulat sempurna. Persiapan untuk pertarungan kehormatan sudah selesai dilakukan. Tiang-tiang obor dideretkan membentuk lingkaran besar di alun-alun desa, sebuah api unggun besar menyala di tengah-tengah alun-alun. Ruby dan pria tinggi besar yang mereka temui tadi kini berdiri berhadap-hadapan, mereka berdua memegang gelas yang dibuat dari tanah liat, cairan berwarna kuning memenuhinya.
Pria itu mengangkat gelasnya lalu berkata, "Aku, Niozo Faren, menginginkan hancurnya Klan Siren dengan kematian Ruby Siren. Sebagai harganya, aku mempertaruhkan nyawaku sendiri." setelah mengucapkannya, dia menenggak gelasnya hingga tandas.
Setelah itu, giliran Ruby yang mengangkat gelasnya, "Aku, Ruby Siren, menginginkan terputusnya hubunganku dengan intrik politik di Nameless Sea. Sebagai harganya, aku menawarkan diriku sebagai budak pemenang." Ruby pun meminum habis minumannya.
Setelah itu mereka berdua berbalik dan kembali ke grupnya masing-masing, Ruby menemui teman-temannya, dan Niozo ke para petarungnya.
"Biar kujelaskan aturan bertarungnya." ujar Ruby, "Pertarungannya adalah pertarungan 5 ronde, pihak yang memenangkan 3 pertarungan terlebih dahulu yang menang dan dia mendapatkan apa yang diinginkannya tadi. Pihak yang kalah harus membayar kekalahannya dengan apa yang tadi dijanjikannya. Siapa saja dari masing-masing pihak boleh maju, termasuk yang mengucapkan keinginannya, tapi diwakili 5 petarung lain pun boleh. Walaupun ada 5 ronde, tapi tiap petarung dari masing-masing pihak boleh bertarung lebih dari sekali kalau dia merasa mampu."
"Begitu? Cukup mudah dimengerti." ujar Ray.
"Oh iya, tidak ada wasit di pertarungan ini. Kalian dianggap kalah kalau menyerah atau tidak mampu melanjutkan pertarungan."
"Aku ada pertanyaan: apa yang terjadi pada kami kalau kita kalah?" tanya Edge.
"Tidak ada. Karena aku tidak menawarkan kalian sebagai bayaran. Kalian boleh pulang kalau kita kalah, aku tidak ingin ikut menyusahkan kalian lebih dari ini."
"Tenang saja, kita tidak akan kalah." ujar Area, Ruby tersenyum mendengarnya.
"Jadi? Siapa yang akan bertarung pertama?" Edge bertanya lagi.
"Biar aku saja, rasanya aku cocok menjadi pembuka." jawab Area sambil melangkah maju.
Di tengah Arena, tak jauh dari api unggun, Area berhadap-hadapan dengan lawannya, seorang pria kurus kering dengan baju yang sama tipisnya dengan dagingnya.
"Kau lawanku? Kau tidak terlihat seperti penyihir tangguh." ledek Area.
"Jangan khawatir, aku bisa mengubah pendapatmu soal itu."
Mendadak, tekanan sihir yang besar dan menekan meluap keluar dari laki-laki ceking itu. Tekanannya mengagetkan Edge, Ray, dan Ruby, walaupun Area terlihat tenang saja. Angin kecil berputar di kaki orang itu, lambat laun angin berputar semakin cepat. Tak lama kemudian, tubuhnya diselimuti cahaya keperakan.
"Shapeshift ya?" ujar Area pelan.
Ketika cahaya keperakan itu memudar, pria itu sudah berwujud ular perak raksasa, panjangnya dari kepala hingga ekor paling tidak enam meter. Ular itu mengangkat kepalanya tinggi di atas tanah, menatap rendah Area di depannya. Mulutnya menganga lebar memamerkan dua taringnya, lidah hitamnya menjilat-jilat udara.
"Masih mengira aku tidak terlihat seperti musuh yang tangguh?"
"Sebenarnya sih... iya." jawab Area santai.
Ular yang tersinggung itu marah, ia menerjang Area yang tampak kecil di hadapannya.
Chapter 16: Challenge
Matahari terik menyinari pohon kelapa, pasir pantai, dan laut. Debur ombak menghantam jinak bibir pantai, seekor kepiting berjalan menyusuri pantai. Di pantai tak berdosa itu, sesuatu bersinar di tepi hutan di pantai itu, sebuah cahaya biru menyala terang. Cahaya berbentuk lingkaran itu lama kelamaan memudar, dan ketika cahaya itu menghilang seluruhnya, empat orang berdiri di tempatnya. Ray, Ruby, Edge, dan Area.
"Di mana kita?" tanya Ray
Ruby melihat sekeliling sebelum menjawab, "Aku tahu tempat ini, pantai di salah satu pulau. Cukup dekat dengan pulau utama."
"Untunglah Area tidak membawa kita ke tempat yang salah." ujar Edge
"Maaf ya, tapi aku tidak pernah salah kalau teleportasi."
"Jadi sekarang kita ke mana?" tanya Ray lagi.
"Aku tahu harus ke mana, ikuti aku." ujar Ruby.
"Tunggu, apa tidak bisa dengan teleportasi saja?" cegat Edge
"Bukannya kau tidak percaya pada teleportasiku?"
"Tidak, lebih baik kita jalan kaki saja, Area tidak kenal daerah ini, kalau salah kita bisa tercebur di laut atau rawa."
"Kalau begitu lebih baik kita jalan saja" ujar Edge.
Ruby pun memimpin rombongan itu ke dalam hutan, melalui jalan setapak. Batang-batang pepohonan mengepung mereka dari kanan dan kiri, sementara dahan, cabang, dan ranting berusaha sekuat tenaga mereka untuk mencegah cahaya matahari menyentuh tanah.
Untuk kesekian kalinya, Ray mendapati dirinya berada di hutan, hingga kini dia merasa sudah terbiasa berada di tengah-tengah suasana seperti ini. Aroma pepohonan yang khas, serangga yang beterbangan, dan suara-suara dari balik rerumputan.
Mereka berbelok beberapa kali di jalan setapak itu, semakin lama semakin jauh ke dalam hutan. Di beberapa persimpangan, Ruby terdiam sebentar sebelum memilih jalan yang tepat, tapi di sebagian besar persimpangan yang lain, langkahnya penuh percaya diri.
"Sepertinya kita semakin ke tengah hutan? Apa kita menuju tempat yang tepat?" tanya Ray.
"Tujuan kita ada di balik hutan ini." jawab Ruby, "setelah keluar di sisi seberang hutan, kita bisa melanjutkan perjalanan hingga ke pulau utama. Kebetulan kita tidak jauh."
"Begitu... lalu berapa luas hutan ini?" sekarang Edge yang bertanya.
"Kira-kira satu hari perjalanan."
"Aku bisa lho men-teleport kalian."
"Terima kasih Area, tapi aku ingin berjalan, berjalan di hutan ini lagi membuatku mengingat kembali masa kecilku dulu."
dan setelah percakapan singkat itu, mereka semua melanjutkan perjalanan.
Chapter 15: The last of the clan
Suara langkah kaki yang cepat terdengar dari lantai bawah, semakin lama suara itu semakin jelas terdengar, hingga akhirnya suara langkah itu berwujud menjadi Edge yang terengah-engah karena berlari. Lengannya masih dibalut perban. Tatapan matanya bertemu dengan mata Ray dan Area yang menunggu di depan kamar Raisha.
"Dimana Lilly?" tanyanya akhirnya.
Area mengacungkan jempolnya ke kamar Raisha, "Masih dirawat, bersama dengan Ruby."
Edge berjalan mendekat, hingga ke depan daun pintu kamar Raisha.
"Jangan masuk dulu, sudah kubilang mereka masih dirawat."
Edge berhenti, lalu menatap Area, "Apa yang terjadi? Oh tidak, pertanyaanku seharusnya... kenapa kau tidak membawanya ke dokter, tapi kemari?"
"Sebenarnya sih aku berniat membawanya ke dokter, tapi karena panik dan terburu-buru aku jadi salah tujuan teleport. Untungnya Raisha bisa sihir penyembuhan."
"Tapi... seberapa hebat kemampuan penyembuhnya?" tanya Edge.
"Raisha.... bisa... menyembuhkan Kak Lilly.... pasti." ujar sebuah suara, yang ternyata adalah Elise. Ia berdiri di tepi tangga dengan nafas berat, tubuhnya sampai membungkuk, rambut panjangnya jatuh di sisi wajahnya.
"Ya, dia pasti bisa melakukannya. Kau tenang saja, Edge." ujar Ray. Edge tidak menjawab, tapi raut wajahnya mengatakan bahwa dia setuju.
Mereka berempat pun hanya bisa menunggu di koridor. Kesunyian malam terasa berlalu lebih lama ketika tidak ada satupun dari mereka yang berbicara.
Matahari baru saja memperlihatkan sinarnya di ufuk timur, ketika pintu kamar Raisha terbuka, si penghuni kamar melangkah keluar.
Edge yang pertama kali melemparkan pertanyaan, "Bagaimana Lilly?" pertanyaan yang disambut senyum kecil dari Raisha.
"Tenang saja Kak Edge, kondisi Kak Lilly sudah stabil, dia baik-baik saja. Kalau kalian mau menemuinya, kalian boleh masuk sekarang."
Edge tidak menunggu untuk diberi ijin dua kali.
Di dalam kamar itu, Lilly terbaring di atas kasur, sebagian tubuhnya yang tidak tertutup selimut tampak di perban, ia terkejut saat melihat Edge.
Ruby sendiri duduk di sebuah kursi, kalau dilihat sekilas, tidak tampak kalau dia baru saja terluka, entah apakah sihir penyembuh Raisha yang hebat atau ada perban di balik bajunya.
"Edge? Kenapa kau ada di sini?" tanya Lilly spontan.
"Elise yang memberitahuku." semua mata memandang Elise setelah mereka mendengar jawaban Edge.
"Em... anu... setelah tahu... Kak Lilly terluka... aku jadi ber..pikir untuk... memanggil Kak... Edge."
Lilly membalas kata-kata Elise dengan ekspresi wajah yang berkata 'dari mana kau bisa berpikir begitu?'
"Ruby? Kau tidak apa-apa?" kali ini Ray yang bertanya.
"Tadinya memang sakit, tapi sekarang aku sudah tidak-apa-apa kok. Sihir penyembuh Raisha memang hebat." jawabnya.
"Jadi Ruby, apa kau bisa ceritakan pada kami siapa orang-orang yang menyerangmu itu?" tanya Area.
Kamis, 02 Oktober 2014
Chapter 14: Princess Siren
Angin dingin meniup malam, membuat tubuh Ruby dan Lilly menggigil kedinginan. Lampu jalanan membantu bulan menerangi malam saat kedua gadis itu menyusuri jalan. Jalanan itu sepi. Hanya ada seekor kucing hitam di jalan itu selain mereka berdua. Saat mereka berdua berbelok di persimpangan jalan, Lilly berhenti, memaksa Ruby juga ikut berhenti.
"Ada apa Lilly?"
"Jangan kaget ya, kita sedang diikuti."
"Hah? Benarkah? Darimana kau tahu?"
"Aku mendengar suaranya, kamu mungkin tidak dengar tapi aku bisa mendengar hal-hal yang tidak didengar orang lain."
"Lalu bagaimana? Apa kita pergoki dia?"
"Iya, tapi jangan di sini, lebih baik kita pergi ke luar kota dulu baru menanyai dia."
"Kenapa? Kenapa tidak langsung saja kita tangkap orang itu sekarang?"
"Dia juga bisa sihir, aku bisa tahu. Lebih baik kita temui dia di tempat sepi."
"Baiklah kalau begitu."
dengan kesepakatan itu mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju gerbang kota, melewati gerbang itu sampai ke padang rumput di luar kota. Di tengah padang itu mereka berdua berhenti, Lilly berbalik badan dan berkata "Jadi? Ada apa kau membuntuti kami?"
seseorang berdiri beberapa meter di hadapannya, terbuka luas tak terlindungi perlindungan rumah & bangunan, wajahnya tertutup kerudung kusam berwarna coklat. Ia menyingkap kerudungnya sebelum menjawab pertanyaan Lilly.
"Aku tidak ada urusan denganmu, tapi dengan perempuan yang bersamamu." jawab orang itu, seorang pria dengan brewok tebal.
Ruby berbalik, menatap pria itu, "Denganku?" tanyanya.
Seringai pria itu melebar saat melihat wajah Ruby, "Aku kenal sekali wajah itu... Ruby Siren, putri dari Regasa Siren."
Ruby menahan nafas saat pria itu menyebutkan namanya dan ayahnya, tanpa sadar dia mundur dua langkah.
"Siren?" tanya Lilly, menyadari nama keluarga yang berbeda, tapi Ruby tidak menjawabnya.
"Kalau aku bisa menghabisimu di sini, suku kami akan bisa benar-benar berkuasa." ujar pria itu.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, tapi aku tidak akan membiarkanmu mendekati Ruby." ancam Lilly.
"Kau kira kau bisa mengalahkan kami?" setelah mengucapkannya, pria itu menempelkan dua jari ke keningnya, terdiam.
"Itu... telepati?"
mendadak sebuah cahaya biru bersinar di samping pria itu, setelah cahaya memudar, lima orang pria muncul di tempatnya. Perawakan mereka tidak jelas terlihat karena awan menghalangi usaha bulan untuk menerangi mereka.
"Jadi kau berhasil menemukannya, Garaf?" tanya salah satu dari mereka.
"Ya, Vern. Ia perempuan yang itu" jawab pria brewok itu sambil menuding Ruby.
Pria yang bernama Vern berjalan maju, "Selamat malam Putri Ruby Siren, saya Vern Randau. Anda mungkin tidak mengenal saya, tapi Garaf mengenal wajah anda dengan baik. Mohon maaf atas tindakan saya yang lancang ini, tapi saya akan memaksa anda untuk turun takhta... dengan membunuh anda."
Vern melemparkan dua bola api ke Ruby, Ruby dengan sigap membuat perisai untuk menahan serangan itu.
Lilly memainkan serulingnya, satu serangan suara membelah udara melesat ke Vern. Vern langsung membuat perisai, yang pecah saat menahan serangan Lilly, pria itu terhempas mundur karena tekanannya.
Seseorang berlari menghampiri Lilly, saat sudah cukup dekat, pria itu membuat pedang api di tangannya lalu menyabetkannya ke Lilly.
Lilly menunduk, tapi pria itu tidak berhenti di situ, dia menyerang Lilly dengan beberapa sabetan lagi. Lilly menghindari semuanya, saat rentetan serangan itu berhenti dan Lilly melompat mundur, dia menyadar bahunya tergores sedikit.
"Aku Marva, ingatlah nama itu dan kabarkan pada penghuni neraka siapa pembunuhmu." ujar pemilik pedang api itu.
Sebuah panah angin melesat cepat, Lilly tidak sempat menghindar, serangan itu kena telak dan meledak di sasarannya, menghempaskan angin ke segala arah. Lilly terpental dan terguling di tanah.
"Namaku Reiss, aku juga akan menjadi lawanmu." ujar pria lain jauh di belakang Marva, busur di tangannya tapi dia tidak membawa tabung anak panah.
Lilly bersusah payah untuk bangkit, menatap kedua lawannya kini, "Kelihatannya lawan-lawanku ini lumayan hebat juga."
Lilly memainkan sulingnya lagi, serangan suara menerjang Reiss, tapi sebelum serangan itu mencapai targetnya, seorang pria berdiri di antara keduanya. Pria itu mengibaskan tangan, serangan Lilly pun berbelok mengikuti kibasan tangannya.
"Apa? Bagaimana dia bisa membelokkan sihirku?"
"Namaku Trey, dan ini bisa menjawab pertanyaanmu." pria itu menodongkan telapak tangannya ke Lilly, walaupun jaraknya jauh tapi Lilly merasa ada sesuatu menghantam tubuhnya, dia pun terhempas ke belakang.
"Telekinesis?" tebaknya, "boleh juga dia."
Chapter 13: Girls
Angin berhembus menyapu dunia, menerbangkan dedaunan kering sejalan dengannya. Ketika angin itu berputar lagi, dia mengibaskan rambut pendek Ruby, yang sedang duduk di tepi air mancur di tengah kota. Ia memainkan air dibelakangnya dengan sihirnya, menggerak-gerakkannya, membentuknya jadi seperti cemeti, lalu mengembalikannya seperti semula.
"Bosan ih." keluhnya.
"Ray itu... mentang-mentang honor dari menjaga musium lumayan besar, sekarang dia jadi malas pergi mengambil misi lagi. Memang bagus sih, dia mau latihan... tapi aku jadi bosan. Lilly juga kelihatannya sedang mengambil misi, coba saja aku kemarin ikut misinya."
seekor kucing merangkak keluar dari gang kecil tidak jauh dari tempatnya, mata birunya yang indah menatap Ruby lekat-lekat. Ruby balas menatap kucing itu, ketertarikannya pada makhlluk kecil lucu itu membuatnya menawarkan tangannya
"Ayo sini maniiis." ujarnya. Si kucing bukannya menjawab panggilannya, malah melompat menjauh dengan sikap takut yang berlebihan.
Kebosanannya memuncak saat kucing itu pun menolak menemaninya, Ruby bangkit dari duduknya lalu mulai berjalan menjauh.
"Bosan nih." keluhnya lagi.
Ruby menyusuri jalan utama kota. Setelah beberapa waktu yang rasanya sudah mencapai hitungan bulan sejak ia pertama kali datang ke kota ini, dia kaget seberapa akrab kota ini dengannya. Kota ini lumayan luas, jauh lebih besar dari kampung halamannya. Dalam ukurannya yang luas itu, kota ini dibagi beberapa distrik: pemukiman, tempat mayoritas orang – termasuk dirinya – tinggal, kawasan elit, tempat tinggal orang-orang yang lebih kaya – seperti pemilik musium, misalnya –, pasar, tempat para pedagang berjualan berbagai macam barang untuk kebutuhan kota, guild, untuk distrik ini dibagi dua: Silver Line dan Gold Hawk, masing-masing di ujung barat dan timur kota.
Sekarang ini dia sedang berjalan tanpa arah, hanya berharap menemukan sesuatu yang menarik di ujung jalan yang dia lewati sekarang. Beberapa orang berjalan melewatinya, tanpa menyapa ataupun menunjuk rasa tertarik sedikitpun padanya.
"Beda sekali ya..." ujarnya dengan nada yang terdengar sedang bernostalgia, "Kalau dulu sih tidak mungkin aku berjalan-jalan tanpa ada orang yang mengenali atau beramah-tamah padaku. Tapi yang seperti ini juga bagus, rasanya tenang dan bebas..."
"Kak Ruby?"
Ruby melihat ke asal suara. Tidak jauh di depannya, Elise dan Raisha berjalan berlawanan arah dengannya. Tangan Raisha memeluk kantong berisi barang belanjaan – kelihatannya bahan makanan – sedangkan tangan Elise memeluk lengan Raisha.
"Hi Raisha, Elise. Sedang apa kalian?"
"Belanja." jawab Raisha singkat, "Kami membeli beberapa roti & daging."
"Kalian masak makanan kalian sendiri?"
"Biasanya sih aku yang masak, sambil mengajari Elise." jawab Raisha sambil melirik ke sahabatnya. Respons yang diberikan Elise hanyalah anggukan kecil.
"Kakak sendiri sedang apa?"
"Aku? Aku sedang bosan, bingung mau melakukan apa jadi aku hanya berjalan-jalan."
"Tidak mengambil misi? Ada apa dengan Kak Ray?"
"Dia sedang latihan, dan tidak ingin diganggu."
"Begitu... bagaimana kalau kakak ikut dengan kami saja? Lebih baik daripada sendirian kan?"
"Benarkah? Yaah, kalau kalian tidak keberatan, aku akan ikut."
Lalu mereka bertiga mengambil jalan yang sama, menuju apartemen Raisha.
Mereka baru saja berbelok di salah satu sudut jalan, ketika mereka hampir menabrak seseorang dan berhenti mendadak.
"Lilly?" ujar Ruby
"Kalian.... sedang apa? Tumben sekali kalian bersama seperti ini." ujar perempuan yang hampir ditabrak itu.
"Kami baru saja akan ke apartemen Raisha. Kau sendiri? Aku kira kau masih dalam misi."
"Aku baru saja kembali, aku baru dari guild melaporkan misiku. Rasanya capek sekali. Hey omong-omong, bolehkan aku bergabung dengan kalian?"
"Tentu saja boleh kak." jawab Raisha.
Langganan:
Komentar (Atom)