Angin dingin meniup malam, membuat tubuh Ruby dan Lilly menggigil kedinginan. Lampu jalanan membantu bulan menerangi malam saat kedua gadis itu menyusuri jalan. Jalanan itu sepi. Hanya ada seekor kucing hitam di jalan itu selain mereka berdua. Saat mereka berdua berbelok di persimpangan jalan, Lilly berhenti, memaksa Ruby juga ikut berhenti.
"Ada apa Lilly?"
"Jangan kaget ya, kita sedang diikuti."
"Hah? Benarkah? Darimana kau tahu?"
"Aku mendengar suaranya, kamu mungkin tidak dengar tapi aku bisa mendengar hal-hal yang tidak didengar orang lain."
"Lalu bagaimana? Apa kita pergoki dia?"
"Iya, tapi jangan di sini, lebih baik kita pergi ke luar kota dulu baru menanyai dia."
"Kenapa? Kenapa tidak langsung saja kita tangkap orang itu sekarang?"
"Dia juga bisa sihir, aku bisa tahu. Lebih baik kita temui dia di tempat sepi."
"Baiklah kalau begitu."
dengan kesepakatan itu mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju gerbang kota, melewati gerbang itu sampai ke padang rumput di luar kota. Di tengah padang itu mereka berdua berhenti, Lilly berbalik badan dan berkata "Jadi? Ada apa kau membuntuti kami?"
seseorang berdiri beberapa meter di hadapannya, terbuka luas tak terlindungi perlindungan rumah & bangunan, wajahnya tertutup kerudung kusam berwarna coklat. Ia menyingkap kerudungnya sebelum menjawab pertanyaan Lilly.
"Aku tidak ada urusan denganmu, tapi dengan perempuan yang bersamamu." jawab orang itu, seorang pria dengan brewok tebal.
Ruby berbalik, menatap pria itu, "Denganku?" tanyanya.
Seringai pria itu melebar saat melihat wajah Ruby, "Aku kenal sekali wajah itu... Ruby Siren, putri dari Regasa Siren."
Ruby menahan nafas saat pria itu menyebutkan namanya dan ayahnya, tanpa sadar dia mundur dua langkah.
"Siren?" tanya Lilly, menyadari nama keluarga yang berbeda, tapi Ruby tidak menjawabnya.
"Kalau aku bisa menghabisimu di sini, suku kami akan bisa benar-benar berkuasa." ujar pria itu.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, tapi aku tidak akan membiarkanmu mendekati Ruby." ancam Lilly.
"Kau kira kau bisa mengalahkan kami?" setelah mengucapkannya, pria itu menempelkan dua jari ke keningnya, terdiam.
"Itu... telepati?"
mendadak sebuah cahaya biru bersinar di samping pria itu, setelah cahaya memudar, lima orang pria muncul di tempatnya. Perawakan mereka tidak jelas terlihat karena awan menghalangi usaha bulan untuk menerangi mereka.
"Jadi kau berhasil menemukannya, Garaf?" tanya salah satu dari mereka.
"Ya, Vern. Ia perempuan yang itu" jawab pria brewok itu sambil menuding Ruby.
Pria yang bernama Vern berjalan maju, "Selamat malam Putri Ruby Siren, saya Vern Randau. Anda mungkin tidak mengenal saya, tapi Garaf mengenal wajah anda dengan baik. Mohon maaf atas tindakan saya yang lancang ini, tapi saya akan memaksa anda untuk turun takhta... dengan membunuh anda."
Vern melemparkan dua bola api ke Ruby, Ruby dengan sigap membuat perisai untuk menahan serangan itu.
Lilly memainkan serulingnya, satu serangan suara membelah udara melesat ke Vern. Vern langsung membuat perisai, yang pecah saat menahan serangan Lilly, pria itu terhempas mundur karena tekanannya.
Seseorang berlari menghampiri Lilly, saat sudah cukup dekat, pria itu membuat pedang api di tangannya lalu menyabetkannya ke Lilly.
Lilly menunduk, tapi pria itu tidak berhenti di situ, dia menyerang Lilly dengan beberapa sabetan lagi. Lilly menghindari semuanya, saat rentetan serangan itu berhenti dan Lilly melompat mundur, dia menyadar bahunya tergores sedikit.
"Aku Marva, ingatlah nama itu dan kabarkan pada penghuni neraka siapa pembunuhmu." ujar pemilik pedang api itu.
Sebuah panah angin melesat cepat, Lilly tidak sempat menghindar, serangan itu kena telak dan meledak di sasarannya, menghempaskan angin ke segala arah. Lilly terpental dan terguling di tanah.
"Namaku Reiss, aku juga akan menjadi lawanmu." ujar pria lain jauh di belakang Marva, busur di tangannya tapi dia tidak membawa tabung anak panah.
Lilly bersusah payah untuk bangkit, menatap kedua lawannya kini, "Kelihatannya lawan-lawanku ini lumayan hebat juga."
Lilly memainkan sulingnya lagi, serangan suara menerjang Reiss, tapi sebelum serangan itu mencapai targetnya, seorang pria berdiri di antara keduanya. Pria itu mengibaskan tangan, serangan Lilly pun berbelok mengikuti kibasan tangannya.
"Apa? Bagaimana dia bisa membelokkan sihirku?"
"Namaku Trey, dan ini bisa menjawab pertanyaanmu." pria itu menodongkan telapak tangannya ke Lilly, walaupun jaraknya jauh tapi Lilly merasa ada sesuatu menghantam tubuhnya, dia pun terhempas ke belakang.
"Telekinesis?" tebaknya, "boleh juga dia."