Jumat, 20 Februari 2015

Chapter 22: Land's map

Awan tebal berarak di langit, menutup setiap jengkal langit dengan warna putih yang damai. Tidak jauh dari gulungan awan itu, jauh di ujung utara Kerajaan Arkascha, berdiri dengan megah deretan pegunungan Callian. Di puncak salah satu gunung, berdiri dengan megah sebuah kuil yang entah sejak kapan dibangunnya. Kuil itu adalah titik tertinggi di gunung itu, seolah-olah ujung gunung dipotong untuk kemudian dibangun kuil ini. Deretan anak tangga yang diukir melingkar di tepi gunung merupakan satu-satunya jalan keluar masuk ke kuil ini, pepohonan menutupi mereka. Tembok batu tinggi menutup pandangan orang luar terhadap kuil ini, kecuali atap sebuah bangunan yang dibuat mengerucut. Gerbang kayu yang dibuat menyerupai huruf A menjadi pintu masuknya. Beberapa pendeta dengan kepala yang dicukur dan pakaian longgar berlalu lalang di dalam kuil itu, dua orang pendeta menjaga pintu masuk.



Dua orang perempuan dan seorang laki-laki menanjaki deretan anak tangga menuju kuil itu. Yang laki-laki adalah Zivon, pria yang pernah merebut artifak di benteng Galtar. Seorang perempuan berambut hitam pendek sebahu, sementara satunya lagi pirang panjang hingga sepinggang.

"Harta purbakala yang satu lagi ada di sini ya? Terpencil sekali, tempat yang cocok untuk menyimpan harta sepenting itu." ujar yang berambut panjang

"Selain tempatnya susah dicapai, kuil itu juga dijaga oleh banyak sekali penyihir tingkat tinggi. Orang biasa tidak akan bisa menyerang kuil ini sendirian, karena itu para penjaga kami serahkan padamu, Mirabel." kali ini Zivon yg berbicara.

"Tenang saja, tidak ada orang yang bisa mengalahkanku," balas perempuan berambut pendek, "Karena aku adalah penyihir pilihan dewa, yang sudah ditakdirkan untuk menjadi yang terkuat."

"Kau tidak menghilangkan dirimu sebelum menyerbu masuk, Zivon?" tanya perempuan berambut panjang itu.

"Tidak Selena, penyihir sepertiku tau walau dari jauh, kuil itu bukan tempat sembarangan, sudah ada perisai khusus. Sihir penghilangku akan langsung tidak befungsi di dalam kuil itu."

"Begitu... yah, kau yang lebih tau soal itu Zivon, jadi aku percaya saja."

Begitu sampai di gerbang kuil itu, mereka dihadang oleh kedua penjaga, salah seorang diantaranya berkata, "Berhenti! Tempat ini terlarang untuk dimasuki orang luar."

Selena melemparkan dua buah jarum tipis ke arah para penjaga itu, keduanya menghindar dengan sigap, tapi jarum itu tetap menggores pipi mereka.

"Kalian berniat menyerang kuil suci ini? Kalian membuat keputusan yang salah." ujar salah satu penjaga, dia dan rekannya mengacungkan tangan mereka ke depan, bersiap menyerang.

"Percuma melawan, kalian sudah kalah." ujar Selena. Tidak sampai dua detik sesudah mengatakannya, kedua penjaga itu langsung ambruk.

"Racunku sangat kuat, tergores sedikit saja sudah lebih dari cukup untuk membunuh siapapun." ujarnya lagi.

Sewaktu mereka bertiga memasuki lapangan utama kuil, ribuan pendeta langsung berhamburan keluar entah dari mana, mengelilingi mereka bertiga.

"Kalian, apa kalian yang menyerang Benteng Galtar? Kami sudah mendengar kabarnya, tapi salah sekali kalau kalian menyamakan kami dengan para penyihir itu. Kami adalah orang-orang yang sejak bayi dibesarkan di kuil ini, dengan tujuan melindungi rahasia kuil ini. Kemampuan kami jauh berbeda dengan mereka." ujar salah satu pendeta.

"Begitu... sempurna. Aku memang menginginkan musuh yang kuat." ujar Mirabel. Sesaat kemudian, angin berputar kencang di sekitarnya, bersamaan dengan menguatnya auranya, hingga menyerupai api perak. Sesaat kemudian tubuh Mirabel bersinar terang, berbarengan dengan meledaknya auranya. Ketika cahaya memudar, apa yang dilihat para pendeta itu sungguh di luar dugaan.

Kaki berbentuk Z seperti kaki burung, sebagian tertutup bulu perak dan sebagiannya lagi tulang yang kuat. Lengan perempuan itu yang tadinya berbentuk tangan, kini sepasang sayap besar yang juga tertutup bulu perak bagai bulu burung. Perempuan itu seorang penyihir shapeshift.

Yang membedakan dari makhluk shapeshift lainnya adalah dada dan wajah perempuan itu yang masih berupa dada perempuan dan wajah manusia, menjadikan perempuan itu makhluk setengah burung dan setengah wanita.

"Kau.. jangan-jangan kau... Mirabel Sang Harpy?" tanya salah seorang pendeta.

"Ya." jawab Mirabel, "Aku adalah penyihir pilihan dewa yang memiliki kekuatan tiada tara, shapeshift murni!"

Selasa, 10 Februari 2015

Chapter 21: Rivalry

Awan tipis memenuhi langit, hanya menyisakan sedikit ruang bagi matahari untuk mengintip. Di bawah sana, di jalanan kota, seorang gadis kecil berjalan sendiri. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai, sesekali dibelai oleh angin.

Elise Campbell, nama gadis belia itu, baru beberapa saat yang lalu dia meninggalkan sahabatnya untuk mengambil misi sendirian.

"Bagaimana ya sekarang?" gumamnya pada dirinya sendiri.

"Biasanya aku mengambil misi bersama Raisha, kalau sendirian... aku... tidak terbiasa..."

setelah menghela nafas panjang, dia melanjutkan gumamannya, "Yaah, paling tidak coba kembali ke guild dulu, mungkin ada misi yang bisa kuambil sendiri."



Tak berapa lama kemudian, Elise sampai di Silver Line. Sambil berjalan pelan, ia masuk ke guild lalu menuju ruang misi. Di sana, ia mendapati dirinya tidak sendirian.

"Kak Ruby?" ujarnya spontan.

"Oh, hi Elise, apa kabar? Hah? Raisha tidak bersamamu kali ini?"

"Hi Kak Ruby, Raisha sedang.... mengambil misi sendirian, pemohon misi cuma ingin... menyewa satu orang."

"Hoo, begitu..."

"Kakak sendiri... sedang apa di sini? Bukannya kakak sedang terluka, dan... tidak boleh mengambil misi?"

"Tidak apa-apa, yang dilarang kan misi bertarung atau misi berbahaya semacamnya, aku bisa mencari misi yang tidak terlalu membahayakanku kok." jawab Ruby sambil tersenyum tak bersalah.

'Tapi aku yakin Raisha melarang kakak mengambil misi apapun' batin Elise dalam hati.

Sedetik kemudian, Elise menyadari ada yang aneh, seseorang yang seharusnya berada di situ tidak ada di situ.

"Kak Ruby... di mana Kak Ray? Bukannya... biasanya Kak Ruby selalu mengambil misi... bersama Kak Ray?"

"Oh, dia? Sekarang dia sedang latihan bersama Area, belakangan ini selalu begitu kok. Ray mulai jarang mengambil misi, dia lebih rajin berlatih. Yaah, itu bukan hal yang jelek sih, mengingat kemampuannya yang biasa-biasa saja, tapi tetap saja dia mengabaikan permohonan misi di guild. Coba lihat, banyak orang yang membutuhkan bantuan kita di sini, tapi dia malah mengabaikannya." Ruby menunjuk ke papan permohonan misi di akhir kalimatnya.

"Tapi... Kak Ray melatih dirinya supaya bisa mengambil... misi yang lebih susah kan? Berarti itu bagus, lagipula... selain kita, ada juga Gold Hawk di sini." balas Elise.

"Tapi tetap saja, aku tidak suka tidak mengambil misi apapun, dan di saat sekarang ini, Ray tidak mau diajak mengambil misi. Pergi melakukan misi sendirian rasanya membosankan."

"Jadi... Kak Ruby bukannya tidak suka kalau Kak Ray pergi latihan, tapi... tidak suka kalau Kak Rau tidak mau diajak pergi... dalam misi bersama?"

wajah Ruby memerah sedikit, "Memangnya kenapa dengan itu? Tidak masalah kan?"

"Tapi apa Kak Ray... suka mengambil misi bersama... Kak Ruby?"

Ekspresi wajah Ruby berubah kaget, lalu dia bertanya, "Apa maksudmu dengan itu?"

entah kenapa suasana terasa berubah, udara terasa dingin menyesak, seolah-olah angin berhenti berhembus.

"Tidak... cuma penasaran saja... soal Kak Ray..."

"Kenapa dengan Ray?"

Elise menelan ludah dengan susah payah, sebelum menjawab, "Bagaimana... perasaan Kak Ray pada Kak Ruby?"

"Kenapa, kenapa kau ingin tahu?"