Sore itu sudah tiga hari berlalu sejak Ray dan Ruby pergi dalam misi mereka. Raisha berjalan keluar dari sebuah toko dengan lambang tanaman obat di atas pintunya. Wajahnya tertunduk lesu, tangannya memasukkan secarik perkamen ke tas kecil di pinggangnya. Gadis itu menghela nafas sebelum mulai berjalan.
"Kak Raisha, kebetulan sekali kita bertemu di sini." ujar seorang anak berambut merah.
Raisha menoleh ke asal suara, "Rico? Sedang apa kau di sini?"
"Oh, aku cuma ingin berjalan-jalan di kota saja. Kakak sendiri?"
"Aku baru saja mau membeli obat untuk Elise." Raisha menoleh ke toko obat yang didatanginya tadi, "Tapi ternyata obatnya sudah habis. Mereka bilang padaku kalau mereka bisa meramu obatnya kalau aku membawa bahan-bahannya."
"Lalu kakak akan mencarinya di hutan di luar kota itu?"
Raisha mengangguk sebagai jawaban.
"Tapi ini kan musim dingin, salju sudah turun beberapa hari yang lalu, apakah tanaman itu masih ada di sana?"
"Mungkin kemungkinannya kecil, tapi aku tetap akan mencarinya."
Rico diam sejenak, lalu berkata, "Aku akan ikut membantu kakak mencarinya, bagaimana? Kebetulan aku sedang tidak ada kesibukan."
"Eh? Kenapa?"
"'Kenapa?' mungkin karena aku tidak bisa membiarkan seorang perempuan pergi ke hutan sendirian, jadi aku akan membantu."
"Heee. Kau terdengar seperti laki-laki sejati." puji Raisha, yang langsung membuat wajah Rico memerah, "Baiklah, kau boleh ikut."
Tidak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk tiba di hutan di luar kota. Pepohonannya masih sama seperti biasa, hanya saja kali ini dahan-dahan dan ranting tertutup oleh salju. Jalan setapaknya juga tidak terlihat, hanya celah di antara dua deretan pohon yang memberitahu mereka bahwa sebelumnya pernah ada jalan setapak di situ.
"Omong-omong, tanaman obat apa yang kita cari?" tanya Rico.
"Jari merah, kau tahu?"
"Tanaman kecil berwarna merah yang daunnya berbentuk seperti jari itu? Aku tahu. Tapi di mana kita akan mencarinya?"
"Biar kutanyakan." setelah mengatakannya, Raisha mendekat ke salah satu pohon. Tangannya menyentuh batang pohon itu, lalu dia memejamkan matanya. Cahaya redup berwarna hijau bersinar dari tangan gadis itu, setelah beberapa saat, cahaya itu memudar. Raisha menoleh ke Rico lagi.
"Ayo. Aku sudah tahu di mana tempatnya." seru Raisha sebelum berjalan. Rico langsung menyusulnya.
"Apa yang kakak lakukan tadi?"
"Berbicara pada pohon." jawabnya enteng.
"Kakak bisa berbicara pada pohon?"
"Iya. Pohon dan tumbuhan juga makhluk hidup, kalau kau menguasai elemen pohon, kau juga bisa berbicara dengan pohon."
"Lalu? Kakak bertanya pada pohon itu dimana letak jari merah?"
"Iya. Katanya beberapa hari yang lalu masih ada beberapa jari merah di tepi sungai. Kalau kita beruntung mungkin kita bisa memetiknya."
Senin, 29 Juni 2015
Senin, 22 Juni 2015
Chapter 25: Escort mission
Paling tidak sudah tiga minggu berlalu sejak para pedagang keliling mengunjungi Recht. Hari-hari mulai berubah, musim dingin semakin terasa. Baru tadi malam salju turun untuk pertama kalinya. Membuat dunia tertutupi oleh lapisan putih dingin. Seorang lelaki muda berjalan lambat di atas lapisan itu, meninggalkan lubang-lubang seukuran telapak kakinya di belakangnya. Ia memeluk dirinya sendiri yang sudah memakai mantel tebal.
"Sial... dingin sekali..." keluh Ray sambil menggigil. Walaupun begitu, ia tetap berjalan menuju guild.
"Semoga siapapun yang meminta pertolongan nanti punya sup hangat untuk dinikmati." ujarnya dalam dingin.
Udara yang hangat menyambutnya begitu ia memasuki guild, dalam hatinya Ray berterimakasih pada siapapun itu yang menyalakan api di dalam perapian.
"Ke mana Ruby? Aku kira dia sudah sampai duluan, ternyata belum ya?" tanyanya sambil menggantungkan mantelnya di samping pintu.
"Hm? Sudah ada yang datang? Ini mantelnya Ketua Diaz, ini milik Nona Lucia, lalu ini..." pandangannya terhenti pada sebuah mantel berwarna merah dengan bulu putih di ujung lengannya. Ukuran mantel itu terlalu kecil bila dibandingkan dengan dirinya, atau Ruby.
"Mungkin Elise atau Raisha." dia menyimpulkan sendiri.
Ray mendapatkan jawabannya saat ia memasuki ruang permohonan misi. Raisha sudah ada di situ, memandangi kertas-kertas di papan misi.
"Hi Raisha." sapa Ray.
Raisha berbalik sebelum membalas, "Oh, hi Kak Ray."
"Kau sendirian? Tidak bersama Elise?"
"Oh, perutnya sedang sakit, jadi untuk sementara dia tidak bisa ikut menjalankan misi denganku."
"Hoo..." hanya itu jawaban Ray, sebelum ia mulai melihat-lihat kertas-kertas di papan misi.
"Omong-omong, aku boleh tanya? Kenapa kau ingin menjadi guru? Itu bukan cita-cita yang jelek sih, hanya saja orang-orang biasanya kan lebih memilih bergabung bersama guild, atau menjadi tentara di kerajaan. Jadi... cita-citamu itu tidak umum, kurasa."
"Hehe, tidak apa-apa kok kalau Kak Ray bertanya begitu. Dulu Ketua Diaz juga pernah menanyakan hal yang sama. Sebenarnya aku ingin menjadi seperti ayahku."
"Ayahmu?"
"Iya, beliau guru sihir di kota asalku. Semenjak aku kecil, aku sudah diajari sihir lebih intensif daripada orang lain. Secara teori dan praktek. Karena ayahkulah, aku bisa lulus sekolah lebih cepat daripada orang lain. Dan aku ingin menjadi seperti ayahku, berguna bagi orang banyak. Bukan cuma untuk generasi ini, tapi juga mendidik generasi yang akan datang. Karena itulah, aku ingin menjadi guru."
"Cita-cita yang bagus sekali. Semoga kau bisa meraihnya, berusahalah."
"Ya. Terimakasih Kak Ray."
"Ray? Kau di sini?" ujar sebuah suara. Ketika yang dipanggil menoleh, Ruby ada di sumbernya.
"Aku kira kau masih latihan bersama Area. Beberapa hari yang lalu juga kau masih latihan intensif bersamanya."
"Latihannya berakhir dua hari yang lalu." jawab Ray, "Uangku mulai habis, jadi aku rasa sebaiknya aku mulai menjalankan misi lagi."
"Benar juga, misi terakhir yang kau jalankan itu kan... misi menjaga pelelangan itu kan? Sudah lama sekali, dan sejak itu kau terus latihan bersama Area." sahut Ruby. Dalam hatinya, Ray masih terkejut bahwa bayaran dari misi itu cukup untuk menghidupi dirinya tanpa kerja sampai selama ini. Pekerjaan dari orang kaya memang beda.
"Bagaimana kalau kita mengambil misi yang ini saja?" Ruby menunjuk ke salah satu kertas, di situ tertulis 'Pengawalan' di bagian atasnya, dan detil misi di bawahnya.
Ray melihat kertas itu, sebelum menjawab "Mengawal? Boleh juga, bayarannya juga lumayan. Aku tidak keberatan, kau mau ikut, Raisha?"
"Tidak, terimakasih. Aku lebih suka mengajar daripada mengerjakan misi bertarung atau semacamnya."
"Hmm... ya sudah kalau begitu. Ayo kita berangkat, Ruby."
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di tempat pemohon. Rumahnya memang mencolok, dengan pagar tinggi menghalangi orang-orang yang ingin masuk ke dalamnya. Rumah ini memang terlihat seperti rumah orang kaya, dengan bangunan tingkat dua dan halaman yang cukup luas. Sebuah kereta kuda diparkir di halaman, beberapa orang tampak berdiri di sampingnya.
Ray dan Ruby menghampiri mereka.
"Permisi, kami dari Guild Silver Line, kami mendapat permohonan misi dari anda." ujar Ray.
Salah seorang pria menoleh ke Ray, topi coklatnya menutupi sebagian wajahnya.
"Ah, kalian datang tepat waktu, kami hampir saja berpikiran bahwa kalian tidak menerima permohonan kami. Seharusnya kalian datang lebih awal daripada waktu yang aku tulis."
"Sudahlah Dabro, yang penting mereka sudah datang," ucap seorang pria tua berjenggot, "Aku Ralvin, kepala rumah ini. Terimakasih kalian sudah menerima permohonan kami. Langsung saja, misi kalian sederhana: mengawal putriku dengan selamat sampai Luronda dan kembali kemari."
sesudah mengatakan itu, Ralvin menoleh ke dalam kereta kuda, saat itu Ray dan Ruby menyadari bahwa ada seorang remaja perempuan duduk di dalamnya. Tubuhnya tertutup mantel berwarna merah muda, rambut merahnya diikat ekor kuda. Ia tersenyum pada Ray dan Ruby saat tahu bahwa mereka melihatnya.
"Sephillia baru menginjak 17 tahun, sesuai tradisi keluarga kami, kami akan merayakannya di rumah keluarga tertua, yaitu kakakku, kebetulan dia sekarang tinggal di Luronda. Sebenarnya aku ingin ikut pergi dan menjaganya, tapi pekerjaanku menghalangiku. Karena itulah, aku minta bantuan kalian."
"Kami mengerti." sahut Ruby.
"Kami akan menjaganya dengan nyawa kami." sambung Ray.
"Aku senang kalau begitu. Perbekalan dan kuda-kuda sudah disiapkan. Kalian bisa berangkat sekarang juga."
beberapa pelayan mengikatkan tas-tas perbekalan di dua kuda yang akan ditunggangi Ray dan Ruby. Dabro naik ke kursi kemudi kereta kuda, dan dengan segera, perjalanan mereka dimulai.
Beberapa jam telah berlalu semenjak mereka bertolak dari Recht menuju selatan. Lapisan salju tipis menutupi semua yang ada di tanah. Ray memacu kudanya di depan, ancaman apapun yang menghadang mereka akan berhadapan dengan Ray terlebih dulu. Sementara itu, Ruby mengikuti kereta dari belakang, berjaga-jaga kalau ada bandit yang ingin mengagetkan mereka.
Sampai malam menjelang, tidak ada bahaya apapun yang menghadang mereka. Dabro membuat api unggun di tengah kemah sederhana mereka, dia lalu membuat sup kentang sederhana, tapi cukup untuk menghangatkan mereka.
"Pesta ulang tahun Nona Sephilia akan diadakan dua hari lagi, besok kita sudah harus mencapai Luronda." kata Dabro saat membuat makan malam. Ia lalu mencicipi supnya, sesudah puas dengan rasanya, dia menuangkan sebagian untuk Sephilia.
"Kami mengerti." jawab Ruby sambil mengambil makanannya sendiri.
"Omong-omong aku ingin tahu, bagaimana rasanya bekerja di guild?" tanya Sephilia tiba-tiba. Suaranya terdengar lebih halus dan lembut daripada suara perempuan lain yang pernah didengar Ray.
"Kenapa... kau ingin tahu?" kali ini Ruby yang bertanya.
"Karena aku merasa, mereka yang bekerja dalam guild adalah orang yang hebat. Kalian berani melakukan apapun untuk membantu orang-orang yang meminta bantuan pada kalian kan? Aku sering membaca tentang kalian, di buku-buku. Aku rasa, orang-orang seperti kalian itu hebat sekali."
"Nona, tolong jangan menjadi orang guild. Pekerjaan ini terlalu berbahaya. Tuan akan marah, lagipula, nona adalah anak semata wayang Tuan Ralvin."
"Aku tahu, tapi tetap saja aku tidak terlalu tertarik melanjutkan bisnis ayah."
"Nona, tolong jangan katakan itu di depan Tuan. Tuan akan sangat sedih."
"Aku tahu itu."
Mereka melanjutkan makan malam mereka. Seusai makan, Ruby berdiri dan mengajukan diri berjaga-jaga pertama kali.
"Sial... dingin sekali..." keluh Ray sambil menggigil. Walaupun begitu, ia tetap berjalan menuju guild.
"Semoga siapapun yang meminta pertolongan nanti punya sup hangat untuk dinikmati." ujarnya dalam dingin.
Udara yang hangat menyambutnya begitu ia memasuki guild, dalam hatinya Ray berterimakasih pada siapapun itu yang menyalakan api di dalam perapian.
"Ke mana Ruby? Aku kira dia sudah sampai duluan, ternyata belum ya?" tanyanya sambil menggantungkan mantelnya di samping pintu.
"Hm? Sudah ada yang datang? Ini mantelnya Ketua Diaz, ini milik Nona Lucia, lalu ini..." pandangannya terhenti pada sebuah mantel berwarna merah dengan bulu putih di ujung lengannya. Ukuran mantel itu terlalu kecil bila dibandingkan dengan dirinya, atau Ruby.
"Mungkin Elise atau Raisha." dia menyimpulkan sendiri.
Ray mendapatkan jawabannya saat ia memasuki ruang permohonan misi. Raisha sudah ada di situ, memandangi kertas-kertas di papan misi.
"Hi Raisha." sapa Ray.
Raisha berbalik sebelum membalas, "Oh, hi Kak Ray."
"Kau sendirian? Tidak bersama Elise?"
"Oh, perutnya sedang sakit, jadi untuk sementara dia tidak bisa ikut menjalankan misi denganku."
"Hoo..." hanya itu jawaban Ray, sebelum ia mulai melihat-lihat kertas-kertas di papan misi.
"Omong-omong, aku boleh tanya? Kenapa kau ingin menjadi guru? Itu bukan cita-cita yang jelek sih, hanya saja orang-orang biasanya kan lebih memilih bergabung bersama guild, atau menjadi tentara di kerajaan. Jadi... cita-citamu itu tidak umum, kurasa."
"Hehe, tidak apa-apa kok kalau Kak Ray bertanya begitu. Dulu Ketua Diaz juga pernah menanyakan hal yang sama. Sebenarnya aku ingin menjadi seperti ayahku."
"Ayahmu?"
"Iya, beliau guru sihir di kota asalku. Semenjak aku kecil, aku sudah diajari sihir lebih intensif daripada orang lain. Secara teori dan praktek. Karena ayahkulah, aku bisa lulus sekolah lebih cepat daripada orang lain. Dan aku ingin menjadi seperti ayahku, berguna bagi orang banyak. Bukan cuma untuk generasi ini, tapi juga mendidik generasi yang akan datang. Karena itulah, aku ingin menjadi guru."
"Cita-cita yang bagus sekali. Semoga kau bisa meraihnya, berusahalah."
"Ya. Terimakasih Kak Ray."
"Ray? Kau di sini?" ujar sebuah suara. Ketika yang dipanggil menoleh, Ruby ada di sumbernya.
"Aku kira kau masih latihan bersama Area. Beberapa hari yang lalu juga kau masih latihan intensif bersamanya."
"Latihannya berakhir dua hari yang lalu." jawab Ray, "Uangku mulai habis, jadi aku rasa sebaiknya aku mulai menjalankan misi lagi."
"Benar juga, misi terakhir yang kau jalankan itu kan... misi menjaga pelelangan itu kan? Sudah lama sekali, dan sejak itu kau terus latihan bersama Area." sahut Ruby. Dalam hatinya, Ray masih terkejut bahwa bayaran dari misi itu cukup untuk menghidupi dirinya tanpa kerja sampai selama ini. Pekerjaan dari orang kaya memang beda.
"Bagaimana kalau kita mengambil misi yang ini saja?" Ruby menunjuk ke salah satu kertas, di situ tertulis 'Pengawalan' di bagian atasnya, dan detil misi di bawahnya.
Ray melihat kertas itu, sebelum menjawab "Mengawal? Boleh juga, bayarannya juga lumayan. Aku tidak keberatan, kau mau ikut, Raisha?"
"Tidak, terimakasih. Aku lebih suka mengajar daripada mengerjakan misi bertarung atau semacamnya."
"Hmm... ya sudah kalau begitu. Ayo kita berangkat, Ruby."
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di tempat pemohon. Rumahnya memang mencolok, dengan pagar tinggi menghalangi orang-orang yang ingin masuk ke dalamnya. Rumah ini memang terlihat seperti rumah orang kaya, dengan bangunan tingkat dua dan halaman yang cukup luas. Sebuah kereta kuda diparkir di halaman, beberapa orang tampak berdiri di sampingnya.
Ray dan Ruby menghampiri mereka.
"Permisi, kami dari Guild Silver Line, kami mendapat permohonan misi dari anda." ujar Ray.
Salah seorang pria menoleh ke Ray, topi coklatnya menutupi sebagian wajahnya.
"Ah, kalian datang tepat waktu, kami hampir saja berpikiran bahwa kalian tidak menerima permohonan kami. Seharusnya kalian datang lebih awal daripada waktu yang aku tulis."
"Sudahlah Dabro, yang penting mereka sudah datang," ucap seorang pria tua berjenggot, "Aku Ralvin, kepala rumah ini. Terimakasih kalian sudah menerima permohonan kami. Langsung saja, misi kalian sederhana: mengawal putriku dengan selamat sampai Luronda dan kembali kemari."
sesudah mengatakan itu, Ralvin menoleh ke dalam kereta kuda, saat itu Ray dan Ruby menyadari bahwa ada seorang remaja perempuan duduk di dalamnya. Tubuhnya tertutup mantel berwarna merah muda, rambut merahnya diikat ekor kuda. Ia tersenyum pada Ray dan Ruby saat tahu bahwa mereka melihatnya.
"Sephillia baru menginjak 17 tahun, sesuai tradisi keluarga kami, kami akan merayakannya di rumah keluarga tertua, yaitu kakakku, kebetulan dia sekarang tinggal di Luronda. Sebenarnya aku ingin ikut pergi dan menjaganya, tapi pekerjaanku menghalangiku. Karena itulah, aku minta bantuan kalian."
"Kami mengerti." sahut Ruby.
"Kami akan menjaganya dengan nyawa kami." sambung Ray.
"Aku senang kalau begitu. Perbekalan dan kuda-kuda sudah disiapkan. Kalian bisa berangkat sekarang juga."
beberapa pelayan mengikatkan tas-tas perbekalan di dua kuda yang akan ditunggangi Ray dan Ruby. Dabro naik ke kursi kemudi kereta kuda, dan dengan segera, perjalanan mereka dimulai.
Beberapa jam telah berlalu semenjak mereka bertolak dari Recht menuju selatan. Lapisan salju tipis menutupi semua yang ada di tanah. Ray memacu kudanya di depan, ancaman apapun yang menghadang mereka akan berhadapan dengan Ray terlebih dulu. Sementara itu, Ruby mengikuti kereta dari belakang, berjaga-jaga kalau ada bandit yang ingin mengagetkan mereka.
Sampai malam menjelang, tidak ada bahaya apapun yang menghadang mereka. Dabro membuat api unggun di tengah kemah sederhana mereka, dia lalu membuat sup kentang sederhana, tapi cukup untuk menghangatkan mereka.
"Pesta ulang tahun Nona Sephilia akan diadakan dua hari lagi, besok kita sudah harus mencapai Luronda." kata Dabro saat membuat makan malam. Ia lalu mencicipi supnya, sesudah puas dengan rasanya, dia menuangkan sebagian untuk Sephilia.
"Kami mengerti." jawab Ruby sambil mengambil makanannya sendiri.
"Omong-omong aku ingin tahu, bagaimana rasanya bekerja di guild?" tanya Sephilia tiba-tiba. Suaranya terdengar lebih halus dan lembut daripada suara perempuan lain yang pernah didengar Ray.
"Kenapa... kau ingin tahu?" kali ini Ruby yang bertanya.
"Karena aku merasa, mereka yang bekerja dalam guild adalah orang yang hebat. Kalian berani melakukan apapun untuk membantu orang-orang yang meminta bantuan pada kalian kan? Aku sering membaca tentang kalian, di buku-buku. Aku rasa, orang-orang seperti kalian itu hebat sekali."
"Nona, tolong jangan menjadi orang guild. Pekerjaan ini terlalu berbahaya. Tuan akan marah, lagipula, nona adalah anak semata wayang Tuan Ralvin."
"Aku tahu, tapi tetap saja aku tidak terlalu tertarik melanjutkan bisnis ayah."
"Nona, tolong jangan katakan itu di depan Tuan. Tuan akan sangat sedih."
"Aku tahu itu."
Mereka melanjutkan makan malam mereka. Seusai makan, Ruby berdiri dan mengajukan diri berjaga-jaga pertama kali.
Langganan:
Komentar (Atom)