Minggu, 28 September 2014

Chapter 12: Training

Cahaya matahari di hari itu masih tetap sama saja seperti hari lainnya, menguasai langit tanpa awan, meninggalkan bayangan panjang di tanah. Area saat ini sedang bersantai di bawah perlindungan salah satu bayangan itu. Ia memandangi langit sambil merebahkan diri di atas rumput, daun dan ranting menghalangi pandangannya tapi dia tidak protes soal itu.



"Diaz memanggilmu, kelihatannya soal urusan penting."



Dia menoleh ke asal suara, dan melihat Lucia di sana, rambut pirangnya bersinar lebih terang di bawah cahaya matahari. Berdiri di samping tempatnya merebahkan diri. Area duduk sebelum bertanya, "Ada apa ya? Jarang sekali dia membicarakan urusan penting denganku."

"Mungkin karena sekarang kau termasuk orang yang bisa dipercayainya dalam urusan ini."

Mimik wajah Area berubah serius mendengarnya

"Oh, urusan itu ya? Baiklah aku akan segera menemuinya." dia bangkit, lalu berjalan meninggalkan Lucia.

"Area." panggil Lucia, yang dipanggil pun berhenti.

"Ada apa, Lucia?"

"Guild kita ke arah sana." jari telunjuk Lucia menunjuk ke arah yang berlawanan dengan tujuan Area.

"Ah iya, aku lupa." Area berbalik menuju arah yang ditunjukkan asisten ketua guild.

"Akan kutemani kau, kalau pergi sendiri kau pasti tersesat."

"Jangan berlebihan ah, mana mungkin aku tersesat di kota ini."

"Sudah ada tiga kejadian yang membuktikan omonganmu itu salah."

"Yaaah, tapi tidak mungkin aku tersesat untuk yang keempat kalinya kan?"

"Dulu kau bilang tidak akan tersesat untuk yang ketiga kalinya, ingat?"

"Aku lebih memilih untuk melupakannya."



Akhirnya mereka berdua sampai di Silver Line. Kesunyian menyapa mereka berdua ketika pintu guild dibuka.

"Hari ini sepi sekali? Aku tahu Edge dan Lilly sedang pergi dalam misi, tapi kemana Ruby dan anak baru itu?"

"Setahuku Ray pergi untuk berlatih, aku tidak tahu soal Ruby." jawab Lucia.

Area memilih untuk tidak melanjutkan percakapan, atau kalau dia ingin melanjutkan, kelihatannya tidak ada topik yang muncul dari kepalanya.

Mereka berdua berhenti di depan pintu ketua guild di lantai dua. Lucia mengetuk pintunya sebelum membukanya.

Diaz sedang meminum apapun itu yang ada di dalam gelasnya ketika mereka berdua memasuki ruangan. Saat gelasnya diletakkan kembali, tidak ada petunjuk apapun di gelas itu yang bisa membuat Area menebak apa yang baru saja dia minum.

"Area, aku senang kau datang." suara Diaz tetap berwibawa seperti biasa.

"Lucia sudah memberitahuku urusan apa yang membuatku dipanggil. Aku tidak bisa tidak datang."

"Ya, utusan dari istana baru saja datang dan dia memberi kabar yang tidak terlalu menggembirakan."

Area ingin bertanya, tapi dia menahan keinginannya untuk menanyakannya pada Diaz. Ia akan memberitahunya beberapa detik lagi.

"Benteng Galtar diserang oleh kelompok misterius belum lama ini."

"Lalu?" hanya itu pertanyaan yang keluar dari mulut Area.

"Galtar juga menyimpan harta purbakala."

sunyi.

Saking sunyinya, suara kicau burung dari luar pun terdengar jelas.

"Begitu... jadi mereka sudah mulai bergerak." ujar Area akhirnya.

"Kita masih tidak tahu kenapa mereka mencari dan mengumpulkan harta purbakala, tapi kita tetap harus waspada. Semua tempat yang menjaga harta purbakala sudah diberi peringatan, kita juga diminta untuk meningkatkan penjagaan."

"Aku mengerti." ujar Area.

"Ah, sebenarnya... kau bukan satu-satunya orang yang kumintai pertolongan, tapi karena mereka berdua belum datang, aku malah menjelaskannya padamu. Kalau dipikir-pikir seharusnya aku menunggu sampai kalian semua berkumpul ya?" ujar Diaz, kali ini dengan nada santai.

"Mereka? Siapa?" tanya Area.

"Aku sudah memanggil mereka sebelum mencarimu, mungkin sebentar lagi mereka datang." ujar Lucia

Baru saja Lucia menutup mulut, pintu sudah diketuk.

"Masuklah, itu kalian berdua kan?" Lucia menjawab ketukan pintu.

Ketika pintu dibuka, Area terkejut melihat siapa yang masuk.

"Mereka? Ketua, apa kau serius?"

"Tentu saja." jawab Diaz dengan senyum lebar.

"Apa kau kaget? Kak Area?" tanya salah satu dari mereka.


Chapter 11: Big spider, small village

Matahari tampak kehilangan kekuatannya di ufuk barat langit, mewarnai dunia dengan perpaduan warna merah dan oranye. Angin berhembus pelan, mengelus rerumputan di padang yang luas. Di padang itu, Lilly menunjuk ke kaki langit

"Lihat Edge, sudah kubilang ada desa di sekitar sini kan?" ujarnya pada rekannya yang terduduk lemas, rambut merahnya semakin mencolok di bawah siraman cahaya senja.

"Itu ketiga kalinya kau bilang di dekat sini ada desa, untung saja kali ini kau benar."

"Edge, kau mau kubuat tidak bisa berjalan ke desa itu, begitu?" Lilly menarik keluar serulingnya dan tetap tersenyum.

"Tidak, terima kasih. Aku lebih suka sampai kesana dalam keadaan utuh."

"Kalau begitu cepat berdiri, dan jalan. Masak kau sudah capek?"

Edge berdiri sebelum menanggapi ucapan Lilly, "Apa kamu lupa kalau aku yang harus membawa semua persediaan makanan kita? Atau kamu sudah lupa seberapa banyak kamu bisa ma-" sekelebat angin berhembus sebelum Edge sempat menyelesaikan kalimatnya. Setelah angin itu lewat, sebagian ujung rambut Edge terpotong.

"Em... kau mau bilang apa tadi?" tanya Lilly, seruling di bibirnya.

"Tidak, tidak jadi." balas Edge

"Kalau begitu ayo kita pergi, aku ingin sekali beristirahat sesudah selesai satu misi tadi." ujar Lilly



Matahari tidak lagi terlihat di langit ketika Lilly dan Edge akhirnya tiba di desa kecil itu. Tepian luarnya dipenuhi sawah-sawah hijau para penduduk, sebuah sungai kecil berada di tepian terluar. Desa itu tidak terlalu besar, tapi tembok kayu tinggi membatasi antara sawah dan desa, mungkin tembok itu yang menghalangi desa untuk tumbuh lebih besar lagi dari sekarang. Beberapa pria dewasa terlihat berjaga di luar tembok, Lilly dan Edge langsung mengenali bahwa mereka penyihir.

"Siapa kalian? Kalian pengelana?" tanya seorang penjaga.

"Kami anggota Guild Silver Line dari Recht, kami baru saja menyelesaikan misi di sekitar sini, dan kami melihat desamu dari kejauhan, jadi kami ingin bermalam di sini."

"Oh, penyihir dari kota besar ya? Kami senang kalian datang, silahkan masuk." dan dengan persetujuan penjaga itu, mereka berdua memasuki desa.

Di dalam sana, suasananya sepi. Anak-anak semuanya sudah masuk rumah kecuali mereka yang tidak menuruti panggilan orang tuanya untuk berhenti bermain. Obor dinyalakan di jalan desa setiap beberapa puluh langkah, selain dari itu, sumber penerangan lainnya adalah cahaya lilin yang menyala lemah dari dalam rumah.

Ketika melihat ke atas, baru saja Edge menyadari bahwa selain tembok kayu, ada satu lagi yang menjulang tinggi di langit, sebuah bukit. Desa ini kelihatannya terletak di tepi padang rumput dari arah kedatangan mereka tadi dengan tanah yang topografinya lebih tinggi. Memang tidak terlihat jelas di malam hari dan dari kejauhan, bukit itu terlihat seperti memiliki sebuah hutan kecil.

Lilly menghentikan langkahnya lalu berkata, "Nah, ini kelihatannya seperti penginapan."

Mereka berdua berdiri di depan sebuah bangunan kecil berlantai tiga. Lebar bangunan itu tidak sebesar tingginya, membuatnya terlihat seperti raksasa kurus. Kalau dilihat, bangunan itu memang bangunan terbesar di desa ini. Sebuah papan nama menggantung di atas pintu masuk, menandakan bahwa bangunan itu memang penginapan.

Ketika mereka berdua masuk, mereka disambut oleh aroma alkohol yang menyebar ke seluruh ruangan. Salah satu sudut penginapan adalah sebuah bar yang kini dipenuhi oleh pemabuk. Lilly berjalan sambil mencoba mengenyahkan bau yang mengganggu itu. Seorang pria tua menyambutnya dari balik meja panjang.

"Menginap atau minum?" tanyanya dengan suara serak.

"Menginap. Kami ingin dua kamar untuk semalam." jawab Lilly

"Sayang sekali nona, tapi hanya tinggal satu kamar yang tersedia."

"Penginapanmu cukup besar, bagaimana bisa hanya tersisa satu kamar?"

"Sebenarnya penginapan ini tidak terlalu besar, karena lantai satu digunakan sebagai bar, lantai dua untuk penginapan, dan lantai tiga untuk tempat tinggalku dan keluargaku. Jadi hanya ada tiga kamar untuk disewakan, dan kebetulan hanya ada satu yang kosong."

"Aku tidak keberatan kok." sahut Edge

Lilly berbalik menatapnya, lalu berkata "Aku yang keberatan."

"Ayolah, kita butuh tempat bermalam, dan di sini lebih baik daripada tidur di jalan. Bagaimana?"

"Kau tidur di lantai."

"Oke, aku tidak keberatan."

Lilly berbalik lalu bertanya pada pemilik penginapan, "Baiklah, kami menginap. Dan omong-omong di mana kamar mandinya?"

"Kamar mandinya terpisah di belakang penginapan ini." jawab pemilik penginapan sambil menunjuk bagian belakang penginapan.

"Apa kau ingin langsung ke kamar?" tanya Lilly pada Edge.

"Aku ingin makan dulu sebelumnya." jawab yang ditanya.


Chapter 10: Auction house

Matahari siang ini tidak menunjukkan rasa kasihan sedikitpun pada mereka yang di atas tanah, awan-awan yang bertebaran di langit memberikan perlindungan sia-sia, yang hanya membuat beberapa bayangan awan di tempat dimana tak ada orang berteduh.

"Dimana Ruby? Dia terlambat." gerutu Ray saat dia menunggu rekannya di bawah pohon rindang di depan guild. Ray menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari kemungkinan temannya itu mendadak muncul di sudut jalan. Tapi kemungkinannya terbukti nol.

"Mungkin lebih baik aku menunggu di dalam guild saja, ngapain juga aku menunggu di depan guild dari tadi?" setelah menggerutu pada diri sendiri, Ray berjalan memasuki guild.



Pintu masuk guild terbuka tanpa perlawanan, menampakkan kebesaran Silver Line di dalamnya. Ray berjalan lurus, tak menghiraukan tangga yang menuju ruangan ketua guild, dia berjalan ke arah aula utama guild.

Aula utama itu hanyalah ruangan luas yang kosong dari perabot yang tak perlu. Cahaya matahari berusaha menyelinap masuk dari jendela-jendela, melalui jendela itu Ray bisa melihat halaman belakang guild yang dipenuhi rerumputan. Tempat lilin besar menggantung dari langit-langit untuk menggantikan peran matahari saat malam tiba. Di atas deretan jendela, sederet panjang lukisan berukuran besar dipaku di dinding. Semua lukisan itu adalah potret diri seseorang yang semuanya tidak Ray kenali, ada pria dan wanita, semuanya dilukis dalam pose gagah dan berwibawa, mencoba menunjukkan kekuatan mereka yang tak bisa digambarkan oleh lukisan semata. Di ujung lukisan itu ada potret seseorang yang akhirnya dikenali Ray. Seorang pria berambut hitam pendek, tatapan matanya sama seperti saat Ray menatap matanya pertama kali di guild ini. Yang membalas tatapan Ray dari balik lukisan itu adalah sosok Diaz yang diabadikan oleh si pelukis.

"Kenapa kau terkejut begitu? Apa ini pertama kalinya kau melihat foto para ketua guild?" sebuah suara familiar mengagetkan Ray dari bengongnya, saat dia menoleh ke belakang, Diaz yang asli berdiri di belakangnya.

"Ah, ketua? Ah iya, ini pertama kalinya saya melihat lukisan-lukisan itu. Saat saya memasuki aula sebelum-sebelum ini, saya tidak menyadari ada lukisan di atas jendela."

Diaz berjalan maju, memandangi para pendahulunya di tembok itu.

"Mereka semua adalah orang-orang yang dipercaya untuk memimpin guild ini, dan dengan itu juga, untuk menjaga kota ini dari apapun yang mencoba menyerangnya. Sebagai orang yang melanjutkan kepercayaan yang dibebankan pada mereka, akupun akan menjaga dan melindungi semua anggota guildku, dan kota ini juga." Diaz menoleh ke Ray sebelum melanjutkan, "Apa kau ingin menjadi ketua Silver Line berikutnya?"

"Akh? Aku? Tapi aku tidak merasa mampu untuk menjadi ketua."

Diaz tertawa kecil mendengar jawaban Ray, lalu melanjutkan, "Waktumu masih panjang sebelum tiba saatnya kau dicalonkan jadi ketua guild, teruslah berlatih aku yakin kau bisa."

Mendadak mereka mendengar bunyi daun pintu terbuka, saat mereka menoleh mereka melihat Ruby berdiri di ujung sana.

"Oh, dia sudah datang. Maaf ketua, tapi kami sudah berjanji untuk mengambil misi bersama jadi saya permisi dulu." dengan kata-kata itu, Ray melangkah mendekati Ruby.

"Kau baru saja ngobrol dengan ketua?"

"Iya sedikit, ayo kita pilih misi kita." mereka berdua pun pergi menuju ruang misi.

Mata mereka berdua menelusuri pilihan misi yang menawarkan diri mereka sendiri pada mereka. Ruby memeriksa dari ujung papan misi sebelah kanan, Ray mencari mulai dari ujung kiri.

"Bagaimana kalau yang ini?" tanya Ray sambil mengambil satu permohonan misi

"Apa itu? Menjaga pelelangan? Waktunya besok malam. Aku tidak begitu tertarik dengan... eh tunggu dulu?!" Ruby menyambar kertas itu dari tangan Ray, dia memperhatikan permohonan itu begitu seksama, kertasnya hanya beberapa senti di depan wajahnya.

"Em... Ruby?"

"BAYARANNYA BESAR BANGEEEET" teriak Ruby

"Hah? Bayaran?"

"Ini! Ini! Apa kau belum melihatnya?" Ruby mengangkat kertas misi itu hingga tepat di depan mata Ray.

"Em... bayarannya sebesar... HAAAH??"

"Ya kan? Ya kan?" tanya Ruby, senyumnya melebar dari pipi satu ke pipi satunya

"Aku tidak melihat jumlah bayarannya sebelumnya. Pemilik pelelangan memang kaya banget ya?"

"Iya, aku dari tadi mencari yang bayarannya besar, tapi tidak ketemu. Kau hebat bisa menemukannya."

"Hah? Jadi dari tadi yang kau lihat dari permohonan misi adalah jumlah bayarannya ya?"

"Tentu saja, kenapa? Kau mau komentar?"

"Demi keselamatan diriku sendiri, aku lebih memilih untuk diam."

"Itu pilihan yang pintar. Jadi besok kita mengambil misi ini, oke?"


Senin, 08 September 2014

Chapter 9: Royal eye

Tidak seperti hari biasanya, siang itu lebih banyak awan memenuhi langit, mempersusah usaha matahari untuk menghangatkan padang rumput jauh di bawah sana. Di tengah-tengah padang rumput itu, sebuah jalan setapak membelahnya. Jalan yang cukup luas untuk dilewati kereta kuda itu berakhir di sebuah bangunan pertahanan yang megah dan kokoh. Tembok luarnya terbuat dari batu berdiri tinggi menantang para penyerang. Dua buah daun pintu raksasa yang digunakan untuk keluar masuk saat ini tertutup rapat. Di balik tembok pertama itu ada sebuah lapangan untuk apel prajurit dan lokasi bertarung pertama ketika ada musuh menyerang. Setelah itu tembok kedua benteng memisahkan lapangan apel dengan bagian terdalam benteng, dimana sebuah menara tunggal menjulang tinggi di sana, tempat jenderal benteng itu memberi perintahnya. Dari kejauhan, benteng itu terlihat bagai lawan yang tangguh bagi penyerang.



Dua orang prajurit sedang berjaga di lengkungan di atas pintu masuk benteng, tiba-tiba saja salah satu dari mereka menunjuk ke sesuatu di jalan setapak, dimana tiga orang pria berdiri di sana. Salah seorang dari mereka tinggi besar dengan rambut pirang yang dicukur pendek. Ia mengenakan jubah yang menjuntai sampai ke mata kakinya. Seorang lagi wajahnya tertutup perban seluruhnya hingga hanya kedua matanya yang terlihat. Perban itu dipenuhi oleh tulisan-tulisan dalam bahasa yang tidak bisa dimengerti. Pria itu mengenakan pakaian lengan panjang dengan lengan baju yang membesar di pergelangan tangan, membuat pakaiannya terlihat sedikit kedodoran. Seorang lagi tingginya tidak berbeda dengan pria yang diperban, rambutnya hitam pendek tapi masih lebih panjang dari pria berbadan besar itu. Baju yang ia kenakan terlihat mewah dengan tunik berwarna hijau.



"Itu dia Benteng Galtar, aku merasa bersemangat sekali." ujar yang berbadan besar.

"Tenanglah Jack" sahut yang berperban, "Biarkan Zivon maju dulu."

"Aku mengerti Dagarath." balas Jack.

"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu." ujar Zivon. Tak lama kemudian tubuh Zivon memudar, hingga transparan, hingga kemudian menghilang.

Segera sesudah Zivon menghilang, Jack dan Dagarath berlari menuju pintu Benteng Galtar, sebuah tindakan yang membuat para penjaga gerbang membunyikan terompet tanduk pertanda bahaya.

"Akan kuhancurkan gerbang kayu itu!" seru Jack.

"Tahan dulu Jack, gerbang itu merupakan jalan keluar masuk gerbang, titik terlemah dibandingkan tembok batunya. Aku rasa gerbang itu dimantrai dengan sihir pelindung, biar aku duluan yang menyerang. Sihirku bisa menihilkan efek seperti itu." sahut Dagarath.

Dagarath mengayunkan tangannya, lalu setengah lusin kertas persegi empat melesat keluar dari lengan bajunya yang kedodoroan, masing-masing kertas dengan tulisan aneh dalam bahasa yang tidak dimengerti.

Dengan ajaib, kertas-kertas itu menempel di pintu gerbang bagai memiliki perekat. Pada saat itu, huruf-huruf aneh di kertas-kertas itu menyala merah terang.

"Hancurlah!" seru Dagarath. Seakan mendengarkan komandonya, kertas-kertas itu meledak bersamaan dan menghancurkan pintu gerbang. Jack dan Dagarath masuk melalui gerbang yang kini menganga.

Di balik tembok pertama, mereka berdua disambut oleh ratusan prajurit dengan tongkat sihir teracung.

Chapter 8: A blooming flower

Cahaya bulan membelah awan di langit, menerangi sebagian bumi dengan cahaya redupnya. Serangga malam berbunyi di beberapa sudut hutan, meramaikan suasana malam yang sunyi, selain suara serangga-serangga itu yang terdengar hanyalah bunyi burung hantu di kejauhan.

Cahaya bulan menyinari seorang pria yang sedang duduk di atas sebongkah batu Rambut putih pendeknya tidak sesuai dengan wajahnya yang masih muda. Pandangan matanya bersinar lebih terang dari cahaya rembulan, memancarkan keteguhan hati dan tekad yang luar biasa. Jubah hitamnya tidak membantu memantulkan sinar bulan. Wajah tampannya menambah daya tarik dari tubuhnya yang atletis.

Ia dikelilingi beberapa orang, yang keseluruhan sosoknya tertutup bayangan ranting, dahan, dan pepohonan sehingga tidak jelas rupanya. Ada yang tinggi besar, ada yang lebih pendek, salah seorang jelas berambut panjang.

"Kita akan mulai mengambil kembali harta-harta purbakala. Lokasi harta purbakala yang pertama sudah diketahui." ujar pria itu, suaranya benar-benar penuh karisma, suara seorang pemimpin.

"Akhirnya, dimana?" balas salah seorang dari pengikutnya. Suaranya berat dan menakutkan.

"Benteng Galtar." jawab si pemimpin, "Yang menjaganya adalah seorang jenderal sihir bernama Sagas. Harta purbakala itu disimpan dalam ruangan tersegel di bawah tanah benteng, karena itu Zivon kau akan pergi, kalau kau pasti bisa membuka segel seperti apapun."

"Bagaimana dengan jenderal itu?" tanya yang dipanggil Zivon, "Aku tidak bisa melawannya dan mencuri harta purbakala bersamaan."

Si pemimpin itu menoleh ke yang berbadan tinggi besar lalu berkata, "Kau ikut, Jack. Buat jenderal itu sibuk, dan kalau bisa bunuh dia juga."

"Apa maksudmu 'kalau bisa'? Apa kau meremehkan kemampuanku?" balas Jack dengan suaranya yang berat.

"Aku juga ikut, aku juga ingin bersenang-senang." ujar salah seorang dari mereka.

"Baiklah Dagarath, kau boleh ikut kalau mau. Sisanya diam di sini, kita akan tunggu kepulangan mereka bertiga."



Langit siang itu cerah tak berawan. Menghangatkan bumi dan memanasi empat orang anggota guild yang sedang mengerjakan misi mereka. Ray, Ruby, Elise dan Raisha sedang berada di sebuah bukit agak jauh di luar Recht, di arah yang berlawanan dengan hutan tempat mereka kemping sebelumnya. Ray dan Ruby memimpin jalan, Raisha hanya beberapa langkah di belakang mereka, Elise seperti biasa berjalan sambil memeluk lengan Raisha erat.

"Jadi bunga apa yang kita cari tadi? Aku lupa." tanya Ray pada teman-temannya.

"Bunga Laura Biru." jawab Ruby, "Bunga langka yang hanya mekar dua kali dalam setahun. Bunga itu tumbuh di puncak bukit ini, atau mungkin di tempat lain di bukit ini, aku tidak yakin. Yang pasti kita harus menemukannya dan membawanya ke klien kita, karena dia tidak bisa pergi sendiri karena kakinya patah."

"Klien kita akan memberikan bunga itu untuk istrinya sebagai hadiah peringatan ulang tahun mereka yang ke-25, romantis kan?" ujar Raisha dengan penuh semangat, "Karena itu kita harus bisa menemukannya."

"Tapi itu bunga langka kan? Apalagi dia cuma mekar dua kali dalam setahun, apa kita bisa menemukannya?"

"Kata-kata kak Ray terdengar seperti kata-kata Kak Edge." balas Raisha

"Pasti bisa kok, klien kita sendiri bilang dia memetik bunga itu di sekitar bulan ini 25 tahun yang lalu sewaktu dia melamar istrinya." ujar Ruby, yang disambut teriakan bersemangat dari para gadis sewaktu mendengar kata 'melamar'.

"Lamaran ya? Kira-kira kapan ya akan datang orang yang akan melamarku?" tanya Ruby, wajahnya sedikit memerah dan matanya menerawang, mengimajinasikan masa depannya. Raisha dan Elise tersenyum lebar mendengarnya, sementara Ray hanya bereaksi aneh.

"Ray? Apa kau sedang menahan tawamu?" pertanyaan Ruby disertai dengan hawa membunuh.

"Tihihidak kok... ubh."

Ruby membuat pedang air, menodongkannya ke punggung Ray, lalu mengulangi pertanyaannya, "Apa kau sedang menahan tawamu?" hawa membunuh itu semakin besar.

"Aku merasa nyawaku terancam, tidak peduli aku menjawab pertanyaanmu atau tidak."

"Benar sekali, nyawamu memang sedang terancam sekarang, jadi kusarankan kau jangan menambah ancaman yang sudah mengancam nyawamu sekarang. Jalan saja dan jangan banyak bicara."

"Siap nona."

Dan mereka pun melanjutkan perjalanan dengan Ruby menodongkan pedang ke Ray

"Omong-omong, kenapa Edge dan Lilly tidak ikut kita?" tanya Ruby.

"Oh, Kak Lilly perutnya sedang sakit jadi dia tidak ikut, dia bilang dia tidak mood melakukan apa-apa. Kalau Kak Edge sih, dia bilang dia tidak mau ikut." jawab Raisha, "Menurutku sih, Kak Edge tidak ikut karena Kak Lilly juga tidak ikut. Mereka kan selalu bersama."

"Apa ada hubungan khusus antara Edge dan Lilly?" tanya Ruby, dari nada bicaranya dia terdengar bersemangat.

"Aku sih tidak yakin soal perasaan Kak Lilly, tapi kelihatannya Kak Edge menyukai Kak Lilly."

"Begitu... kita harus tanya Lilly kalau ada kesempatan." lanjut Ruby dengan semangat yang sama.