Jumat, 24 April 2015

chapter 24: Edge

Lagu-lagu indah yang memenuhi siang itu perlahan memudar sebelum akhirnya berhenti. Seorang pemain gitar membungkukkan badan beberapa kali ke arah penonton yang bertepuk tangan. Seorang anak kecil berkeliling sambil menadahkan topi lebar, ke sanalah para penonton melempar koin-koin mereka.

Lilly, Edge, Raisha, Lucia, Diaz, dan Mad juga termasuk diantara yang melemparkan koin mereka ke anak kecil itu.

"Lagu yang indah ya? Sayang sekali Ruby tidak mendengarkannya." ujar Lilly.

"Elise juga." sahut Raisha, "Mereka sedang bersama Kak Ray."

"Hoo, beruntung sekali Ray, menghabiskan waktu bersama dua perempuan cantik." ujar Lilly lagi.

"Berarti aku yang bersamamu ini sedang sial, ya?" sambung Edge.

"Wah, Edge, kau mau musim dingin ini kubuat jadi musim dingin yang terakhir untukmu?" Lilly mengeluarkan serulingnya.

"Tidak, terima kasih. Aku masih ingin menikmati musim semi."

"Edge?" tiba-tiba sebuah suara memanggil.

Semuanya menoleh ke asal suara, dan mereka melihat seorang perempuan berumur sekitar pertengahan 20-an, tingginya tidak jauh beda dengan Lilly, mungkin cuma lebih tinggi sedikit. Rambutnya sama merahnya dengan rambut Edge, hanya saja lebih panjang hingga melewati bahu.

"Kak Arieta." panggil Edge pada perempuan itu, sebelum mendekat. Semua orang saling bertukar pandang saat Edge memanggil perempuan itu.

"Edge tidak pernah memberitahuku dia punya kakak." ujar Lilly.

"Iya, dia juga tidak memberitahuku." sahut Diaz. Lucia juga memberi respon yang sama.

"Ya... kalau Kak Edge tidak memberitahu Kak Lilly, wajar saja kalau dia tidak menceritakannya pada yang lain."

"Tunggu dulu Raisha, apa maksudmu dengan itu?"

Raisha menjawab Lilly dengan setengah berbisik, "Soalnya, semua orang juga sudah tahu perasaan tersembunyi Kak Edge pada Kak Lilly."

Diaz, Lucia, dan Mad mengangguk setuju terhadap kata-kata Raisha.

"Kenapa kau tidak pernah pulang? Ayah dan ibu khawatir setiap kali aku kembali ke rumah. Kau tambah tinggi ya? Terakhir kali aku melihatmu kau tidak setinggi ini. Bagaimana makanmu? Sehat? Bagaimana kabarmu di guildmu?"

"Aku kan sudah menulis surat kak. Ya, aku bertambah tinggi, aku masih dalam masa pertumbuhan. Aku makan dengan baik kok kak. Dan, orang-orang di guild menerimaku dengan baik." jawab Edge pada pertanyaan kakaknya yang bertubi-tubi.

"Omong-omong soal guild, kebetulan anggota guildku sedang bersamaku." Edge mengacungkan ibu jarinya ke rombongan di belakangnya.

Arieta berjalan ke samping Edge, ia membuka mulutnya untuk memperkenalkan diri, namun mendadak kata-katanya berhenti di tenggorokannya. Matanya membelalak tak berkedip saat melihat Lilly.

"Iris?"

"Eh? Apa?" tanya Lilly.

Arieta mendekati Lilly, setelah memandangi Lilly selama beberapa saat, ia berjalan mundur lagi.

"Maaf, kamu mirip sekali dengan adikku."

"Siapa?"

"Kakakku yang anggota Gold Hawk," jawab Edge, "dia menghilang dua tahun yang lalu ketika menjalankan misi. Aku tidak tahu misi apa, tapi orang-orang Gold Hawk tidak mengijinkanku masuk guild mereka ketika aku bilang ingin mencaritahu soal kakakku. Jadi aku masuk Silver Line, aku kira karena ada di kota yang sama, aku bisa dapat petunjuk tentang kakakku." Edge terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Lilly, kau mirip kakakku."

Lilly terdiam, tak mampu menjawab ataupun sekedar bereaksi.

"Namaku Arieta, aku kakak tertuanya Edge. Aku di sini karena aku salah satu orang yang disewa untuk menjaga para pedagang. Waktu sampai Recht, aku ingat kalau Edge pernah bilang dia bekerja di guild di sini, jadi aku berpikir mungkin aku bisa bertemu." setelah memperkenalkan dirinya, ia menggenggam lengan Edge, "Maaf ya, aku mau pinjam Edge sebentar. Sudah lama aku tidak ketemu dia, aku ingin nostalgia."

"Silahkan saja." bahkan sebelum Lucia selesai mengatakan itu pun, Arieta sudah membawa Edge pergi.

Rombongan Silver Line yang ada di situ cuma bisa melihat kakaknya Edge menyeret Edge dengan riang.

"Oh? Kalian semua ada di sini?" tanya sebuah suara dari belakang mereka, yang ternyata adalah Ray. Ruby di sebelah kanannya, Elise di sebelah kirinya.

"Ada apa? Kenapa wajah kalian seperti orang kaget begitu?" tanya Ruby.

"Mungkin karena kami memang kaget, setelah mengetahui sesuatu tentang Edge." jawab Diaz.

"Tentang... Kak Edge? ...memangnya... ada apa dengan... Kak Edge?" kali ini Elise yang bertanya.



Sementara itu, Edge dan Arieta sedang berada di sisi lain dari tenda-tenda pedagang, membeli setusuk panjang sate daging, yang basah dengan bumbunya.

"Hei Edge, kau masih mencari petunjuk soal Iris?" tanya Arieta.

"Ya, aku sudah bilang di surat kan? Aku akan terus mencari dimana Kak Iris berada. Sampai sekarang belum ada yang tahu apakah Kak Iris masih hidup atau tidak, selama masih ada kemungkinan Kak Iris masih hidup, aku akan terus mencari."

"Ayah dan ibu juga berharap begitu, setiap hari mereka berharap Iris akan pulang ke rumah."

"Bagaimana keadaan Ayah & ibu? Sehat?"

"Iya, biarpun minus ayah bertambah."

Edge menggigit daging yang dia beli tadi, sambil mengunyahnya dia berkata, "Aku jadi ingat, dulu... waktu Kak Iris pertama kali menyelesaikan misi, dia langsung beli makanan untuk kita semua."

"Iya, dan dia yang makan paling banyak."

"Kalau aku menemukan Kak Iris, giliranku membalasnya. Aku belum sempat membelikan daging panggang yang dulu kujanjikan untuknya."

"Berhati-hatilah Edge, jangan sampai kau juga menghilang. Ayah dan ibu akan bertambah sedih lagi."



"Haaah? Kak Edge punya kakak??" teriak Ruby setelah mendengar apa yang terjadi, "dan lagi, bagi Kak Edge, Kak Ruby cuma pengganti kakaknya??"

"Dia nggak bilang begitu kok." bantah Lilly.

"Tapi jelas maksudnya seperti itu kan?"

"Yaah.. mungkin... Hei, tunggu dulu, kenapa kita bicara seolah-olah aku ditolak?" balas Lilly.

"Memang bukan ya?" tanya Ruby seolah tanpa dosa.

"Jelas bukan!"

"Memang bukan penolakan sih, kalau menyatakan perasaan saja belum." sahut Raisha.

"Sudah kubilang kan, aku tidak punya perasaan seperti itu pada Edge."

"Oh ya? Apa itu jujur?" tanya Lucia.

"Iya, sungguh." jawaban Lilly masih dibalas dengan pandangan menyelidik dari Lucia.

"Yaa, baiklah kalau kamu masih berkata seperti itu." ujar Lucia akhirnya.

Tidak lama setelah itu, Arieta datang lagi bersama Edge.

"Hi, semua. Terima kasih sudah meminjamkan Edge. Sebenarnya aku masih ingin menghabiskan waktu bersama si kecil ini, tapi aku sudah harus kembali ke pekerjaanku. Ini, Edge kukembalikan." ujar Arieta sambil mendorong Edge maju.

"Terima dong." bisik Lucia.

"Tidak, kenapa aku yang terima?" bisik Lilly balik. Raisha dan Elise melirik ke arahnya.

"Daag Edge." Arieta melambaikan tangan sambil berjalan pergi, Edge membalasnya dengan lambaian malas. Sementara raut wajah Lilly masih tetap tidak kembali secerah biasanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar