Senin, 03 Agustus 2015

Chapter 27: Cold hearted flame

Setelah Raisha memberikan obat yang dibuat dari pencariannya ke Elise yang sakit, dia kembali ke apartemennya untuk membuatkan Rico sebuah sup hangat. Raut wajah anak laki-laki itu terlihat sangat senang saat memakannya. Di pagi yang sama, Edge sedang memelanai kuda, Lilly di sebelahnya sudah selesai mengerjakan hal yang sama.

"Kau sudah siap, Edge?" tanya si perempuan. Tubuhnya mengenakan mantel berwarna putih yang agak tebal.

"Ya. Baru saja." jawab yang ditanya. Edge langsung melompat ke punggung kuda, tangannya yang dibungkus sarung tangan memegang tali kekang. Penyihir api itu mengenakan mantel berwarna merah terang, seolah menegaskan identitasnya sebagai penyihir api.

"Ayo kita bergegas, ada seorang gadis yang perlu diselamatkan." katanya kemudian, kepada rekannya.

Lilly lalu naik ke atas kudanya, "Para bandit itu mengharapkan orang tua gadis itu memberikan tebusan waktu matahari terbenam nanti, tapi kita akan menghancurkan harapan itu."

Mereka berdua memacu kudanya, meninggalkan jejak-jejak tapak kuda di sepanjang jalan bersalju di luar kota.

Hari sudah mendekati tengah hari, sewaktu mereka bisa melihat tempat yang diinginkan para bandit untuk menyerahkan tebusan. Edge dan Lilly berhenti di sebuah bukit tinggi, dari situ, mereka melihat Pohon eik besar dengan dahan tertutup salju yang menyebar ke segala arah. Di bawah pohon itu, terlihat seperti titik-titik kecil di atas salju, tujuh orang bandit sedang mengelilingi seseorang yang diikat di tengah-tengah mereka.

"Itu dia, orang yang harus kita selamatkan." ujar Edge, "Ada ide bagaimana kita akan melakukannya? Menyerang langsung dari depan bukanlah gagasan yang bagus."

"Bagaimana dengan strategi sederhana? Aku akan memancing perhatian mereka dari depan, sementara itu kau mendekat dari belakang dan menolong anak itu." usul Lilly.

"Dan bagaimana caraku mendekati mereka dari belakang? Tanah salju ini begitu terbuka. Tidak ada apapun yang bisa kupakai untuk bersembunyi sambil mendekat dalam jarak 300 meter."

"Kenakan mantelku dan menunduklah, dan juga jangan terlalu membuat suara."

Segera, mereka bertukar mantel. Lilly merasa agak dingin karena mantel Edge tidak setebal miliknya, tapi ia tidak mempermasalahkan hal itu. Kuda-kuda ditinggalkan, Lilly bergerak terlebih dulu, baru setelah beberapa langkah kemudian Edge berjalan mendekat.

 

Beberapa saat kemudian, Lilly sudah berjarak selemparan batu dengan kelompok bandit itu sebelum mereka akhirnya menyadari kedatangan Lilly.

"Hoi! Siapa kau?" seru salah seorang bandit.

"Ah, maaf. Saya cuma sedikit tersesat, dan ingin bertanya mungkin saja tuan-tuan tahu daerah sekitar sini." balas Lilly.

"Hei, bagaimana menurutmu?" bisik bandit yang lain ke bandit pertama, "Apa dia benar-benar tersesat atau malah orang dari guild yang ingin menyelamatkan gadis ini?"

"Tenang saja, walaupun kecurigaanmu itu benar, kita ada bertujuh. Mana bisa dia melawan kita?"

"Lagipula, anak gadis itu tidak boleh kita apa-apakan." ujar bandit yang lain, "Kalau yang ini, tidak ada dalam perjanjian. Kita bisa melakukan apa saja terhadapnya."

Bandit yang pertama mendekati Lilly, diikuti tiga bandit lainnya.

"Tentu saja kami tahu daerah sekitar sini, kami sering berburu di sini. Tapi, sebelum itu, bagaimana kalau kita bermain-main dulu sedikit." ujar bandit yang pertama, tiga bandit yang lainnya mengelilingi Lilly dari tiga arah. Lilly terkepung.

"Bermain? Bermain apa?" tanya Lilly, pura-pura bingung.

"Heh heh, kau akan segera tahu." pertanyaan itu dijawab bandit di belakang Lilly.

Mendadak terdengar suara teriakan laki-laki. Di sumber suara, seorang bandit hangus terbakar, dua lainnya mengambil posisi siaga. Si gadis, yang ikatan di kakinya sudah terbuka, berdiri di balik seorang pria bermantel putih.

"Kau! Kau memang berniat menolong gadis itu!" seru bandit yang pertama.

"Padahal tadinya aku harap Edge bisa melakukan tugasnya dengan lebih rapi. Tapi, ini juga sudah cukup."

Lilly menempelkan dua jari ke mulutnya, lalu bersiul. Hempasan energi meledak ke segala arah, tidak cukup kuat untuk melukai para bandit itu, tapi sudah cukup untuk mendorong mereka mundur. Keempatnya kini memasang posisi siaga, siap melawan Lilly.

"Heh, kau kira kau bisa menang melawan kami sendirian? Jangan sombong, pesuruh guild."

"Harusnya aku yang bertanya begitu." Lilly mengeluarkan serulingnya, "Kalian kira kalian bisa menang melawanku?"

Lilly meniup serulingnya, tak lama kemudian sabetan energi menyerang bandit pertama. Ia tidak sempat menghindar, langsung kalah di tempat.

Tiga bandit yang tersisa tercengang melihatnya, salah seorang petarung mereka kalah dalam sekejap mata. Ekspresi di wajah mereka tidak bisa disalahartikan lagi, Lilly hanya tersenyum melihatnya.

"Kenapa? Kaget? Kalian belum pernah dikalahkan secepat ini ya?"

Para bandit itu terdiam, tak bisa menjawab. Mereka satu persatu maju melawan Lilly, tapi satu persatu pula mereka dikalahkan. Sesudah selesai mengalahkan mereka, Lilly menoleh ke arah Edge, penasaran bagaimana kerja rekannya itu.

Salah seorang bandit terhempas jauh terkena bola api Edge, menemani temannya yang sudah terkapar di tanah. Edge menghela nafas panjang sesudah mengalahkan pria tadi, lalu menoleh ke si gadis di belakangnya.

"Kau tidak apa-apa?" tanyanya.

Si gadis, yang mulutnya masih dibungkam kain, awalnya hanya bengong memandangi Edge, sebelum akhirnya mengangguk.

"Diamlah, akan kulepaskan ikatanmu." Edge lalu berputar ke belakang gadis itu, lalu melepaskan ikatan yang masih mengikat tangannya. Sementara itu, Lilly berlari-lari kecil mendekat.

"Edge, bagaimana anak itu? Dia tidak apa-apa kan?"

Edge melepas ikatan di mulut anak itu, kemudian menjawab, "Tidak apa-apa, dia tidak terluka. Aku mampu menjaganya."

Mendadak, gadis yang baru ditolong itu memeluk erat lengan Edge.

"Terima kasih kak! Aku tadi takut sekaliii, untung ada kakak yang menolongku. Kakak tadi kuat sekalii." ujar si gadis.

"Ah ya, tapi sekarang sudah tidak apa-apa kan? Tidak usah takut." balas Edge.

Gadis itu melirik ke Lilly, "Siapa dia kak? Pacar kakak ya?"

Lilly terdiam mendengar pertanyaan itu. Detak jantung serasa bertambah cepat. Matanya menatap ke Edge. Telinganya menunggu apa kiranya jawaban Edge pada pertanyaan itu.

"Dia..." Edge berhenti sebentar, sebelum melanjutkan, "Hanya rekanku saja."

Entah saat itu angin dingin memang berhembus, ataukah hanya perasaan Lilly saja. Yang pasti Lilly merasa hawa dingin melanda. Ia tidak mendengar kata-kata Edge selanjutnya, tapi Edge membawa si gadis itu berjalan ke tempat di mana mereka meninggalkan kuda-kuda. Lilly masih terdiam di tempatnya.

"Bodoh... memangnya, aku tadi mengharap Edge berkata apa?"



Matahari sudah tergelincir dari langit ketika mereka kembali ke Recht, mewarnai langit dengan warna senja yang temaram. Gadis itu sudah dikembalikan ke orang tuanya, bayaran atas misi sudah diterima. Edge dan Lilly berjalan kembali ke penginapan masing-masing, tapi mereka berjalan bersama selama jalan membolehkan mereka.

Ketika sampai di persimpangan tempat mereka harus berpisah, Edge dan Lilly terdiam sejenak. Uap putih terbentuk dari nafas mereka berdua. Kesunyian sore yang hanya diisi oleh suara nafas mereka.

"Kalau begitu, sampai besok ya Lilly."

Edge baru saja berpaling, ketika Lilly berkata, "Edge." yang dipanggil itu menoleh.

"Apa aku, hanya rekan bagimu?"

Edge diam. Baru beberapa detik setelahnya ia menjawab, "Kamu juga sahabat baikku, Lilly."

Lilly terdiam sejenak, sebelum melanjutkan pertanyaannya, "Apa aku ini... pengganti kakakmu yang hilang?"

"Lilly, aku tidak ingin menjawab pertanyaan itu."

"Baiklah kalau begitu. Terimakasih untuk jawabanmu."



Lilly berbalik, lalu berjalan meninggalkan Edge. Yang ditinggalkan hanya bisa melihat punggungnya, tanpa melihat ekspresi wajah perempuan yang berjalan menjauhinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar