Awan
tebal berarak di langit, menutup setiap jengkal langit dengan warna
putih yang damai. Tidak jauh dari gulungan awan itu, jauh di ujung utara
Kerajaan Arkascha, berdiri dengan megah deretan pegunungan Callian. Di
puncak salah satu gunung, berdiri dengan megah sebuah kuil yang entah
sejak kapan dibangunnya. Kuil itu adalah titik tertinggi di gunung itu,
seolah-olah ujung gunung dipotong untuk kemudian dibangun kuil ini.
Deretan anak tangga yang diukir melingkar di tepi gunung merupakan
satu-satunya jalan keluar masuk ke kuil ini, pepohonan menutupi mereka.
Tembok batu tinggi menutup pandangan orang luar terhadap kuil ini,
kecuali atap sebuah bangunan yang dibuat mengerucut. Gerbang kayu yang
dibuat menyerupai huruf A menjadi pintu masuknya. Beberapa pendeta
dengan kepala yang dicukur dan pakaian longgar berlalu lalang di dalam
kuil itu, dua orang pendeta menjaga pintu masuk.
Dua
orang perempuan dan seorang laki-laki menanjaki deretan anak tangga
menuju kuil itu. Yang laki-laki adalah Zivon, pria yang pernah merebut
artifak di benteng Galtar. Seorang perempuan berambut hitam pendek
sebahu, sementara satunya lagi pirang panjang hingga sepinggang.
"Harta
purbakala yang satu lagi ada di sini ya? Terpencil sekali, tempat yang
cocok untuk menyimpan harta sepenting itu." ujar yang berambut panjang
"Selain
tempatnya susah dicapai, kuil itu juga dijaga oleh banyak sekali
penyihir tingkat tinggi. Orang biasa tidak akan bisa menyerang kuil ini
sendirian, karena itu para penjaga kami serahkan padamu, Mirabel." kali
ini Zivon yg berbicara.
"Tenang
saja, tidak ada orang yang bisa mengalahkanku," balas perempuan
berambut pendek, "Karena aku adalah penyihir pilihan dewa, yang sudah
ditakdirkan untuk menjadi yang terkuat."
"Kau tidak menghilangkan dirimu sebelum menyerbu masuk, Zivon?" tanya perempuan berambut panjang itu.
"Tidak
Selena, penyihir sepertiku tau walau dari jauh, kuil itu bukan tempat
sembarangan, sudah ada perisai khusus. Sihir penghilangku akan langsung
tidak befungsi di dalam kuil itu."
"Begitu... yah, kau yang lebih tau soal itu Zivon, jadi aku percaya saja."
Begitu
sampai di gerbang kuil itu, mereka dihadang oleh kedua penjaga, salah
seorang diantaranya berkata, "Berhenti! Tempat ini terlarang untuk
dimasuki orang luar."
Selena
melemparkan dua buah jarum tipis ke arah para penjaga itu, keduanya
menghindar dengan sigap, tapi jarum itu tetap menggores pipi mereka.
"Kalian
berniat menyerang kuil suci ini? Kalian membuat keputusan yang salah."
ujar salah satu penjaga, dia dan rekannya mengacungkan tangan mereka ke
depan, bersiap menyerang.
"Percuma
melawan, kalian sudah kalah." ujar Selena. Tidak sampai dua detik
sesudah mengatakannya, kedua penjaga itu langsung ambruk.
"Racunku sangat kuat, tergores sedikit saja sudah lebih dari cukup untuk membunuh siapapun." ujarnya lagi.
Sewaktu
mereka bertiga memasuki lapangan utama kuil, ribuan pendeta langsung
berhamburan keluar entah dari mana, mengelilingi mereka bertiga.
"Kalian,
apa kalian yang menyerang Benteng Galtar? Kami sudah mendengar
kabarnya, tapi salah sekali kalau kalian menyamakan kami dengan para
penyihir itu. Kami adalah orang-orang yang sejak bayi dibesarkan di kuil
ini, dengan tujuan melindungi rahasia kuil ini. Kemampuan kami jauh
berbeda dengan mereka." ujar salah satu pendeta.
"Begitu...
sempurna. Aku memang menginginkan musuh yang kuat." ujar Mirabel.
Sesaat kemudian, angin berputar kencang di sekitarnya, bersamaan dengan
menguatnya auranya, hingga menyerupai api perak. Sesaat kemudian tubuh
Mirabel bersinar terang, berbarengan dengan meledaknya auranya. Ketika
cahaya memudar, apa yang dilihat para pendeta itu sungguh di luar
dugaan.
Kaki
berbentuk Z seperti kaki burung, sebagian tertutup bulu perak dan
sebagiannya lagi tulang yang kuat. Lengan perempuan itu yang tadinya
berbentuk tangan, kini sepasang sayap besar yang juga tertutup bulu
perak bagai bulu burung. Perempuan itu seorang penyihir shapeshift.
Yang
membedakan dari makhluk shapeshift lainnya adalah dada dan wajah
perempuan itu yang masih berupa dada perempuan dan wajah manusia,
menjadikan perempuan itu makhluk setengah burung dan setengah wanita.
"Kau.. jangan-jangan kau... Mirabel Sang Harpy?" tanya salah seorang pendeta.
"Ya." jawab Mirabel, "Aku adalah penyihir pilihan dewa yang memiliki kekuatan tiada tara, shapeshift murni!"
Ketakutan
menyerang semua pendeta di situ bagai halilintar. Tak pernah terlintas
dalam benak mereka akan melawan seorang penyihir tipe langka dengan
kekuatan jauh di atas shapeshift biasa.
"Mirabel, bukakan jalan untuk kami, tujuan kami adalah... bangunan dengan atap kerucut itu." ujar Zivon.
"Tidak apa-apa kah kalau aku hancurkan itu?"
"Tidak masalah, menurut Lloyd hartanya tersimpan jauh di bawah tanah."
"Baiklah,
Sky divide!" Mirabel mengayunkan sebelah sayapnya, dan sebuah hempasan
tenaga berwarna perak melesat cepat membelah kerumunan, ketika tenaga
itu mengenai bangunan targetnya, bangunan itu meledak seketika.
Tanpa
menunggu lama, Zivon dan Selena langsung berlari menuju reruntuhannya.
Beberapa pendeta berusaha menghalangi mereka berdua, tapi Mirabel
langsung melepaskan bola-bola energi untuk menghalanginya.
"Lawan
kalian adalah aku!" teriak Mirabel lantang, "Ada berapa orang di sini?
1000? 2000? Coba kalian hadapi aku, kalau kalian bisa."
Selagi
Mirabel menghadapi ribuan pendeta itu, Zivon membuka pintu di tanah
yang tersegel dengan sihir, setelah terbuka, terlihatlah rangkaian anak
tangga yang menuju bawah tanah. Tak perlu menunggu lama, Zivon dan
Selena masuk ke bawah sana.
Lorong
yang sempit menyambut mereka di sana, obor-obor menjadi satu-satunya
sumber cahaya. Lorong itu memutar dan berkelok-kelok hingga mencapai
sebuah aula besar di bawah tanah. Aula itu berbentuk balok, dengan 4
pintu keluar ke 4 arah, seorang pria berdiri di tengah-tengah aula itu.
Kepalanya
benar-benar polos, tidak ada sehelai rambut pun di situ. Pakaian
longgarnya sama saja dengan pendeta yang lain, kecuali satu: bros di
dada kirinya. Brosnya berbentuk segienam dengan ukiran matahari yang
rumit di tengahnya.
"Kau... apa kau pemimpin tempat ini?" tanya Selena.
"Kalian, apa yang kalian inginkan di sini? Jangan bilang kalian mencari harta purbakala?"
"Menurutmu apa ada alasan lain bagi seseorang untuk menyerang kuil ini?"
"Begitu,
tapi aku tidak akan membiarkan kalian melewati tempat ini. Kalau kalian
bisa lewat sekalipun, tempat penyimpanannya tidak akan semudah itu
ditemukan."
"Selena, aku serahkan dia padamu. Aku akan mencari harta purbakala itu."
"Baiklah, Zivon."
Zivon
berlari menuju jalan keluar yang sebelah kanan, pendeta itu
mengacungkan tangannya untuk melepaskan sihir. Tapi Selena lebih cepat,
dia menembakkan jarum beracunnya untuk menghalangi pendeta itu,
untungnya pendeta itu berhasil menghindar.
"Sabar saja pendeta, diamlah di sini dulu sebentar dan temani aku." ujar Selena dengan nada menggoda.
"Kau
mau bertarung melawanku? Tindakan yang bodoh, tidak ada sihir yang
berguna melawanku." pendeta itu lalu mengeluarkan kertas kecil berbentuk
persegi panjang, kertas itu sudah ditulisi huruf-huruf yang rumit.
"Rune,
ya? Baiklah, biar kulihat apakah kau lebih hebat dari Dagarath."
setelah mengatakannya, Selena lalu membuka telapak tangannya ke
musuhnya, "Poison air." lalu gas berwarna keunguan mengalir keluar dari
telapak tangannya.
Gas
itu dengan cepat memenuhi ruangan, tapi mendadak, gas itu tersedot ke
suatu tempat di udara. Saat gas itu habis, ternyata kertas mantra rune
yang menghisapnya.
"Boleh juga kau." puji Selena.
Si
pendeta melemparkan selembar kertas ke musuhnya, yang dilempari tak
sempat menghindar, kertas rune itu menempel di dahinya. Saat itu Selena
merasa aliran sihir di tubuhnya berubah aneh, semuanya bergerak menuju
dahinya, atau lebih tepatnya, menuju kertas itu.
"Rune
yang menghisap energi sihir dengan menempel di kulit korban ya? Bagus,
tapi itu percuma saja melawanku." Selena lalu membuat satu sobekan kecil
di kertas itu dengan kukunya, sobekannya kecil tapi sudah merusak pola
rune di kertas itu, menghilangkan sihirnya, "Aku tahu bagaimana melawan
rune." lanjutnya.
"Kalau begitu bagaimana dengan ini!" beberapa lembar kertas dilemparkan bersamaan ke Selena.
Selena membuat perisai sihir untuk menghalangi kertas-kertas itu, mereka semua jatuh ke lantai.
"Makan
ini! Demon's splash!" setelah meneriakkannya, Selena melemparkan sebuah
bola air berwarna kehijauan. Musuhnya menahannya dengan kertas rune.
Air itu bukannya terserap, melainkan pecah ketika terkena rune, sebagian
mengenai kulit dan pakaian si pendeta, lainnya lagi ke tanah.
Pendeta
itu mengerang kesakitan, dan saat ia melihat ke pakaian dan tanah di
sekitarnya, dia tahu apa sebabnya. Baju dan tanah tempat terkena air
hijau itu bolong-bolong, seperti terkena asam yang korosif. Kulitnya
yang terkena pun menjadi kemerah-merahan, kulitnya juga terbuka. Seperti
terkena luka bakar dan dikuliti pelan-pelan secara bersamaan.
"Kau punya sihir yang menakutkan."
"Begitulah" sahut Selena, "Sihirku barusan berbeda dengan air biasa, tidak akan bisa kau hisap semudah gas."
"Kalau begitu aku akan bertarung serius, bersiaplah!" dia mengeluarkan beberapa kertas rune, semuanya melayang di udara.
Zivon
berhenti di depan sebuah pintu batu besar dengan ukiran-ukiran rumit
dari berbagai macam bangun. Ia mengamati rangkaian segel itu sejenak,
sebelum kemudian memutar sebuah segitiga, lalu segienam, dan seterusnya.
Semua dilakukan dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, tidak berniat
melakukan kesalahan sedikitpun.
Setelah
beberapa menit berkutat dengan segel itu, terdengarlah suara klik dari
semua simbol, dan pintu batu itu terbuka ke dalam.
Sama
seperti Benteng Galtar, ruangan di hadapannya adalah sebuah kubus besar
yang terbuat dari marmer putih berhiaskan tulisan-tulisan rune. Di
tengah-tengah ruangan itu, di atas meja batu, terdapat sebuah papan yang
terbuat dari berlian, bingkainya terbuat dari emas. Ketika Zivon
mendekat, ia melihat sebuah peta yang digambar dengan emas. Peta itu
mirip sekali dengan peta Kerajaan Arkascha, kecuali di ujung baratnya
yang kelihatannya bibir pantai menjorok lebih jauh ke barat.
"Land's Map, harta purbakala yang kedua. Khuhuhu ini benar-benar terlihat bagai sebuah barang berharga."
Zivon mengambil harta purbakala itu, kemudian melangkah keluar ruangan.
Ketika
sampai di tempat pertarungan Selena, ia melihat perempuan itu terduduk
di salah satu sisi ruangan, nafasnya memburu, dadanya naik turun
karenanya, keringat menuruni dahinya. Beberapa kertas rune bertebaran di
sekitarnya.
"Kau terlihat kepayahan, kau tidak kalah kan?" tanya Zivon.
"Lihat saja sendiri." balasnya sambil menunjuk ke sisi ruangan yang lain.
Seonggok
mayat tergeletak di sana, pakaiannya sama persis seperti pendeta kuil
yang menghadang mereka tadi, yang berbeda adalah yang dibungkus oleh
pakaian itu. Mayat itu kurus kering, kulitnya keriput seluruhnya dan
berubah menjadi kecoklatan, bola matanya sudah hilang mungkin karena
mencair, tengkoraknya pun terlihat menyeringai lebar.
"Kau... kau mengubahnya menjadi mumi?"
"Orang
itu musuh yang kuat, aku akui itu. Ia bahkan bisa mendesakku sampai
sejauh ini." jawab Selena di tengah-tengah nafas beratnya, "Yang lebih
penting lagi, kau berhasil mendapatkan harta purbakala itu kan?"
Zivon mengeluarkan Land's Map yang baru didapatkannya.
"Indah sekali, seperti perhiasan yang berharga."
Mereka berdua berjalan kembali ke permukaan, sesampainya di sana, kuil sudah berubah drastis.
Bangunan-bangunan
hancur, tanah retak dan membentuk kubah, dua sisi tembok yang memagari
kuil runtuh, mayat para pendeta kuil berserakan di mana-mana. Mirabel
bertengger di atas gerbang yang bagian atasnya sudah dipatahkan. Ia
melompat turun begitu melihat kedua rekannya keluar.
"Kalian lama sekali? Aku sampai bosan menunggu. Kalian dapat harta purbakala itu?"
sekali lagi, Zivon mengeluarkan artifak yang baru diambilnya.
"Cantiknyaaa..." kagumnya atas peta emas dan berlian itu.
"Benda ini lumayan berat, aku ingin segera kembali ke markas dan meletakkannya."
"Kalau begitu, ayo kita segera kembali. Pegangi kakiku, itu akan lebih cepat."
Mirabel
melompat, memberi kesempatan kedua rekannya untuk memegang kakinya,
lalu terbang pergi dari situ. Meninggalkan kuil dalam keadaan puing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar