Awan
tipis memenuhi langit, hanya menyisakan sedikit ruang bagi matahari
untuk mengintip. Di bawah sana, di jalanan kota, seorang gadis kecil
berjalan sendiri. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai,
sesekali dibelai oleh angin.
Elise Campbell, nama gadis belia itu, baru beberapa saat yang lalu dia meninggalkan sahabatnya untuk mengambil misi sendirian.
"Bagaimana ya sekarang?" gumamnya pada dirinya sendiri.
"Biasanya aku mengambil misi bersama Raisha, kalau sendirian... aku... tidak terbiasa..."
setelah
menghela nafas panjang, dia melanjutkan gumamannya, "Yaah, paling tidak
coba kembali ke guild dulu, mungkin ada misi yang bisa kuambil
sendiri."
Tak
berapa lama kemudian, Elise sampai di Silver Line. Sambil berjalan
pelan, ia masuk ke guild lalu menuju ruang misi. Di sana, ia mendapati
dirinya tidak sendirian.
"Kak Ruby?" ujarnya spontan.
"Oh, hi Elise, apa kabar? Hah? Raisha tidak bersamamu kali ini?"
"Hi Kak Ruby, Raisha sedang.... mengambil misi sendirian, pemohon misi cuma ingin... menyewa satu orang."
"Hoo, begitu..."
"Kakak sendiri... sedang apa di sini? Bukannya kakak sedang terluka, dan... tidak boleh mengambil misi?"
"Tidak
apa-apa, yang dilarang kan misi bertarung atau misi berbahaya
semacamnya, aku bisa mencari misi yang tidak terlalu membahayakanku
kok." jawab Ruby sambil tersenyum tak bersalah.
'Tapi aku yakin Raisha melarang kakak mengambil misi apapun' batin Elise dalam hati.
Sedetik kemudian, Elise menyadari ada yang aneh, seseorang yang seharusnya berada di situ tidak ada di situ.
"Kak Ruby... di mana Kak Ray? Bukannya... biasanya Kak Ruby selalu mengambil misi... bersama Kak Ray?"
"Oh,
dia? Sekarang dia sedang latihan bersama Area, belakangan ini selalu
begitu kok. Ray mulai jarang mengambil misi, dia lebih rajin berlatih.
Yaah, itu bukan hal yang jelek sih, mengingat kemampuannya yang
biasa-biasa saja, tapi tetap saja dia mengabaikan permohonan misi di
guild. Coba lihat, banyak orang yang membutuhkan bantuan kita di sini,
tapi dia malah mengabaikannya." Ruby menunjuk ke papan permohonan misi
di akhir kalimatnya.
"Tapi...
Kak Ray melatih dirinya supaya bisa mengambil... misi yang lebih susah
kan? Berarti itu bagus, lagipula... selain kita, ada juga Gold Hawk di
sini." balas Elise.
"Tapi
tetap saja, aku tidak suka tidak mengambil misi apapun, dan di saat
sekarang ini, Ray tidak mau diajak mengambil misi. Pergi melakukan misi
sendirian rasanya membosankan."
"Jadi...
Kak Ruby bukannya tidak suka kalau Kak Ray pergi latihan, tapi... tidak
suka kalau Kak Rau tidak mau diajak pergi... dalam misi bersama?"
wajah Ruby memerah sedikit, "Memangnya kenapa dengan itu? Tidak masalah kan?"
"Tapi apa Kak Ray... suka mengambil misi bersama... Kak Ruby?"
Ekspresi wajah Ruby berubah kaget, lalu dia bertanya, "Apa maksudmu dengan itu?"
entah kenapa suasana terasa berubah, udara terasa dingin menyesak, seolah-olah angin berhenti berhembus.
"Tidak... cuma penasaran saja... soal Kak Ray..."
"Kenapa dengan Ray?"
Elise menelan ludah dengan susah payah, sebelum menjawab, "Bagaimana... perasaan Kak Ray pada Kak Ruby?"
"Kenapa, kenapa kau ingin tahu?"
"Kakak masih ingat... beberapa hari yang lalu... waktu kita membicarakan orang yang disukai?"
"Iya.
Memangnya kenapa?" nada tanya dari pertanyaan itu tidak terdengar
setinggi seharusnya, munngkin dibebani oleh seriusnya situasi. Raut
wajah Ruby pun sama seriusnya.
Elise menarik nafas panjang, wajahnya memerah sebelum menjawab, "Aku... aku mencintai Kak Ray."
Dan waktu pun serasa berhenti.
Hening.
Bahkan suara nafas mereka berdua pun tak terdengar, mungkin mereka benar-benar tidak bernafas di keheningan ini.
"Apa? Kamu mencintai Ray?"
Elise menangguk.
"Apa... apa Ray tahu perasaanmu?"
Elise menggeleng.
"Apa kau... berencana memberitahu Ray, soal perasaanmu?"
"Aku... tidak tahu..." wajahnya semakin merona, "Aku tidak yakin aku... bisa mengungkapkannya... pada Kak Ray..."
"Begitu... tapi kalau kau tidak mengatakannya, dia tidak akan tahu."
"Mungkin..."
"Kalau begitu, bisa jadi dia jatuh cinta pada gadis lain."
"Maksud kakak?" suara Elise lebih terdengar kaget daripada bertanya.
"Aku...
aku tidak akan diam saja membiarkan kau mengambil Ray dariku. Aku pasti
bisa membuat Ray jatuh cinta padaku sebelum kau menyatakan perasaanmu."
Semua kembali terdiam.
"Kalau begitu... mari kita lihat, siapa yang berhasil... mendapatkan hati Kak Ray lebih dulu." ujar Elise akhirnya.
"Ya,
kau benar. Tapi aku yakin aku yang akan menang, lagipula aku lebih
banyak menghabiskan waktu bersama Ray dalam banyak misi."
"A... aku juga tidak akan kalah..."
"Oh? Dan bagaimana kau akan menyampaikan perasaanmu? Kau tidak seberani itu."
"Ah...
aku... aku... aku bisa membuatkan makanan untuk Kak Ray, perasaanku...
akan kusampaikan dengan makanan yang kubuat... dengan... sepenuh hati."
"Begitu? Kalau cuma itu aku juga bisa. Bagaimana kalau kita bertanding? Makanan siapa yang akan lebih disukai Ray?"
"Ba... baiklah, aku tidak takut..."
dalam hatinya, Ruby bergumam 'Kalau cuma mengalahkan Elise dalam memasak, bukan hal yang susah'
Suasana
semakin memanas. Pandangan mata yang mereka lemparkan ke satu sama lain
seolah memiliki kekuatan sihir sendiri, sihir yang mampu
mengobrak-abrik guild kalau saja sihirnya itu nyata.
Sementara
itu, laki-laki yang dibicarakan kedua gadis itu saat ni sedang sibuk
berlatih bersama Area di padang rumput di luar kota. Angin yang
berhembus menyapu rerumputan, Ray menerima belaian angin di wajahnya
dengan senang hati, angin itu menyejukkan wajahnya yang panas dan penuh
keringat.
"Ray, sekali lagi." ujar Area yang berdiri tak jauh di depannya. Beda dengan Ray, Area tidak terlihat kelelahan sama sekali.
"Baiklah."
jawab Ray sambil menghimpun energi sihir di telapak tangan kanannya.
Angin berkumpul dan berputar-putar di sana. Lama-kelamaan, angin itu
berkumpul membentuk bola sebesar kepala manusia.
"Bagus, lanjutkan ke tahap berikutnya. Kali ini, lakukan perlahan-lahan." Area memberi instruksi.
Ray
memegang sisi bola angin itu dengan tangan kirinya, tangan itu
memberikan energi sihir tambahan ke kumpulan angin itu. Konsentrasi
angin yang berputar semakin banyak, putarannya juga makin cepat.
"Hebat Ray, sekarang lepaskan energi itu perlahan-lahan."
Mengikuti
instruksi Area, Ray membuat bola angin itu membesar pelan-pelan. Tapi,
di tengah-tengah usahanya itu, bola angin itu tiba-tiba saja meledak,
melemparkan semburat angin ke segala arah. Ray terbuang jauh ke
belakang, jatuh di tengah-tengah rumput.
Ray
terkapar di tanah. Ia menarik nafas, hembuskan, menarik nafas lagi,
hembuskan lagi. Begitu seterusnya dalam irama yang cepat, seolah dia
baru saja lari berpuluh-puluh kilometer.
"Tadi
kamu sudah melepaskannya cukup pelan, tapi sepertinya kamu terlalu
lelah untuk mempertahankan tenagamu." ujar Area sambil mendekat, "Kita
istirahat sebentar dulu." lanjutnya, ia kemudian duduk di samping Ray.
Awan berarak, menutupi sebagian langit tapi membiarkan sisi lainnya terbuka lebar.
"Hei Ray." ujar Arya tiba-tiba, "Apa tujuanmu dalam hidup?"
"Hah? Kenapa tiba-tiba..."
"Tidak
ada apa-apa, kok. Cuma ingin bertanya saja, tidak aneh kan? Lagipula,
sudah sewajarnya bagi setiap orang untuk memiliki suatu tujuan dalam
hidup."
Ray
menggumam, "Hm..." sambil berpikir, "Aku ingin... menjadi orang yang
kuat. Cukup kuat untuk tidak memberatkan anggota guild yang lain, cukup
kuat untuk menolong orang-orang yang membutuhkan bantuanku, mereka yang
memohon misi pada guild kita. Sebelumnya, aku tidak bisa berbuat apa-apa
saat melawan seorang shapeshift, aku juga tidak bisa membantu Ruby
dalam pertarungan kehormatan. Karena itu, aku ingin menjadi orang yang
kuat, supaya aku bisa menolong orang-orang di sekitarku yang membutuhkan
bantuanku."
"Hoo... itu tujuan hidup yang bagus."
"Kalau kau sendiri? Apa tujuan hidupmu, Area?"
"Aku? Sederhana saja sih... aku ingin menjadi guild master."
"Itu sih tidak sederhana. Dan lagi, apa maksudmu menjadi guild master Silver Line, atau guildmu sendiri?"
"Yang
mana saja sih tidak masalah. Tapi, kalau Ketua Diaz mengundurkan diri
sekarang, aku akan mengajukan diri menjadi penggantinya."
"Tapi biarpun kau tidak mengajukan diri sekalipun, kau sudah pasti jadi ketua berikutnya kan?"
"Tidak juga, ada satu kandidat kuat lain untuk jadi pengganti Ketua Diaz, Mad Vrey."
Mendadak
Ray teringat pada pria botak yang dulu pernah ditemuinya sekali di
guild. Ray tidak pernah melihatnya lagi sesudah itu, jadi ia tidak tahu
apapun soal kemampuan pria itu. Tapi mengingat reaksi Lilly dan Edge,
kemampuan Mad kelihatannya tidak main-main.
"Ah, di sini rupanya." ujar sebuah suara, bukan suara Area maupun Ray.
Ketika mereka berdua menoleh ke asal suara, mereka melihat Ruby di situ. Tangannya menggenggam keranjang anyaman.
Tak menunggu lama, Elise berjalan mendekat dari balik Ruby, sambil membawa keranjang anyamannya sendiri.
"Sudah kuduga kau pasti sedang latihan di dekat sini." ujar Ruby.
"Ruby dan Elise? Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Ray.
"Ah,
tidak... aku tadi cuma membuat makan siang untukku sendiri, tapi aku
membuatnya kebanyakan, jadi kukira kau mau mencobanya." jawab Ruby.
Ray menoleh pada Elise, "Kalau kau, Elise?"
"Eh...
um... aku...aku...kebetulan... aku juga membuat... sedikit makanan,
kalau kakak mau..." jawabnya, wajahnya tertunduk berusaha menyembunyikan
rona wajahnya.
"Jadi itu semuanya untuk Ray?" tanya Area.
"Kau juga boleh makan kok, kalau mau." jawab Ruby.
Area lalu berbisik pada Ray, "Makanan buatan Ruby untukku, kau makan bikinan Elise."
"Jadi kau bermaksud mengorbankanku demi keselamatanmu sendiri? Kejam sekali kau." bisik Ray.
"Kalian bisik-bisik apa?" tanya Ruby.
"Ti-tidak ada apa-apa kok, bukan hal penting." jawab Ray.
"Kalian
pasti capek dan lapar sehabis latihan kan? Istirahatlah sambil mencoba
makanan kami." ujar Ruby sambil menaruh keranjangnya lalu mengeluarkan
makanannya: seekor ikan bakar yang dibakar dengan saus tomat dan
rempah-rempah lain, ia juga mengeluarkan sebotol air jernih yang
dimaniskan dengan madu.
Elise juga mengeluarkan makanannya, dan ternyata makanan yang dia bawa sama dengan Ruby.
"Kalian sengaja membuat makanan yang sama? Kalian ingin adu kemampuan, atau ini hanya kebetulan?" tanya Area.
"Sebenarnya sih, tebakanmu yang pertama benar. Sekarang coba tutup mata kalian." balas Ruby.
"Hah? Kenapa?" kali ini Ray yang bertanya.
"Supaya
kalian tidak tahu siapa yang membuat makanannya sewaktu kalian
mencobanya. Nanti kalian harus beritahu kami, yang mana yang lebih
enak." lanjut Ruby.
Pada
saat itu, Ray dan Area serentak berseru, 'Matilah aku!' dalam hati
mereka. Kalau mereka tahu yang mana buatan Elise dan yang mana buatan
Ruby, paling tidak mereka bisa mempersiapkan diri sebelum mencicip
makanan Elise. Tapi kalau mereka tidak tahu yang mana dibuat oleh siapa,
mereka hanya bisa pasrah pada Sang Dewa yang murah hati.
"Kenapa? Ayo tutup mata kalian." ujar Ruby.
Menyadari takdir yang tak dapat dielakkan, Ray dan Area menutup mata mereka sementara Ruby dan Elise mengacak posisi makanan.
"Sudah selesai, bukalah mata kalian."
Ketika
Ray dan Area membuka mata, tampak di hadapan mereka, sepasang makanan
yang tampak sama persis, walaupun mereka berdua tahu rasanya akan jauh
beda.
"Nah, silahkan mencoba." ujar Ruby.
Saat
itu adalah salah satu saat-saat paling menegangkan dalam hidup kedua
laki-laki itu. Salah pilih akan berakibat fatal, sementara hanya dengan
dua pilihan, kemungkinan untuk selamat dari pilihan yang salah adalah
50:50.
Yang
kirikah? Yang kanankah? Yang mana yang sebaiknya dimakan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini berputar-putar di dalam kepala mereka,
sebelum menentukan yang mana yang sebaiknya dimakan dari kedua makanan
yang tampak identik itu.
"Aku akan coba yang ini." ujar Area sambil menunjuk ikan yang di sebelah kiri.
"Kalau begitu aku yang satunya." ujar Ray.
Mereka
berdua mengambil sepotong daging ikan, lalu memasukkannya dalam mulut
mereka bersamaan. Pada saat itulah, kebenaran terkuak.
Wajah
Area memucat, matanya terbelalak, keringat dingin menuruni wajahnya,
Area menelan ikannya dengan seluruh kemampuannya, sambil berusaha untuk
tidak pingsan. Dari situ Ray tahu bahwa Area membuat keputusan yang
salah.
"Bagaimana? Ah, jangan buat komentar dulu sebelum kalian mencicipi makanan yang belum kalian makan." ujar Ruby.
Ray dan Area lalu mencoba ikan yang belum mereka makan, sesudah itu, Ruby bertanya sekali lagi.
"Jadi? Yang mana yang lebih enak?"
"Biarkan kami berunding dulu ya." ujar Area.
"Kenapa kalian harus berunding? Kan kalian cuma harus menentukan yang mana yang lebih enak."
"Untuk
itulah kami perlu berunding." Area menarik Ray menjauh beberapa langkah
dari kedua gadis itu, sebelum berbisik, "Aku akan bilang masakan Ruby
lebih enak, kau yang bilang masakan Elise yang lebih enak."
"Kenapa harus begitu? Kita bisa saja sepakat bikinan Ruby lebih enak."
"Jangan. Aku kan sudah berkorban dengan mencoba buatan Elise terlebih dulu, paling tidak kau hiburlah dia."
"Hm... baiklah."
Ray
dan Area kembali ke mereka berdua, lalu mengatakan keputusan mereka.
Bagi Area, buatan Ruby lebih enak, bagi Ray buatan Elise lebih enak.
"Benarkah?"
ujar Elise kegirangan. Nada suaranya begitu gembira. Sementara wajah
Ruby tidak bisa menyembunyikan kekesalannya karena kalah dari Elise.
"Aku...
aku senang kakak menyukai masakanku... kalau begitu... kakak mau kan,
menghabiskannya?" tanya Elise sambil menyodorkan ikan buatannya pada
Ray. Wajah Ray memucat, sementara Area tersenyum lebar, paling tidak ia
bersyukur bukan dia yang harus menghabiskan makanan Elise. Ray hanya
menerima takdir ini dengan pasrah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar