Senin, 22 Juni 2015

Chapter 25: Escort mission

Paling tidak sudah tiga minggu berlalu sejak para pedagang keliling mengunjungi Recht. Hari-hari mulai berubah, musim dingin semakin terasa. Baru tadi malam salju turun untuk pertama kalinya. Membuat dunia tertutupi oleh lapisan putih dingin. Seorang lelaki muda berjalan lambat di atas lapisan itu, meninggalkan lubang-lubang seukuran telapak kakinya di belakangnya. Ia memeluk dirinya sendiri yang sudah memakai mantel tebal.

"Sial... dingin sekali..." keluh Ray sambil menggigil. Walaupun begitu, ia tetap berjalan menuju guild.

"Semoga siapapun yang meminta pertolongan nanti punya sup hangat untuk dinikmati." ujarnya dalam dingin.

Udara yang hangat menyambutnya begitu ia memasuki guild, dalam hatinya Ray berterimakasih pada siapapun itu yang menyalakan api di dalam perapian.

"Ke mana Ruby? Aku kira dia sudah sampai duluan, ternyata belum ya?" tanyanya sambil menggantungkan mantelnya di samping pintu.

"Hm? Sudah ada yang datang? Ini mantelnya Ketua Diaz, ini milik Nona Lucia, lalu ini..." pandangannya terhenti pada sebuah mantel berwarna merah dengan bulu putih di ujung lengannya. Ukuran mantel itu terlalu kecil bila dibandingkan dengan dirinya, atau Ruby.

"Mungkin Elise atau Raisha." dia menyimpulkan sendiri.

Ray mendapatkan jawabannya saat ia memasuki ruang permohonan misi. Raisha sudah ada di situ, memandangi kertas-kertas di papan misi.

"Hi Raisha." sapa Ray.

Raisha berbalik sebelum membalas, "Oh, hi Kak Ray."

"Kau sendirian? Tidak bersama Elise?"

"Oh, perutnya sedang sakit, jadi untuk sementara dia tidak bisa ikut menjalankan misi denganku."

"Hoo..." hanya itu jawaban Ray, sebelum ia mulai melihat-lihat kertas-kertas di papan misi.

"Omong-omong, aku boleh tanya? Kenapa kau ingin menjadi guru? Itu bukan cita-cita yang jelek sih, hanya saja orang-orang biasanya kan lebih memilih bergabung bersama guild, atau menjadi tentara di kerajaan. Jadi... cita-citamu itu tidak umum, kurasa."

"Hehe, tidak apa-apa kok kalau Kak Ray bertanya begitu. Dulu Ketua Diaz juga pernah menanyakan hal yang sama. Sebenarnya aku ingin menjadi seperti ayahku."

"Ayahmu?"

"Iya, beliau guru sihir di kota asalku. Semenjak aku kecil, aku sudah diajari sihir lebih intensif daripada orang lain. Secara teori dan praktek. Karena ayahkulah, aku bisa lulus sekolah lebih cepat daripada orang lain. Dan aku ingin menjadi seperti ayahku, berguna bagi orang banyak. Bukan cuma untuk generasi ini, tapi juga mendidik generasi yang akan datang. Karena itulah, aku ingin menjadi guru."

"Cita-cita yang bagus sekali. Semoga kau bisa meraihnya, berusahalah."

"Ya. Terimakasih Kak Ray."

"Ray? Kau di sini?" ujar sebuah suara. Ketika yang dipanggil menoleh, Ruby ada di sumbernya.

"Aku kira kau masih latihan bersama Area. Beberapa hari yang lalu juga kau masih latihan intensif bersamanya."

"Latihannya berakhir dua hari yang lalu." jawab Ray, "Uangku mulai habis, jadi aku rasa sebaiknya aku mulai menjalankan misi lagi."

"Benar juga, misi terakhir yang kau jalankan itu kan... misi menjaga pelelangan itu kan? Sudah lama sekali, dan sejak itu kau terus latihan bersama Area." sahut Ruby. Dalam hatinya, Ray masih terkejut bahwa bayaran dari misi itu cukup untuk menghidupi dirinya tanpa kerja sampai selama ini. Pekerjaan dari orang kaya memang beda.

"Bagaimana kalau kita mengambil misi yang ini saja?" Ruby menunjuk ke salah satu kertas, di situ tertulis 'Pengawalan' di bagian atasnya, dan detil misi di bawahnya.

Ray melihat kertas itu, sebelum menjawab "Mengawal? Boleh juga, bayarannya juga lumayan. Aku tidak keberatan, kau mau ikut, Raisha?"

"Tidak, terimakasih. Aku lebih suka mengajar daripada mengerjakan misi bertarung atau semacamnya."

"Hmm... ya sudah kalau begitu. Ayo kita berangkat, Ruby."



Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di tempat pemohon. Rumahnya memang mencolok, dengan pagar tinggi menghalangi orang-orang yang ingin masuk ke dalamnya. Rumah ini memang terlihat seperti rumah orang kaya, dengan bangunan tingkat dua dan halaman yang cukup luas. Sebuah kereta kuda diparkir di halaman, beberapa orang tampak berdiri di sampingnya.

Ray dan Ruby menghampiri mereka.

"Permisi, kami dari Guild Silver Line, kami mendapat permohonan misi dari anda." ujar Ray.

Salah seorang pria menoleh ke Ray, topi coklatnya menutupi sebagian wajahnya.

"Ah, kalian datang tepat waktu, kami hampir saja berpikiran bahwa kalian tidak menerima permohonan kami. Seharusnya kalian datang lebih awal daripada waktu yang aku tulis."

"Sudahlah Dabro, yang penting mereka sudah datang," ucap seorang pria tua berjenggot, "Aku Ralvin, kepala rumah ini. Terimakasih kalian sudah menerima permohonan kami. Langsung saja, misi kalian sederhana: mengawal putriku dengan selamat sampai Luronda dan kembali kemari."

sesudah mengatakan itu, Ralvin menoleh ke dalam kereta kuda, saat itu Ray dan Ruby menyadari bahwa ada seorang remaja perempuan duduk di dalamnya. Tubuhnya tertutup mantel berwarna merah muda, rambut merahnya diikat ekor kuda. Ia tersenyum pada Ray dan Ruby saat tahu bahwa mereka melihatnya.

"Sephillia baru menginjak 17 tahun, sesuai tradisi keluarga kami, kami akan merayakannya di rumah keluarga tertua, yaitu kakakku, kebetulan dia sekarang tinggal di Luronda. Sebenarnya aku ingin ikut pergi dan menjaganya, tapi pekerjaanku menghalangiku. Karena itulah, aku minta bantuan kalian."

"Kami mengerti." sahut Ruby.

"Kami akan menjaganya dengan nyawa kami." sambung Ray.

"Aku senang kalau begitu. Perbekalan dan kuda-kuda sudah disiapkan. Kalian bisa berangkat sekarang juga."

beberapa pelayan mengikatkan tas-tas perbekalan di dua kuda yang akan ditunggangi Ray dan Ruby. Dabro naik ke kursi kemudi kereta kuda, dan dengan segera, perjalanan mereka dimulai.



Beberapa jam telah berlalu semenjak mereka bertolak dari Recht menuju selatan. Lapisan salju tipis menutupi semua yang ada di tanah. Ray memacu kudanya di depan, ancaman apapun yang menghadang mereka akan berhadapan dengan Ray terlebih dulu. Sementara itu, Ruby mengikuti kereta dari belakang, berjaga-jaga kalau ada bandit yang ingin mengagetkan mereka.

Sampai malam menjelang, tidak ada bahaya apapun yang menghadang mereka. Dabro membuat api unggun di tengah kemah sederhana mereka, dia lalu membuat sup kentang sederhana, tapi cukup untuk menghangatkan mereka.

"Pesta ulang tahun Nona Sephilia akan diadakan dua hari lagi, besok kita sudah harus mencapai Luronda." kata Dabro saat membuat makan malam. Ia lalu mencicipi supnya, sesudah puas dengan rasanya, dia menuangkan sebagian untuk Sephilia.

"Kami mengerti." jawab Ruby sambil mengambil makanannya sendiri.

"Omong-omong aku ingin tahu, bagaimana rasanya bekerja di guild?" tanya Sephilia tiba-tiba. Suaranya terdengar lebih halus dan lembut daripada suara perempuan lain yang pernah didengar Ray.

"Kenapa... kau ingin tahu?" kali ini Ruby yang bertanya.

"Karena aku merasa, mereka yang bekerja dalam guild adalah orang yang hebat. Kalian berani melakukan apapun untuk membantu orang-orang yang meminta bantuan pada kalian kan? Aku sering membaca tentang kalian, di buku-buku. Aku rasa, orang-orang seperti kalian itu hebat sekali."

"Nona, tolong jangan menjadi orang guild. Pekerjaan ini terlalu berbahaya. Tuan akan marah, lagipula, nona adalah anak semata wayang Tuan Ralvin."

"Aku tahu, tapi tetap saja aku tidak terlalu tertarik melanjutkan bisnis ayah."

"Nona, tolong jangan katakan itu di depan Tuan. Tuan akan sangat sedih."

"Aku tahu itu."

Mereka melanjutkan makan malam mereka. Seusai makan, Ruby berdiri dan mengajukan diri berjaga-jaga pertama kali.




Keesokan harinya, setelah menghabiskan seluruh siang hari berkuda, rombongan mereka akhirnya sampai di Luronda kira-kira satu jam sebelum matahari terbenam. Kota itu cukup besar, biarpun tidak sebesar Recht. Kuda dan kereta mereka berjalan pelan menyusuri jalanan kota, hingga akhirnya mereka tiba di rumah yang mereka tuju. Rumah itu mirip dengan rumah Ralvin, besar dengan halaman yang luas. Awalnya penjaga rumah itu tidak mengenali Ray, tapi ketika melihat Dabro, rombongan itu diperbolehkan masuk.

Di dalam rumah, Sephilia disambut oleh perempuan tua bernama Chris, yang adalah kakaknya Ralvin, dan juga seekor anjing coklat lucu yang dipanggil Lucy oleh Sephilia.

Dabro mengenalkan Ray dan Ruby sebagai pengawal yang disewa untuk menjaga Sephilia. Setelah itu Ray dan Ruby dibolehkan mandi, makan, lalu menjaga kamar Sephilia malam harinya. Ray berjaga di luar, Ruby berjaga di dalam.

Acara ulang tahun dimulai keesokan malamnya. Sephilia sudah dirias secantik mungkin. Gaun putih panjangnya melebar di bagian kaki, punggung dan bahunya terbuka lebar, tapi rambut panjangnya yang digerai sedikit menutup punggungnya itu, kedua tangannya mengenakan sarung tangan sepanjang siku. Secara keseluruhan, Sephilia tampak sangat anggun.

Berbeda dengan Sephilia, penampilan Ruby dan Ray sebagai pengawalnya biasa-biasa saja.

Acara ulang tahun yang diadakan dalam ruangan itu berlangsung meriah. Para undangan yang kebanyakan dari sanak saudara memenuhi ruangan.

Tapi suasana yang paling meriah adalah ketika Sephilia meniup lilin di kuenya. Semua orang bertepuk tangan dan bersorak, Sephilia tersenyum gembira.

Keesokan siangnya, Sephilia pamit kepada Chris. Walaupun Chris ingin Sephilia tinggal lebih lama, tapi Sephilia menolaknya, karena para pengawal dari Silver Line hanya disewa 5 hari saja. Chris mengeluh dan mengatakan bahwa Ralvin terlalu protektif, tapi tetap ia membiarkan Sephilia pulang.

Hari pertama perjalanan pulang, tidak ada hal yang aneh. Tidak ada monster atau apapun yang menghalangi jalan mereka.

Hari kedua, Ray kembali berkuda di depan kereta sementara Ruby di belakang. Salju masih menutupi seluruh daratan. Tidak ada perbedaan dari waktu mereka berangkat.

Mendadak, Ray menoleh ke Dabro, tangannya terbuka, ia berteriak, "Awas! Berhenti!"

Dabro baru menarik kekang kudanya, saat tiba-tiba sesuatu meledak di jalan Ray. Bukan ledakan api, ledakan itu malah membentuk bunga es raksasa yang terbuat dari puluhan duri-duri es tajam.

Kuda Ray langsung tertusuk dan mati di tempat, Ray sendiri sempat melompat ke kiri sebelum bom es itu meledak. Kereta kudanya berbelok ke kanan. Entah kudanya atau keretanya yang tersandung batu, tapi mendadak kereta itu oleng lalu jatuh di sisinya. Dabro terlempar beberapa meter dari situ. Ray sendiri terguling-guling menjauh dari bunga es.

"Ray! Kau tidak apa-apa?" teriak Ruby.

"Aku baik-baik saja! Kau pergi saja ke Sephilia."

Ruby memacu kudanya ke kereta yang terbalik.

"Sephilia, kau baik-baik saja?"

Ruby mendapati kepala Sephilia berlumur darah karena benturan, dia lalu dengan hati-hati mengeluarkan Sephilia dari keretanya.

"Anak-anak, kita dapat tangkapan bagus hari ini."

Sekumpulan orang keluar entah dari mana. Kini ada belasan orang berkumpul tak jauh dari kereta Sephilia.

"Kalian... bandit? Menyerang kami dengan bom elemen lalu menyergap kami... licik juga." ujar Ruby, "Apa yang kalian inginkan? Kami tidak membawa uang."

"Kalian memang tidak membawa uang, tapi kalian membawa sesuatu yang bisa memberi kami uang." ujar salah seorang diantara mereka. Wajahnya yang berjenggot dan rambutnya yang gondrong menambah keseramannya.

"Perempuan itu putri Ralvin kan? Ayahnya pasti bersedia membayar mahal untuk menebusnya." ujar seorang yang lain.

"Ruby, bagaimana Sephilia?" tanya Ray, yang kini sudah bergabung bersama Ruby.

"Kepalanya cuma terbentur sedikit. Kau sendiri bagaimana?"

"Rasanya tangan kiriku patah, tapi aku masih bisa bertarung kok."

"Huh. Ada laki-laki diantara mereka." kata salah satu bandit.

"Kalau begitu gampang saja, bunuh yang laki-laki, tangkap yang perempuan. Sudah lama aku tidak menikmati perempuan muda."

"Serang!" teriak sang pemimpin. Para anak buahnya tidak perlu dikomando dua kali.

Ray membuka telapak tangannya, menodongkannya pada gerombolan bandit. Lalu, dengan sedikit konsentrasi energi, dia berteriak.

"Wind Buster!"

bola energi berukuran lebih besar sedikit dari kepala manusia meluncur keluar dari tangannya. Ketika mengenai bandit, serangan itu meledak, membentuk kubah angin, menerbangkan beberapa bandit ke segala arah. Serangan itu membentuk cekungan kecil di tanah.

"Ray, kau bisa mengeluarkan wind buster dari satu tangan?" ada ketidakpercayaan dalam nada suara Ruby.

"Berkat latihan dari Area, sihir ini sekarang menjadi sihir mudah bagiku." jawab Ray bangga.

"Begitu... kalau begitu perlihatkan sihirmu yang lebih kuat lagi."

"Itu kalau mereka belum kalah seluruhnya lho."

Ruby dan Ray bagai mengamuk. Walaupun gerombolan bandit itu menang jumlah, tapi kekuatan mereka kalah dari kedua penyihir Silver Line itu. Terutama Ray. Hanya beberapa bulan dilatih oleh Area, kemampuan Ray meningkat jauh.

Tak butuh waktu lama sebelum semua bandit itu terkapar di tanah bersalju. Mereka berdua lalu menghampiri Sephilia.

"Kau baik-baik saja?" tanya Ruby.

"A... aku tidak apa-apa." jawab yang ditanya, dia lalu mengeluarkan sihir penyembuh untuk kepalanya.

"Kemarikan tanganmu, aku dengar kau terluka." Ray menurut, lalu membiarkan Sephilia menyembuhkan tangannya.

"Maaf ya, kau jadi terluka begini karena aku."

"Tidak apa-apa, ini cuma luka kecil." jawab Ray.



Malam harinya, mereka sampai lagi di Recht. Dabro sudah diobati oleh Sephilia, dan Ray terpaksa duduk di samping pria itu. Awalnya Ralvin terkejut mendengar apa yang terjadi pada rombongan itu, tapi wajahnya kemudian berubah lega sesudah mendengar apa yang terjadi.

"Aku memang tidak salah memilih guild. Kalian berhasil melindungi putriku, walau apapun yang terjadi. Tentu saja aku juga senang waktu tahu bahwa Dabro dan kalian juga berhasil selamat." pria itu lalu berpaling pada Sephilia, "putriku, kau tidak apa-apa kan?"

"Ya, ayah. Aku baik-baik saja."

Ralvin tersenyum, sesudah itu ia memberi isyarat pada pelayannya untuk membawakan sesuatu. Sebuah tas.

"Ini bayaran kalian. Akan kutambahkan bonus karena berhasil melindungi putriku." ia lalu mengeluarkan bungkusan koin kecil, tapi jelas bahwa nilai koin di dalamnya amat mahal, "Sekali lagi, terimakasih telah melindungi putriku."

Ruby menerima tas dan bungkusan itu, tapi tepat sebelum mereka pergi, Sephilia berseru.

"Tunggu, aku juga ingin memberikan rasa terimakasihku."

"Ah, tapi itu tidak perlu, kami sudah menerima cukup banyak." tolak Ray.

"Tidak bisa! Kau harus menerimanya, aku memaksamu untuk menerimanya."

Ray menoleh ke Ruby, yang menjawab dengan ekspresi wajah 'turuti saja keinginannya'. Ray lalu mendekati Sephilia.

"Kemarikan telingamu, aku akan membisikimu sesuatu." Ray menurut, ia menyodorkan telinganya.

Bukan bisikan. Bukan kata-kata. Sephilia mendaratkan bibirnya di pipi Ray. Sebuah kecupan kecil.

"Eh?" Ray terdiam terpaku, bibirnya tidak mampu mengeluarkan respon yang lain. Sementara itu wajah Ruby berubah menjadi penuh nafsu membunuh.

"Kau harus bersyukur bisa mendapat ciumanku. Sampai nanti ya." itu adalah kata-kata terakhir Sephilia sebelum ia berlari ke dalam rumah.

"Mata keranjang."

"Eh? Tapi Ruby... aku tidak... aku bukan mata keranjang."

"Kau merayu anak si pemohon. Kalau bukan mata keranjang, berarti kau mesum." Ruby mengakhiri kalimatnya dengan menodongkan jari telunjuknya pada Ray.

Ruby menaruh dua koin emas di tangan Ray, "Itu bayaran bagianmu. Adil kan?"

"Tunggu dulu, Ruby, bagaimana ini bisa dibilang adil?"

"Kau sudah dapat ciuman anak itu kan? Itu bayaran yang besar, jadi jangan protes kalau kau cuma dapat dua keping koin." Ruby lalu pergi meninggalkan rumah klien.

Ray hanya terdiam, memandangi dua koin di telapak tangannya.

"Aku harus cari misi lain." ujarnya akhirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar