Senin, 29 Juni 2015

Chapter 26: Forest Trip

Sore itu sudah tiga hari berlalu sejak Ray dan Ruby pergi dalam misi mereka. Raisha berjalan keluar dari sebuah toko dengan lambang tanaman obat di atas pintunya. Wajahnya tertunduk lesu, tangannya memasukkan secarik perkamen ke tas kecil di pinggangnya. Gadis itu menghela nafas sebelum mulai berjalan.

"Kak Raisha, kebetulan sekali kita bertemu di sini." ujar seorang anak berambut merah.

Raisha menoleh ke asal suara, "Rico? Sedang apa kau di sini?"

"Oh, aku cuma ingin berjalan-jalan di kota saja. Kakak sendiri?"

"Aku baru saja mau membeli obat untuk Elise." Raisha menoleh ke toko obat yang didatanginya tadi, "Tapi ternyata obatnya sudah habis. Mereka bilang padaku kalau mereka bisa meramu obatnya kalau aku membawa bahan-bahannya."

"Lalu kakak akan mencarinya di hutan di luar kota itu?"

Raisha mengangguk sebagai jawaban.

"Tapi ini kan musim dingin, salju sudah turun beberapa hari yang lalu, apakah tanaman itu masih ada di sana?"

"Mungkin kemungkinannya kecil, tapi aku tetap akan mencarinya."

Rico diam sejenak, lalu berkata, "Aku akan ikut membantu kakak mencarinya, bagaimana? Kebetulan aku sedang tidak ada kesibukan."

"Eh? Kenapa?"

"'Kenapa?' mungkin karena aku tidak bisa membiarkan seorang perempuan pergi ke hutan sendirian, jadi aku akan membantu."

"Heee. Kau terdengar seperti laki-laki sejati." puji Raisha, yang langsung membuat wajah Rico memerah, "Baiklah, kau boleh ikut."



Tidak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk tiba di hutan di luar kota. Pepohonannya masih sama seperti biasa, hanya saja kali ini dahan-dahan dan ranting tertutup oleh salju. Jalan setapaknya juga tidak terlihat, hanya celah di antara dua deretan pohon yang memberitahu mereka bahwa sebelumnya pernah ada jalan setapak di situ.

"Omong-omong, tanaman obat apa yang kita cari?" tanya Rico.

"Jari merah, kau tahu?"

"Tanaman kecil berwarna merah yang daunnya berbentuk seperti jari itu? Aku tahu. Tapi di mana kita akan mencarinya?"

"Biar kutanyakan." setelah mengatakannya, Raisha mendekat ke salah satu pohon. Tangannya menyentuh batang pohon itu, lalu dia memejamkan matanya. Cahaya redup berwarna hijau bersinar dari tangan gadis itu, setelah beberapa saat, cahaya itu memudar. Raisha menoleh ke Rico lagi.

"Ayo. Aku sudah tahu di mana tempatnya." seru Raisha sebelum berjalan. Rico langsung menyusulnya.

"Apa yang kakak lakukan tadi?"

"Berbicara pada pohon." jawabnya enteng.

"Kakak bisa berbicara pada pohon?"

"Iya. Pohon dan tumbuhan juga makhluk hidup, kalau kau menguasai elemen pohon, kau juga bisa berbicara dengan pohon."

"Lalu? Kakak bertanya pada pohon itu dimana letak jari merah?"

"Iya. Katanya beberapa hari yang lalu masih ada beberapa jari merah di tepi sungai. Kalau kita beruntung mungkin kita bisa memetiknya."

Matahari sudah terbenam di ufuk barat. Rico mengambil seikat kayu bakar dan menjadikannya obor. Kedua orang itu terus berjalan dalam gelap, hingga terdengar suara air. Lama kelamaan suara air itu berwujud menjadi sungai. Raisha mengenali sungai itu sebagai sungai yang sama dengan yang mengalir di tempatnya piknik dulu bersama teman-teman guild-nya, hanya saja kini posisi mereka lebih ke hulu.

"Harusnya ada di sekitar sini." ujar Raisha.

"Katanya pohon tadi ada di tepi sungai kan? Mungkin kita kurang ke tepi."

"Mungkin kau benar Rico, berhati-hatilah supaya tidak terjatuh ke sungai."

Mereka berdua mendekati tepi sungai. Sungai itu mengalir cukup deras sampai mengeluarkan deru air. Bebatuan di tepinya juga lumayan besar, beberapa ada yang sebesar kepala, yang terbersar bisa dijadikan tempat bersandar.

"Ah, ini dia." seru Raisha tiba-tiba. Gadis itu berdiri di tepi sungai, di sebelah pohon besar ada sekumpulan tanaman setinggi pinggangnya. Dedaunan tanaman itu putih karena tertutup salju, tapi yang tidak tertutup salju menunjukkan warnanya yang merah.

"Mereka masih belum mati." ujarnya pada Rico yang mendekat, "Kita bisa memetiknya beberapa untuk dijadikan obat."

"Tapi tidak apa-apakah kalau kakak memetiknya. Kakak kan bisa berbicara pada tumbuhan? Apa kakak tidak merasa kasihan?"

"Tidak apa-apa. Kita juga membunuh hewan untuk kita jadikan makanan, sama seperti tanaman ini. Asalkan tujuan kita untuk kehidupan makhluk lain, tidak apa-apa mematikan satu makhluk. Begitulah hidup."

"Baiklah kalau begitu." sahut Rico. Bocah itu lalu membantu Raisha memetik beberapa tanaman.



Dalam beberapa saat, tas kecil yang mereka bawa sudah penuh oleh tanaman obat.

"Kurasa segini sudah cukup, ayo kita kembali." usul Raisha. Gadis itu berbalik, tapi dia tidak melihat batu yang tersembunyi di balik salju, dia terkilir lalu terjatuh di tepi sungai, bagian belakang kepalanya terbentur batu yang cukup besar, dan gadis itu tidak bergerak lagi.

"Kak Raisha!" teriak Rico. Ia melemparkan tasnya ke salju, lalu berlari menghampiri Raisha. Ia mengangkat Raisha dengan susah payah, kemudian membaringkannya di atas salju.

"Oke oke, tengang tengang, jangan panik. Apa yang harus kulakukan duluan?" ujar Rico dengan cepat, kalau ada orang yang mendengar, dia tidak akan mengerti apa yang dikatakannya.

Rico memeriksa bagian belakang kepala Raisha, "Oke, tidak ada darah. Tidak ada luka luar. Lalu aku harus periksa apa lagi. Detak jantung mungkin?"

Bagaimana seseorang memeriksa detak jantung?

Rico melihat ke dada Raisha yang tertutup mantel. Tidak jelas apakah dadanya naik-turun dengan teratur atau tidak. Wajah Rico mendadak memerah.

"Tidak tidak tidak, aku tidak melakukan hal iang salah, aku cuma memeriksa detag jandungnya saja kok." ujarnya pada diri sendiri.

Dengan perlahan, Rico menempelkan telinganya di dada Raisha. Kesan pertamanya adalah... empuk dan lembut. Belum pernah sesuatu selembut ini menempel di pipinya.

"Tidak tidak tidag, aku sedang memeriksa detak jantunk!" ujarnya lagi. Dan tentu saja, ia mendengar detak jantung Raisha. Ia juga merasakan gerakan nafas Raisha yang naik turun dengan teratur. Rico menarik kepalanya dari dada Raisha.

"Oke, kabar bagus, dia masih hidup. Lalu apa yang harus kulakukan?"



Beberapa saat kemudian, sesudah berhasil tenang dari rasa paniknya sendiri, Rico memutuskan bahwa Raisha hanya pingsan, dan dia cuma bisa menunggu sampai Raisha siuman. Tentu saja dia harus menjaga Raisha cukup hangat, jadi dia membuat api unggun yang besar. Apinya menjilat-jilat hingga lebih tinggi dari dirinya sendiri. Raisha dibaringkan tak jauh dari situ, tapi tidak terlalu dekat hingga membakar tubuhnya.

Rico duduk di samping Raisha. Ia tidak mengenakan mantelnya lagi karena mantelnya dipakaikan pada Raisha seperti selimut, untuk menjaganya tetap hangat. Raisha memang sudah mengenakan mantel tapi tidak ada salahnya berjaga-jaga.

Kehangatan dari api unggun cukup untuk membuat Rico cukup hangat tanpa mantel, tapi terkadang hawa dingin tetap menusuknya. Dalam keheningan malam itu, ia memandang wajah Raisha tanpa henti.

"Kak Raisha... kakak benar-benar cantik. Sampai sekarang aku tidak lupa saat kita pertama bertemu. Mungkin kakak mengira itu kebetulan, tapi mungkinkah itu takdir? Bagaimana kalau bahkan sampai malam ini pun, sudah direncanakan oleh para Dewa?"

Ia diam sejenak sesudah mengatakannya. Kembali memandangi wajah tidur Raisha. Setelah beberapa lama, pandangannya terfokus ke bibir Raisha.

Rico mendekatkan wajahnya ke wajah Raisha, ia menahan nafas sejenak, sebelum akhirnya mencium bibir Raisha. Hanya selama sedetik, ia lalu menarik wajahnya menjauhi wajah Raisha.



Keesokan paginya ketika bangun, Raisha mendapati dirinya tidur berselimutkan mantel laki-laki, biarpun dia sendiri sudah mengenakan mantel. Api unggunnya masih menyala walaupun tidak sebesar tadi malam. Tidak jauh dari tempatnya bangun, Rico tertidur dalam posisi duduk bersila.

Raisha menggoyang-goyangkan tubuh anak laki-laki itu, "Rico, bangunlah. Rico."

"Eh? Ah? Apa? Aku tertidur? Padahal tadinya aku ingin berjaga semalaman." adalah kata-katanya begitu dia bangun.

Raisha tertawa kecil, sebelum menyerahkan mantel itu pada Rico, "Kalau kau mau berjaga, paling tidak kenakan mantelmu. Mana bisa kau berjaga kalau kedinginan."

"Ah, tapi sudah ada api unggun yang cukup besar."

Raisha baru mau menjawab, tapi ia mendadak mengerang kecil, baru setelah itu ia sadar kalau kakinya terkilir. Ia langsung mengobati kakinya sendiri dengan sihir penyembuh.

Raisha berdiri sebelum berkata, "Aku pasti pingsan waktu jatuh di batu itu. Terima kasih ya kau sudah menjagaku semalaman. Sekarang ayo kita kembali."

Rico mengenakan mantelnya, "Em... aku tidak melakukan apa-apa kok. Lagipula, apa kakak tidak curiga aku melakukan sesuatu pada kakak waktu kakak pingsan?"

Raisha menggeleng, "Kau memakaikan mantelmu padaku padahal kau pasti juga kedinginan. Kau pria yang baik. Aku yakin kau tidak melakukan apapun padaku."

Wajah Rico memerah, tanpa sadar Rico menggaruk-garuk belakang kepalanya.

"Ayo kita kembali. Sesudah kita memberikan tanaman obat ini di toko obat, aku akan membuatkan makanan yang hangat untukmu. Sebagai tanda terima kasih."

Mereka berdua lalu berjalan berdampingan, menjauhi bekas api unggun, kembali ke Recht.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar