Lilly terbaring lemah di atas tempat tidur, luka-lukanya sudah terobati tapi perban masih menutupi beberapa bagian tubuhnya. Raisha menarik selimut menutupi tubuhnya. Ia berpaling ke arah Elise yang tertidur di lantai.
"Kau tidak bisa tidur seperti itu." ujarnya, lalu mengambil selimutnya yang satu lagi, kemudian menyelimuti Elise dengan itu.
Raisha melihat ke luar jendela, ke bulan tak sempurna yang sebagian tertutup awan.
"Aku harap... Kak Area baik-baik saja, Kak Area memang kuat tapi tetap saja aku khawatir..." ujarnya pada diri sendiri, "Lagipula, kadang dia tidak sekuat kelihatannya."
Baru saja dia selesai mengucapkan itu, sebuah cahaya biru bersinar di belakangnya, sewaktu dia menoleh, cahaya itu digantikan oleh Area, Ruby, Edge, dan Ray.
"Kak Area! Oh, Kak Ruby terluka parah, duduklah kak, biar kuobati." ujarnya pada mereka semua, dengan sigap dia membimbing Ruby duduk di kursi, lalu memulai sihir pengobatannya.
"Bagaimana Lilly?" tanya Edge.
"Tidak perlu dikhawatirkan, luka-luka yang parah sudah kusembuhkan, Kak Lilly cuma perlu istirahat." jawab Raisha sambil menyembuhkan Ruby, "Luka Kak Ruby tidak separah Kak Lilly, dalam waktu singkat, aku bisa menyembuhkan kakak."
"Iya, beberapa orang penyembuh menyembuhkanku, mereka tidak ingin aku mati sebelum pertarungan kehormatan berakhir." ujar Ruby.
"Apa kalian juga terluka? Aku bisa menyembuhkan kalian juga." tanya Raisha, masih sambil menyembuhkan Ruby.
"Edge, dan Area terluka, aku sih tidak karena tidak sempat bertarung. Tapi apa kau tidak capek menyembuhkan banyak orang sekaligus, Raisha?" jawab Ray.
"Tidak apa-apa, aku sempat istirahat sebentar kok tadi. Kak Ruby, kakak sudah selesai kusembuhkan, tapi jangan bertarung dulu untuk sementara atau lukanya akan terbuka." Raisha mengakhiri pengobatannya pada Ruby, lalu menghampiri Edge. Tanpa menunggu lama, dia menggunakan sihir penyembuhannya ke bahu Edge, dalam waktu singkat luka itu sembuh.
"Sekarang giliran Kak Area." ujarnya sambil mendekati Area. Ia lalu menyentuh sisi tubuh Area, yang disentuh mengerang sebagai respons.
"Pelan-pelan, sakit."
"Kak Ray, Kak Edge, dan Kak Ruby, bisa pulang sekarang, kalian sebaiknya istirahat. Khusus Kak Ruby jangan bertarung atau mengambil misi dulu untuk sementara sampai benar-benar pulih. Aku akan menyembuhkan Kak Area."
"Baiklah, aku mengerti." ujar Ruby sambil berdiri dari kursi, menyadari Area juga akan dirawat di situ. Tanpa mengucapkan apa-apa, mereka keluar dari ruangan.
"Ayo, duduk di sini." ujarnya sambil menuntun Area ke kursi, sesudah Area duduk, ia langsung memulai sihir pengobatannya.
"Bagaimana kakak bisa terluka? Kakak pasti menganggap enteng lawan lagi kan?"
"Tidak kok. Hanya saja musuhku kali ini punya taktik serangan yang tidak biasa."
"Kakak selalu menganggap enteng lawan, kakak memang punya sihir pertahanan yang hebat tapi kalau kakak ceroboh begini, aku kan jadi... um... jadi..."
"Khawatir?"
wajah Raisha merona merah sebagai jawaban.
"Tidak usah khawatir, kalau dalam keadaan bahaya, aku akan serius kok."
"Jadi harus menunggu kakak dalam bahaya dulu?" Raisha memprotes.
"Haha, tenang saja. Aku senang kau mengkhawatirkanku, tapi tenang saja, aku bisa menjaga diri kok."
Raisha menghentikan penyembuhannya, sambil mengela nafas, dia berkata, "Sudah selesai kak, tapi kakak jangan memaksakan diri kalau bertarung."
"Berarti kalau bertarung biasa boleh kan?"
"Tetap tidak boleh!" Larang Raisha, "Aku tidak akan menyembuhkan kakak kalau kakak tidak mendengarkanku!"
"Baiklah, baiklah." ujar Area.
Suasana sunyi sejenak, sebelum Area mengganti topik.
"Maaf ya aku meninggalkan kalian berdua. Di saat Mad tidak di kota, Lilly terluka, dan aku pergi, guild kita lumayan kosong. Kalau terjadi sesuatu, kita harus bergantung pada kalian berdua."
"Kakak khawatir ya?"
Area tidak menjawab, dia cuma menggaruk-garuk belakang kepalanya.
"Kakak tenang saja, masih ada Ketua Diaz dan Guild Gold Hawk di sini. Dan jangan lupa, kita juga punya Elise, biarpun dia tidak bisa menggunakan sihirnya karena masih takut tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Tapi aku senang kalau kakak khawatir." Raisha mengakhiri kalimatnya dengan senyuman khasnya, tapi senyumannya kali ini beda, rona merah di wajahnya membuat wajahnya terlihat lebih manis.
Dua hari berlalu sesudah pertarungan kehormatan selesai. Siang itu matahari menghilang di balik awan tebal yang menyirami bumi tanpa henti. Seorang anak lelaki berlari di tengah hujan. Seragam yang dia kenakan menandakan bahwa dia adalah murid dari sebuah sekolah sihir di kota ini. Tas ransel, rambut merahnya, dan seragamnya basah kuyup didera hujan.
"Sial! Sial! Harusnya aku pulang lebih awal semenjak langit mulai menghitam. Aku terlalu lama bermain, sampai lupa waktu."
anak itu terus berlari sampai ia melihat sebuah tikungan yang dikenalinya. Baru saja dia berbelok di situ, dia melihat sesuatu yang mengejutkannya. Seorang anak perempuan berambut pirang yang umurnya tidak jauh dengannya berjalan di tengah hujan, anak perempuan itu membuat sebuah perisai di atas kepalanya untuk melindunginya dari hujan, tangannya menggenggam kantong bahan belanjaan. Walaupun sempat melihatnya, tapi anak lelaki itu tidak sempat menghindar, tabrakan pun tak terelakkan.
Daging, roti, dan sayur jatuh di jalan dari kantong belanja itu, sementara kedua anak itu jatuh di tanah.
"Aduuuuh..." erang si anak perempuan.
"Ah maafkan aku, biar kubantu memungut barang belanjaanmu." ujar si anak laki-laki, dia pun dengan segera memunguti barang belanjaan anak perempuan itu.
"Ah, tidak usah, biar kuambil sendiri." sahut anak perempuan itu, sebelum kemudian memunguti belanjaannya.
Sewaktu memungut barang belanjaan, tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan, yang secara refleks membuat mereka saling menatap untuk sesaat.
"Ah, maaf, aku tidak..." ujar si anak laki-laki sambil menarik kembali tangannya.
"Ah, tidak, jangan terlalu dipikirkan."
pada saat itu, hujan mulai mereda, hingga lambat laun sinar matahari mampu menembus awan. Kedua anak itu melanjutkan memungut barang-barang yang terjatuh, ketika selesai, si anak laki-laki menyerahkan kantong belanja itu kepada si anak perempuan.
"Maaf ya, aku tidak sengaja menabrakmu. Oh ya, omong-omong namaku Rico, Rico Sarthurian."
"Aku Raisha Estling, kau kelihatannya baru pulang sekolah ya, Rico?"
"Iya, kamu sendiri juga sama kan?"
"Hehe, tidak juga, karena aku sudah lulus sekolah. Aku sekarang anggota guild." jawab Raisha sambil tersenyum manis, "Sudah dulu ya, Rico." ujar Raisha sebelum akhirnya pergi meninggalkan Rico yang masih terpana oleh senyuman Raisha. Ia diam membatu memperhatikan Raisha di kejauhan.
Matahari masih belum tinggi di langit, tapi Elise dan Raisha sudah berjalan bersama bergandengan tangan, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di guild. Begitu membuka pintu, terdengar sebuah suara memanggil dari belakang, sewaktu mereka menoleh, ternyata tukang pos.
"Ada surat untuk Raisha Estling dari guild Silver Line." ujar pria pengantar surat itu.
"Ah, kebetulan sekali, itu aku." sahut Raisha.
Sesudah menyerahkan suratnya, tukang pos itu langsung pergi.
"Kira-kira... apa isinya?" tanya Elise.
"Entahlah, lagipula siapa yang mengirim surat padaku?" Elise membalik surat itu lalu membaca nama yang tertera di sana, "Rico Sarthurian?"
"Kau kenal?"
"Iya, orang yang tidak sengaja aku temui kemarin. Kenapa dia mengirim surat padaku?" dia membuka surat itu kemudian membaca isinya, "Oh, ini permohonan misi. Ia memintaku untuk menjadi guru privatnya."
"Kebetulan sekali, kita kan... baru saja ingin mengambil misi." sahut Elise.
"Iya, tapi dia ingin kita datang siang hari, mungkin menunggu dia selesai sekolah." ujar Raisha.
Waktu sudah meninggalkan pagi, matahari mulai tersembunyi di balik awan, sudah hampir tiba waktunya bagi Raisha untuk memulai misi.
Mereka berdua tibi di rumah yang dimaksud, rumah berlantai dua dengan cerobong asap mencuat keluar dari satu ujung atap. Rumah itu tampak biasa saja dibandingkan rumah lainnya di sekitarnya.
Raisha mengetuk pintunya dua kali lalu menunggu sejenak, tak lama kemudian sebuah wajah familiar terlihat setelah pintu membuka.
"Hi Rico." sapa Raisha sambil tersenyum saat melihat wajah itu.
"Ah... hi Kak Raisha." balas Rico sebelum menyadari Elise di belakang Raisha, "Siapa dia?"
"Oh, dia temanku, Elise. Ia akan membantuku mengajarimu." jawab Raisha.
"H...Hi... Rico..."
"Hah? Membantu? Tapi, aku cuma meminta Kak Raisha saja yang mengajariku. Lagipula, aku tidak punya cukup uang untuk membayar dua pengajar."
"Begitukah? Bagaimana yaaa?" Raisha menempelkan satu jarinya ke pipinya.
"Ti... tidak apa-apa kok, Raisha."
yang dipanggil menoleh ke sumber suara.
"Tidak apa-apa. Kau mengajar saja, aku bisa kembali ke guild." ujar Elise.
"Kau yakin tidak apa-apa, Elise?" yang ditanya mengangguk mendengar pertanyaan itu.
"Sampai nanti ya..." ujar Elise pelan sebelum berpaling dan pergi.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita mulai pelajarannya." ujar Raisha pada Rico.
Rico mengajak Raisha ke dalam rumah, menuju lantai dua, ke dalam salah satu kamar.
"Ini kamarku." ujar Rico.
Selain dari ukurannya, kamar Rico tidak berbeda jauh dengan kamar Raisha. Sebuah tempat tidur, jendela di ujung kamar, dan meja kecil di bawahnya. Yang membedakan adalah di kamar ini tidak ada lemari buku yang penuh terisi, sebagai gantinya ada sebuah meja bundar rendah di tengah ruangan.
Rico duduk di satu sisi meja itu, Raisha duduk tepat di seberangnya.
"Jadi sudah sampai mana pelajaranmu di sekolah?" Raisha membuka pelajaran. Rico lalu menjelaskan semua yang dia pelajari di sekolah sampai saat ini. Raisha lalu menanyakan bagian mana yang tidak dia mengerti, kemudian melanjutkan pelajaran privatnya dari sana.
"Tapi kak, sebenarnya ada satu hal lagi yang aku masih tidak mengerti." ujar Rico di tengah-tengah mengerjakan soalnya.
"Apa itu?"
"Sebenarnya, bagaimana kita menggunakan sihir? Dari mana asal kekuatan ini? Dan siapa orang yang pertama kali bisa menggunakan dan mengajarkan sihir?"
"Hoo... pertanyaanmu cukup cerdas untuk ditanyakan orang seusiamu." wajah Rico memerah karena pujian Raisha.
"Penjelasannya akan panjang, tapi baiklah akan kujelaskan. Tidak ada yang tahu siapa orang yang pertama kali menggunakan dan mengajarkan sihir, dan juga tidak ada catatan sejarah soal itu. Yang kita tahu adalah sihir sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sejak ratusan tahun yang lalu. Soal asal kekuatan sihir, para ahli dan peneliti sihir yakin bahwa kekuatan sihir kita adalah sebagian kecil dari kekuatan penciptaan Sang Dewa yang diberikan pada manusia ketika kita dulu diciptakan. Kekuatan itu sudah ada dalam diri kita sejak kita lahir, kita hanya perlu menggunakannya. Soal bagaimana cara kita menggunakan sihir, ada beberapa aturan soal itu, termasuk sihir mencipta dan sihir yang tidak mencipta. Yang termasuk sihir mencipta adalah seperti sihir api atau air, di mana kita membuat api dan air dari tidak ada menjadi ada. Tentu saja sihir perlindungan seperti perisai sihir termasuk jenis ini. Sihir yang tidak mencipta misalnya adalah sihir elemen tanah, kita bisa menggerakkan dan memanipulasi berbagai macam tanah dan batu, tapi kita tidak bisa membuat tanah dari nol. Alasannya masih tidak diketahui, tapi para ahli berpendapat bahwa ini adalah batasan kemampuan penciptaan yang Sang Dewa berikan pada manusia. Cara dan aturan penggunaan sihir ini berbeda-beda,bahkan diantara yang sama-sama termasuk dalam kategori sihir mencipta. Bukan tidak mungkin kita membuat elemen baru dengan menggunakan aturan yang belum pernah dipakai sebelumnya."
"Elemen baru? Apa benar-benar mungkin kita membuat elemen baru?"
"Tentu saja. Seniorku di guild menciptakan aturan baru untuk membuat sihir elemen suara, aku bahkan tidak tahu bagaimana dia melakukannya."
"Lalu kakak sendiri? Apa elemen sihir kakak?"
"Aku? Aku paling menguasai elemen kayu. Bukan hal baru sih, sudah ada beberapa orang yang menggunakan elemen kayu sebelum aku, aku cuma mengikuti aturan yang mereka buat. Memang elemen kayu bukan elemen yang mudah, tapi aku akhirnya bisa menguasainya. Dan lagi, kamu keliru kalau berpikiran seorang penyihir hanya terbatas di satu elemen saja. Seorang penyihir bisa menguasai banyak elemen dan banyak tipe sihir sekaligus, contohnya bisa saja seseorang menjadi pengguna sihir tipe ofensif dan tipe penyembuh sekaligus, atau bahkan kombinasi yang lain. Kemungkinannya tak terbatas. Walaupun memang akan lebih susah untuk menguasai masing-masing tipe dan elemen sihir dengan cara seperti itu. Karena itu, biasanya para penyihir memilih satu elemen saja untuk kemudian dikuasai."
Setelah Raisha memberikan penjelasan panjang lebar, pelajaran berlanjut. Hingga akhirnya Raisha memberikan kuis kecil pada Rico.
"Sebutkan dan jelaskan tipe-tipe sihir."
"Ah... pertama adalah tipe ofensif, atau sihir tipe menyerang. Sihir tipe ini adalah sihir yang bersifat merusak dan menghancurkan. Yang kedua adalah tipe defensif atau tipe pertahanan. Sihir ini bersifat melindungi. Sihir penyegel termasuk kategori ini karena sihir penyegel bermaksud untuk melindungi apapun yang tidak tersegel dari kekuatan yang disegel. Ketiga adalah sihir restorasi atau penyembuhan, sihir ini bersifat mengobati. Tipe keempat adalah tipe shapeshift, yaitu sihir yang mengubah penggunanya menjadi wujud binatang perak. Dan yang terakhir adalah sihir tak terkategori, atau sihir-sihir yang tidak termasuk dalam empat kategori lainnya."
"Bagus, jawabanmu benar." ujar Raisha sambil tersenyum, senyuman itu membuat wajah Rico memerah.
"Ada lagikah yang ingin kau tanyakan? Karena kita hampir selesai." tanya Raisha sambil melihat ke luar jendela, menebak waktu dari sinar matahari.
"Aku ingin bertanya... soal rune. Apa itu rune? Apa bedanya dengan sihir biasa?"
"Ho? Dari mana kau tahu soal rune? Harusnya kau belum diajari ini di sekolah kan?"
"Ah... aku... membaca buku di perpustakaan."
"Begitukah? Aku suka anak yang rajin membaca sepertimu." sekali lagi wajah Rico merah padam.
"Rune adalah sihir untuk melawan sihir. Penggunaannya beda dengan sihir lain, karena rune harus ditulis. Tidak harus ditulis di perkamen atau kertas, asalkan ada tempat untuk menulis dan ada cara untuk menulisnya, rune bisa digunakan. Disebut sihir untuk melawan sihir karena rune punya kemampuan untuk memanipulasi aturan sihir lain. Misalnya, pemakai rune bisa menggunakan rune-nya untuk menghancurkan perisai sihir penyihir lain. Asalkan pemakai rune tahu aturan sihir musuhnya, dia bisa menghancurkan sihir musuhnya tanpa susah payah."
"Begitu..." respon Rico.
"Sebagai penutup, coba kau merapal satu sihir. Tidak bagus kalau pelajaranmu hanya teori saja."
"Eh? Apa tidak apa-apa?"
"Tenang saja, asalkan kau tidak mengeluarkan sihir api atau angin rumahmu tidak akan hancur. Coba kau buat bola air di tanganmu."
"Eh... ah... baiklah."
Rico membuka telapak tangannya ke atas, kemudian ia berkonsentrasi. Tenaga sihirnya yang tadinya menyebar merata di seluruh tubuhnya, sedikit demi sedikit lebih terpusat ke telapak tangannya. Ia mengingat-ingat aturan sihir elemen air yang dia pelajari di sekolah. Tak lama kemudian, bola air seukuran genggaman terwujud di tangannya.
"Bagus. Pertahankan seperti itu." ujar Raisha bersemangat.
Rico terlihat kepayahan, ekspresi wajahnya seperti sedang menahan sakit. Tak sampai satu menit kemudian dia tak mampu menahannya lagi. Bola air itu pecah dan semburat air membasahi ruangan. Tampaknya karena Rico juga kehilangan kendali atas arus tenaga sihirnya, volume air yang muncrat jauh melebihi bola yang segenggaman tangan tadi. Membuat seluruh kamar basah kuyup.
Nafas Rico terengah-engah, sewaktu dia melihat gurunya, perempuan itu basah kuyup.
"Ricoooooooo"
"Ah, maaf. Maafkan aku."
Perapian di lantai bawah menyala, api bergolak liar di kayu bakar. Baju dan rok Raisha digantung di dekat api agar cepat kering, sementara anak perempuan itu duduk di dekat api unggun cuma berlapiskan handuk.
"Maaf ya, di rumahku tidak ada baju perempuan yang seukuranmu, jadi aku tidak punya baju ganti." ujar Rico sambil keluar dari dapur, ia membawa sepoci teh dan gelas.
"Jangan mendekat." ujar Raisha datar, "Dan juga, jangan lihat ke arah api unggun."
"Ah, baik. Um... aku bawa teh untuk menghangatkan tubuh, kalau kakak mau." balas Rico sambil menaruh poci dan gelas di meja.
"Aku akan mengambil tehnya, jangan menoleh."
"Ba-baik."
Setelah membalut tubuhnya, Raisha berjalan mendekat, lalu menuangkan teh untuk dirinya sendiri. Rico menepati janjinya untuk tidak menoleh, tapi itu tidak menghalanginya untuk membayangkan Raisha yang sekarang di belakangnya hanya berbalut handuk. Wajahnya kembali memerah, tapi kali ini sampai ke telinga.
"Tehmu enak. Paling enak yang pernah kuminum."
"Benarkah?"
"Iya, aku tidak bohong."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar