Edge berjalan mantap menuju tengah lingkaran, saat berhenti di situ, dia berkata "Aku Edge Reddam, aku petarung selanjutnya, mana wakil kalian?"
Seolah menjawab pertanyaannya, seorang pria melangkah maju, rambut merahnya yang sepanjang bahu berkibar ditiup angin. Matanya yang sama merahnya seperti terbakar api, hanya saja tidak ada kehangatan yang terpancar dari situ, melainkan tatapan dingin seorang pembunuh.
"Namaku Marva Sang Penebas Api, akulah yang akan menjadi lawanmu." ujar orang itu. Seketika itu juga, pria itu membuat pedang api di tangannya.
"Pengguna elemen api hah? Kebetulan, aku juga sama." Edge membuka telapak tangannya, bola api membara di situ.
"Kalau begini, kemenanganku sudah dipastikan" ujar Marva, "Kau tahu kenapa aku disebut Sang Penebas Api? Karena apiku mengalahkan api lain, tidak peduli sekuat apapun itu."
"Kalau begitu, mari kita buktikan!" Edge melemparkan bola api itu ke Marva, yang langsung menebasnya menjadi dua bagian, melewati bagian kiri dan kanan tubuhnya.
Marva menerjang Edge, menyabetkan pedangnya beberapa kali. Edge dengan lincahnya menghindari semua tebasan itu.
Edge melompat mundur, mengambil jarak sebelum akhirnya dia melemparkan satu api pada Marva, "Fire finger!" teriaknya. Api tipis dan panjang melesat menuju sasarannya.
Marva menahan serangan itu dengan pedangnya, sebuah ledakan tercipta, tapi dia tidak terlihat terluka sama sekali.
"Hee... boleh juga kau." puji Edge.
"Sudah kubilang, kan? Apiku mengalahkan api yang lain, termasuk apimu juga!"
sesudah mengatakan itu, Marva melintangkan pedangnya di depannya, sisi yang tumpul menghadap Edge.
"Fire gaze!" sebuah cahaya oval merah melesat keluar dari pedang itu, Edge dengan sigap menghindarinya, hanya bahu kanannya yang tergores. Sementara serangan itu meledak mengenai sesuatu di belakang sana, entah apa.
"Ho? Kau bisa menghindar? Gesit juga kau."
"Heh. Jangan anggap remeh diriku."
"Aku ada satu pertanyaan sebelum kau kalah: kenapa kau ikut pertarungan ini? Kau tidak ada hubungannya dengan ini kan? Apakah hanya karena ingin membantu temanmu saja?" tanya Marva.
"Alasanku sederhana, aku ingin membalas apa yang sudah kalian perbuat pada Lilly? Biarpun aku tidak tahu siapa diantara kalian yang melakukannya, tapi aku tetap tidak bisa tinggal diam."
"Lilly? Maksudmu perempuan berambut pirang yang bersama Ruby waktu itu?" perlahan-lahan Marva mulai tertawa, "Hahaha, jadi alasannya karena perempuan ya? Hahahaha!"
"Kau tahu?"
"Tentu saja aku tahu! Aku yang melawannya saat itu, aku juga yang membuatnya terluka parah. Ooh, suara jeritannya sewaktu aku mengalahkannya masih bisa kudengar sampai sekarang."
Wajah Edge berubah kaget mendengarnya, lalu emosi itu digantikan amarah.
"Kau... jadi kau yang membuat Lilly terluka sampai seperti itu? Akan kubuat kau menyesalinya!"
Edge membuka telapak tangan kirinya ke Marva, lalu berteriak, "Incinerate – Fire breather!"
semburan api yang luar biasa besar semburat keluar dari tangan Edge, api itu berniat membakar tanah, rumput, dan semua yang di hadapannya.
"Ha! Sihir api? Itu tidak akan mempan! Flame slasher!" Marva menerjang maju sambil menebaskan pedangnya. Pedang itu bagaikan sirip hiu di tengah laut, tidak ada yang bisa menghentikan lajunya.
"Mustahil? Apiku tidak mempan melawannya?" ujar Edge, kaget.
Api Edge berhenti menyembur saat pedang Marva bertemu tangannya.
"Sudah kubilang kan? Apiku mengalahkan api yang lain." Marva lalu menebaskan pedangnya ke Edge, yang ternyata masih bisa menghindarinya tanpa kesulitan.
Edge melompat mundur untuk mengambil jarak, nafasnya mulai terengah-engah.
"Kenapa? Sudah lelah?" teriak Marva sambil berlari mendekat, lalu menyabetkan pedangnya, "Kelihatannya staminamu tidak terlalu besar ya?" ujarnya di tengah-tengah sabetan, Edge tetap menghindari semua serangan itu.
"Memang," jawab Edge, "Karena itu akan kuakhiri ini secepatnya." sekali lagi, Edge melompat mundur, membuat jarak.
"Dengan kemampuanku sekarang, paling tidak aku bisa membuka level 1." Edge memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam, sesaat kemudian, angin berputar hebat di sekitarnya.
"Apa itu?" tanya Marva.
Aura Edge meningkat pesat, dalam sekejap ia sudah diselubungi aura berwarna merah menyala. Walaupun berwarna merah, aura Edge tidak bergerak seperti api, tapi hanya membungkus Edge bagaikan baju zirah.
"Kau punya sihir yang menarik." ujar Marva.
"Bukan cuma menarik, dengan ini aku bisa mengalahkanmu."
"Oh ya? Kalau itu sihir api, sama juga bohong." Marva menerjang maju, menyabetkan pedangnya. Kali ini, Edge tidak menghindar.
Ketika pedang Marva mengenai aura merah itu, pedang itu berubah menjadi kobaran api, lalu terserap ke dalam aura itu.
"Apa-apaan?" teriak Marva.
"Inilah kemampuan sihir khusus keluarga Reddam, Efreet's eye. Kemampuan level 1 adalah: penyerapan api sempurna."
"Tidak... tidak mungkin..."
"Terbakarlah kau dalam pilar neraka, Incinerate – Tower of fire!" Edge mengangkat tangannya ke atas, dalam sekejap sebuah pilar api membakar Marva. Ketika pilar api itu sudah reda, Marva yang terbakar habis, jatuh terjerembab di tanah.
"Aku menang!" ujar Edge, "Kami menang, berarti Ruby mendapat apa yang dia inginkan kan?"
Wajah Niozo yang menonton dari tepi arena berubah geram, secara perlahan dia maju ke tengah arena, "Ya, kau benar."
Ruby, yang sudah sadar dan disembuhkan dengan sihir pertolongan pertama, juga hadir di tengah arena.
"Dengan ini kau mendapat apa yang kau inginkan, kau tidak ada hubungannya lagi dengan perpolitikan di Nameless Sea. Kau akan tetap hidup, dan tetap dianggap sebagai penduduk Nameless Sea, tapi kau bukan lagi penerus dari Regasa Siren." ujar Niozo., "Sekarang giliranku."
Niozo mencabut sebilah pisau dari balik bajunya.
"Ambillah nyawaku, seperti yang sudah kujanjikan." Niozo lalu menyodorkan pisau itu ke Ruby.
Ruby mengambil pisau itu, ia lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Niozo memejamkan matanya, bersiap akan takdir yang menjemputnya.Ruby mengayunkan tangannya ke bawah, melemparkan pisau itu hingga menancap ke tanah.
"Aku tidak akan membunuhmu." ujar Ruby.
Niozo membuka matanya, "Apa? Tapi, kenapa?"
"Kau lupa? Aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan intrik politik Nameless Sea, aku tidak punya kewajiban untuk membunuhmu. Dan lagi, aku tidak akan memberimu kehormatan dengan menjadi martir dalam pertarungan ini, kau orang yang membunuh ayahku."
Niozo membisu, tidak mampu berbicara di depan kata-kata Ruby.
Ruby berbalik, menatap teman-temannya.
"Ayo, kita pulang." ujarnya.
"Kau yakin dengan ini? Kau tidak akan kembali ke sini lagi? Kau benar-benar akan meninggalkan bagian masa lalumu yang ini?" tanya Area.
"Aku yakin, Area. Lagipula, tempatku sudah bukan di sini lagi. Tapi di guild, bersama kalian."
"Baiklah kalau begitu, semuanya bersiap." sesudah mengatakannya, Area membungkus semua anggota Silver Line di situ, sebelum akhirnya menghilang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar