Satu hari sudah berlalu sejak insiden bandit di Ruava. Belum lama berlalu sejak matahari terbit seutuhnya di ufuk timur. Dua ekor kuda menarik sebuah kotak besar dengan 4 roda di bawahnya. Edge, Lily, Ray dan Ruby menaiki kereta kuda itu dalam perjalanan mereka.
"Jadi kita sekarang menuju Recht?" tanya Ruby di tengah perjalanan.
"Benar, kami harus kembali melapor ke guild bahwa pekerjaan sudah selesai." jawab Lily.
"Berapa lama perjalanannya?" kali ini Ray yang bertanya
"Sekitar dua atau tiga hari naik kereta." Kembali Lily menjawab.
"Jauh juga ya."
"Tidak juga, aku pernah ke tempat yang lebih jauh lagi." Edge menimpali, "Dan omong-omong kenapa kalian berdua ikut dengan kami? Kalian tidak ada urusan kan di Recht?"
"Sebenarnya kami berdua sedang mencari guild, kami belum memutuskan untuk bergabung dengan guild yang mana." Jawab Ruby
"Ya, Ruava adalah tujuan pertamaku untuk mencari guild, sebelum tiba-tiba kalian muncul dan menolong kami." Kali ini Ray menyahut.
"Berarti umur kalian 18 tahun ya? Baru lulus sekolah sihir?" tanya Lily.
"Iya, benar." Jawab mereka berdua bersamaan.
"Lalu kenapa kalian memilih Silver Line?" tanya Edge sambil bertopang dagu.
"Kenapa? Salah satu alasannya karena kalian menolong kami. Dan lagi, kalian terlihat seperti orang-orang yang baik. Pasti menyenangkan bergabung ke guild yang sama dengan kalian." Jawab Ruby sambil tersenyum.
"Bagus kan Edge? Kamu punya yunior." Edge hanya mendengus saja mendengar perkataan Lily barusan.
"Eh? Berarti Edge anggota baru di guild?" tanya Ray.
"Iya, dia baru bergabung tahun kemarin jadi nantinya kalian akan menjadi yunior pertamanya dia."
"Dengar ya, aku ini tetap saja senior kalian. Jadi jaga sikap kalian di depanku." ujar Edge agak sombong.
"Omong-omong Ray, bagaimana lukamu?" tanya Lily sambil memperhatikan Ray.
"Oh aku sudah tidak apa-apa kok. Kebetulan lukaku tidak seberapa parah dan kemarin ada dokter yang bisa sihir penyembuh, dan lagi aku beruntung kau menolongku di saat yang tepat kemarin."
"Apanya yang tidak parah? Kemarin kau hampir mati tau." sahut Edge, "Kalau kemarin Lily tidak melindungimu kau pasti sudah berakhir lebih parah lagi dari sekarang. Kau kira musuhmu itu lemah? Pemimpin bandit itu termasuk penyihir Level B. Bukan lawan orang yang baru saja lulus dari sekolah."
"Level B? Lalu bagaimana Lily bisa mengalahkannya begitu mudah? Jangan jangan Lily juga level B?" tanya Ray
"Iya, itu benar." Jawab Lily sambil tersenyum.
"Aku bisa menebak kalau kau adalah orang level C, jadi lain kali jangan bertindak gegabah seperti itu."
"Santailah Edge, kau juga sama-sama level C kan?" Lily menimpali
"Beda! Kemampuan dan pengalamanku jelas jauh di atas orang yang belum pernah bergabung ke guild." bantahnya.
"Oh ya? Jangan tersinggung, tapi aku yakin aku lebih kuat darimu." Ruby menyahut, "Karena aku penyihir level B. Aku salah satu murid terbaik di sekolahku dulu lho." lanjutnya sambil tersenyum.
Edge dan Ray melongo. Lily dan Ruby berpegangan tangan lalu mengayunkan tangan mereka ke atas dan ke bawah sambil bersorak, "Cewek memang hebat!"
Dua hari kemudian mereka sampai di tempat tujuan mereka. Kereta kuda berhenti tepat di luar gerbang kota. Ketika mereka berempat turun dari kereta, Ray bisa melihat tembok setinggi bangunan berlantai dua memagari kota. Tempat berhenti mereka dan gerbang masuk kota dihubungkan oleh jembatan yang melintangi sungai kecil. Sepasang penjaga menunggui gerbang itu.
"Besar sekali. Aku pernah mendengar tentang Recht, tapi aku tidak menduga aslinya seperti ini." Ray tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.
"Recht memang salah satu kota terbesar di Arkascha." Lily menimpali, "Dan lagi ada dua guild yang bermarkas di sini, jadi wajar saja kalau pertahanan kota ini kuat."
"Dua? Selain Silver Line, guild apa lagi yang ada di sini?" tanya Ruby.
"Gold hawk." Jawab Edge, "Tenang saja, tidak akan terjadi hal buruk kok biarpun dua guild letaknya di kota yang sama. Lagipula kami memang tidak musuhan."
Para penjaga kota hanya memandangi mereka lewat saat mereka melewati gerbang kota. Di dalam, Ray lebih terpesona dibandingkan di luar tadi. Anak-anak kecil berlarian di jalanan. Orang-orang berlalu lalang. Seorang pria membeli bunga dari pedagang keliling. Seorang ibu-ibu membeli roti di toko pinggir jalan. Kota ini lebih hidup daripada kota asalnya.
Selagi mereka berjalan, Ray terus melihat-lihat sekitarnya kecuali jalan di depannya.
"Apa pemandangan ini baru buatmu?" tanya Ruby yang melihat Ray bertingkah seperti itu.
"Iya, dibandingkan Ruvahn kota ini jauh lebih besar."
"Ruvahn? Kota kecil di sebelah tenggara itu?"
"Iya, dari sanalah aku berasal. Kotaku memang tidak seberapa dibandingkan Recht, karena itu aku jadi bersemangat."
"Di sini tempatnya." ujar Lily ketika mereka sampai di tujuan. Bangunan besar berlantai dua berdiri di depan mereka. Gentingnya berwarna merah, pilar yang menyangganya biru, jendela-jendela segi lima berjejeran di tembok depan, papan kayu yang megah menggantung di atas pintu coklat, di papan itu sebuah tulisan besar menegaskan namanya "Silver Line"
Ruby dan Ray tidak bisa menyembunyikan kekaguman mereka. Kalau saja ini malam hari, Edge dan Lily pasti bisa melihat mata mereka yang berbinar-binar.
"Sudah cukup kagumnya, ayo kita masuk." ujar Edge sambil melangkah maju. Edge baru saja akan membuka pintu ketika pintu itu terbuka ke dalam terlebih dahulu. Sepasang anak perempuan berdiri di balik pintu. Seorang diantara mereka berambut pirang pendek, yang satu lagi rambutnya hitam dan panjang hingga sepinggang.
"Oh, Raisha." ujar Edge, refleks
"Hi kak Edge, baru pulang dari misi ya?" jawab yang berambut pirang, "Kak Lily bersamamu juga kah? Oh itu dia." dia mengakhiri kalimatnya dengan riang saat melihat Lily.
"Hi Raisha, hi Elise." jawab Lily sambil menyapa mereka berdua.
"Hi kak Lily. Siapa mereka berdua yang bersamamu?" jawab yang berambut hitam, ia mundur sedikit ke belakang Raisha.
"Hi, aku Ruby Marchant. Aku akan menjadi anggota baru dari guild ini, semoga kita bisa berteman ya."
"Aku Raisha Estling. Aku juga anggota Silver Line, senang bertemu denganmu."
"Aku Elise Campbell. Senang bertemu denganmu." Elise melangkah keluar dari balik Raisha saat memperkenalkan diri.
"Namaku Ray Silverheart. Aku juga akan bergabung di guild ini, senang bertemu kalian." ujar Ray sambil mengulurkan tangan.
"Hi Ray. Selamat datang di guild." balas Raisha sambil tersenyum riang, tidak membalas jabatan tangan Ray. Elise kembali sembunyi di baliknya. Angin berhembus. Dan selama beberapa detik tidak ada satu suarapun yang terdengar. Ray kaku di posisinya.
"Kami bisa masuk sekarang?"
"Oh iya, kak Lily. Selamat bekerja. Kami juga mau bekerja dulu, daag." Raisha langsung bergegas meninggalkan mereka semua, dengan Elise mengikuti di belakangnya.
"Oh iya, kak Lily. Selamat bekerja. Kami juga mau bekerja dulu, daag." Raisha langsung bergegas meninggalkan mereka semua, dengan Elise mengikuti di belakangnya.
"Sampai kapan kamu mau diam begitu anak baru? Ayo maju." ujar Edge saat melihat Ray.
Di dalam guid, ruangannya cukup luas. Sebuah karpet hijau terbentang di tengah ruangan. Di sebelah kanan dan kiri pintu masuk ada lorong menuju bagian lain guild. Di samping masing-masing lorong itu terdapat tangga menuju lantai dua. Edge memimpin jalan menuju lantai dua, di sana, mereka berhenti di depan salah satu pintu. Ray menyadari bahwa pintu ini adalah pintu terbesar di antara jajaran pintu di lantai dua. Edge mengetuk pintu dua kali. Beberapa detik kemudian sebuah suara membalas dari balik pintu, mempersilahkan mereka masuk.
Ruangan di balik pintu itu lumayan besar. Tepat di seberang pintu ada jendela besar sumber cahaya utama ruangan itu. Ruangan itu diisi beberapa lemari berisi dokumen-dokumen dan di salah satu sisi lemari terdapat pot tanaman. Di tengah ruangan terdapat meja besar dengan sebuah pena. Duduk di balik meja itu adalah seorang perempuan cantik berambut pirang panjang, tapi kepanjangan rambutnya tidak terlihat karena rambutnya diikat tinggi di belakang kepalanya. Wajahnya menggambarkan kedewasaan dan ketegasan, tapi ketegasannya berhenti di batas-batas tertentu hingga dia tidak terlihat dingin. Ia menaruh selembar dokumen di depannya di tumpukan dokumen di salah satu sisi meja.
"Nona Lucia, kami datang untuk melapor. Misi menumpas bandit di Ruava sudah selesai dengan sempurna." ujar Lily. Kata-katanya formal, tapi tidak terdengar kaku seperti militer. Mungkin karena walaupun banyak rumor bahwa guild adalah sebuah tempat yang kaku dan selalu disiplin, kenyataan tidak selalu sama dengan kabar yang beredar.
"Kerja bagus." balas perempuan itu. Kata-katanya simple dan tegas, "Aku mengharapkan laporan kalian tentang misi itu. Dan lagi..." Ia tidak melanjutkan kalimatnya, tapi menatap ke Ruby dan Ray.
"Ah, kami menolong mereka dari para bandit selagi melakukan misi. Mereka menyatakan keinginan mereka untuk bergabung dengan Silver Line."
"Begitukah? Kalian kuterima. Ada lagi?"
"Tidak, tidak ada." jawab Edge.
Ruby dan Ray berdiam mematung, wajah mereka tanpa ekspresi. Seolah apa yang terjadi berada di luar perkiraan mereka.
"Kenapa?" tingkah mereka yang tidak menunjukkan reaksi sama sekali justru menarik perhatian Lucia.
"Tidak, kami hanya... tidak menyangka kami akan diterima semudah itu." jawab Ruby. Jawaban itu memancing senyum kecil Lucia.
"Guild bukanlah anggota militer Kerajaan Arkascha. Guild adalah kumpulan orang-orang yang sevisi dan sepaham. Selama kalian tidak melanggar aturan guild, kalian diterima di sini. Aku anggap mereka berdua sudah memberitahu kalian tentang guild ini." Lucia mengakhiri kalimatnya sambil melihat ke Edge dan Lily.
"Sudah, mereka sudah bercerita banyak tentang guild ini dalam perjalanan kemari." sahut Ray.
"Itu bagus. Kalau ada lagi yang ingin kalian ketahui, kalian bisa bertanya pada mereka."
"Omong-omong Nona Lucia, aku tidak melihat pak ketua, dimana dia?" tanya Edge.
"Dia sedang ada pertemuan dengan ketua Gold hawk. Dia akan kembali nanti sore."
"Begitu..." hanya itu jawaban Edge.
"Kalau begitu kami permisi dulu." ujar Lily, lalu mereka semua keluar dari ruangan.
"Oh iya, pertanyaanmu tadi mengagetkanku. Aku kira perempuan tadi ketua guild ini." ujar Ray saat mereka semua berjalan menuju lantai satu.
"Bukan, tapi hampir tepat. Lucia Fraulein adalah wakil ketua guild ini. Ia hampir selalu bersama ketua, jadi agak aneh melihat dia di ruangan ketua tanpa ketua."
"Dan karena sekarang kalian sudah diterima, saatnya bagi kalian untuk mengambil misi." ujar Lily. Tanpa berkata-kata lebih lanjut, ia membawa rombongan itu ke salah satu lorong di samping tangga naik. Lorong itu terhubung ke sebuah ruangan dengan meja berbentuk L di salah satu sudut ruangan dengan sebuah buku di atasnya. Sebuah papan menempel di salah satu tembok, bagian atasnya bertuliskan "Misi-misi". Puluhan kertas kecil ditempel di papan itu.
"Kalian bebas mengambil misi apapun yang tertulis di sini. Tapi sebelum mengambil pastikan kalian cukup kuat untuk melakukannya. Ada deskripsi singkat di masing-masing kertas, dan juga siapa yang harus kalian hubungi untuk keterangan lebih detil. Ada syarat level penyihirnya juga, aku sarankan kalian untuk tidak mengambil misi level A atau S dulu sementara ini." Lily menjelaskan sambil menunjuk kertas-kertas itu, "Sesudah kalian memutuskan misi mana yang ingin kalian ambil, tuliskan misi yang kalian ambil dan berapa orang yang melakukan miisi di buku itu. Itu cara kami untuk mencatat siapa mengambil misi apa di sini." Ia menunjuk ke buku di atas meja sambil menjelaskan.
"Kalau tidak ada pertanyaan kami akan pergi. Kami harus membuat laporan tentang misi kami. Urusan administratif guild, bagian paling menjengkelkan dari pekerjaan." lanjut Edge. Tanpa menunggu balasan, ia langsung pergi.
"Seperti katanya, aku harus pergi. Sampai nanti ya." Lily melambaikan tangannya sebelum meninggalkan mereka berdua di ruangan ini.
"Ah, satu pertanyaan: apa kami bisa mengambil satu misi untuk dilakukan berdua atau satu orang satu misi?" tanya Ruby sebelum Lily benar-benar pergi.
"Kami menyarankan para anggota untuk pergi dalam kelompok, walau bukan keharusan. Kalian putuskan sendiri apakah akan mengambil misi sendiri-sendiri atau tidak." jawab Lily sebelum berlalu.
"Bagaimana kalau kita ambil misi bersama? Kurasa itu lebih baik." Ray menyarankan.
"Aku sih tidak keberatan, tapi aku yang pilih misinya ya."
Mata Ruby menyeleksi kertas-kertas itu satu per satu sampai satu kertas menarik perhatiannya.
"Bagaimana kalau ini? Seorang anak hilang di hutan dekat kota. Kelihatannya tidak terlalu susah."
"Baiklah kalau begitu, ayo kita lakukan." balas Ray.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar