Setelah sepakat mengambil misi mereka, Ray dan Ruby pergi bersama ke tempat klien mereka untuk mendapat informasi lebih detil tentang pekerjaan kali ini. Mereka berjalan menyusuri kota hingga sampai ke daerah permukiman. Sesampainya di sana mereka memperhatikan rumah demi rumah yang mereka jumpai, sampai akhirnya mereka sampai di salah satu rumah. Pagar kayunya dipasang setinggi pinggang orang dewasa, sebuah taman kecil berisi bebungaan mengisi jarak antara pagar dan rumah, Ruby mencocokkan nomor rumahnya dengan alamat yang mereka terima di surat permohonan misi.
"Bagaimana? Ini kah?" tanya Ray.
"Iya, ini dia. Ayo kita masuk."
Ruby mengetuk pintu depan dua kali, tapi tak ada jawaban. Setelah beberapa lama, dia mengangkat tangannya untuk mengetuk sekali lagi. Sebelum dia sempat melakukannya, pintu depan terbuka, yang menyambut mereka adalah seorang wanita dengan rambut hitam panjang, walau Ruby kesulitan menebak usianya tapi pasti tidak jauh dari 30-an.
"Kalian siapa?" tanyanya.
"Kami dari guild Silver Line, kami melihat permohonanmu yang kau pasang di guild kami." jawab Ray, Ruby mengacungkan kertas kecil yang dikenali wanita itu sebagai permohonan misinya.
Wajah perempuan itu bertambah cerah, ia membuka daun pintunya lebih lebar.
"Masuklah, aku senang kalian datang."
Mereka bertiga duduk di ruang tamu wanita itu. Ray dan Ruby duduk di kursi panjang, si perempuan duduk di kursi di hadapan mereka, sebuah meja kecil mengisi celah di antara mereka. Peremuan itu, yang mengenalkan dirinya dengan nama Katrina, mulai bercerita tentang anaknya yang menghilang. 2 hari yg lalu, pada siang hari anaknya pergi ke hutan yang terletak di luar kota, tapi sampai malam hari dia tidak kembali juga. Besoknya dia minta tolong pada prajurit penjaga kota, tapi mereka tidak berhasil menemukan anaknya. Sore harinya dia menaruh permohonan ke guild. Hari ini Ray dan Ruby datang ke rumahnya.
Ruby meletakkan segelas limun yang baru saja diminumnya, "Jadi para penjaga kota tidak menemukan anak itu, ataupun petunjuk tentang anak anda?"
"Tidak, tidak sama sekali." Katrina menggelengkan kepalanya saat menjawab, "Putriku yang malang..." air mata meleleh dari matanya.
"Kalau begitu kami akan segera berangkat. Kita harus menemukan anak itu secepat mungkin." ujar Ray.
"Tolonglah... temukan anakku..."ujar ibu itu, suaranya nyaris tak terdengar karena isak tangisnya.
"Tenanglah bu, kami pasti akan menemukannya." ujar Ruby.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah keluar dari gerbang kota. Setelah menyusuri jalan setapak kecil, Ray dan Ruby sampai di mulut hutan tujuan mereka. Deretan pepohonan yang kembar entah berapa ribu batang itu mengapit jalan setapak yang mereka lalui. Cahaya matahari mencoba menerobos dari sela-sela pucuk pohon. Seekor tupai kecil melintas di depan mereka sebelum hilang lagi di balik rerumputan.
"Siapa nama anak itu tadi? Aku lupa." tanya Ray.
"Selena, namanya Selena." jawab Ruby.
"Oh ya benar. Selena! Apa kau bisa mendengarku? Kami datang untuk mencarimu!" Ray berteriak-teriak selagi mereka berjalan. Hanya untuk dijawab suara cicip burung.
"Ray, kalau kita bisa menemukannya semudah itu, para penjaga kota tidak mungkin kesusahan. Dia pasti ada jauh di dalam hutan."
"Baiklah kalau begitu, sekarang ini ayo kita maju terus."
"Omong-omong, di sini ada binatang buasnya atau tidak sih?" tanya Ray ketika mereka semakin jauh di dalam hutan.
"Entahlah, tapi kalau harus kutebak... mungkin saja ada."
"Begitu..."
"Kalau menurutmu bagaimana?"
"Kalau harus kutebak... di sini pasti ada satu atau dua jenis ular berbisa. Mungkin loh." jawab Ray.
Dan dengan cepat percakapan mereka menjadi semacam permainan tebak-tebakan, dimana mereka mencoba menebak binatang apa saja yang ada di hutan ini, dari binatang buas sampai yang jinak.
Jalan setapak mereka bercabang ke dua arah. Setelah perdebatan kecil, Ray akhirnya memutuskan untuk mengikuti Ruby ke kiri. Setelah berjalan beberapa lama, jalan mereka berbelok ke kiri. Selagi berjalan, Ray dan Ruby memeriksa dengan seksama jalan setapak yang mereka lalui dengan harapan menemukan jejak anak kecil. Tapi yang mereka temukan hanyalah jejak kaki dari sepatu bot yang saling menumpuk satu sama lain. Jelas sekali jejak itu berasal dari para penjaga kota yang juga mencari Selena kemarin.
"Kalau para penjaga juga mencari sampai sini, berarti kita juga tidak akan menemukan Selena di sini." ujar Ray saat mereka mengikuti jalan berbelok ke kanan.
"Belum tentu Ray," sahut Ruby, "Pasti dia tidak diam di satu tempat kan? Hanya karena kemarin Selena tidak ada di sini bukan berarti kita tidak akan menemukannya di sini."
Mereka terus berjalan menyusuri hutan hingga mereka sampai di sebuah jalan bercabang.
"Ruby, apa kita pernah melewati jalan ini sebelumnya?"
"Oh ya? Aku tidak yakin, pemandangan di hutan ini terlihat sama semua."
"Aku yakin aku pernah melihat bunga di tepi jalan itu sebelumnya."
"Bukannya bunga seperti itu banyak tumbuh di hutan ini? Aku sudah melihatnya beberapa kali."
"Tapi bunga itu berbeda, bunga itu lebih dekat dengan tepi jalan dibanding bunga-bunga yang lain."
"Masa? Aku yakin pernah melihat bunga seperti itu dekat dengan tepi jalan.... sewaktu kita melintasi jalan di belakang tadi... atau mungkin itu bunga yang ini? hm...."
"Jadi apa kita berputar kembali ke jalan yang sama? Atau kita tersesat?"
"Kalau kita berputar-putar berarti kita tadi dari arah sana... eh atau sebelah sana ya?"
"Oke, jadi kita sudah benar-benar tersesat ya?" ujar Ray, diakhiri dengan helaan nafas panjang.
Matahari sudah terbenam jauh di ufuk barat, bulan dan bintang menggantikan tugasnya menerangi malam, tapi Ray dan Ruby masih tersesat di dalam hutan.
"Bukannya harusnya kita yang menolong anak itu? Kenapa malah kita yang tersesat?" tanya Ruby.
"Kira-kira bagaimana caranya para penjaga kota bisa kembali ya? Tanpa harus tersesat di dalam hutan ini." Ray menimpali, walau tidak berusaha menjawab Ruby.
"Mungkin ada seseorang diantara mereka yang membuat peta, memastikan mereka tidak berputar-putar di tempat yang sama. Lain kali kalau kita pergi ke suatu tempat dimana kita mungkin bisa tersesat, kita harus ingat untuk membuat peta."
"Setuju" sahut Ray.
"Untuk sementara bagaimana kalau kita menyiapkan kemah? Kita sudah terlalu capek karena berjalan sejak siang dan tanpa hasil, kita juga kelaparan."
Ray setuju, dan mereka pun langsung menyiapkan tempat untuk melewatkan malam di dalam hutan. Ruby mencari kayu bakar sementara Ray pergi berburu. Dengan serangan sihirnya yang cepat, kelinci-kelinci itu tidak bisa menghindari takdirnya sebagai santapan Ray dan Ruby malam ini. Kumpulan kayu bakar ditumpuk jadi satu, dan dengan bantuan pemantik, mereka berhasil membuat api unggun untuk malam ini. Kelinci-kelinci naas itu dibunuh dengan cepat sebelum mereka dikuliti lalu disate.
"Kita masih belum menemukan jejak anak itu, entah kita yang hanya berputar-putar sejak tadi... atau memang kita terlambat menolongnya." ujar Ray tiba-tiba
"Apa maksudmu?" tanya Ruby
"Seorang anak kecil tersesat sendirian di hutan. Bukan hal aneh kan kalau kita memperhitungkan kemungkinan itu? Kemungkinan besar dia tidak bisa berburu dan menyiapkan kemah seperti kita, bagaimana dia akan bertahan selama 3 hari di sini?"
"Berpikirlah positif! Dia pasti masih hidup di hutan ini, kita akan menemukannya."
"Ya, kau benar. Maaf karena berfikiran buruk tadi."
Mereka lalu mengambil sate kelinci masing-masing, mulai menikmati makan malam sederhana mereka. Setelah makan, mereka berdua beranjak tidur, tapi sebelum benar-benar tidur Ruby mengacungkan jarinya pada Ray.
"Kuingatkan ya, jangan berbuat macam-macam sewaktu aku tidur. Kuhajar kau besok pagi kalau kau berani."
"Tenang saja, tubuhmu tidak terlalu menarik buatku kok."
BUAGH!
Tidak mengantisipasi serangan itu, Ray jatuh terguling-guling menjauh dari kemah.
"APA MAKSUDMU TUBUHKU TIDAK MENARIK!? JADI MENURUTMU AKU TERLALU GEMUK UNTUK MENARIK PERHATIAN LAKI-LAKI BEGITU?!" kalau saja ada harimau di hutan ini, raungan Ruby bisa dianggap sebagai usaha untuk mengusir harimau lain.
"Kenapa sih denganmu? Tadi kamu sendiri yang mengancamku untuk tidak berbuat macam-macam, sekarang kau marah karena sebenarnya aku tidak ingin berbuat macam-macam? Aku tidak mengerti." protes Ray, masih terkapar di tanah.
"Ah! Bodo! Semoga kau tersesat dan mati kelaparan di hutan ini!" mengakhiri kekesalannya, Ruby beranjak tidur di samping api unggun.
Keesokan harinya mereka kembali menyusuri hutan, hanya saja kali ini Ruby sengaja mengambil jarak 4 meter di depan Ray.
"Dia masih marah." bisik Ray pada dirinya sendiri, "Dia salah menarik kesimpulan dari kata-kataku tadi malam... bagaimana menyelesaikan masalah ini ya?"
mendadak ada suara dari balik semak-semak di kanan mereka, menarik perhatian mereka hingga membuat mereka berhenti. Pada awalnya mereka kira itu tupai atau kelinci atau binatang kecil lainnya, tapi suaranya terlalu ribut untuk hewan sekecil itu.
Seorang anak kecil keluar dari semak-semak, pakaiannya kotor oleh tanah, begitupula rambutnya, wajahnya kehilangan sifat ceria seorang anak kecil, yang ada sekarang hanya ketakutan dan kelelahan yang menumpuk.
Ruby mendekati anak itu, lalu bertanya, "Hey nak. Apa kau Selena?"
anak itu tampak ragu-ragu, tapi akhirnya dia mengangguk.
"Jangan takut, kami orang-orang yang diminta tolong oleh ibumu untuk mencarimu." lanjut Ruby, "Sekarang kau sudah aman, kami akan membawamu pulang."
"I-iya.. tapi nama kakak siapa?"
"Aku Ruby, dan laki-laki di belakang itu Ray. Tenang saja kami akan membawamu kembali ke ibumu."
"Tapi aku heran, bagaimana dia bisa bertahan selama ini di dalam hutan?" tanya Ray.
"Aku makan buah, di sini banyak buah yang bisa dimakan."
"Begitu? Ya sudahlah, yang penting kau selamat sekarang."
"Ya, ayo kita pulang." ujar anak itu.
Mereka bertiga kembali berjalan menyusuri hutan, paling tidak Ray dan Ruby masih ingat jalan mereka sampai kemah tadi malam. Tantangan sebenarnya dimulai dari situ. Dengan persetujuan yang tak terucap, mereka berdua sepakat untuk tidak membuat Selena lebih panik dari sekarang. Perlahan-lahan mereka berjalan sambil mengingat-ingat jalan, kalaupun tidak menemukan jalan yang benar, setidaknya mereka tidak berputar ke tempat yang sama.
"Ruby, kau dengar itu?" tanya Ray tiba-tiba.
"Ada apa?" jawab Ruby.
"Aku sepertinya mendengar sesuatu tadi, mungkin binatang."
Benar saja, suara yang tadinya samar kini semakin jelas. Suara ranting yang berderak karena patah, rerumputan yang berisik karena terinjak, bersamaan dengan langkah pelan seekor binatang. Langkah itu semakin mendekat, Selena mendekap Ruby erat sambil gemetaran, sementara Ray dan Ruby semakin waspada.
Binatang apapun itu, dia menggeram keras, diikuti dengan suara pohon yang tercabik, sebatang pohon jatuh melintang di depan mereka bertiga. Seekor beruang keluar dari balik pepohonan. Binatang itu lebih besar dari beruang biasa, tingginya dua kali lipat Ray, mungkin lebih. Empat kuku panjang dan tajam mencuat keluar dari lengannya yang kekar. Beruang itu menggeram panjang melihat mereka bertiga, air liurnya menetes jatuh.
"Kita benar-benar sedang sial sekarang." ujar Ray.
"Selena, mundur." Selena mengikuti kata-kata Ruby, mundur dan sembunyi di balik sebuah pohon.
Beruang itu menyerang Ray, dengan cepat Ray membuat perisai untuk menahan cakar beruang itu. Suara keras bagaikan pedang bertemu pedang bergema di udara. Ray mundur sesaat, serangan itu berhasil menggores perisainya.
Ruby maju, dengan cekatan dia membuat senjata air dari telapak tangannya.
"Whip!" teriaknya, cemeti air menampar wajah beruang itu dengan keras. Tapi beruang itu tetap berdiri tegak.
Ray mengumpulkan angin di telapak tangannya, lalu menyerang beruang itu
"Wind bash!" bentaknya. Angin pun terburai saat serangan itu mengenai sasaran, menerbangkan dedaunan di sekitarnya. Tapi beruang itu masih berdiri tegak.
"Kuat sekali." ujar Ray.
Belum selesai kekaguman Ray, beruang itu sudah menyerangnya lagi.
"Awas!!" teriak Ruby
Perisai sihir Ray pecah, dia jatuh terjerembab di tanah, untungnya tanpa luka berarti.
"Jangan lengah! kekuatan perisaimu akan berkurang kalau kau tidak fokus"
Ruby berhadap-hadapan dengan beruang raksasa itu, dia membuat senjata dari airnya. Mirip dengan cemeti,tapi ujungnya berbentuk bola berduri
"Morning star!"
Serangan itu beradu dengan cakar tajam si beruang. Air bercipratan kemana-mana dan cakar beruang itu berhenti di tempatnya menghantam serangan Ruby, bagai pedang menghantam pedang.
"Little typhoon!" memanfaatkan kelengahan beruang, Ray menyerang mendadak. Serangan itu kena telak, beruang itu terhantam mundur.
Beruang itu meraung buas, lalu menyerang Ray dan Ruby dengan kedua cakarnya. Mereka berdua menghindari serangan itu. Serangan keduanya menyerang Ray yang terpojok di depan sebatang pohon. Ray menghindar. Serangan-serangan berikutnya terus menerus diarahkan pada Ray, dia hanya bisa menghindari cakar beruang itu. Tanpa disadarinya, mereka berdua telah masuk jauh ke dalam hutan.
"Sial, bisa gawat kalau aku sampai terpojok di dalam sini. Kalau aku masuk terlalu dalam bisa-bisa aku tersesat semakin jauh."
Ray menahan serangan terakhir dengan perisainya, sekali lagi perisainya pecah dan ia terjerembab di tanah.
Dengan tubuhnya yang menjulang, beruang itu memandang Ray yang terpojok di tanah. Lidahnya menjuntai keluar, air liur menetes jatuh dari sana.
"Maaf mengecewakanmu, tapi aku tidak berminat untuk menjadi santapanmu hari ini."
"Morning star!"
Bola berduri yang terbuat dari air itu menghantam punggung beruang dengan telak. Beruang itu menggeram kesakitan, menyadari satu buruannya yang ia lupakan.
"Sudah kubilang kan." ujar Ray.
Beruang itu menyerang Ruby, yang langsung ditahan oleh perisai sihirnya. Kuku tajam beruang itu menancap kuat di perisai Ruby, ujungnya yang tajam hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
Ray mengambil posisi beberapa meter di samping beruang itu, berusaha agar Ruby tidak berada dalam satu garis lurus dengannya dan beruang itu.
"Bertahanlah Ruby!" ujarnya dengan tegas, dia lalu menghimpun tenaga angin di kedua tangannya.
Angin bergerak liar, menerbangkan dedaunan kesana-kemari, gerakan angin itu terpusat di kedua tangan Ray.
Tentu saja, tindakan itu diketahui oleh si beruang, dia pun mencoba mendekati Ray.
"Aku tidak akan membiarkanmu." ujar Ruby, sambil memperkuat perisainya yang menahan cakar si beruang.
Kesal dengan perbuatan Ruby, beruang itu mengayunkan cakarnya yang satu lagi padanya. Yang juga ditahan, ketika Ruby membuat perisai sihir satu lagi.
"Bagus, bertahanlah Ruby!"
"Baik, tapi aku tidak bisa menahannya terlalu lama."
"Sebentar lagi."
Gerakan angin yang liar itu mereda, kini gerakan angin yang berputar-putar itu terpusat di kedua tangan Ray. Dia tersenyum puas.
"Terimalah ini! Wind buster!" angin berbentuk peluru raksasa itu melesat cepat ke beruang raksasa itu. Ruby mematikan perisainya, dan menghindar di saat yang tepat, sebelum serangan itu mengenai sasarannya.
Serangan itu mendorong beruang raksasa itu jauh dari posisinya semula, meninggalkan bekas garis lurus di tanah beberapa meter dari posisi awalnya. Sihir angin itu tidak meledak, hanya memudar karena anginnya terpisah dari kekuatan sihir yang merekatkannya.
Di ujung bekas garis itu, beruang itu terkapar tak berdaya.
Ray menarik nafas... lalu menghembuskan. Menarik nafas lagi... hembuskan lagi. Begitu terus. Nafasnya berat dan panjang. Keringat menetes dari dahinya.
"Kau hebat Ray! Serangan tadi luar biasa." puji Ruby
"Haha, tapi itu menguras tenagaku." jawab Ray di sela-sela nafasnya yang terengah-engah.
"Kakak berdua hebat!" teriak Selena dari balik mereka berdua. Ia melompat kegirangan sebelum memeluk Ruby. Ruby membalasnya dengan senyuman.
"Eh? Sepertinya aku kenal jalan itu?" ujar Selena. Sambil menggenggam tangan Ruby, ia menghampiri beruang raksasa itu.
"Benar! Ini jalan pulang! Kita bisa kembali ke rumah dari sini!" ujar Selena girang.
Benar saja, tidak lama kemudian Ray, Ruby, dan Selena tiba lagi di mulut hutan. Pepohonan yang homogen berakhir di sini, dari sini mereka bisa melihat Recht di depan mereka. Dipenuhi oleh energi baru yang entah dari mana asalnya, Selena memimpin jalan mereka kembali menuju rumahnya.
Sesampainya mereka di rumah, Katrina memeluk Selena erat-erat, air mata mengalir deras di pipinya. Bahkan Ruby pun sampai menitikkan air mata bahagia. Setelah puas menyambut kepulangan kembali anaknya, Katrina membayar honor Ray dan Ruby. Misi pertama mereka berhasil dengan sukses.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar