Matahari bersinar tinggi di langit, menyingkirkan awan-awan yang baru selesai melaksanakan tugasnya, dan menghangatkan kembali dunia yang baru basah oleh hujan. Air menetes jatuh dari tangkai bunga. Cicit-cicit burung bersahutan. Kupu-kupu menari di udara. Sebuah sepatu menyipratkan genangan air, seseorang berlari di jalan setapak menuju sebuah kota yang dia lihat di ujung matanya. Nafasnya terengah-engah. Dahinya basah, entah karena keringat atau akibat gerimis barusan.
Lelaki muda itu terus berlari melewati sawah-sawah penduduk hingga akhirnya dia sampai di gerbang kota kecil itu. Sebuah nama, Ruava, ditulis di papan di atas gerbang.
"Akhirnya aku sampai di Ruava, tujuan pertamaku. Sekarang... akhirnya aku bisa..."
KRUYUUK
Perut pemuda itu berbunyi bahkan sebelum ia menyelesaikan kalimatnya sendiri.
"Akhirnya aku bisa beli makanan. Aku lapar sekali."
Di kota itu, si pemuda menemukan sebuah restoran sederhana, di dalamnya terdapat sebuah meja panjang di ujung ruangan, selain 4 set meja dan kursi. Seorang bartender mengelap gelas kosong di balik meja panjang. Daging ayam, roti, dan segelas sari jeruk pesanannya terhidang di mejanya.
"Mari makan!" ujar pemuda itu. Tanpa menghabiskan waktu, ia mulai menyantap hidangannya. Ia menghampiri bartender setelah ia selesai dengan makanannya. "Jadi berapa semuanya untuk makananku tadi?"
Bartender itu meletakkan gelas yang digosoknya lalu menjawab "3000 oeri, tuan"
"HAAAH!? TIGA RIBU?? kenapa makanan seperti tadi bisa seharga 3000 oeri? Mustahil, seharusnya tidak mungkin melebihi seribu oeri."
"Itulah harga di sini, anda pasti baru di sini sampai-sampai tidak tahu."
"Ini pemerasan. Tidak, mungkin lebih tepat disebut perampokan. Kenapa makanan sederhana di kota kecil begini bisa semahal itu?"
Wajah bartender itu berubah muram sebelum menjawab "Dulu keadaannya tidak seperti ini. Kota kami lebih sejahtera, harga-harga tidak semahal sekarang, dan kami bisa menikmati hasil sawah kami sendiri. Tapi dua tahun lalu, ada segerombolan bandit datang ke kota kami. Mereka meminta upeti berupa uang dan hasil sawah kami dalam jumlah besar. Kami tidak ada pilihan selain menuruti keinginan mereka."
"Kalian tidak melawan?"
"Kami sudah mencobanya, dan kami kalah. Para bandit itu memiliki sihir yang benar-benar kuat. Akibat pemberontakan kami itu, mereka meminta upeti yang lebih besar lagi."
"Begitu, jadi para bandit itu sumber masalahnya di sini ya?"
Bartender dan si pemuda menoleh ke asal suara. Seorang gadis cantik berambut pendek, yang kelihatannya juga baru saja menyelesaikan makan siangnya.
"Kalau mereka dibereskan, maka masalah akan beres bukan begitu?"
"Solusi itu lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan, kami sudah bilang kami kalah melawan mereka. Apa yang membuatmu berpikiran kau bisa melawan mereka?" tanya si bartender
"Sederhana. Sihirku lebih kuat dari orang kebanyakan." jawab gadis itu.
"Lupakan saja nona, lagipula kami sudah meminta bantuan guild resmi. Kalian berdua hanyalah pendatang, jangan melibatkan kalian dengan masalah kami."
Baru saja bartender itu menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari luar. Bartender itu langsung gemetar, keringat dingin menuruni keningnya. "Mereka datang."
Lima orang berkuda berkumpul di tengah kota, mereka mengitari seorang pria tua dengan pakaian berwibawa.
"Mana upeti bulan ini, walikota sialan?" teriak salah seorang bandit ke pria tua itu.
"Semua sedang disiapkan, kalian akan menerimanya kalau mau bersabar sedikit."
"Hah? Sabar??" bandit itu melepaskan hempasan angin ke walikota, dia langsung jatuh terjerembab.
"Kami sudah bilang kan! Upeti harus sudah siap begitu kami memintanya! Apa masih kurang jelas?!"
Belum sempat bandit itu mengatupkan rahangnya, sebuah bola air sebesar genggaman tangan menghantam wajahnya, bandit itu pun terjatuh dari kudanya.
"SIAPA ITU!?" Para bandit menoleh ke asal serangan. Gadis muda dari restoran tadi berdiri menantang mereka, satu tangan teracungkan ke para bandit.
"Aku Ruby Marchant. Aku tidak akan membiarkan kalian menindas para penduduk kota lebih dari ini."
"Siapa gadis ini? Hei walikota, apa kau ingin melawan kami lagi hah!"
"Tidak tidak. Kami tidak kenal dengan gadis ini."
"Aku melawan kalian karena keinginanku sendiri, tidak ada hubungannya dengan penduduk desa."
"Kau akan merasakan akibatnya kalau berani melawan kami!"
Tanpa dikomando, empat orang bandit lainnya menerjang Ruby. Ruby mengayunkan tangannya, sambil berteriak "Whip!"
dia membuat sebuah cemeti air yang langsung menjatuhkan satu bandit dari kudanya. Salah seorang bandit menyerang Ruby dengan bola api. Ia menahan serangan itu dengan mencipatakan sebuah perisai sihir tak kasat mata. Ruby melancarkan cemeti air lagi, kali ini serangan itu berhasil ditahan dengan perisai sihir.
Tanpa disadari Ruby, sebuah tali cahaya melesat cepat ke arahnya, menempel langsung ke tangan kirinya.
"Apa ini?"
Tali cahaya itu menarik Ruby dengan kuat hingga menyeretnya di tanah ke arah sumber tali itu, sebuah tongkat pendek yang ditancapkan ke tanah, bandit yang diserangnya pertama kali tadi berdiri di dekat tongkat itu.
"Kaget? Kau tidak bisa melawan kami sekarang." Ujar bandit itu ketika tangan Ruby sudah terikat kuat dengan tongkat. Ia mencoba mengumpulkan kekuatan sihirnya, tidak bisa. Ia mencoba mengangkat tangannya, tidak mampu.
"Uukh... tongkat ini...menyegel kekuatanku?"
"Benar. Artifak ini mampu menyegel kekuatan seseorang. Sekarang,sebagai hukuman karena berani melawan kami, kau akan ikut kami ke bos." Bandit itu menatap para penduduk sebelum melanjutkan ancamannya. "Upeti akan kami naikkan karena kalian berani melawan kami. Dan juga, apa yang akan terjadi pada gadis ini akan menjadi contoh bagi kalian semua kalau berani melawan kami." Selesai mengucapkannya, bandit itu membopong Ruby ke atas kuda, lalu pergi meninggalkan kota.
Semua orang gemetar ketakutan setelah apa yang terjadi. Beberapa orang menyesalkan seseorang ikut terlibat masalah mereka.
Bartender restoran tadi mendekati pemuda pendatang baru itu dan berkata, "Pergilah kau selagi sempat. Jangan sampai kau juga terkena masalah."
"Sebenarnya aku ingin pergi, tapi ada dua masalah: Pertama, kalau aku pergi sekarang aku tidak bisa membayar makanan mewahmu tadi, paling tidak aku harus membayarmu dengan sesuatu. Kedua, Aku Ray Silverheart tidak pernah membiarkan seorang perempuan dalam bahaya. Aku akan menolongnya."
Para bandit yang baru saja dari Ruava tadi membawa Ruby ke dalam hutan. Agak jauh ke dalam sana, terdapat sebuah perkemahan bandit. Tenda-tenda didirikan di beberapa tempat, salah satu tenda menyimpan upeti mereka dari penduduk Ruava. Di tengah perkemahan, berdiri tenda paling besar. Ruby dibawa masuk ke sana.
"Bos, kami baru kembali dari Ruava." ujar salah satu bandit. Di dalam tenda, seorang pria berbadan besar duduk di tengah ruangan. Rambutnya yang gondrong dibiarkan berantakan. Tubuh bagian atasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan sebuah tato cakar di dadanya.
"Lalu? Kau sudah dapat upetinya?" tanya pria yang dipanggil 'Bos' itu.
"Itu... belum bos, para penduduk itu melawan lagi"
"Kalau belum kenapa kau kembali ke sini! Apa kau kalah oleh mereka hah!?"
"Tidak, tentu tidak bos. Aku sudah mengancam mereka untuk meningkatkan upeti dan lagi..." Ia menoleh ke Ruby yang digendongnya, tangannya terkulai lemas tanpa tenaga. "Aku menangkap orang yang berani melawan kita. Masih muda bos, bos bisa menikmatinya dulu sebelum para penduduk itu datang dengan upeti mereka."
Bos bandit itu menyeringai puas. Ruby ditidurkan di salah satu kursi panjang sebelum bandit itu keluar dari tenda. Bos bandit itu mendekati Ruby, senyumnya makin lebar. Wajah Ruby ketakutan, tangannya gemetaran, dia mencoba bergerak walau keliatannya sia-sia.
Di luar tenda, bandit itu bertanya pada yang lainnya "Apa sudah ada kiriman upeti lagi dari Ruava?"
pertanyaan itu dijawab dengan gelengan kepala oleh dua bandit lainnya.
"Para penduduk itu sebaiknya cepat menyiapkannya, kalau tidak mungkin kali ini kita harus mengambil gadis yang memang penduduk mereka."
Mendadak, seseorang jatuh dari langit dan mendarat tidak jauh di depan perkemahan disertai hempasan angin. Mengagetkan para bandit yang ada di situ.
"Siapa kau? Mau apa kau datang ke sini?"
"Aku? Aku Ray Silverheart. Aku datang ke sini untuk menolong perempuan tadi."
Sejenak semua orang terdiam, lalu tawa para bandit itu meledak.
"Apa katamu? Memangnya apa yang bisa kau lakukan sendirian?" tanya salah satu bandit di tengah tawanya.
"Ini. Little typhoon" Ujar Ray sambil mengibaskan tangannya, membuat angin puyuh kecil menerjang bandit-bandit itu. Para bandit itu membuat perisai sihir untuk menahan serangan Ray.
"Oke, kelihatannya kau bukan cuma bisa mengeong saja. Mari kita lihat sehebat apa kau."
Sementara itu di dalam tenda, bos bandit sudah mendekati Ruby yang tergeletak tak berdaya. Wajahnya terlihat senang melihat Ruby yang ketakutan.
"Nah... mari kita mulai." katanya pada akhirnya.
Pada saat itu seseorang terhempas memasuki tenda. Bos itu mengenalinya sebagai salah seorang bandit.
"Apa yang terjadi?" ia pun pergi ke luar tenda. Di sana dia melihat seorang pemuda sendirian melawan para anak buahnya. Seorang bandit terkapar di tanah, sisanya berhadap-hadapan dengan pemuda ini.
"Ada apa ini? Siapa dia?" tanya bos bandit
"Namaku Ray Silverheart. Aku datang untuk menolong perempuan itu."
"Begitukah? Kau cukup punya nyali juga nak, tapi itu saja tidak cukup untuk memenuhi keinginanmu."
"Aku sudah mengalahkan anak buahmu."
"Belum semuanya."
"Kalau begitu akan kukalahkan semuanya, berikut juga denganmu."
"Kau tidak akan bisa. Wind blast!" bos bandit itu menghempaskan angin dengan kekuatan yang besar. Ray seketika membuat perisai sihir untuk menahannya.
PRAANG
perisai sihir Ray pecah, dia terdorong mundur karena tekanannya. "Kuat sekali." katanya terkejut.
"Sudah kubilang nak, kau tidak akan bisa. Orang-orang desa itu bahkan tidak bisa mengalahkanku seorang diri." ujar bos bandit itu sombong.
"Aku lebih kuat dari mereka." Ray langsung menghimpun tenaga sihir di kedua tangannya, membuat angin berputar hebat.
"Wind buster!" teriaknya saat melepaskan kumpulan tenaga angin itu.
BLAAAM
terdengar dentuman besar saat serangan itu mengenai sasaran. Ketika debu dan angin memudar, si bos bandit itu masih berdiri tegak.
"Mustahil... bagaimana mungkin?" Tanya Ray, nafasnya terengah-engah karena menghabiskan banyak tenaga.
"Harus kuakui kau hebat bocah, tidak banyak yang bisa menghancurkan perisaiku seperti tadi. Tapi, pertarungan kita hanya sampai sini. Wind blast!"
Ray berdiri terdiam, dia tidak bisa menghindar dan juga tidak punya kekuatan untuk membuat perisai sihir.
BAAM
sebuah perisai sihir tercipta di hadapan Ray, melindunginya dari serangan terakhir tadi. Para bandit terkejut, sementara Ray masih berusaha mengendalikan nafasnya.
"Kau tidak apa-apa?" ujar sebuah suara lembut dari belakang. Ray menoleh, dia melihat rambut pirang panjang indah berkibar ditiup angin, yang dibingkai oleh rambut itu adalah sebuah wajah yang cantik dengan senyum yang menawan, mampu memikat pria manapun.
Kekaguman Ray belum hilang ketika tiba-tiba beberapa bola api melesat, masing-masing bola api mengenai satu bandit dengan perkecualian si bos bandit itu sendiri. Para bandit itu langsung terkapar di tanah, tak bergerak lagi.
"Ah payah! Masa tidak bisa menahan serangan seperti itu sih?" ujar suara lain, datangnya dari belakang perempuan tadi. Seorang laki-laki datang mendekat, nyala api masih berkobar di tangan kanannya, menerangi sisi tubuhnya. Di wajahnya tergambar kekecewaan karena lemahnya musuhnya.
"Si.. siapa kalian?" akhirnya Ray bertanya.
"Aku Lily Maxillian dan ini partner-ku Edge Reddam, kami berdua dari Silver Line. Penduduk Ruava meminta bantuan kami untuk menyingkirkan para bandit." Jawab perempuan itu.
"Brengsek... para penduduk itu benar-benar menyewa bantuan guild untuk melawanku? Akan kubuat mereka menyesal karena pernah berfikir untuk melakukannya."
"Lebih baik kau fikirkan nasibmu sendiri, karena kelihatannya tidak akan berakhir baik." sahut Edge
Menyadari dirinya terdesak, pemimpin bandit itu membuat perisai di depannya. "Bagaimana? Kau tidak akan bisa menembus perisaiku ini." tantangnya.
"Bodooooh." ejek Edge. Lily mengeluarkan sebuah seruling, lalu memainkannya. Awalnya terdengar nada yang indah, kemudian dia memainkan sebuah nada tinggi.
Udara terkoyak, begitu pun tanah di bawahnya, membentuk sebuah garis lurus dari Lily hingga ke pemimpin bandit itu. Serangan suara itu membelah perisai seperti pisau memotong keju, dan langsung melukai pemimpin bandit itu.
"Lily, kau tidak membunuhnya kan?" tanya Edge.
"Tidak kok, sebisa mungkin aku berusaha membiarkannya hidup."
Ray tercengang melihat demonstrasi kekuatan barusan. Ia tidak menyadari mulutnya menganga sedari tadi.
"Kenapa? Kaget?" tanya Lily yang diakhiri dengan senyum indahnya.
"Ah.. tidak... aku hanya..."
"Pemimpin bandit ini sudah kalah, pekerjaan kita sudah selesai di sini kan?"
"Belum Edge, kita harus menyerahkan mereka pada kerajaan agar mereka dipenjara."
"Tunggu, tunggu dulu." Ray menyela, "Ada seseorang di sini, sandera. Aku datang untuk menolongnya tadi."
"Benarkah? Ayo kita tolong." Lily berjalan memasuki tenda terbesar. Di sana dia menemukan Ruby tergeletak di meja.
"Anak malang, kau tidak apa-apa? Oh, artifak itu... kekuatanmu disegel? Tunggu sebentar biar kulepaskan untukmu."
Begitu segelnya dilepas, Ruby duduk di kursi dan berkata "Terima kasih, aku sudah tidak apa-apa sekarang."
Edge dan Ray memasuki tenda. Ray berkata "Kau tidak apa-apa kan? Aku kemari untuk menolongmu."
"Kau? Kau yang tadi tidak bisa membayar makanan di kota. Kenapa kau datang menolongku?"
"Seorang Silverheart tidak pernah membiarkan orang lain kesusahan." Jawabnya dengan bangga. "Dan omong-omong, kau bisa tidak mengingat sesuatu yang lebih bagus daripada soal bayar makanan tadi?"
"Ahahaha, maaf ya. Terima kasih sudah menolongku."
"Ayo, sebaiknya kita cepat menyerahkan mereka pada pihak yang berwajib. Dalam keadaan hidup-hidup tentunya." ujar Edge.
Begitulah akhir dari penderitaan penduduk Ruava. Para bandit diikat dengan artifak penyegel sihir lalu diserahkan pada pihak berwenang. Para penduduk bersorak-sorai dalam sukacita. Bartender menggratiskan biaya makan Ray dan Ruby. Dan dalam selebrasi singkat itu, mereka berdua mengetahui bahwa para penolong mereka berasal dari sebuah guild bernama Silver Line.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar