Kamis, 28 Agustus 2014

Chapter 4: Mad and Area

Awalnya Ray mengusulkan untuk langsung kembali ke guild untuk melapor dan menandai bahwa misi yang mereka ambil selesai dengan sukses, tapi Ruby menolaknya, dia bilang Ray harus lebih sadar akan kondisinya dan beristirahat dulu selama sisa hari. Awalnya Ray menolak, tapi Ruby bersikeras memaksanya, hingga iapun menyadari bahwa ia tidak bisa menang berargumen melawan Ruby. Mereka sepakat untuk bertemu keesokan harinya. Hanya saja ada satu masalah: tempat bermalam. Mereka berdua adalah pendatang, dan tidak memiliki sanak saudara di kota ini.

"Bagaimana kalau kita mencari penginapan dulu, di kota sebesar ini pasti ada satu atau dua penginapan." usul Ruby

"Oke, aku juga tidak ada ide lain." sahut Ray.

Mereka berjalan bersama-sama hingga mereka menemukan satu bangunan yang cukup cocok disebut penginapan. Bangunan berlantai dua dengan beberapa jendela persegi empat di lantai duanya. Gorden sebagian jendela itu terbuka, sisanya tidak. Sepasang tanaman di tanam di dalam potnya di depan pintu. Sebuah papan besar menggantung di atas pintu, "Penginapan" tertulis di situ.

"Dua kamar untuk anda berdua?" tanya resepsionis kepada Ray dan Ruby.

"Benar, dua kamar." jawab Ruby.

"Baiklah, 50.000 Oeri untuk satu kamar, sudah termasuk makan malam dan sarapan. Terima kasih."

Setelah mendapat kunci kamar masing-masing, mereka berdua langsung beristirahat.

Ray mendapati bahwa kamarnya lebih bagus dari yang dia kira. Kamarnya cukup besar, atau malah terlalu besar, untuk satu orang. Ranjangnya terletak di tepi jendela yang gordennya tertutup. Di satu sisi kamar terdapat lemari kosong, yang Ray yakin adalah tempat untuk para pengelana dari jauh menaruh barang-barangnya, sementara di samping tempat tidurnya terdapat meja kecil tempat menaruh lilin untuk menerangi ruangan. Ray duduk di kasurnya sambil memandangi kamar tempatnya bermalam.

"50.000 Oeri memang agak mahal, tapi sepadan dengan kamar ini, aku jadi penasaran seperti apa sarapan besok pagi. Dengan hasil dari satu misi, kami bisa dapat cukup uang untuk bermalam di hotel seperti ini... tapi kalau terus-menerus sepertinya tidak akan mencukupi, haha. Mungkin sebaiknya kami mulai mencari tempat lain untuk tinggal."

Setelah sarapan yang sedikit terlalu mewah untuknya, Ray menunggu Ruby di luar penginapan. Tidak lama kemudian, Ruby muncul dari dalam penginapan dan mereka pun lalu berangkat bersama menuju guild.

Sesampainya di guild, tadinya mereka berharap untuk bisa bertemu dengan Lilly atau Edge, karena mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menandai bahwa sebuah misi telah selesai dilaksanakan dengan sukses. Tapi mereka tidak berpapasan dengan entah Lilly ataupun Edge dalam perjalanan, hingga sampai ke guild.

"Mungkin mereka ada di ruang misi, coba kita lihat ke sana." usul Ray.

Ruby setuju, dan mereka memeriksa ruangan dimana terdapat papan permohonan misi, Lilly dan Edge tidak bisa ditemukan di sana.

"Bagaimana ini? Mereka juga tidak ada di sini." ujar Ruby.

"Bagaimana kalau kita langsung saja ke ruangan wakil ketua guild? Kemarin Lilly dan Edge juga langsung menemuinya kan?" usul Ray.

"Baiklah, ayo kita ke sana."

Ray dan Ruby berjalan ke lantai 2 guild, mereka berhenti di depan pintu yang mereka kenali sebagai pintu ruang ketua guild. Ray mengetuk pintu, satu detik kemudian sebuah suara membalas dari dalam. Suara itu baru bagi telinga Ray dan Ruby, sebuah suara yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya. Untuk sesaat mereka ragu, tapi karena sudah dipersilahkan masuk, Ray mendorong pintu itu ke dalam.

Benar, seorang pria yang tidak pernah mereka temui sebelumnya duduk di kursi yang Lucia duduki saat terakhir kali mereka kemari. Pria itu tidak mungkin lebih muda dari Lucia, paling tidak dia beberapa tahun lebih tua. Rambut hitamnya dipotong pendek. Ia memandang Ray dan Ruby dengan wajah tegas dan kokoh, yang menggambarkan kekuatannya. Pandangan matanya serasa menusuk, bukan kepada kawan, tapi lawan. Ray sampai yakin kalau dia bukan orang Silver Line pasti pria ini tidak akan segan-segan menghajarnya. Lucia sendiri berdiri di samping meja besar di tengah ruangan itu, dengan selembar dokumen di tangannya.

"Kalian anggota baru kah?" tanya pria itu. Suaranya berat dan tegas.

"I-Iya, kami baru saja bergabung beberapa hari yang lalu." jawab Ray.

"Yang bersama Edge dan Lilly? Jadi itu kalian?" lanjut pria itu

"Be-Benar." kali ini Ruby yang menjawab.

"Begitu... aku sudah mendengar tentang kalian, tapi ini pertama kalinya kita bertemu langsung. Aku Diaz Vanarth, ketua Guild Silver Line. Salam."

"Ah, sa-saya Ray Silverheart."

"Dan saya Ruby Marchant. Senang bertemu anda." setelah itu suasana sunyi, Ray dan Ruby tidak tahu apa lagi yang harus dikatakan.

"Tujuan kalian kemari adalah?"

"Ah, kami ingin melaporkan keberhasilan misi kami." Ruby langsung menyahut, "Misi mencari seorang anak yang hilang di hutan di luar kota terlah berhasil dengan sukses."

"Kerja bagus. Ada lagi?"

"Tidak, hanya itu saja." jawab Ray.

"Begitu? Kalau tidak ada yang lain, kalian boleh pergi."

"Baik." jawab Ray dan Ruby bersamaan, sebelum mereka meninggalkan ruangan.

"Jadi dia ketua guild ini? Pancaran wibawanya terasa sekali ya." ujar Ray sambil menghela nafas saat mereka berdua menyusuri tangga ke lantai satu.

"Oh? Jadi kalian berdua sudah menemui ketua?"

Ray dan Ruby menyadari sebuah suara dari ujung bawah tangga. Edge dan Lilly berdiri di sana.

"Lilly! Aku mencarimu sejak pagi tadi, kemana saja kamu?" ujar Ruby, riang. Ia langsung memeluk Lilly.

"Ahaha, maaf maaf, tadi malam aku baru saja menyelesaikan misiku, aku kecapekan jadi hari ini aku tidur sampai agak siang."

"Bukannya setiap hari kau bangun siang?" sahut Edge.

"Oh Edge, aku tidak tahu kamu ingin aku hajar sekali lagi. Maukah kamu? Mau kan?" Lilly menarik keluar serulingnya.

"Ah tidak, terima kasih. Aku sudah tau kok rasanya."

"Hey, bagaimana kalau sesudah ini kita makan bareng? Kebetulan aku masih belum makan." tawar Lilly pada Ruby.

"Eh? Tapi aku sudah sempat sarapan tadi."

"Ayolaaah, sebagai anggota baru kalian tidak boleh menolak tawaran senior kalian. Aku yang traktir deh."

"Baiklah kalau kau memaksa."

"Begitu dong, tunggu dulu ya sampai aku selesai melapor." ujar Lilly.


Beberapa saat kemudian, Lilly, Edge, Ray, dan Ruby berkumpul bersama di satu meja di sebuah restoran di tengah kota. Seperti biasa, khas Kota Rect, makanannya cukup mahal. Sepotong besar kalkun yang dimasak dengan rempah-rempah terhidang dengan hiasan buah dan sayuran. Cukup untuk mereka berempat.

"Waah, kelihatannya enak." ujar Lilly saat makanan mereka dihidangkan. Sementara Ray dan Ruby hanya mematung.

"Emm... apa ini tidak terlalu mewah?" tanya Ruby

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Ini kan pesta merayakan pertama kalinya kalian berhasil menyelesaikan misi. Jangan sungkan-sungkan." jawab Lilly.

"Kurasa mereka bukan sungkan, tapi kaget melihat selera makanmu." sahut Edge.

"Wah Edge, dari kata-katamu itu sepertinya kamu ingin kujadikan makanan pelengkap kalkun ini, mau kah kamu?" balas Lilly sambil tersenyum ke Edge.

"Kadang-kadang aku heran bagaimana kamu bisa mengatakan hal semenyeramkan itu sambil tetap tersenyum." ujar Edge.

Tidak berapa lama kemudian, mereka semua mulai menikmati hidangan itu.

"Jadi? Apa kalian sudah memilih misi baru kalian?" tanya Lilly, sesudah beberapa kunyahan.

"Belum, kami belum memikirkan sampai sana sesudah baru saja kami menyelesaikan misi." jawab Ruby.

"Memangnya wajar ya kalau langsung mengambil misi baru sesudah yang sebelumnya selesai?" tanya Ray.

"Tentu saja wajar, itukan pekerjaan kita. Walaupun kita tetap punya kebebasan apakah akan langsung mengambil misi lain atau tidak, tapi pada umumnya begitu, para penyihir lain di guild lain juga langsung mengambil misi baru. Aku juga begitu. Yaah, walaupun kadang-kadang kami tidak mengambil misi baru sewaktu akhir pekan." jawab Lilly.

Ray dan Ruby mengangguk paham.

Tiba-tiba saja seseorang menutup mata Lilly dari belakang, Lilly yang kaget tanpa sengaja menjatuhkan pisau dan garpunya.

"Siapa itu? Siapa? Ayo cepat mengaku!" ujar Lilly sambil meronta-ronta.

"Sejak kapan kau di sini, Area?" tanya Edge.

"Apa?" teriak Lilly, tangannya memaksa dua tangan yang menutupi matanya untuk melepaskannya.

"Hai cewek sexy, sudah lama tidak ketemu kamu semakin enak dipandang ya." ujar pria itu.

Lilly langsung melompat bangkit, menjatuhkan kursinya, sambil menjauh dari pria yang entah dari mana datangnya itu.

"Area! Kenapa kau bisa ada di sini? Apa yang kau lakukan di sini?"tanya Lilly tiba-tiba.

"Kenapa nada bicaramu kasar begitu dengan temanmu yang sudah lama tidak bertemu?" tanya pria yang dipanggil Area itu

Ray dan Ruby memandangi pendatang baru itu dengan wajah keheranan. Usia pria ini masih muda sekali, sepantaran dengan Lilly. Wajahnya masih segar dan belum termakan usia. Rambut hitamnya dibiarkan pendek dan acak-acakan.

"Kenapa katamu? Kenapa kau harus bertanya? Apa kau lupa pada sifat menjengkelkanmu itu sendiri?" jawab Lilly.

"Siapa dia?" tanya Ray pada Edge sementara Area dan Lilly bersilat lidah.

"Area Spires. Salah satu penyihir terkuat di Silver Line, kalau soal sihir pertahanan dia yang paling hebat. Selain itu dia juga ahli sihir teleportasi, itu sebabnya dia bisa muncul tiba-tiba tadi." jawab Edge.

"Oh begitu? Aku yakin kau pasti sibuk sekali ya kalau kau harus langsung menemui pak ketua, kenapa kau tidak langsung menemuinya saja sekarang?" tanya Lilly dengan nada ketus.

"Jangan berkata begitu dong, aku kan belum bertemu denganmu. Lagipula," Area melirik ke Ray dan Ruby, "Mereka anggota baru kan? Paling tidak aku ingin memperkenalkan diri. Namaku Area Spires, Sang Perisai Silver Line. Senang bertemu kalian."

"Namaku Ray Silverheart. Dan darimana kau tahu kalau kami anggota baru?"

"Ah, kalau kau bersedia duduk satu meja dengan Edge, kau pasti anggota Silver Line."

"Apa maksudnya itu?" tanya Edge.

"Ah, Aku Ruby Marchant. Senang bertemu denganmu."

"Oh ya? Aku juga senang bertemu denganmu."

"Jangan bicara yang aneh-aneh dengannya!" bentak Lilly.

"Kenapa? Kau cemburu ya?"

Kata-kata tadi jelas memicu amarah Lilly, dia mengeluarkan serulingnya, dan mengeluarkan aura yang mengancam.

"Cukup!"

emosi Lilly meledak, dia memainkan nada dari serulingnya. Sihir Lilly memotong udara, menyerang Area.

TRAANG

Area membuat perisai untuk menahan serangan Lilly, berbeda dengan perisai pada umumnya, perisai Area berwarna keemasan. Dan tidak ada bekas gores sedikitpun di tempat Lilly mengenai perisai itu.

Wajah Lilly merengut keras hingga kedua alisnya nyaris bertemu, sementara Area hanya tersenyum riang.

"Pergi kau dari sini!" bentak Lilly.

"Iya iya, sampai jumpa ya Ruby." Area melambaikan tangan pada Ruby, Ruby terlihat bingung apakah harus membalas atau tidak. Setelah itu tubuh Area terbungkus cahaya biru,ketika cahaya itu hilang, Area ikut hilang bersamanya.

Lilly masih uring-uringan walaupun mereka sudah selesai makan siang. Ketika mereka berjalan pun dia masih memarahi Area yang tidak ada di situ.

"Kelihatannya kau tidak menyukai Area ya?" tanya Ruby pada Lilly

"Aku lebih suka kalau tidak melihat wajah orang mesum nomer satu di guild kita itu." bentaknya pada angin.

"Omong-omong, apa kalian tahu dimana tempat penginapan yang murah? Kemarin aku dan Ray mendapat tempat yang bagus, tapi agak mahal." Ruby berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

"Penginapan? Kalian tidak punya tempat tinggal lain di sini?" tanya Lilly. Ray dan Ruby menggelengkan kepala sebagai jawaban

"Kalau begitu kau bisa tinggal denganku saja, bagaimana?"

"Benarkah? Tapi apa tidak mengganggu?"

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Kebetulan aku tinggal sendiri di apartemenku, aku juga senang kalau ada teman untuk menemaniku."

"Waaah, terimakasih." Ruby dan Lilly bersorak gembira ala perempuan sambil bergandengan tangan.

"Anu, bagaimana denganku?" tanya Ray.

"Ah benar, untukmu... Edge?" Lilly melirik ke yang ditanya.

"Hah? Aku tidak punya tempat tidur lagi, kalau kau tidak keberatan tidur di lantai sih silahkan saja."

"Jangan berkata seperti itu pada anggota guild sendiri." tegur Lilly. Ia lalu melanjutkan, "Hm... kurasa ada satu apartemen murah di daerah pemukiman kota. Jelas tidak semewah penginapan, tapi tidak mahal sama sekali kok. Kalau kau bisa membayar sewanya setiap bulan, tidak ada masalah."

"Baiklah, aku akan mencari apartemen itu nanti."

"Kalau kalian tidak ada kesibukan, bagaimana kalau sekarang kita pergi memilih misi di guild?" tawar Lilly.

"Apa kita akan melakukan misi bersama berempat?" tanya Ray.

"Mungkin saja, yang penting sekarang kita kembali ke guild dulu." jawab Lilly.

Sesampainya di guild, mereka langsung bergegas menuju ruang misi. Tapi mereka dikagetkan oleh seseorang yang berjalan keluar dari ruang misi itu. Seorang laki-laki tinggi besar. Kepalanya yang botak licin menarik perhatian Ray. Tatapan matanya yang tajam seakan mampu menebas batinnya.

"Menyingkir dari jalanku!" bentak pria itu pada mereka.

"Wah wah, Mad. Jarang-jarang aku melihatmu di guild? Angin apa yang membawamu kemari?" tanya Lilly.

"Apa urusanmu? Aku bisa datang dan pergi kapanpun aku mau kan?"

"Termasuk berbuat semaumu selagi kau menjalankan misi atas nama guild? Tidakkah kau sadar tindakanmu merugikan kami semua?"

"Berani juga kau berkata seperti itu padaku, kau kira kau siapa hah?" pria yang dipanggil Mad itu semakin marah, dia memelototi Lilly dari jarak dekat.

"Hentikan, Mad. Kalau tidak..." Edge menimpali.

"Kalau tidak kenapa hah?" dia memalingkan wajahnya ke Edge. Edge diam tidak melanjutkan kata-katanya, "Kau kira lemah seperti kau bisa mengancamku?"

"Mad, aku sebenarnya tidak suka kalau harus bertarung melawan anggota guild sendiri, tapi kalau kau terus bersikap seperti ini, aku tidak akan tinggal diam." ujar Lilly.

"Begitu? Kalau begitu kenapa kalian tidak mencoba saja, bekerja samalah mungkin dengan begitu kalian bisa mengalahkanku."

Edge, Lilly, dan Mad saling beradu pandang mengancam. Ray dan Ruby yang tidak tahu mengenai perselisihan mereka hanya diam saja di balik Edge dan Lilly.

"Mad! Apa yang kau lakukan di sini?" ujar sebuah suara dari belakang Ray. Ketika mereka semua menoleh, Ray mengenali si asal suara: gadis kecil bernama Raisha yang dia temui ketika pertama kali datang ke Silver Line.

"Raisha..." ujar Mad. Kata-katanya terhenti sampai situ.

Suasana hening, semua terdiam, seluruh mata tertuju pada Raisha yang berkacak pinggang.

"Kau dilarang bertarung melawan teman satu guild sendiri." ujar Raisha.

"Aku tahu itu." balas Mad, sebelum Raisha sempat menutup mulutnya.

"Lalu?"

Pertanyaan Raisha menggantung di udara, menunggu untuk dijawab.

Tidak ada yang menjawab. Mad hanya berjalan melewati mereka berempat, lalu Raisha, lalu keluar, tanpa berkata apa-apa.

Raisha mendekati mereka berempat, lalu berkata, "Maaf ya, Mad memang arogan dan terlalu individualis. Dia tidak terlalu bersahabat dengan orang-orang, tapi bukan berarti semua anggota guild ini seperti itu."

Ray menyadari kata-kata itu ditujukan pada dirinya dan Ruby, sebagai anggota baru.

"Omong-omong, kalian melihat Elise? Seharusnya kami pergi menjalankan misi bersama hari ini, tapi aku belum menemukannya." lanjutnya.

Mereka semua saling memandang, sebelum menjawab, "Entahlah, kami juga belum melihatnya hari ini."

"Begitu... ada dimana ya dia? Tidak mungkin kalau dia pergi duluan, kita sudah berjanji untuk bertemu di guild." Raisha menempelkan satu jari ke pipinya.

"Omong-omong, misimu apa sih?" tanya Ray.

"Mengajar sihir privat untuk anak orang kaya." jawab Raisha.

"Hah? Mengajar? Aku selalu mengira misi di guild selalu berhubungan dengan pertarungan, atau semacamnya, ternyata tidak ya."

"Kalau semua misi di guild adalah bertarung dan bertarung, kita pasti hidup di masa yang menakutkan." jawab Lilly.

Raisha tertawa kecil sebelum melanjutkan, "Lagipula, aku bercita-cita untuk menjadi seorang guru suatu saat nanti. Jadi pengalaman mengajar orang ini sangat penting."

Tiba-tiba pintu guild terbuka, dan mereka semua melihat satu lagi gadis kecilnya guild ini mengintip dari balik pintu yang terbuka sebagian. Rambut hitamnya yang panjang menutupi sebagian wajahnya.

"Elise, kenapa kau mengintip untuk masuk ke guild sendiri?" tanya Raisha, sambil berlari ke arah gadis itu.

"Ayo kita juga memilih misi untuk kita sendiri." ujar Ruby. Lilly mengiyakan.

Di dalam ruang misi, mereka menelusuri kertas-kertas permohonan yang tertempel di papan satu persatu. Hingga akhirnya mereka menemukan satu misi yang menarik.

"Ini dia, menangkap buronan, misi level A. Hadiahnya juga cukup besar biarpun dibagi 4 orang." ujar Lilly.

"Apa tidak apa-apa kalau kita langsung melakukan misi level A?" tanya Ruby.

"Tenang saja, ada aku kok. Semuanya pasti baik-baik saja." jawab Lilly

"Baiklah kalau begitu, ayo kita lakukan misi ini!" ujar Ray, bersemangat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar