Minggu, 07 September 2014

Chapter 5: The A level mission

Area melangkah masuk setelah dipersilahkan oleh Diaz.Raut wajahnya tidak terlihat terlalu gembira saat ia memasuki ruangan.Diaz mengesampingkan dokumen yang tadi di hadapannya. Lucia yang berdiri di samping meja utama menyambut Area.

"Selamat datang kembali Area, kami senang kau kembali dengan selamat. Mengingat misi yang kau terima sangatlah berbahaya."

"Yeah, mengintai segerombolan orang2 berbahaya tanpa ketahuan dan mencoba mengambil informasi penting dari mereka. Salah sedikit aku pasti sudah mati."

"Jadi? Aku asumsikan itu berarti misimu berhasi;?" tanya Diaz

"Tidak, sayang sekali aku gagal. Aku ketahuan oleh salah seorang dari mereka. Aku hampir mati tapi untungnya aku berhasil melarikan diri. Tapi lihatlah sisi baiknya, aku tidak kembali dengan tangan kosong. Aku bisa menguak sedikit informasi dari mereka." Area berdehem, membersihkan tenggorokannya sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Ekspresi wajah Diaz dan Lucia berubah serius, "Seperti yang sudah diperkirakan, guild mereka adalah kumpulan para kriminal dan buronan berbahaya level S. Aku melihat 4 orang anggota kelompok mereka, tapi dari yang kudengar, jumlah mereka lebih banyak dari itu. Mereka menyebut guild mereka sendiri dengan White Moon."

"Begitu... apa lagi yang kau dapat?" tanya Diaz

"Sebelum aku ketahuan, aku sempat mendengar bahwa mereka mencari 'Harta Purbakala', artifak2 dalam legenda, walaupun aku belum sempat mencari tahu untuk apa mereka mencari Harta Purbakala itu."

Diaz terdiam, Lucia pun tak berkata apa-apa. Tapi dari suasananya, Area bisa menebak bahwa dia baru saja memberitahu sesuatu yang sangat penting, atau berbahaya, atau malah gabungan dari keduanya.

"Kau tahu apa fungsi dari Harta Purbakala?" sekali lagi, Diaz mengajukan pertanyaan pada Area.

Area terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat lagi tentang legenda Harta Purbakala, sebelum akhirnya dia menjawab.

"Menurut legenda, Harta Purbakala akan membuka kunci menuju kerajaan yang hilang, Astelaath. Astelaath, kerajaan besar yang dulu pernah berjaya di Benua Dorton ini, menghilang secara misterius ratusan tahun lalu. Tidak ada yang pernah tahu apa penyebabnya, tapi kalau seseorang berhasil menemukan kesemua Harta Purbakala, maka dia bisa membuka kembali Astelaath."

Diaz menganguk-angguk mendengar penjelasan Area, jelas jawaban itu memuaskannya.

"Kau tahu Area? Ada alasannya mengapa ada guild kita dan Gold Hawk didirikan di kota ini."

Area tidak bisa menjawab, tapi ekspresi wajahnya tidak mengagetkan Diaz sama sekali.

"Dua guild ini didirikan dengan menanggung satu rahasia, satu tanggung jawab besar. Apa yang akan aku beritahu padamu adalah rahasia besar, kau harus menjaganya seakan-akan itu adalah nyawamu yang kedua. Area Spires, apakah kau sanggung membawa rahasia itu di pundakmu?"



Matahari bersinar cerah di atas kepala mereka berempat. Awan-awan berarak tinggi di angkasa, angin yang lembut menyapu wajah mereka. Sudah beberapa hari berlalu sejak mereka memutuskan untuk mengambil misi bersama. Ray, Ruby, Lilly, dan Edge kini berada di mulut sebuah hutan lebat di ujung timur kerajaan Arkascha. Padang rumput yang luas di belakang mereka, pepohonan yang tinggi menjulang di hadapan mereka.

"Jadi... di sini kah?" tanya Edge.

"Ya." jawab Lilly yakin, "Buron itu berhasil kabur saat sedang dibawa menuju kota penjara Il Janra di selatan kita, kalau dia lari menuju selatan itu sama saja menyerahkan diri. Kota-kota lain di selatan adalah kota pelabuhan, dia bisa saja pergi ke sana tapi pelabuhan pasti dijaga ketat oleh para prajurit. Jadi satu-satunya tempat lari adalah hutan ini. Hutan luas yang karena luasnya, ujung timurnya bahkan belum terpetakan."

"Tapi bisa saja kan dia lari ke utara? Ada beberapa desa ke sana." sahut Edge sambil melirik ke arah yang dia maksud.

"Tapi tetap saja bukan tempat persembunyian yang bagus, lokasi desa-desa itu terlalu terbuka, dia bisa ketahuan kalau pergi ke sana. Kalau pergi ke hutan dia bisa bersembunyi dan sekaligus mendapatkan bahan makanan selama menghilang."

"Oke! Jadi dia di sini ya? Mari kita tangkap dia!" seru Ray.

"Kau membuatnya terkesan mudah saja." balas Edge.

"Oh? Aku tidak tahu kalau ada orang juga di sini?" ujar sebuah suara dari belakang mereka.

Saat mereka menoleh mereka melihat seorang laki-laki dan perempuan berjalan menghampiri mereka.

Rambut hitam panjang si perempuan berkibar-kibar ditiup angin. Matanya yang biru memancarkan kedamaian, kulitnya yang putih bagaikan memantulkan cahaya matahari.

Si laki-laki berjalan sedikit di belakangnya. Wajahnya datar, tidak terlihat ekspresi apapun di sana selain tanda kemudaannya. Mata hitamnya mematahkan segala upaya siapapun yang mencoba membaca pikirannya.

"Boleh aku tanya siapa kalian dan sedang apa kalian di sini?" tanya perempuan itu sekali lagi.

"Bisa beritau aku kenapa aku harus memberitahu kalian?"
"Edge!" bentak Lilly.

"Maafkan dia. Kami dari Silver Line, namaku Lilly, anak kurang ajar ini Edge, ini Ruby, dan dia Ray. Kami sedang menjalankan misi kami di sini."

"Namaku Eleanor Davre, dan dia Fabio Rolendis. Kami dari Gold Hawk dan kebetulan kami juga sedang melakukan misi di sini."

"Benarkah? Aku penasaran... apakah mungkin misi kita sama?" tanya Ruby.

"Oh ya? Kami sedang memburu seseorang... ini dia." Eleanor menunjukkan sketsa wajah seseorang, yang dikenali oleh rombongan dari Silver Line

"Itu dia! Kami juga sedang mengejar orang itu!" ujar Ruby.

"Kalau kau juga datang kemari berarti kita memikirkan hal yang sama." kata Lilly.

"Jadi? Apa kita semua akan mencarinya bersama-sama?" usul Ray.

"Hah? Tapi kita dari guild yang berbeda." bantah Edge

"Benar... akan timbul masalah nanti kalau dua guild berbeda menyelesaikan satu misi yang sama... misalnya saja pembagian uang dan reputasinya jadi bagaimana kalau begini saja: siapa yang menemukan buron itu duluan, dia yang mendapat hadiahnya. Setuju kan? Kalau berkompetisi seperti ini jadinya makin menyenangkan." usul Eleanor.

Mereka berempat saling memandang satu sama lain, mencoba mencari kesepakatan visual di antara mereka.

"Aku tidak keberatan." ujar Edge

"Aku setuju." jawab Ruby

"Kedengarannya seru, aku setuju!" sahut Ray.

"Aku juga setuju." ujar Lilly

"Baiklah kalau begitu, ayo kita mulai!" seru Eleanor




Beberapa saat kemudian, mereka semua sudah di dalam hutan, terbagi dalam dua rombongan. Grup Silver Line menyusuri satu sisi hutan sementara grup Gold Hawk ke sudut hutan yang lain. Pepohonan tinggi menutup langit, menjadi atap alami bagi mereka semua.

"Omong-omong, hutan ini luas sekali ya." ujar Ruby ketika mereka sedang menyusuri hutan

"Ya, hutan ini jauh lebih luas dari kota-kota di penjuru Arkascha. Apalagi sisi timur hutan ini masih belum dipetakan, itu sebabnya hutan ini menjadi perbatasan sisi timur Kerajaan Arkascha." jawab Lilly

"Tempat persembunyian yang sempurna untuk siapapun yang lari dari kerajaan. Hey tunggu... kalau memang hutan ini begitu luas, bukankah besar kemungkinan kita akan tersesat?"

"Tenang saja, aku sudah membuat peta." ujar Ray, yang berjalan paling belakang sendiri, "Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." ujarnya sambil menggambar garis-garis di atas selembar perkamen.

"Hee... cepat tanggap juga kau ya." ujar Edge.

Mereka berjalan menyusuri hutan, melalui jalan setapak yang berbelok-belok di beberapa tempat dan bercabang di tempat lain. Bebungaan, rerumputan, dan pepohonan menyelimuti mereka semua. Beberapa hewan hutan seperti tupai dan kelinci terkadang melintas di depan mereka.

"Kita tidak menemukan jejak manusia sedikipun di sini, kalau dia memang bersembunyi di sini hebat sekali dia menghilangkan jejaknya." ujar Edge

"Jangan berkata seperti itu, kita bahkan belum satu hari di hutan ini, buronan itu pasti sudah lama bersembunyi di sini." sahut Lilly.

Tiba-tiba saja seekor lebah melintasi atas kepala Ruby, Ruby yang kaget langsung memeluk lengan Lilly.

"Kenapa?"

"L-L-Lebah."

Pandangan mereka semua tertuju ke hewan kecil yang membuat Ruby gemetaran. Memang benar, dua ekor lebah terbang di dekat mereka.

"Itu hanya lebah."

"J-Justru karena itu lebah.Pergi kau lebah!" Ruby mengibas-kibaskan tangannya, menembakkan peluru air yang tanpa sengaja menghantam sarang lebah hingga jatuh. Jumlah lebah yang beterbangan langsung berlipat ganda menjadi puluhan.

"AAAAAAHHH" Ruby berteriak begitu keras hingga hampir memecahkan telinga Lilly.

"Aah, berisik sekali sih. Itu hanya lebah. Akan kubereskan." ujar Edge sambil menghimpun tenaga apinya.

"Flame tongue." api menyembur, langsung membakar kawanan lebah itu sebelum sempat menjadi ancaman bagi mereka.

"Lihat kan? Sudah beres. Eh?" kata tanya Edge tertuju pada seseorang yang seharusnya di sana, tapi tidak ada. Lilly berdiri sendiri, orang yang memeluk lengannya sudah menghilang.

"Kemana dia? Sejak kapan dia hilang?" tanya Ray.

"Kita harus segera menemukannya, tersesat di hutan seluas ini bukan ide yang bagus." ujar Lilly.



Ruby terus berlari dan berlari tanpa melihat arah. Hingga akhirnya dia tersandung akar pohon yang mencuat hingga terjatuh.

"Aduuuh, sakiit. Eh? Di mana ini?" tanyanya sambil melihat sekeliling. Saat itu dia menyadari bahwa ia terpisah dari rombongannya.

"Teman-teman... di mana kalian?" teriaknya sambil berjalan kembali.

Setelah berjalan beberapa meter dia mendengar sebuah suara dari dalam hutan. Suara rumput yang terinjak kaki, dan ranting-ranting yang patah.

"Siapa di situ? Manusia kah? Atau bukan?" tanyanya sambil mengambil posisi siaga. Di pengalaman terakhirnya, ia bertemu beruang raksasa.

Ternyata yang keluar dari balik semak-semak hanyalah seorang manusia. Sejenak ia menarik nafas lega, tapi sedetik kemudian ia menyadari siapa yang dia lihat: buronan yang mereka cari! Fisiknya sedikit berbeda dari yang ada di ilustrasi, jenggotnya tidak selebat yang digambarkan melainkan dicukur rapi melingkari mulutnya, dan rambutnya kini sudah dipotong gundul. Tapi selain itu wajahnya sama persis, terutama matanya yang memancarkan hasrat membunuh.

"Kau! Kau orang yang aku cari! Borus si kera setan!"

"Kau tahu aku ya? Sayang sekali gadis kecil tapi aku harus membunuhmu sekarang, sebelum kau memberitahu orang lain!"

"Coba saja kalau kau bisa!" Ruby langsung menghimpun energi sihirnya, bersiap untuk bertarung.

Tiba-tiba saja Borus memancarkan energi sihir yang menakutkan, lebih besar dari milik Ruby. Tekanannya sampai membuat keringat dingin Ruby membasahi keningnya.

Angin berputar di sekitar Borus saat pancaran energinya semakin meninggi, sesaat kemudian tubuhnya diselimuti cahaya keperakan yang menyilaukan mata. Ketika tiba saatnya cahaya itu meredup, wujud Borus berubah.

Tubuhnya bukan berupa manusia lagi, melainkan seekor kera raksasa setinggi 2 meter lebih. Tubuhnya berwarna keperakan sepenuhnya, mulai dari ujung kepala hingga ujung ekor.

"Kau penyihir shapeshift?" teriak Ruby terkejut ketika menyadari siapa lawannya.

"Ya. Aku bisa mengubah tubuhku ke wujud seperti ini untuk meningkatkan kekuatan fisik dan sihirku. Penyihir biasa tidak akan bisa menandingiku dalam wujud ini. Kau akan kubunuh dengan mudah."

"Teman-teman, maaf karena aku sudah lari tapi sekarang aku benar-benar butuh bantuan kalian." bisik Ruby pada dirinya sendiri, seakan berharap Dewa mendengar permintaannya.

Borus menerjang maju dengan kepalan tangan terangkat, Ruby yang telah siap langsung membentuk senjata dengan airnya.

"Morning star!"

Serangan Ruby bertemu kepalan tangan Borus, senjata itu langsung pecah, Ruby pun terdorong mundur dari tempatnya berdiri.

Borus tidak berhenti, dia melanjutkan serangan kedua dengan tangan satunya. Ruby sekali lagi membentuk senjatanya.

"Spear!"

Tombak panjang terbentuk dari ujung tangan Ruby, jangkauannya lebih panjang dari lengan kera Borus, kena telak di bagian dada. Langkah Borus pun terhenti.

"Brengsek!" geram Borus, dia lalu berputar dan menyabet Ruby dengan ekornya. Ruby terpental jatuh.

Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Borus melompat tinggi ke udara, lalu jatuh dengan tinju lebih dulu dalam usahanya melumat Ruby.

Untungnya Ruby sempat berguling menghindar sehingga pukulan itu hanya menghantam tanah, tapi gelombang kejut yang dikeluarkan mementalkan Ruby hingga menghantam batang pohon. Darah mengucur keluar dari mulutnya.

Untuk kedua kalinya, Borus tidak memberikan kesempatan bagi Ruby untuk bersantai. Ia kembali menyerang. Sekali lagi, Ruby mempertahankan dirinya dengan cara yang sama.

"Spear!" dan sekali lagi pula, serangan itu mengenai Borus sebelum serangan Borus mengenai dirinya.

"Gah!" kembali, Borus menyabetkan ekornya. Kali ini Ruby melompat menghindari serangan itu hingga hanya membelah batang pohon.

Ruby mengangkan tangannya tinggi-tinggi, dan membuat satu senjata di satu tangan.

"Axe!"

Kapak air bermata dua itu disabetkan vertikal dengan tujuan membelah Borus, tapi si sasaran sempat mengangkat tangan untuk menahan serangan itu.

Ruby terkejut karena serangannya kali ini berhasil ditahan oleh musuhnya. Borus, yang menyadari itu langsung memanfaatkan kelengahan Ruby, dengan menendangnya kuat-kuat.

Ruby terpental jauh, berguling-guling di atas rerumputan sebelum akhirnya berhenti. Sekali lagi darah mengucur keluar dari bibirnya, hanya saja kali ini lebih parah.

Borus melangkah mendekat, langkahnya terdengar berat. Bagi Ruby suara langkah itu bagaikan pertanda bahwa yang mendekat adalah malaikat kematian.

"Nikmatilah masa hidupnya yang tinggal beberapa detik lagi, sebelum akhirnya kubuat kau tertidur untuk yang terakhir kali. Dalam mimpimu nanti kau pasti menyesal, karena sudah berusaha melakukan tindakan konyol untuk menangkapku." setelah mengucapkannya, Borus melompat tinggi ke udara, turun kembali dengan tangan lebih dulu.

"Dengan ini selesailah sudah!"

Lengkingan yang tinggi terdengar di udara. Sesaat setelah itu, serangan tak kasat mata membelah udara, memotong beberapa batang pohon, sebelum akhirnya mengenai Borus dengan telak. Borus pun terjerembab di tanah.

"Siapa itu?" tanyanya dengan geram saat dia beranjak bangkit.

Angin berhembus membawa keharuman tubuh perempuan itu, perempuan itu melangkah mendekat, serulingnya masih dipegangnya. Ruby tersenyum lega melihat kehadiran penolongnya.

"Maaf ya Ruby, aku terlambat." ujar Lilly.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar