Matahari sudah tertidur di ufuk barat, di langit yang gelap ini bulan menggantikannya untuk menjadi penerang, walaupun bentuknya tidak bulat sempurna. Persiapan untuk pertarungan kehormatan sudah selesai dilakukan. Tiang-tiang obor dideretkan membentuk lingkaran besar di alun-alun desa, sebuah api unggun besar menyala di tengah-tengah alun-alun. Ruby dan pria tinggi besar yang mereka temui tadi kini berdiri berhadap-hadapan, mereka berdua memegang gelas yang dibuat dari tanah liat, cairan berwarna kuning memenuhinya.
Pria itu mengangkat gelasnya lalu berkata, "Aku, Niozo Faren, menginginkan hancurnya Klan Siren dengan kematian Ruby Siren. Sebagai harganya, aku mempertaruhkan nyawaku sendiri." setelah mengucapkannya, dia menenggak gelasnya hingga tandas.
Setelah itu, giliran Ruby yang mengangkat gelasnya, "Aku, Ruby Siren, menginginkan terputusnya hubunganku dengan intrik politik di Nameless Sea. Sebagai harganya, aku menawarkan diriku sebagai budak pemenang." Ruby pun meminum habis minumannya.
Setelah itu mereka berdua berbalik dan kembali ke grupnya masing-masing, Ruby menemui teman-temannya, dan Niozo ke para petarungnya.
"Biar kujelaskan aturan bertarungnya." ujar Ruby, "Pertarungannya adalah pertarungan 5 ronde, pihak yang memenangkan 3 pertarungan terlebih dahulu yang menang dan dia mendapatkan apa yang diinginkannya tadi. Pihak yang kalah harus membayar kekalahannya dengan apa yang tadi dijanjikannya. Siapa saja dari masing-masing pihak boleh maju, termasuk yang mengucapkan keinginannya, tapi diwakili 5 petarung lain pun boleh. Walaupun ada 5 ronde, tapi tiap petarung dari masing-masing pihak boleh bertarung lebih dari sekali kalau dia merasa mampu."
"Begitu? Cukup mudah dimengerti." ujar Ray.
"Oh iya, tidak ada wasit di pertarungan ini. Kalian dianggap kalah kalau menyerah atau tidak mampu melanjutkan pertarungan."
"Aku ada pertanyaan: apa yang terjadi pada kami kalau kita kalah?" tanya Edge.
"Tidak ada. Karena aku tidak menawarkan kalian sebagai bayaran. Kalian boleh pulang kalau kita kalah, aku tidak ingin ikut menyusahkan kalian lebih dari ini."
"Tenang saja, kita tidak akan kalah." ujar Area, Ruby tersenyum mendengarnya.
"Jadi? Siapa yang akan bertarung pertama?" Edge bertanya lagi.
"Biar aku saja, rasanya aku cocok menjadi pembuka." jawab Area sambil melangkah maju.
Di tengah Arena, tak jauh dari api unggun, Area berhadap-hadapan dengan lawannya, seorang pria kurus kering dengan baju yang sama tipisnya dengan dagingnya.
"Kau lawanku? Kau tidak terlihat seperti penyihir tangguh." ledek Area.
"Jangan khawatir, aku bisa mengubah pendapatmu soal itu."
Mendadak, tekanan sihir yang besar dan menekan meluap keluar dari laki-laki ceking itu. Tekanannya mengagetkan Edge, Ray, dan Ruby, walaupun Area terlihat tenang saja. Angin kecil berputar di kaki orang itu, lambat laun angin berputar semakin cepat. Tak lama kemudian, tubuhnya diselimuti cahaya keperakan.
"Shapeshift ya?" ujar Area pelan.
Ketika cahaya keperakan itu memudar, pria itu sudah berwujud ular perak raksasa, panjangnya dari kepala hingga ekor paling tidak enam meter. Ular itu mengangkat kepalanya tinggi di atas tanah, menatap rendah Area di depannya. Mulutnya menganga lebar memamerkan dua taringnya, lidah hitamnya menjilat-jilat udara.
"Masih mengira aku tidak terlihat seperti musuh yang tangguh?"
"Sebenarnya sih... iya." jawab Area santai.
Ular yang tersinggung itu marah, ia menerjang Area yang tampak kecil di hadapannya.
Area mengangkat tangan kanannya, cahaya hitam memancar dari tangan itu. Awalnya kecil, tapi lambat laun cahaya hitam itu menyelimuti Area dan kepala ular. Ekor ular yang tidak terbungkus cahaya hitam itu bersinar terang menjadi cahaya perak, sebelum akhirnya cahaya itu memendek hingga ke dalam cahaya hitam.
Akhirnya cahaya hitam itu mengecil dan menghilang ke tangan kanan Area tadi. Semua orang melihat pria ceking itu terkapar di tanah, sementara Area masih berdiri di tempatnya.
Semua orang terdiam, kaget dengan apa yang terjadi, beberapa orang berbisik-bisik soal apa yang terjadi.
"Apa... apa itu tadi?" tanya Ray.
"Oh, kau tidak tahu ya? Area bisa sihir yang membalikkan shapeshift." jawab Edge.
"Membalikkan shapeshift? Apa itu benar-benar bisa dilakukan?" lanjut Ray.
"Kau baru saja melihatnya kan? Apa masih ada yang kau ragukan?"
Ray masih terbengong-bengong walaupun setelah mendengar penjelasan Edge.
Area menatap Niozo lalu berteriak, "Satu wakilmu sudah kalah. Aku menang. Siapa berikutnya?"
Alis Niozo merengut kesal karena salah seorang penyihir terbaiknya kalah begitu saja. Ia lalu memerintahkan seorang lagi untuk maju.
Yang maju berikutnya adalah seorang perempuan berambut hitam panjang. Tatapan matanya yang tajam & kejam bagai menusuk mata Area yang menatapnya. Atasannya baju sederhana tanpa lengan berwarna biru, rok yang berwarna senada menutupi pahanya hingga lutut.
"Kau lumayan cakep juga, kalau kau mau tersenyum sedikit aku akan mengaku kalah."
"Jangan bercanda!" perempuan itu membuka telapak tangannya, menyemburkan air dari situ. Area tetap tenang, perisai sihirnya berhasil mencegah serangan itu mengenai dirinya.
"Jangan marah begitu dong. Paling tidak kau bisa memberitahuku namamu kan?"
"Aku Erlia. Dan kau akan mati. Water sphere!" mendadak air di sekitar Area dengan cepatnya bergerak membentuk bola yang mengurung Area bersama perisainya. Erlia tersenyum puas.
Tapi Area tidak terkurung dalam bola itu terlalu lama, karena ia segera melakukan teleport keluar dari situ, lalu muncul lagi di belakang Erlia.
"Aku tadi memang memintamu tersenyum, tapi bukan senyum seperti itu yang kumaksud. Apa kamu tidak bisa tersenyum dengan lebih manis?"
bukan senyum yang dibuat bibir Erlia, tapi gertakan gigi karena kesal. Ia menembakkan air lagi ke Area. Yang sekali lagi menahannya dengan perisai.
"Kau tidak punya serangan lain? Maaf saja tapi kalau cuma segini masih bisa ditahan oleh perisaiku."
"Aku memang berencana menunjukkannya padamu!" perempuan itu lalu mengangkat tangannya ke atas lalu berteriak, "Maelstrom!"
Air-air di sekitar Area dalam sekejap membentuk menara air yang berpilin cepat. Area terbungkus dalam menara air itu, dia terlontar ke atas, dan jatuh lagi ke tanah begitu menara air itu terburai. Ia terbatuk sambil mengaduh kesakitan.
"Sihirmu tadi boleh juga." ujarnya sembari bangkit.
"Simpan saja pujianmu!" Erlia menembakkan sihir airnya lagi. Kali ini Area tidak membuat perisai, dia malah teleport ke belakang Erlia.
"Serangan airmu mungkin biasa-biasa saja, tapi yang perlu diwaspadai adalah serangan keduamu, serangan lanjutan setelah siraman air. Itu yang berbahaya. Kalau sudah tau itu, melawanmu akan mudah."
"Ukh... itu benar, tapi ada satu hal yang tidak kau ketahui. Aku bisa langsung melakukan sihir itu dalam jarak dekat. Maelstrom!"
Tiang air berpilin itu tercipta lagi di belakang Erlia, hanya saja kali ini Area sempat teleport beberapa langkah jauhnya.
Erlia membuka tangannya hendak menembakkan air ke Area, tapi terlambat karena Area membuka tangannya dulu ke Erlia, lalu perempuan itu pun terlontar kebelakang seperti ditendang dengan kuat.
"Telekinesis?" geram Erlia saat bangkit. Perempuan itu dengan cepat menembakkan dua semburan air dari telapak tangannya. Area mengacungkan kedua tangannya ke semburan itu, semburan air itu langsung berputar berbalik arah, menghajar Erlia di wajah dan dadanya hingga ia terjerembab.
Saat Erlia hendak bangkit, Area kembali mengacungkan tangannya ke perempuan itu, menekannya kuat-kuat ke tanah.
"Menyerah sajalah." ujarnya.
Erlia berusaha bangkit, tapi dia malah ditekan lebih kuat lagi oleh Area.
"Aku... aku menyerah." segera sesudah mengatakan itu, Area melepaskan tekanannya terhadap Erlia. Ia lalu berbalik menemui teman-temannya.
"Area, kau hebat sekali!" sorak Ray.
"Heh, itu bukan seberapa, aku masih bisa bertarung lagi sesudah ini." Area menyombongkan diri.
"Terima kasih Area, tapi kau sudah cukup banyak bertarung. Aku tidak ingin menyerahkan pertarungan ini sepenuhnya padamu. Berikutnya, aku yang akan maju." ujar Ruby mantap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar