Matahari terik menyinari pohon kelapa, pasir pantai, dan laut. Debur ombak menghantam jinak bibir pantai, seekor kepiting berjalan menyusuri pantai. Di pantai tak berdosa itu, sesuatu bersinar di tepi hutan di pantai itu, sebuah cahaya biru menyala terang. Cahaya berbentuk lingkaran itu lama kelamaan memudar, dan ketika cahaya itu menghilang seluruhnya, empat orang berdiri di tempatnya. Ray, Ruby, Edge, dan Area.
"Di mana kita?" tanya Ray
Ruby melihat sekeliling sebelum menjawab, "Aku tahu tempat ini, pantai di salah satu pulau. Cukup dekat dengan pulau utama."
"Untunglah Area tidak membawa kita ke tempat yang salah." ujar Edge
"Maaf ya, tapi aku tidak pernah salah kalau teleportasi."
"Jadi sekarang kita ke mana?" tanya Ray lagi.
"Aku tahu harus ke mana, ikuti aku." ujar Ruby.
"Tunggu, apa tidak bisa dengan teleportasi saja?" cegat Edge
"Bukannya kau tidak percaya pada teleportasiku?"
"Tidak, lebih baik kita jalan kaki saja, Area tidak kenal daerah ini, kalau salah kita bisa tercebur di laut atau rawa."
"Kalau begitu lebih baik kita jalan saja" ujar Edge.
Ruby pun memimpin rombongan itu ke dalam hutan, melalui jalan setapak. Batang-batang pepohonan mengepung mereka dari kanan dan kiri, sementara dahan, cabang, dan ranting berusaha sekuat tenaga mereka untuk mencegah cahaya matahari menyentuh tanah.
Untuk kesekian kalinya, Ray mendapati dirinya berada di hutan, hingga kini dia merasa sudah terbiasa berada di tengah-tengah suasana seperti ini. Aroma pepohonan yang khas, serangga yang beterbangan, dan suara-suara dari balik rerumputan.
Mereka berbelok beberapa kali di jalan setapak itu, semakin lama semakin jauh ke dalam hutan. Di beberapa persimpangan, Ruby terdiam sebentar sebelum memilih jalan yang tepat, tapi di sebagian besar persimpangan yang lain, langkahnya penuh percaya diri.
"Sepertinya kita semakin ke tengah hutan? Apa kita menuju tempat yang tepat?" tanya Ray.
"Tujuan kita ada di balik hutan ini." jawab Ruby, "setelah keluar di sisi seberang hutan, kita bisa melanjutkan perjalanan hingga ke pulau utama. Kebetulan kita tidak jauh."
"Begitu... lalu berapa luas hutan ini?" sekarang Edge yang bertanya.
"Kira-kira satu hari perjalanan."
"Aku bisa lho men-teleport kalian."
"Terima kasih Area, tapi aku ingin berjalan, berjalan di hutan ini lagi membuatku mengingat kembali masa kecilku dulu."
dan setelah percakapan singkat itu, mereka semua melanjutkan perjalanan.
Setelah cukup lama mereka berjalan, matahari sudah jatuh ke ufuk barat, cahayanya melemah setelah bersinar terang seharian, tak lama lagi perannya aka digantikan oleh bulan. Tim perjalanan berjumlah empat orang itu menyalakan api unggun di tengah hutan, beristirahat sejenak setelah seharian mereka berjalan. Mereka semua mengambil bekal dari tas punggung mereka masing-masing. Ruby memakan roti dan keju, Ray mengambil daging mentah yang kemudian dibakar, Edge membakar dagingnya sendiri, Area mengunyah keju tebalnya.
"Jadi Ruby... masih jauhkah perjalanan kita?" tanya Edge sambil mengunyah makanannya.
Ruby menghabiskan makanan yang dikunyahnya dulu sebelum menjawab, "Kalau kita terus berjalan, kita akan sampai di tempat suku yang berkuasa besok siang."
"Omong-omong, kenapa dari tadi kita tidak bertemu seorang pun di pulau ini? Tadinya aku mengharapkan kita disergap oleh seseorang dari klan di sini." Area mengunyah kejunya lagi sesudah bertanya.
"Pulau ini memang tak berpenghuni, pulau kecil ini hanya berisi hutan, tapi tempatnya dekat dengan pulau utama, karena itu aku dulu sering bermain di sini."
"Lalu, setelah kita sampai di suku yang berkuasa besok, apa yang akan terjadi?" tanya Ray.
"Aku akan menantang mereka dalam pertarungan kehormatan."
"Sebenarnya, pertarungan seperti apa itu? Kau belum menceritakannya dengan jelas." kali ini Area yang berbicara.
"Aku sudah bilang, itu adalah pertarungan yang mempertaruhkan segalanya."
"Itu yang ingin aku tanyakan, apa yang dipertaruhkan dalam pertarungan itu?"
"Hm... biarpun disebut mempertaruhkan segalanya, sebenarnya tidak semua hal dipertaruhkan di sini. Sebelum pertarungan, kedua pihak yang bertarung menyatakan apa yang mereka pertaruhkan. Dulu ada yang mempertaruhkan harta, jabatan atau status. Selain menyatakan apa yang dipertaruhkan, kedua pihak juga menyatakan apa yang mereka ingin dapatkan dari lawan mereka." Ruby menjelaskan soal pertarungan kehormatan.
"Apa kau sudah tahu apa yang akan kau pertaruhkan dalam pertarungan itu besok?"
anggukan Ruby menjawab pertanyaan Area itu.
Setelah itu, mereka menghabiskan makan malam mereka sebelum tidur.
Matahari terbit keesokan harinya menandakan hari baru untuk mereka semua, setelah memadamkan api unggun, mereka melanjutkan perjalanan.
Ruby kembali memimpin jalan menyusuri jalan setapak yang membelah hutan. Melewati beberapa persimpangan, kali ini langkah Ruby tidak meragu sesaatpun, kelihatannya jalan-jalan yang mereka lalui semakin lama semakin familier baginya.
Matahari belum begitu tinggi, tapi mulut hutan sudah terlihat, tanah di seberang sana tidak tertutup pohon sama sekali.
Tak lama setelah itu, mereka berempat sudah keluar dari hutan menuju padang rumput yang minim pohon. Matahari bersinar tanpa halangan ke setiap jengkal rumput di tanah.
"Jadi ke mana sekarang?" itu pertanyaan yang dikeluarkan Area begitu keluar dari mulut hutan.
"Ikuti aku." jawab Ruby.
Seperti ketika di hutan, kali ini Ruby kembali memimpin perjalanan. Mereka menusuri padang yang luas itu. Kalau sebelumnya pandangan mereka monoton oleh pepohonan yang seragam, kali ini pandangan mereka monoton oleh rerumputan tanpa batas.
Matahari mulai menanjak langit saat mereka tiba di ujung padang. Daratan mulai meninggi, rerumputan mulai tak terlihat, digantikan oleh bebatuan dan tebing.
"Kita hampir sampai." ujar Ruby tiba-tiba, "Tujuan kita ada di balik tebing ini."
"Kita akan ke pulau utama kan? Apa bisa ke sana dari tebing?" tanya Edge.
"Tentu saja, kau akan tahu nanti." jawab Ruby.
Mereka pun mulai perjalanan mendaki, hingga akhirnya sampai di puncak tebing. Di puncaknya ada sebuah jembatan di puncak tebing sisi ini, membentang di atas sebuah selat beberapa puluh meter di bawahnya. Jembatan itu terhubung ke pulau lain sekitar 15 meter jauhnya. Jembatan itu digantung di bawah tali tambang di tiap sisinya. Tali temali yang rumit dari tali yang diikat ke kedua tambang itu menahan lembaran-lembaran papan kayu tetap di tempatnya, dan juga cukup kuat untuk menahan beban orang yang lewat.
Dua orang laki-laki berdiri di depan jembatan, kelihatannya mereka adalah penjaga. Mereka tidak terlihat membawa senjata apapun, tapi kalau mereka adalah penyihir mereka tentu tidak perlu senjata.
Salah seorang dari mereka mulai berbicara ketika rombongan Ruby sudah cukup dekat dengan jembatan.
"Berhenti! Katakan siapa kalian! Tidak sembarang orang bisa lewat jembatan ini!"
"Namaku Ruby Siren." jawab Ruby dengan mantap, "Putri dari Regasa Siren, kepala suku terdahulu. Aku ingin bertemu kepala dari suku yang berkuasa sekarang ini."
"Kau... putri Regasa..." ujar penjaga itu, suaranya bergetar karena kaget,"Baiklah, silahkan ikuti saya menyeberang, saya akan membawa anda ke Ketua Zarka."
"Haruskah kita menyeberangi jembatan ini, sementara ada orang yang bisa teleport di sini?" ujar Edge tiba-tiba
"Ya, aku bisa men-teleport kita semua sekaligus ke sana." sahut Area.
"Baiklah kalau begitu, sertakan aku dalam teleportasimu." ujar penjaga itu.
Area setuju, dan dalam sekelebat cahaya biru, mereka sudah sampai di sisi seberang.Dua orang penjaga di sisi pulau utama jembatan awalnya terkagetkan oleh teleportasi Area, tapi setelah penjaga yang bersama mereka menjelaskan apa yang terjadi, mereka diperbolehkan masuk.
Penjaga yang bersama mereka membawa mereka menuruni bukit hingga ke padang rumput, tidak jauh berbeda dengan yang ada di sisi seberang tadi. Penjaga itu lalu memimpin perjalanan membelah padang rumput.
Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah desa besar di tepi sungai di tengah padang rumput itu. Pagar kayu setinggi dada membatasi desa itu, sebuah gerbang dengan papan melengkung di atasnya menjadi tempat keluar-masuk desa itu. Sawah penduduk desa ada di seberang sungai.
Penjaga itu membawa mereka masuk ke dalam desa, yang penuh dengan rumah-rumah yang terbuat dari pohon. Bukan dari papan atau batu bata, tapi dari potongan pohon yang dijejerkan dan direkatkan.
Perjalanan mereka berhenti di sebuah rumah terbesar di desa itu, lebarnya tiga kali lipat rumah biasa dan tingginya sekitar dua kali lipat. Pintu masuknya bukan di lantai pertama, tapi harus menaiki deretan anak tangga hingga ke pintunya di lantai dua.
"Tunggu di sini." ujar penjaga yang membawa itu ketika mereka berhenti di depan rumah kepala suku. Setelah mengucapkan itu, ia berjalan menaiki tangga ke lantai dua rumah itu, lalu masuk.
Mereka berempat berdiam diri di luar sana selama beberapa saat, sebelum akhirnya pintu itu terbuka lagi, kali ini orang yang berbeda yang keluar. Orang itu tinggi, besar, dan gemuk. Rambut putihnya menutupi kepalanya di tempat seharusnya rambut berada, kecuali di bagian atas kepalanya. Orang itu berteriak dari beranda rumah itu.
"Jadi kau ya, putri Regasa?"
Ruby maju selangkah, sebelum menjawab, "Ya ini aku, Ruby putri Regasa, ketua klan Siren."
"Klan Siren sudah musnah. Oh, tapi melihat kau berdiri di sini, aku rasa klan Siren belum benar-benar musnah. Apa yang kau mau, datang kembali kemari?"
"Aku ingin menantangmu, dalam pertarungan kehormatan." jawab Ruby mantap.
Orang itu tersenyum lebar mendengarnya, lalu berkata, "Baiklah, aku terima tantanganmu."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar