Kamis, 02 Oktober 2014

Chapter 13: Girls

Angin berhembus menyapu dunia, menerbangkan dedaunan kering sejalan dengannya. Ketika angin itu berputar lagi, dia mengibaskan rambut pendek Ruby, yang sedang duduk di tepi air mancur di tengah kota. Ia memainkan air dibelakangnya dengan sihirnya, menggerak-gerakkannya, membentuknya jadi seperti cemeti, lalu mengembalikannya seperti semula.

"Bosan ih." keluhnya.

"Ray itu... mentang-mentang honor dari menjaga musium lumayan besar, sekarang dia jadi malas pergi mengambil misi lagi. Memang bagus sih, dia mau latihan... tapi aku jadi bosan. Lilly juga kelihatannya sedang mengambil misi, coba saja aku kemarin ikut misinya."

seekor kucing merangkak keluar dari gang kecil tidak jauh dari tempatnya, mata birunya yang indah menatap Ruby lekat-lekat. Ruby balas menatap kucing itu, ketertarikannya pada makhlluk kecil lucu itu membuatnya menawarkan tangannya

"Ayo sini maniiis." ujarnya. Si kucing bukannya menjawab panggilannya, malah melompat menjauh dengan sikap takut yang berlebihan.

Kebosanannya memuncak saat kucing itu pun menolak menemaninya, Ruby bangkit dari duduknya lalu mulai berjalan menjauh.

"Bosan nih." keluhnya lagi.

Ruby menyusuri jalan utama kota. Setelah beberapa waktu yang rasanya sudah mencapai hitungan bulan sejak ia pertama kali datang ke kota ini, dia kaget seberapa akrab kota ini dengannya. Kota ini lumayan luas, jauh lebih besar dari kampung halamannya. Dalam ukurannya yang luas itu, kota ini dibagi beberapa distrik: pemukiman, tempat mayoritas orang – termasuk dirinya – tinggal, kawasan elit, tempat tinggal orang-orang yang lebih kaya – seperti pemilik musium, misalnya –, pasar, tempat para pedagang berjualan berbagai macam barang untuk kebutuhan kota, guild, untuk distrik ini dibagi dua: Silver Line dan Gold Hawk, masing-masing di ujung barat dan timur kota.

Sekarang ini dia sedang berjalan tanpa arah, hanya berharap menemukan sesuatu yang menarik di ujung jalan yang dia lewati sekarang. Beberapa orang berjalan melewatinya, tanpa menyapa ataupun menunjuk rasa tertarik sedikitpun padanya.

"Beda sekali ya..." ujarnya dengan nada yang terdengar sedang bernostalgia, "Kalau dulu sih tidak mungkin aku berjalan-jalan tanpa ada orang yang mengenali atau beramah-tamah padaku. Tapi yang seperti ini juga bagus, rasanya tenang dan bebas..."



"Kak Ruby?"

Ruby melihat ke asal suara. Tidak jauh di depannya, Elise dan Raisha berjalan berlawanan arah dengannya. Tangan Raisha memeluk kantong berisi barang belanjaan – kelihatannya bahan makanan – sedangkan tangan Elise memeluk lengan Raisha.

"Hi Raisha, Elise. Sedang apa kalian?"

"Belanja." jawab Raisha singkat, "Kami membeli beberapa roti & daging."

"Kalian masak makanan kalian sendiri?"

"Biasanya sih aku yang masak, sambil mengajari Elise." jawab Raisha sambil melirik ke sahabatnya. Respons yang diberikan Elise hanyalah anggukan kecil.

"Kakak sendiri sedang apa?"

"Aku? Aku sedang bosan, bingung mau melakukan apa jadi aku hanya berjalan-jalan."

"Tidak mengambil misi? Ada apa dengan Kak Ray?"

"Dia sedang latihan, dan tidak ingin diganggu."

"Begitu... bagaimana kalau kakak ikut dengan kami saja? Lebih baik daripada sendirian kan?"

"Benarkah? Yaah, kalau kalian tidak keberatan, aku akan ikut."

Lalu mereka bertiga mengambil jalan yang sama, menuju apartemen Raisha.



Mereka baru saja berbelok di salah satu sudut jalan, ketika mereka hampir menabrak seseorang dan berhenti mendadak.

"Lilly?" ujar Ruby

"Kalian.... sedang apa? Tumben sekali kalian bersama seperti ini." ujar perempuan yang hampir ditabrak itu.

"Kami baru saja akan ke apartemen Raisha. Kau sendiri? Aku kira kau masih dalam misi."

"Aku baru saja kembali, aku baru dari guild melaporkan misiku. Rasanya capek sekali. Hey omong-omong, bolehkan aku bergabung dengan kalian?"

"Tentu saja boleh kak." jawab Raisha.




Tidak butuh waktu lama bagi mereka bertiga untuk sampai di sebuah bangunan tingkat tiga,yang salah satu kamarnya ditempati Raisha. Semua jendela di lantai satu, dua, dan tiga berbentuk segiempat, sebagian tertutup tapi ada yang terbuka. Pintu kayu di depan mereka tertutup rapat, tapi mereka semua mendapati pintu itu tidak terkunci, karena Raisha dengan mudah membukanya. Ruang depan itu berisi kursi, lemari, dan meja makan, tapi induk semang Raisha tidak terlihat dimanapun. Sebuah vas bunga dengan bunganya duduk dengan indah di atas salah satu meja. Seekor kucing melangkah malas dari balik meja saat tahu ada yang datang, tapi dia tidak melangkah lebih jauh ketika tahu bahwa yang masuk bukanlah pemiliknya.

"Hi Teda, kau terlihat sehat sekarang." sapa Raisha kepada kucing itu. Kucing itu tidak membalas sapaan Raisha, tapi malah berjalan pelan ke bagian belakang rumah.

"Kucing itu baru saja sakit, tapi seharusnya dia sudah sehat sekarang." ujar Raisha. Setelah itu, mereka semua menaiki tangga menuju lantai tiga.

Sesampainya di lantai tiga, tiga buah pintu menempel di satu sisi tembok, semuanya tertutup. Raisha berjalan ke salah satu pintu yang ada di ujung koridor. Dan setelah mengeluarkan kunci pintunya, dia dengan cepat membuka pintu dan mempersilahkan semuanya ke dalam.

Begitu mereka di dalam, bau yang harum menyerang hidung mereka, bau yang sama seperti yang dikenakan Raisha, hanya saja dalam kamar ini baunya lebih mencolok, walaupun tidak menyengat. Tempat tidur bersandar di sudut dalam ruangan, disebelah meja kecil yang ada di bawah jendela. Raisha membuka jendela itu sekarang. Lemari baju di sisi dinding yang berlawanan dengan tempat tidur, sebuah meja kecil di tengah ruangan mengisi kekosongan di situ. Satu-satunya hal lain yang ada di kamar itu adalah lemari buku kecil, dengan hampir seluruh raknya terisi.



"Aku tidak tahu kau suka membaca, Raisha." ujar Ruby.

Raisha meletakkan belanjaannya sebelum menjawab, "Ah, itu kebanyakan adalah buku-buku materi sekolah yang aku pinjam dari perpustakaan."

"Benar juga, kalau tidak salah kau pernah bilang kalau kau ingin jadi guru ya, Raisha."

"Iya benar." nada dari jawaban ini terdengar antusias sekali.

Raisha duduk di lantai sebelum bertanya, "Ah, Kak Lilly, bagaimana misimu yang baru ini? Sukses?"

Elise mengikuti Raisha duduk di lantai.

Lilly ikut duduk, sebelum menanggapi upaya Raisha untuk memulai obrolan, "Iya sukses, walaupun ada insiden dalam perjalanan pulang."

"Insiden apa?" Ruby juga duduk saat menanyakan itu.

"Desa tempat kami menginap diserang monster laba-laba, sampai kami juga ikut melawan laba-laba itu. Monster itu lumayan tangguh, Edge sampai terluka saat melawannya."

"Oh ya? Bagaimana kondisi Kak Edge sekarang?"

"Dia sudah membaik kok, harusnya sih dia sedang istirahat sekarang."

Melihat topik pembicaraan beralih ke Edge, Ruby terlihat bersemangat untuk menanyakan Lilly satu pertanyaan, "Hey Lilly, ini mungkin agak mendadak tapi aku ingin menanyakan satu pertanyaan padamu."

"Ok... a-apa?"

"Apa... apa pendapatmu soal Edge?"

pipi Lilly merona sedikit, mungkin karena dikagetkan oleh pertanyaan Ruby

"Apa maksudmu, pendapatku soal Edge?"

"Iya, makanya... maksudku... kelihatannya Edge menyukaimu jadi aku ingin tahu pendapatmu tentangnya."

"Darimana kau bisa berpikiran kalau Edge menyukaiku? Kau belum selama itu mengenalnya kan?"

"Aku punya sumber terpercaya."

"Siapa sumbermu?"

"Itu tidak penting, lagipula itu bukan inti pembicaraan, jangan ganti topik dulu."

Lilly terpojok, usahanya untuk menghindari pertanyaan dikalahkan oleh antusiasme Ruby terhadap pertanyaan yang sama. Saat menghindari kontak mata dengan Ruby, ia melihat antusiasme yang sama juga terpancar di wajah Raisha dan Elise. Menyadari usahanya untuk menghindar akan sia-sia, Lilly menjawab pertanyaan itu.

"Baiklah, baiklah akan kujawab." Lilly terdiam sejenak... sebelum melanjutkan, "Menurutku dia adalah teman satu tim yang baik dan bisa diandalkan. Memang omongannya terkadang menyebalkan tapi di saat-saat lain, dia orang yang baik dan dia selalu mau membantuku kalau kuminta membantuku dalam misi."

"Lalu?" Ruby berusaha mengejar.

"Apanya yang 'lalu'? Itu saja pendapatku tentangnya." balas Lilly.

"Apa kau menyukainya? Kalian selalu bersama kan?"

"Soal itu... aku memang menyukainya, tapi hanya sebagai teman, teman satu tim. Itu saja. Bukan berarti aku menyukainya seperti yang ada dalam bayanganmu. Lagipula, kalau kau menuduhku menyukainya karena kami selalu pergi dalam misi bersama-sama, bagaimana denganmu?"

"Eh? Apa maksudmu?" Ruby agak kaget dengan pertanyaan balasan Lilly.

"Apa kau menyukai Ray?" tanya Lilly, dengan intonasi suara yang lebih menekan daripada pertanyaan Ruby tadi.

Sedetik. Dua detik. Tiga detik suasana hening, lalu Ruby yang memecahkan kesunyian.

"EEEEEEEEEEEEEEEHHHH??"

"Kenapa reaksimu begitu? Kalau dilihat dari alasanmu tadi, kau bisa dikenai tuduhan yang sama." balas Lilly.

"I-iya, memang benar sih..."

"Jadi?" Lilly mendekatkan wajahnya ke muka Ruby, "Suka atau benci?"

"Eeh... itu..." Ruby lebih memikirkan cara untuk menghindari pertanyaan itu ketimbang menjawabnya, tapi seperti Lilly, dia tidak bisa menghindari tiga pasang mata yang dengan antusias menunggu jawabannya.

"Aku... aku tidak benci dia." jawabnya akhirnya, "Tapi bukan berarti aku suka dia." sambungnya dengan cepat, sebelum ada yang menarik kesimpulan.

"Haah? Jawaban apa itu? Kau menghindari pertanyaanku ya?" protes Lilly.

"Tidak, bukan begitu, aku tidak menghindari pertanyaanmu... hanya saja..."

semuanya terdiam, sampai Ruby melanjutkan kalimatnya

"Aku tidak punya alasan untuk membencinya, tapi dia juga tidak punya sifat-sifat yang bisa disukai... jadi..."

"Hoo... apa benar begitu?" kejar Lilly

"Iya! Benar begitu."

"Hm... ya sudahlah. Hey, bagaimana dengan kalian berdua? Apa kalian punya orang yang disukai?" Lilly mengalihkan pertanyaan pada Elise dan Raisha.

"Aku tidak punya orang yang disukai kok." jawab Raisha, "Tapi kalau Elise sih... bagaimana ya?"

"Diamlah Raisha!" sentak Elise.

"Ho? Bagaimana? Apa kau punya orang yang disukai?" kejar Lilly.

"Anu... aku... em..." wajah Elise tertunduk, sebagian rambut panjangnya menutupi wajahnya, tapi itu tidak cukup untuk menyembunyikan pipinya yang merona, "Rahasia." akhirnya jawabnya.

"Hmm... ya sudah kalau kau memang mau merahasiakannya." ujar Lilly.

Mendadak mata Lilly menangkap sesuatu di balik Elise, sebuah kotak instrumen musik kecil berbadan melengkung.

"Elise, kau membawa biolamu ke sini?" tanya Lilly.

"Eh... ah... iya... sebenarnya ini ketinggalan di sini... sewaktu aku ke sini kemarin..."

"Hey, bagaimana kalau kau memainkannya dan aku yang menyanyi, sudah lama juga kita tidak main musik bersama-sama."

"Ide bagus!" Raisha menyetujui.

"Aku juga ingin melihatmu bermain biola." timpal Ruby.

Elise terlihat agak ragu-ragu, tapi akhirnya dia menjawab, "Em... baiklah.."

Elise membuka kotak biolanya, mengeluarkan biola dan penggeseknya, lalu berdiri. Lilly berdiri di sampingnya. Raisha dan Ruby bergeser ke depan pintu, berperan sebagai penonton.

Elise meletakkan biola itu di bahunya, dan mulai menggesek senarnya. Nada-nada tinggi memenuhi ruangan, sebagian lari keluar melalui jendela. Nada-nada yang indah bersahutan silih berganti saat jemari Elise yang mungil berlompatan di leher biola dan penggeseknya mengggesek senar.

Lilly mulai menimpali biola Elise dengan suaranya. Nyanyian Lilly benar-benar menghipnotis telinga yang mendengarnya. Seakan lagu ini bukan dinyanyikan oleh manusia, tapi oleh Dewi-Dewi di langit. Nyanyian Lilly mengisahkan seorang penyihir muda yang bertarung melawan naga demi menolong kekasihnya. Lagu itu heroik di awal, tapi romantis di akhir, saat akhirnya sang penyihir mengalahkan naga dan bertemu dengan kekasihnya.

Tepuk tangan yang meriah terdengar dari kedua penonton mereka saat lagu itu berakhir. Lilly membungkukkan badan bak seorang penghibur. Elise hanya tersenyum, senang karena penampilannya berhasil menghibur.



Bulan tak sempurna menggantung di langit saat Elise, Ruby dan Lilly pamit kembali ke apartemen masing-masing. Mereka berjalan menyusuri kota bersama-sama, jalan-jalan diterangi lentera dari tiang gantung setiap beberapa langkah. Elise berpisah dari Ruby dan Lilly di apartemennya, sementara mereka berdua lanjut berjalan bersama ke apartemen mereka berdua. Di kejauhan, beberapa meter di belakang mereka berdua, seorang pria menyembunyikan dirinya di balik gang kecil, dia melihat ke arah kedua gadis itu, sambil tersenyum puas dia berkata, "Setelah sekian lama kami mencari, akhirnya aku berhasil menemukanmu."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar