Jumat, 10 Oktober 2014

Chapter 15: The last of the clan

Suara langkah kaki yang cepat terdengar dari lantai bawah, semakin lama suara itu semakin jelas terdengar, hingga akhirnya suara langkah itu berwujud menjadi Edge yang terengah-engah karena berlari. Lengannya masih dibalut perban. Tatapan matanya bertemu dengan mata Ray dan Area yang menunggu di depan kamar Raisha.

"Dimana Lilly?" tanyanya akhirnya.

Area mengacungkan jempolnya ke kamar Raisha, "Masih dirawat, bersama dengan Ruby."

Edge berjalan mendekat, hingga ke depan daun pintu kamar Raisha.

"Jangan masuk dulu, sudah kubilang mereka masih dirawat."

Edge berhenti, lalu menatap Area, "Apa yang terjadi? Oh tidak, pertanyaanku seharusnya... kenapa kau tidak membawanya ke dokter, tapi kemari?"

"Sebenarnya sih aku berniat membawanya ke dokter, tapi karena panik dan terburu-buru aku jadi salah tujuan teleport. Untungnya Raisha bisa sihir penyembuhan."

"Tapi... seberapa hebat kemampuan penyembuhnya?" tanya Edge.

"Raisha.... bisa... menyembuhkan Kak Lilly.... pasti." ujar sebuah suara, yang ternyata adalah Elise. Ia berdiri di tepi tangga dengan nafas berat, tubuhnya sampai membungkuk, rambut panjangnya jatuh di sisi wajahnya.

"Ya, dia pasti bisa melakukannya. Kau tenang saja, Edge." ujar Ray. Edge tidak menjawab, tapi raut wajahnya mengatakan bahwa dia setuju.

Mereka berempat pun hanya bisa menunggu di koridor. Kesunyian malam terasa berlalu lebih lama ketika tidak ada satupun dari mereka yang berbicara.

Matahari baru saja memperlihatkan sinarnya di ufuk timur, ketika pintu kamar Raisha terbuka, si penghuni kamar melangkah keluar.

Edge yang pertama kali melemparkan pertanyaan, "Bagaimana Lilly?" pertanyaan yang disambut senyum kecil dari Raisha.

"Tenang saja Kak Edge, kondisi Kak Lilly sudah stabil, dia baik-baik saja. Kalau kalian mau menemuinya, kalian boleh masuk sekarang."

Edge tidak menunggu untuk diberi ijin dua kali.

Di dalam kamar itu, Lilly terbaring di atas kasur, sebagian tubuhnya yang tidak tertutup selimut tampak di perban, ia terkejut saat melihat Edge.

Ruby sendiri duduk di sebuah kursi, kalau dilihat sekilas, tidak tampak kalau dia baru saja terluka, entah apakah sihir penyembuh Raisha yang hebat atau ada perban di balik bajunya.

"Edge? Kenapa kau ada di sini?" tanya Lilly spontan.

"Elise yang memberitahuku." semua mata memandang Elise setelah mereka mendengar jawaban Edge.

"Em... anu... setelah tahu... Kak Lilly terluka... aku jadi ber..pikir untuk... memanggil Kak... Edge."

Lilly membalas kata-kata Elise dengan ekspresi wajah yang berkata 'dari mana kau bisa berpikir begitu?'

"Ruby? Kau tidak apa-apa?" kali ini Ray yang bertanya.

"Tadinya memang sakit, tapi sekarang aku sudah tidak-apa-apa kok. Sihir penyembuh Raisha memang hebat." jawabnya.

"Jadi Ruby, apa kau bisa ceritakan pada kami siapa orang-orang yang menyerangmu itu?" tanya Area.


Suasana mendadak jadi hening, menunggu jawaban Ruby.

"Sebenarnya... aku juga tidak tahu siapa orang-orang yang menyerangku, tapi aku tahu kenapa aku diserang." semuanya terdiam, menunggu Ruby melanjutkan kata-katanya.

"Sebenarnya, Marchant adalah nama keluarga pedagang yang mengangkatku sebagai anak, namaku sebenarnya adalah Ruby Siren, putri dari suku yang berkuasa di nameless sea." semuanya kembali terdiam, hanya saja kali ini lebih lama.

"Nameless sea? Laut tanpa nama di selatan Benua Dorton ini? Aku memang pernah mendengar kalau ada kepulauan kecil di sana. Jadi kau dari sana, Ruby?" tanya Area lagi.

"Ya, aku berasal dari sana. Tapi suku yang tinggal di sana bukan hanya sukuku saja, ada banyak suku dan semuanya saling berebut kekuasaan. Walaupun aku bilang saling berebut kekuasaan, tapi pada umumnya pertarungan hanya terjadi di tingkat politik, tanpa pernah angkat senjata. Tapi, 5 tahun lalu semuanya berubah..." mendadak Ruby terdiam sesaat.

"Apa yang terjadi?" tanya Area.

"Semua suku yang lain bersatu dan melakukan kudeta. Saat itu serangan mendadak, banyak dari anggota sukuku yang terbunuh. Ayahku sempat memimpin serangan balasan, tapi..." suara Ruby mulai serak, air mata menuruni pipinya, "Selagi ayahku mengulur waktu, ibuku sempat menitipkanku pada pasangan pedagang dengan pesan untuk membawaku ke Arkascha. Itulah sebabnya kenapa aku bisa selamat."

sekali lagi, semuanya terdiam. Raisha menawarkan sapu tangan untuk Ruby.

"Lalu kenapa mereka mengejarmu? Bukannya mereka sudah berhasil menang perang 5 tahun lalu?" kali ini Edge yang bertanya.

"Karena aku masih hidup, selama aku masih hidup berarti garis keturunan suku kami masih berlanjut, itu yang ingin mereka akhiri. Mereka tidak benar-benar menang sampai mereka membunuhku. Aku yakin selama 5 tahun terakhir ini mereka mati-matian mencariku."

"Berarti mereka akan datang lagi?" tanya Ray, pertanyaan ini hanya dijawab anggukan oleh 
Ruby.

"Lalu? Tak adakah cara untuk mengakhirinya?" tanya Lilly, "Atau kau harus hidup sambil dibayangi ketakutan, takut mereka bisa menyerang kapan saja?"

"Sebenarnya... ada caranya, cara untuk mengakhiri ini, tanpa aku harus mati."

"Yaitu?" tanya Ray.

"Menantang mereka dalam apa yang kami sebut pertarungan kehormatan. Pertarungan yang mempertaruhkan segalanya."

"Kedengarannya gampang sekali," sahut Edge, "Kenapa tidak kau lakukan dari dulu?"

"Aku sudah ingin melakukannya! Itu sebabnya aku berlatih keras selama ini, menjadi salah satu murid terpandai dalam sekolahku, lulus dengan kemampuan di atas rata-rata, semuanya demi menantang mereka suatu hari nanti. Tapi, di pertarungan tadi malam... aku sadar kalau aku belum cukup kuat. Bahkan Lilly sampai terluka seperti ini."

"Itu bukan salahmu." balas Lilly.

"Lalu? Apa yang ingin kau lakukan, Ruby?" tanya Ray

"Apa kau menyarankan dia pergi dalam pertarungan itu?" sahut Edge

"Tentu saja! Ruby sudah tidak bisa lari lagi dari mereka, dia hanya bisa melawan mereka sekarang."

"Tapi, aku masih belum – "

"Kalau begitu aku akan pergi bersamamu." potong Ray, "kalau kau tidak bisa melewatinya sendirian, kita akan lalui bersama."

"Ray..."

"Kalau begitu aku juga akan ikut." ujar Area, "Kalian tidak akan bertahan tanpa aku."

"Aku juga ikut", Edge menimpali, "Akan kubalas apa yang mereka lakukan pada Lilly."

"Aku tidak ikut deh, Kak Ruby sudah sembuh tapi aku harus merawat Kak Lilly." ujar Raisha.

"Aku... aku akan... membantu Raisha...." sahut Elise.

"Baiklah kalau begitu, yang setuju untuk pergi sebaiknya bersiap-siap untuk perjalanan kita, kalau sudah siap, kita akan bertemu di gerbang kota." ujar Ray.

"Tunggu dulu Kak Edge, biar aku bantu sembuhkan dulu lenganmu." setelah mengucapkannya, Raisha mendekati Edge dan merapalkan sihir penyembuhnya di lengan Edge yang terluka. Cahaya kehijauan menyelimuti lengannya, ketika cahaya itu memudar, luka di lengan itu hanya menyisakan bekas luka.

"Hebat sekali sihir penyembuhmu, Raisha." puji Edge.

"Terima kasih, tapi untuk luka berat seperti Kak Lilly tidak bisa sembuh begitu saja."

"Ayo kita bersiap, biarkan Raisha dan Elise merawat Lilly." setelah Area mengucapkan itu, grup yang sudah setuju untuk pergi pun meninggalkan ruangan.

Di ruangan yang hanya berisi mereka bertiga itu, Raisha mendekati Lilly.

"Asyik ya kak, ada cowok yang mengkhawatirkan kakak." godanya.

"A-apa maksudmu? Sudah kubilang aku dan Edge tidak punya hubungan seperti itu."

"Eh? Kak Edge? Aku tadi tidak menyebut namanya kan?" balas Raisha dengan ekspresi seolah tak berdosa.

"Anak kecil sial..." umpat Lilly.



Siang itu, Ray dan Ruby sudah bersiap di luar gerbang kota. Ransel di punggung mereka sudah penuh berisi bekal dan perlengkapan untuk bepergian. Ransel Ray kira-kira dua kali lebih besar dari
Ruby. Seekor burung kecil terbang di atas mereka.

"Ray... sebelum kita pergi aku ingin berkata, terima kasih ya. Kau mau membantuku dalam hal ini, padahal sebenarnya kau tidak ada hubungannya dengan masalah sukuku."

"Apa maksudmu? Kau sudah diserang dan mungkin akan diserang lagi, mana mungkin aku membiarkan temanku dalam kesulitan sebesar ini. Aku akan membantumu sebisaku, selalu. Karena kita teman."

Ruby tersenyum kecil mendengar jawaban Ray.

"Jadi? Kalian semua sudah siap?" ujar Area yang menghampiri mereka dari arah kota. Edge bersamanya. Sama seperti Ray dan Ruby, mereka semua siap dengan ransel mereka masing-masing.

Ray dan Ruby menjawab pertanyaan itu dengan anggukan mantap.

"Baiklah kalau begitu, semuanya berkumpul di dekatku, aku akan melakukan teleport."

"Tunggu dulu Area, apa kau tahu kemana tujuan kita?" tanya Ruby.

"Tahu. Nameless sea ada di selatan kan?"

"Dan selatan itu ada di mana?" kali ini Edge yang bertanya.

"Tentu saja di sana." Area menunjuk salah satu ujung kaki langit sebagai jawaban.

"itu barat laut bodoh!" bentak Edge.

"Selatan itu arah sana." Ray menunjuk kaki langit yang lain.

"Haha, maaf maaf. Tapi karena sekarang aku tahu pasti ke mana tujuan kita, ayo semuanya berkumpul di dekatku."

Setelah semuanya menuruti perkataan Area, Area menyelubungi mereka semua dalam cahaya biru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar