Senin, 20 Oktober 2014

Chapter 18: Wood controller

Semua penonton terdiam seolah leher mereka tercekat. Wajar saja, dua orang petarung mereka baru saja dijatuhkan oleh satu orang, hal yang pasti sulit dipercaya oleh siapapun juga. Beberapa orang berbisik-bisik tentang nama Area Sang Perisai dari Guild Silver Line, sebagian lagi tak percaya dengan kemampuannya.

Ruby berjalan ke tengah arena pertarungan, matanya menantang Niozo, tanpa perlu kata-kata sekalipun, laki-laki itu tahu apa yang ingin dikatakan Ruby.

Ia menoleh ke arah para petarungnya, lalu berteriak, "Farast! Kini giliranmu bertarung!"

Seorang perempuan berambut panjang dan indah menjawab panggilan itu, sebagian rambutnya menutupi mata kanannya saat dia berjalan. Perempuan itu membawa tas kecil di balik pinggangnya.

"Aku sudah mendengar tentangmu" ujar Farast tiba-tiba

"Oh ya? Apa yang kau dengar?" tanya Ruby

"Kudengar kau kalah telak dalam upaya penangkapan beberapa hari lalu, kalau bukan karena Sang Perisai, saat ini kau pasti sudah mati dan kami tak perlu melakukan pertarungan merepotkan ini. Karena hasilnya akan sama saja."

"Saat itu aku dikeroyok, kalau pertarungan keroyokan yang bisa kalian banggakan, berarti kalian pasti payah dalam pertarungan satu lawan satu. Lagipula, sudah terbukti dua penyihir kalian kalah dengan mudah."

Ekspresi wajah Farast berubah, dari yang tadinya tersenyum mengejek menjadi marah.

"Akan kubuat kau menyesal karena sudah mengatakan itu." ujarnya.

Farast meraih ke dalam tas kecil di pinggangnya, mengeluarkan sebatang tongkat kecil. Ia menodongkannya pada Ruby, sesaat kemudian tongkat itu memanjang. Bukan cuma memanjang, tapi juga meliuk-liuk bak ular hidup.

Ruby yang terkejut mencoba menghindar, tapi tongkat itu berhasil melilit lengan kiri Ruby. Dengan mudahnya, Farast membanting Ruby ke tanah.

"Kau... pengguna elemen kayu?" tanya Ruby, masih setengah terkejut.


"Benar. Kaget?"

"Heh... sedikit sih, aku pernah melihat pemakai elemen kayu lain sebelum ini."

"Oh ya? Apa dia salah satu penyihir Silver Line juga?"

"Ya. Masih muda sih. Lebih muda dariku."

"Masih muda katamu? Tidak mungkin, aturan elemen kayu lebih rumit dari elemen umum lain seperti api atau air. Tidak mungkin anak semuda itu bisa menguasai elemen kayu."

"Itu kenyataannya kok, atau mungkin kau saja yang payah?"

Farast tersinggung lagi, dia mengambil tongkat lain dari tas kecilnya, lalu memanjangkannya untuk menyerang Ruby.

Ruby mengumpulkan air di tangan kanannya, lalu melemparkannya ke kayu yang menyerang itu, "Tomahawk!" teriaknya. Kapak lempar itu memotong kayu dengan sempurna.

"Sword." ujar Ruby sambil membuat sebilah pedang air, memotong kayu yang meliilt tangannya, lalu berdiri.

Farast menyerang lagi, dia menggunakan tongkat kayunya bagai cemeti, menyabetkannya pada Ruby. Ruby membuat satu pedang lagi di tangan kirinya, sabetan pedang airnya memotong-motong tongkat kayu Farast, serpihan kayu memenuhi tanah tempat mereka bertarung.

Mendadak Ruby menerjang maju, Farast yang kaget langsung mencoba menyabetnya dengan satu kayu, tapi kayu itu dengan mudahnya dipotong oleh Ruby. Saat sudah cukup dekat, Ruby menusukkan satu pedangnya ke perut Farast.

Suara nyaring besi bertemu besi memenuhi udara saat pedang air itu terhalang oleh perisai sihir Farast.

"Cepat juga kau mengeluarkan perisaimu" puji Ruby.

"Kau juga tidak buruk."

"Tapi aku tahu satu hal dengan pasti, kau tidak akan bisa mengalahkanku."

"Oh ya? Kenapa?" tanya Farast.

"Pengguna elemen kayu tidak bisa menciptakan kayu dari nol, seperti elemen api atau air. Kau harus menyiapkan kayumu sendiri, karena itu kau membawa tongkat itu. Tapi kelihatannya sudah jelas kalau kau tidak membawa tongkat lain selain dua itu, senjatamu terbatas. Aku bisa memotong-motong kayumu dengan mudah."

"Analisis yang bagus, aku memang cuma punya dua kayu." jawab Farast, "Tapi, sekarang sudah berubah."

"Apa?"

"RUBY! AWAS!!" teriak Ray. Tapi terlambat.

Mendadak kedua pergelangan tangan Ruby dibelit oleh semacam tali kayu, lalu kedua tangan Ruby ditarik kuat ke belakang.

"Apa ini?"

Belum sempat Ruby menyadari apa yang terjadi, tali kayu lain mengikat kakinya, perutnya, bagian atas dan bawah payudaranya.

"I-ini... potongan-potongan kayu yang tadi..." ujarnya saat menyadari apa yang menyerangnya. Ujung satunya potongan-potongan kayu itu menancap kuat di tanah.

"Benar, apa kau kira aku cuma bisa mengendalikan kayu yang kupegang saja?"

Farast menodongkan sebilah kayu yang ujungnya dibuat lancip seperti tombak ke leher Ruby.

"Bagaimana ya... aku ingin membunuh perempuan yang sudah seharusnya mati sejak dulu sepertimu, tapi tidak bisa karena nyawamu menjadi keinginan Ketua Niozo. Oh, aku tahu!" Farast menodongkan tombak kayunya ke dada Ruby, "Bagaimana kalau kau kupermalukan saja di sini? Aku bisa melakukan itu."

"Tunggu dulu."

"Hm?"

"Tadi kau memanggilku perempuan yang sudah seharusnya mati sejak dulu? Apa maksudmu dengan itu?"

"Bukankah sudah jelas? Kau adalah perempuan sisa klan, hanya kau yang tersisa. Keluargamu, temanmu, semuanya sudah mati. Kehidupanmu pun sudah mati sejak saat itu, hanya kau yang tersisa. Sesudah kau mati, tidak ada lagi orang yang akan mengingatmu & klanmu."

"Kau salah." bantah Ruby seketika, "Walaupun aku mati sekalipun, ada teman-temanku yang sudah tahu siapa aku, yang selalu bersamaku selama ini. Mereka akan mengingatku."

"Banyak mulut. Kesabaranku sudah habis, kupermalukan saja kau sekarang."

"Eastern dragon: flying dragon sword."

Tiba-tiba saja, kedua pedang Ruby bersinar biru terang, mengalahkan api unggun. Kedua pedang itu terlepas dari tangan Ruby, lalu bergerak liar. Berputar, memotong, menebas apa saja yang ada di sekitar Ruby. Ia terlepas dari jeratan kayu itu.

Farast sempat membuat perisai sihir, tapi perisai itu hancur terkena serangan brutal pedang-pedang Ruby. Setelah itu pedang-pedang itu menebas apa saja dengan liar, tanah, tiang obor, bahkan hampir mengenai penonton, sebelum akhirnya pedang itu terburai menjadi air biasa.

Ruby terjatuh di tanah, nafasnya ngos-ngosan, keringat keluar deras dari tubuhnya. Farast sendiri terluka di lengan kanannya.

"Apa... apa yang baru kau lakukan?" tanya Farast.

"Itu jurus rahasiaku... tapi... terlalu menguras... tenaga... dan aku tidak bisa mengendalikan pedangku... biasanya... tidak kupakai kalau... teman-temanku di dekatku..."

"Heh, tapi sekarang kau tidak bertenaga kan? Akan kuhabisi kau."

Farast mengacungkan tangan kanannya, beberapa serpihan kayu di sekitar situ memanjang membentuk cambuk, menghantam Ruby hingga terpental beberapa meter. Ketika jatuh di tanah, dia batuk darah.

"Ruby!!" teriak Ray, khawatir.

"Heh, dia sudah tidak bisa bertarung lagi. Akulah peme..."

"Belum."

Ruby menumpu badannya dengan satu tangan, dengan susah payah dia berusaha berdiri.

"Keras kepala sekali kau. Kenapa kau berdiri? Kenapa kau ingin terus bertarung? Ingin bertahan hidupkah? Kenapa kau ingin hidup, kalau kehidupanmu sendiri sudah mati mendahuluimu?"

Ruby mengangkat kepalanya, dengan tatapan mata yang tanpa keraguan, dia menjawab Farast.

"Untuk masa depan yang lebih baik."

Farast tidak terlihat senang sama sekali mendengar jawaban itu. Raut wajahnya semakin dipenuhi amarah.

"Akan kupastikan tidak ada masa depan bagimu!" setelah meneriakkannya, Farast melepaskan serangan kayu ke Ruby. Ruby tidak bisa menghindar, serangan itu kena telak, Ruby terpental dan jatuh di tanah.

"Ruby!" teriak Ray sambil menghampiri Ruby.

"Dia sudah kalah, aku pemenangnya." ujar Farast.

"Bagaimana kondisinya?" tanya Area yang juga menghampiri Ruby.

"Kelihatannya dia hanya pingsan." jawab Ray.

"Sebaiknya kau minta tolong pada salah seorang penyembuh di desa ini, aku yakin mereka tidak ingin sesuatu terjadi pada Ruby sebelum pertarungan ini selesai." ujar Edge, "Berikutnya, aku yang akan maju."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar