Langit biru siang hari ini terlihat membosankan hanya dengan beberapa awan yang berarak di sana. Membuat matahari dapat dengan bebasnya menyinari kerajaan Arkascha. Ray memandangi langit ini melalui jendela di sebuah rumah sakit di Recht. Beberapa bagian tubuhnya dibalut perban putih, dia kini berbaring di tempat tidur dalam sebuah ruangan bersama dengan Edge, Lilly, dan Ruby yang kondisi mereka tidak jauh berbeda. Kupu-kupu terbang masuk dari jendela itu, lalu hinggap di salah satu bunga di kamar itu.
"Jadi? Bagaimana kesan kalian dengan misi bersama kita yang pertama?" tanya Lilly tiba-tiba.
"Menyakitkan." sahut Edge.
"Oh? Kenapa dengan nada bicaramu itu Edge? Kau mau kubuat lebih sakit lagi dari kondisimu sekarang?" balas Lilly.
"Tapi musuh kita itu memang benar-benar kuat, dia bahkan bisa mengalahkan kita berempat sendirian." ujar Ruby.
"Yang kudengar, sihir tipe shapeshift adalah sihir yang paling susah untuk dikuasai, tapi begitu berhasil dikuasai, itu adalah salah satu sihir terkuat yang pernah ada." kali ini Ray yang berbicara.
"Yeah... maaf ya, aku tidak menduga kita akan berurusan dengan shapeshift." ujar Lilly.
"Tapi coba lihat sisi positifnya, ini berarti kita semua cukup kuat untuk berhadapan dengan salah satu sihir terkuat kan?" kata Ray dengan intonasi yang optimis. Kata-kata itu disambut dengan senyum oleh semua yang ada di dalam kamar.
"Positif sekali dirimu." timbrung Edge
Mereka berempat terkejut oleh suara pintu yang diketuk dua kali, ketika pintu terbuka, Raisha dan Elise melangkah masuk.
"Hi semua! Bagaimana kabar kalian?" tanya Raisha lengkap dengan nada cerianya.
"Sakit. Bagaimana lagi." sahut Edge.
"Edge! Jangan menjawabnya seperti itu." bentak Ruby.
"Ah haha. Tidak apa-apa kok, kak Edge memang selalu seperti itu. Ini, kami berdua punya oleh-oleh untuk kalian semua." Raisha mengakhiri kalimatnya dengan mengacungkan sekeranjang penuh buah-buahan.
"Berdua?" tanya Ray. Seusai menanyakannya, dia mengintip sedikit ke balik Raisha, dan memang benar Raisha tidak sendirian. Sahabatnya yang berambut hitam panjang, bersembunyi di baliknya, semakin mundur ke balik Raisha saat dipandang Ray.
"Kau menakutinya Ray." ujar Ruby.
"Ah, tidak... a-aku tidak bermaksud..."
"Tenanglah Elise, tidak apa-apa, tidak perlu takut." Raisha berusaha menenangkan Elise. Ia lalu menaruh keranjang itu di meja di samping Lilly.
"Kak Lilly, siapa yang kakak lawan di misi terakhir ini? Tidak biasanya kakak bisa terluka sampai separah ini." tanya Raisha, memulai pembicaraan terhadap Lilly
"Oh, kami melawan seorang penyihir shapeshift. Ia benar-benar kuat, baru pertama kali aku melawan orang seperti dia."
"Shapeshift?" ujar Raisha, yang kelihatannya lebih karena reflek. Dia melirik ke Elise di sampingnya, Elise memeluk lengan Raisha lebih erat.
"Tapi kakak berhasil mengalahkannya kan? Kakak hebat!" puji Raisha.
"Yeah, tapi kita semua dihajarnya sampai babak belur. Kekuatan shapeshift itu luar biasa." sahut Edge.
Elise memeluk lengan Raisha lebih erat.
"Ah, kenapa tidak kalian coba buah-buahan ini? Kami membawanya tidak untuk jadi pajangan lho." setelah mengucapkannya, Raisha membagikan buah itu ke setiap orang terluka di sana.
"Bagaimana rasanya?"
"Manis." jawab Ruby
"Benar." sambung Ray.
"Aku senang kalian menyukainya." ujar Raisha sambil tersenyum senang.
Raisha berpaling ke Lilly sebelum berkata, "Omong-omong kak Lilly, kau mau pergi ke suatu tempat sesudah ini? Sesudah kakak sembuh maksudku."
"Eh? Entahlah, tapi kenapa kau menanyakannya?"
"Oh, aku hanya mengira kakak butuh refreshing setelah misi yang berat ini untuk menyegarkan pikiran. Bagaimana?" dia menoleh ke yang lainnya di ruangan itu sebelum melanjutkan, "Tentu saja, kalau kalian mau ikut, aku tidak keberatan."
"Jadi? Bagaimana?" Lilly menanyakan pertanyaan ini ke rekan-rekan setimnya
"Aku sih tidak keberatan." jawab Ruby
"Aku sih ikut saja." kali ini Edge yang menjawab
"Aku juga ikut, aku kira kita semua butuh istirahat sesudah misi yang kita jalani." ujar Ray.
"Baiklah, kita semua sudah sepakat." kata Lilly.
"Tapi... kemana?" untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan, Elise berbicara.
Raisha memejamkan mata sambil menyentuh pipi dengan jarinya, setelah beberapa menit, dia punya jawabannya
"Bagaimana kalau di hutan di luar kota? Ada tempat yang bagus untuk kemping di sana. Aku dan Elise sudah pernah ke sana sebelumnya."
"Maksudmu... yang di... tepi sungai?" tanya Elise.
"Iya. Bagaimana?" pertanyaan Raisha lebih diarahkan untuk keempat orang terluka di ruangan itu.
"Oke." Lilly menjawab.