Minggu, 07 September 2014

Chapter 7: Camping

Langit biru siang hari ini terlihat membosankan hanya dengan beberapa awan yang berarak di sana. Membuat matahari dapat dengan bebasnya menyinari kerajaan Arkascha. Ray memandangi langit ini melalui jendela di sebuah rumah sakit di Recht. Beberapa bagian tubuhnya dibalut perban putih, dia kini berbaring di tempat tidur dalam sebuah ruangan bersama dengan Edge, Lilly, dan Ruby yang kondisi mereka tidak jauh berbeda. Kupu-kupu terbang masuk dari jendela itu, lalu hinggap di salah satu bunga di kamar itu.

"Jadi? Bagaimana kesan kalian dengan misi bersama kita yang pertama?" tanya Lilly tiba-tiba.

"Menyakitkan." sahut Edge.

"Oh? Kenapa dengan nada bicaramu itu Edge? Kau mau kubuat lebih sakit lagi dari kondisimu sekarang?" balas Lilly.

"Tapi musuh kita itu memang benar-benar kuat, dia bahkan bisa mengalahkan kita berempat sendirian." ujar Ruby.

"Yang kudengar, sihir tipe shapeshift adalah sihir yang paling susah untuk dikuasai, tapi begitu berhasil dikuasai, itu adalah salah satu sihir terkuat yang pernah ada." kali ini Ray yang berbicara.

"Yeah... maaf ya, aku tidak menduga kita akan berurusan dengan shapeshift." ujar Lilly.

"Tapi coba lihat sisi positifnya, ini berarti kita semua cukup kuat untuk berhadapan dengan salah satu sihir terkuat kan?" kata Ray dengan intonasi yang optimis. Kata-kata itu disambut dengan senyum oleh semua yang ada di dalam kamar.

"Positif sekali dirimu." timbrung Edge



Mereka berempat terkejut oleh suara pintu yang diketuk dua kali, ketika pintu terbuka, Raisha dan Elise melangkah masuk.

"Hi semua! Bagaimana kabar kalian?" tanya Raisha lengkap dengan nada cerianya.

"Sakit. Bagaimana lagi." sahut Edge.

"Edge! Jangan menjawabnya seperti itu." bentak Ruby.

"Ah haha. Tidak apa-apa kok, kak Edge memang selalu seperti itu. Ini, kami berdua punya oleh-oleh untuk kalian semua." Raisha mengakhiri kalimatnya dengan mengacungkan sekeranjang penuh buah-buahan.

"Berdua?" tanya Ray. Seusai menanyakannya, dia mengintip sedikit ke balik Raisha, dan memang benar Raisha tidak sendirian. Sahabatnya yang berambut hitam panjang, bersembunyi di baliknya, semakin mundur ke balik Raisha saat dipandang Ray.

"Kau menakutinya Ray." ujar Ruby.

"Ah, tidak... a-aku tidak bermaksud..."

"Tenanglah Elise, tidak apa-apa, tidak perlu takut." Raisha berusaha menenangkan Elise. Ia lalu menaruh keranjang itu di meja di samping Lilly.

"Kak Lilly, siapa yang kakak lawan di misi terakhir ini? Tidak biasanya kakak bisa terluka sampai separah ini." tanya Raisha, memulai pembicaraan terhadap Lilly

"Oh, kami melawan seorang penyihir shapeshift. Ia benar-benar kuat, baru pertama kali aku melawan orang seperti dia."

"Shapeshift?" ujar Raisha, yang kelihatannya lebih karena reflek. Dia melirik ke Elise di sampingnya, Elise memeluk lengan Raisha lebih erat.

"Tapi kakak berhasil mengalahkannya kan? Kakak hebat!" puji Raisha.

"Yeah, tapi kita semua dihajarnya sampai babak belur. Kekuatan shapeshift itu luar biasa." sahut Edge.

Elise memeluk lengan Raisha lebih erat.

"Ah, kenapa tidak kalian coba buah-buahan ini? Kami membawanya tidak untuk jadi pajangan lho." setelah mengucapkannya, Raisha membagikan buah itu ke setiap orang terluka di sana.

"Bagaimana rasanya?"

"Manis." jawab Ruby

"Benar." sambung Ray.

"Aku senang kalian menyukainya." ujar Raisha sambil tersenyum senang.

Raisha berpaling ke Lilly sebelum berkata, "Omong-omong kak Lilly, kau mau pergi ke suatu tempat sesudah ini? Sesudah kakak sembuh maksudku."

"Eh? Entahlah, tapi kenapa kau menanyakannya?"

"Oh, aku hanya mengira kakak butuh refreshing setelah misi yang berat ini untuk menyegarkan pikiran. Bagaimana?" dia menoleh ke yang lainnya di ruangan itu sebelum melanjutkan, "Tentu saja, kalau kalian mau ikut, aku tidak keberatan."

"Jadi? Bagaimana?" Lilly menanyakan pertanyaan ini ke rekan-rekan setimnya

"Aku sih tidak keberatan." jawab Ruby

"Aku sih ikut saja." kali ini Edge yang menjawab

"Aku juga ikut, aku kira kita semua butuh istirahat sesudah misi yang kita jalani." ujar Ray.

"Baiklah, kita semua sudah sepakat." kata Lilly.

"Tapi... kemana?" untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan, Elise berbicara.

Raisha memejamkan mata sambil menyentuh pipi dengan jarinya, setelah beberapa menit, dia punya jawabannya

"Bagaimana kalau di hutan di luar kota? Ada tempat yang bagus untuk kemping di sana. Aku dan Elise sudah pernah ke sana sebelumnya."

"Maksudmu... yang di... tepi sungai?" tanya Elise.

"Iya. Bagaimana?" pertanyaan Raisha lebih diarahkan untuk keempat orang terluka di ruangan itu.

"Oke." Lilly menjawab.




Hanya satu minggu setelah itu, mereka semua sudah sembuh, dan siap untuk rencana refreshing mereka. Langit sedikit berawan, berusaha sekuat mungkin menghalangi usaha matahari untuk memanaskan bumi. Angin berhembus membawa suasana segar ke wajah siapapun yang diterpanya. Ray, Ruby, Edge, Lilly, Raisha, dan Elise sudah berkumpul di mulut hutan dengan barang bawaan mereka masing-masing di tas punggung mereka, yang tampaknya mayoritasnya adalah bekal.

"Kalau datang ke hutan ini, aku jadi ingat misi pertama yang aku ambil." ujar Ray tiba-tiba

"Iya, kita berdua pergi mencari anak hilang di hutan ini, dan kita juga harus melawan seekor beruang raksasa." sambung Ruby.

Raisha tertawa kecil sebelum menyahut, "Aku dengar kalian tersesat di hutan ini ya?"

"Eh?" pertanyaan kecil itu meloncat keluar dari mulut Ray dan Ruby bersamaan.

"Dari mana kau tahu?" tanya Ruby.

"Pepohonan di sini yang memberitahuku." jawab Raisha.

"Pepohonan katamu?" kali ini Ray yang bertanya.

"Iya. Pepohonan." jawab Raisha diakhiri senyum manisnya, "Ayo kita berangkat." ujarnya sambil melangkah pergi.



Beberapa detik kemudian, mereka sudah diselimuti hutan. Pohon di kanan kiri mereka, rerumputan di bawah mereka, burung-burung kecil terbang di atas kepala mereka. Raisha memimpin rombongan mereka dengan berjalan paling depan, Elise berjalan sambil memeluk lengannya, sementara sisanya mengikuti mereka di belakang. Elise tersenyum gembira ketika ada seekor kupu-kupu melintas di depannya.

"Omong-omong Elise, sudah berapa kali kau pergi ke tempat kemping kita ini?" tanya Ray.

"Cuma sekali bersama Elise, dulu. Hm... mungkin 2 bulan yang lalu?"

"Dua bulan? Anu, aku bukannya meragukan kemampuanmu memimpin jalan, tapi apa kau masih ingat tempat tujuan kita?"

"Benar, dalam hutan seperti ini mudah sekali untuk tersesat." sambung Ruby.

Raisha berbalik menghadap mereka sambil tersenyum, lalu berkata,"Tenang saja. Aku tidak akan tersesat di dalam hutan."

Tanpa mengucapkan sepatah kata pada satu sama lain, Ray dan Ruby memutuskan untuk mengikuti Raisha.

Setelah beberapa lama kemudian, mereka sampai di tepi sungai kecil tempat seekor kucing hutan minum. Kucing itu langsung pergi begitu menyadari kedatangan tamu-tamu hutan.

"Kita hampir sampai." ujar Raisha, "Sungai kecil ini adalah anak dari sungai tujuan kita, kita sudah dekat."

Mereka lalu menyusuri tepi sungai itu berlawanan dengan arus air, sesuai perkataan Raisha. Secara tak sengaja mengusir binatang-binatang kecil yang sedang mengambil minum di sumber air itu. Tak lama setelah itu, mereka sampai di sungai tempat cabang anak sungai itu bermula. Ray, Ruby, Edge, dan Lilly memandang sekeliling untuk mengagumi apa yang kini sedang mereka lihat.

Sungai itu besar tapi airnya tenang. Sinar matahari langsung menyinari sungai itu tanpa perlawanan cabang dan ranting yang menghalangi. Airnya benar-benar transparan sampai-sampai Ruby bisa melihat ikan-ikan yang berenang di dalamnya. Pepohonan hutan hanya tumbuh sampai beberapa puluh langkah dari tepi sungai, menyisakan padang rumput kecil yang cocok untuk bersantai, atau sesuai tujuan mereka ke sini untuk berkemah. Sisi seberang sungai tidak jauh berbeda dari sisi mereka berada. Selama beberapa menit, semua orang kecuali Raisha dan Elise terpana dengan apa yang ada di depan mata mereka.

"Bagaimana menurut kalian? Tempat yang bagus kan?" tanya Raisha, tetap dengan senyum khasnya.

"Iya, tempat yang indah." jawab Lilly.

Tiba-tiba saja perut Ray berbunyi, atau lebih tepatnya berteriak pada semua orang bahwa dia minta makan.

"Anu... bagaimana kalau kita makan dulu? Kita juga baru saja berjalan jauh, hehe." ujar Ray.

Dalam beberapa menit, mereka semua mengeluarkan bekal yang mereka bawa. Ray membawa sebongkah keju dan roti, Edge membawa beberapa potong daging panggang yang cukup untuk semua orang, Lilly membawa roti dan buah-buahan seperti ceri dan arbei, Raisha membawa beberapa potong roti, sementara Elise membawa beberapa potong roti yang menjepit daging, atau lebih dikenal dengan nama hamburger.

Ketika mereka semua hendak makan, Elise menaruh beberapa potong burgernya di atas piring yang dia bawa. Ia menatap burgernya, lalu ke teman-temannya, lalu balik ke burgernya.

Raisha mengambil piring burger Elise lalu menawarkannya pada yang lain, "Silahkan dicoba, Elise membuatnya sendiri lho." ia berjalan mendekati keempat rekannya, menaruh piring burger itu di depan mereka.

Raisha menggerakkan bibirnya, berbicara tanpa suara. Agak susah ditebak, tapi sepertinya Raisha berkata 'Tolong berbohong ya'

Mereka berempat masing-masing mengambil satu burger, setelah masing-masing mencoba satu gigitan, semuanya membisu. Tidak ada suara lain selain kicauan burung entah di mana.

"Ja... jadi... bagaimana... rasanya..." tanya Elise.

Mereka semua saling menatap satu sama lain, ketika bertemu mata dengan Raisha, Raisha membalas tatapan mereka dengan senyuman yang berkata 'Kalian mengerti kata-kataku tadi kan?'

"Makanan buatanmu ini enak sekali!" ujar Ruby

"Su... sungguh?"

"Iya. Belum pernah aku makan makanan seperti ini sebelumnya." kata Ray

"Rasanya benar-benar luar biasa." sambung Edge

"Makananmu ini enak sekali Elise." ujar Lilly.

"Benarkah? Terima kasih... aku... senang sekali." ujar Elise.

"Ah hari sudah semakin gelap ya? Bagaimana kalau kita mulai membuat kemah?" usul Raisha sambil melihat ke ufuk barat, ke tempat matahari menggantung rendah di langit dan mewarnai langit dengan warna merah senja.

"Benar juga, tidak terasa hari sudah mulai gelap." ujar Ray.

"Biar aku yang mencari kayu bakar." seusai mengucapkan ini, Raisha mengacungkan tangan ke pohon terdekat. Lalu, tubuh Raisha terselimuti cahaya hijau, sesaat kemudian cabang pohon itu tumbuh memanjang ke arah si penyihir. Sesudah cukup dekat, dia memotong-motong cabang pohon itu dengan ukuran yang sesuai untuk kayu bakar, lalu memendekkan cabang pohon itu ke asalnya.

Ia tersenyum ke Ruby dan Ray sebelum menjelaskan, "Sihirku adalah penguasaan elemen kayu. Aku bisa memanipulasi apapun selama itu mengandung kayu, mulai dari pohon sampai perabotan rumah."

Terdengar seruan kagum dari dua orang baru guild itu.

"Jadi kau bisa membuat pohon dari sampah?" tanya Ray.

"Tidak, aku tidak bisa membuat pohon atau kayu dari apapun, aku cuma bisa mengendalikan yang sudah ada." jawab Raisha.

"Atau jangan-jangan kamu bisa memanggil tanaman dari dunia roh untuk bertarung?" tanya Ruby

"Tidak bisa! Dari mana kamu dapat pikiran seperti itu?"



Edge membakar tumpukan kayu bakar, lalu mereka semua menikmati kemping malam itu dengan duduk mengitari api unggun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar