Minggu, 07 September 2014

Chapter 6: One tough opponent

Borus berdiri perlahan sambil mengamati lawan barunya.Lilly berdiri menantangnya di sisi Ruby yang terkapar di tanah. Rambut pirangnya yang indah berkibar-kibar tertiup angin.

"Ruby, kau diamlah di situ. Biar aku yang mengurus orang ini." ujar Lilly, tidak melepaskan pandangannya dari Borus.

Borus menggeram, lalu melesat menyerang Lilly. Lilly memainkan serulingnya, nada-nada yang indah memenuhi udara. Sesaat kemudian serangan-serangan tak kasat mata menghantam Borus.

Borus terdorong mundur, tapi masih bisa tersenyum setelah menerima serangan Lilly.

"Sudah kuduga, pertahanan shapeshift memang luar biasa."

Lilly berjalan menyamping, mencoba menjauhkan Ruby dari pertempuran, dia memainkan serulingnya sambil menggiring Borus ke tempat lain.

Strategi Lilly berhasil, mereka kini ada di tempat di mana Ruby pasti tidak akan terkena dampak pertarungan.

"Sudah puas? Kau tampaknya ingin sekali menjauhkan temanmu itu dari pertarungan kita." tanya Borus.

"Kau menyadarinya? Berarti kau sengaja ikut permainanku ya."

"Ya. Aku sudah tidak tertarik dengannya lagi, tapi aku lebih tertarik denganmu yang lebih tangguh."

"Baiklah kalau begitu, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengecewakanmu." sesudah mengucapkannya, Lilly memainkan serulingnya sekali lagi, serangan-serangan sihir yang tak terlihat menyobek udara, mengoyak tanah, dengan cepat dan tepat melesat menuju Borus.

Borus tidak sempat menghindar, dia menyilangkan tangan di depan dadanya untuk menahan serangan Lilly. Gelombang energi tercipta saat serangan Lilly mengenai sasaran, menerbangkan angin, debu, dan rerumputan. Setelah debunya mereda, Borus masih berdiri di tempatnya.

"Kau kuat juga ya." ujar Lilly.

"Menyerangnya dari dekat akan susah." pikir Borus, "Baiklah, akan kuikuti permainanmu bertarung dari jauh."

Borus membuka tangannya, dan membuat bola energi berwarna putih di telapak tangannya.

"Terima ini!" seru Borus sambil menembakkan bola energi itu. Melihat serangan itu, Lilly memainkan lagu untuk membuat perisai. Bola energi itu meledak ketika bertemu dengan perisai Lilly.

"Boleh juga kau!" seru Borus, setelah itu dia langsung menembakkan beberapa bola energi yang serupa ke arah Lilly.

Kaget dengan jumlah serangan itu, Lilly langsung memainkan melodi cepat. Jari jemarinya menari di atas serulingnya, membuat beberapa perisai sekaligus.

Beberapa ledakan energi meledak saat peluru-peluru itu mengenai perisai Lilly. Debu-debu beterbangan, tanah berlubang, beberapa pohon pun tumbang. Lilly terkapar beberapa meter dari lubang terdekat, tubuhnya terluka, darah mengalir keluar dari mulutnya.

Lilly mencoba untuk bangkit, saat melakukan itu, dia melihat musuhnya masih berdiri tegap di tempatnya, menyeringai mengejek.

Saat sudah berhasil berdiri, Lilly memainkan melodi dari serulingnya lagi. Sekali lagi, serangan serangan suara yang hanya bisa didengar itu melesat cepat menuju sasarannya. Borus tidak diam saja, dia kembali menembakkan bola-bola energinya. Kedua serangan itu meledak saat bertemu di udara. Tekanan energinya sampai membuat Lilly terpental ke belakang, Borus terdorong mundur satu langkah.


Borus berjalan mendekat, menghampiri Lilly yang terkapar di tanah.

"Hebat juga kau" pujinya, "Tidak semua orang bisa bertarung satu lawan satu melawanku sampai seperti ini."

Lilly mencoba untuk bangkit sekali lagi, walaupun usahanya kali ini lebih berat karena lukanya. Darah mengalir turun dari keningnya.

Borus mengangkat tangannya tinggi-tinggi di udara

"Tapi kini selesailah sudah."

Mendadak, sebuah bola api melesat dari samping. Borus menghindari serangan itu tepat pada waktunya, dia menoleh untuk melihat siapa penyerangnya tadi.

"Lilly! Kau tidak apa-apa?!" teriak Edge sambil berlari mendekat.

Dari arah berlawanan dari serangan Edge, sebuah hembusan angin kuat menyerang Borus. Kena telak.

"Siapa dia? Makhluk apa itu?" tanya Ray sambil berlari mendekat.

"Apa kau tidak tahu? Jelas-jelas dia ini penyihir yang bisa merubah wujudnya, shapeshift." jawab Edge.

"Begitu... apa dia Borus, target kita?"

"Ya, aku Borus. Dan aku tidak perduli dari guild mana kalian berasal, akan kuhabisi kalian semua."

"Oh yeah? Kau kalah jumlah, dan kau pasti sudah kepayahan sesudah melawan Lilly. Menghabisimu akan mudah." ujar Edge sambil menyalakan api di tangan kanannnya.

"Fire finger!" seru Edge sambil menembakkan apinya ke Borus. Apinya tipis dan panjang, tapi serangannya cepat, Borus tidak sempat menghindar dari jarak sedekat itu, serangan Edge meledak saat mengenai sasaran.

Borus melompat keluar dari kepulan asap, lalu mendarat di salah satu dahan pohon yang cukup besar untuk menopang beratnya.

"Sial, dia penyihir api." umpatnya.

Sesaat kemudian, sebuah bayangan melompat tinggi di udara. Ketika Borus mendongak, bayangan itu berubah menjadi Ray.

"Jangan lupakan aku. Terima ini, little typhoon." hembusan angin Ray mengenai target dengan tepat, Borus terpental dari dahan tapi dia sempat berputar di udara untuk mendarat di kakinya.

Belum sempat Borus mendongak, Edge sudah berdiri tepat di depan mukanya.

"Incinerate – Tower of fire" ujar Edge sambil mengangkat tangannya ke atas, membuat pilar api yang membakar Borus.

"Akan kubuat kau menyesal karena sudah melukai Lilly." bisik Edge di tengah erangan Borus yang terbakar.

Ketika pilar apinya padam, Edge mengangkat tangannya sekali lagi untuk mengeluarkan sihir yang sama untuk kedua kalinya. Lalu ketiga kalinya, lalu keempat kalinya. Setelah pilar keempat padam, nafas Edge mulai memburu. Tubuh Borus sudah mulai gosong.

Melihat adanya kesempatan, Borus menyerang Edge dengan serentetan pukulan. Ray hanya bisa terdiam melihatnya, tanpa disadarinya, mulutnya melongo melihat pertarungan Edge. Di luar dugaan, Edge amat gesit. Semua serangan Borus tidak ada yang mengenainya. Kesal karena serangannya meleset semua, Borus menembakkan bola energi dari jarak yang amat dekat. Tapi sekali lagi, Edge bisa menghindari serangan ini bagai menghindari lemparan batu anak kecil.

"Mustahil!" seru Borus.

"Serangan yang kuat itu tidak ada gunanya kalau tidak kena." ujar Edge. Ia lalu membuka telapak tangannya menghadap Borus.

"Incinerate – Fire breather" semburan api yang sangat besar mengenai Borus dengan telak. Membakarnya habis-habisan bersama dengan rerumputan dan pepohonan yang ada di sekitarnya.

Ketika serangan itu selesai, nafas Edge semakin berat, keringat turun dari dahinya. Borus di depannya sudah tidak berwujud shapeshift lagi, melainkan kembali ke wujud manusianya.

"Heh, wajah itu lebih mirip dengan yang ada di permohonan misi." sindir Edge.

"Hebat sekali kau Edge!" puji Ray. Edge hanya tersenyum membalasnya.

"Kurang ajar... jangan kira ini sudah selesai!" Borus menerjang dan menyambar wajah Edge, Edge yang terkejut tidak sempat berbuat apa-apa saat Borus menjatuhkannya ke tanah.

"Hahahah! Kena kau!" ujar Borus sambil tertawa puas. Edge mencoba menyingkirkan tangannya, tapi gagal, tenaga fisik Edge kurang kuat. Karena cara biasa tidak bisa, Edge membuka telapak tangannya untuk membakar Borus. Gagal. Tenaga sihir Edge tidak mau berkumpul.

"Heh. Ternyata tidak banyak tenaga yang tersisa." Selesai dengan Edge, dia melepaskannya dan berdiri berhadap-hadapan dengan Ray.

"Tapi kini aku punya cukup tenaga untuk melayanimu, majulah!" tantang Borus pada Ray. Sesudah mengatakannya, Borus kembali berubah ke wujud shapeshift.

"Baiklah kalau begitu!" balas Ray sambil menghimpun energi anginnya. Mereka berdua bertarung sengit. Walau kekuatannya sudah berkurang, tapi Borus tetap merupakan musuh yang sebanding dengan Ray.

Pertarungan berhenti sesaat ketika Ray terdorong mundur hingga menghantam sebatang pohon.

"Hanya segitu kah? Kau pun akan berakhir di sini, seperti teman-temanmu!"

Borus baru akan mengeluarkan serangan penghabisan, ketika tiba-tiba sesuatu yang cepat dan tipis menyayat udara dan memotong tangan Borus.

Borus berteriak kesakitan. Tangannya yang masih utuh memegangi tangannya yang terpotong dan mengucurkan darah. Ketika dia melihat ke arah datangnya serangan, Ray mengenali siapa yang baru saja menolongnya.

"Kau baik-baik saja? Maaf kami sedikit terlambat." ujar si penyihir dari Gold Hawk, Eleanor. Partnernya yang pendiam berdiri beberapa meter di belakangnya.

"Sial... ternyata masih ada lagi penyihir lain..." geram Borus.

"Tenang saja, ini akan cepat." ujar Eleanor.

Ray terkesima melihat apa yang terjadi berikutnya, hanya dalam hitungan detik Eleanor sudah mengalahkan Borus dan membuatnya tak mampu lagi melawan.

"Fabio hentikan pendarahannya, kita harus membawanya hidup-hidup." mendengar kata-kata Eleanor, Fabio langsung melakukan tugasnya.

"Kau hebat sekali." puji Ray.

"Tidak, aku berhasil melumpuhkannya karena kalian sudah bertarung melawannya. Kalau aku harus melawan seorang shpaeshift, aku pun pasti akan kesulitan." jawab Eleanor, "Ayo kita harus sembuhkan teman-temanmu lalu membawa buronan ini kembali."

"Hadiah misi ini tetap jatuh ke Silver Line. Kami menemukannya lebih dulu." ujar Edge dengan lemahnya.

"Iya, aku setuju kok." jawab Eleanor.



Sementara mereka berempat pergi menjalankan misi, Area sedang santai-santai di bar. Gelasnya penuh terisi minuman, yang dalam 2 detik berikutnya habis ditenggak.

"Bartender! Lagi!" serunya pada pria di balik meja panjang. Tak lama kemudian, gelasnya terisi kembali.

"Sedang bersenang-senang?" ujar sebuah suara ketika dia berencana mengosongkan gelasnya lagi.

"Oh, Lucia... yaaah, begitulah." jawab Area sebelum melanjutkan rencananya.

Suasana tenang. Tak ada suara lagi setelah Lucia memesan minumannya.

Beberapa detik kemudian, Area membuka suara.

"Apa yang dikatakan ketua, rahasia kota ini. Aku masih kesulitan untuk mempercayainya."

"Walaupun kau telah melihatnya sendiri?" balas Lucia sebelum menikmati pesanannya.

"Ya."

Sekali lagi, kesunyian meliputi mereka berdua, atau mungkin seisi bar.

"Nona Lucia, ada satu hal yang ingin kutanyakan: di guild kita ini apa hanya aku yang mengetahui soal ini?"

"Tidak."

"Lalu? Siapa lagi yang tahu?"

"Maaf ya, tapi mereka tidak ingin aku memberitahu siapapun. Omong-omong... aku ingin berterima kasih padamu yang sudah ikut membantu Diaz menjaga rahasia ini."

Area merasa tidak nyaman Lucia berusaha mengalihkan topik pembicaraan, walaupun Lucia benar-benar berterima kasih padanya. Tapi ada satu kata yang mengganjal benak Area



'Mereka'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar