Setelah Raisha memberikan obat yang dibuat dari pencariannya ke Elise yang sakit, dia kembali ke apartemennya untuk membuatkan Rico sebuah sup hangat. Raut wajah anak laki-laki itu terlihat sangat senang saat memakannya. Di pagi yang sama, Edge sedang memelanai kuda, Lilly di sebelahnya sudah selesai mengerjakan hal yang sama.
"Kau sudah siap, Edge?" tanya si perempuan. Tubuhnya mengenakan mantel berwarna putih yang agak tebal.
"Ya. Baru saja." jawab yang ditanya. Edge langsung melompat ke punggung kuda, tangannya yang dibungkus sarung tangan memegang tali kekang. Penyihir api itu mengenakan mantel berwarna merah terang, seolah menegaskan identitasnya sebagai penyihir api.
"Ayo kita bergegas, ada seorang gadis yang perlu diselamatkan." katanya kemudian, kepada rekannya.
Lilly lalu naik ke atas kudanya, "Para bandit itu mengharapkan orang tua gadis itu memberikan tebusan waktu matahari terbenam nanti, tapi kita akan menghancurkan harapan itu."
Mereka berdua memacu kudanya, meninggalkan jejak-jejak tapak kuda di sepanjang jalan bersalju di luar kota.
Hari sudah mendekati tengah hari, sewaktu mereka bisa melihat tempat yang diinginkan para bandit untuk menyerahkan tebusan. Edge dan Lilly berhenti di sebuah bukit tinggi, dari situ, mereka melihat Pohon eik besar dengan dahan tertutup salju yang menyebar ke segala arah. Di bawah pohon itu, terlihat seperti titik-titik kecil di atas salju, tujuh orang bandit sedang mengelilingi seseorang yang diikat di tengah-tengah mereka.
"Itu dia, orang yang harus kita selamatkan." ujar Edge, "Ada ide bagaimana kita akan melakukannya? Menyerang langsung dari depan bukanlah gagasan yang bagus."
"Bagaimana dengan strategi sederhana? Aku akan memancing perhatian mereka dari depan, sementara itu kau mendekat dari belakang dan menolong anak itu." usul Lilly.
"Dan bagaimana caraku mendekati mereka dari belakang? Tanah salju ini begitu terbuka. Tidak ada apapun yang bisa kupakai untuk bersembunyi sambil mendekat dalam jarak 300 meter."
"Kenakan mantelku dan menunduklah, dan juga jangan terlalu membuat suara."
Segera, mereka bertukar mantel. Lilly merasa agak dingin karena mantel Edge tidak setebal miliknya, tapi ia tidak mempermasalahkan hal itu. Kuda-kuda ditinggalkan, Lilly bergerak terlebih dulu, baru setelah beberapa langkah kemudian Edge berjalan mendekat.
Kingdom of Astelaath
Senin, 03 Agustus 2015
Senin, 29 Juni 2015
Chapter 26: Forest Trip
Sore itu sudah tiga hari berlalu sejak Ray dan Ruby pergi dalam misi mereka. Raisha berjalan keluar dari sebuah toko dengan lambang tanaman obat di atas pintunya. Wajahnya tertunduk lesu, tangannya memasukkan secarik perkamen ke tas kecil di pinggangnya. Gadis itu menghela nafas sebelum mulai berjalan.
"Kak Raisha, kebetulan sekali kita bertemu di sini." ujar seorang anak berambut merah.
Raisha menoleh ke asal suara, "Rico? Sedang apa kau di sini?"
"Oh, aku cuma ingin berjalan-jalan di kota saja. Kakak sendiri?"
"Aku baru saja mau membeli obat untuk Elise." Raisha menoleh ke toko obat yang didatanginya tadi, "Tapi ternyata obatnya sudah habis. Mereka bilang padaku kalau mereka bisa meramu obatnya kalau aku membawa bahan-bahannya."
"Lalu kakak akan mencarinya di hutan di luar kota itu?"
Raisha mengangguk sebagai jawaban.
"Tapi ini kan musim dingin, salju sudah turun beberapa hari yang lalu, apakah tanaman itu masih ada di sana?"
"Mungkin kemungkinannya kecil, tapi aku tetap akan mencarinya."
Rico diam sejenak, lalu berkata, "Aku akan ikut membantu kakak mencarinya, bagaimana? Kebetulan aku sedang tidak ada kesibukan."
"Eh? Kenapa?"
"'Kenapa?' mungkin karena aku tidak bisa membiarkan seorang perempuan pergi ke hutan sendirian, jadi aku akan membantu."
"Heee. Kau terdengar seperti laki-laki sejati." puji Raisha, yang langsung membuat wajah Rico memerah, "Baiklah, kau boleh ikut."
Tidak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk tiba di hutan di luar kota. Pepohonannya masih sama seperti biasa, hanya saja kali ini dahan-dahan dan ranting tertutup oleh salju. Jalan setapaknya juga tidak terlihat, hanya celah di antara dua deretan pohon yang memberitahu mereka bahwa sebelumnya pernah ada jalan setapak di situ.
"Omong-omong, tanaman obat apa yang kita cari?" tanya Rico.
"Jari merah, kau tahu?"
"Tanaman kecil berwarna merah yang daunnya berbentuk seperti jari itu? Aku tahu. Tapi di mana kita akan mencarinya?"
"Biar kutanyakan." setelah mengatakannya, Raisha mendekat ke salah satu pohon. Tangannya menyentuh batang pohon itu, lalu dia memejamkan matanya. Cahaya redup berwarna hijau bersinar dari tangan gadis itu, setelah beberapa saat, cahaya itu memudar. Raisha menoleh ke Rico lagi.
"Ayo. Aku sudah tahu di mana tempatnya." seru Raisha sebelum berjalan. Rico langsung menyusulnya.
"Apa yang kakak lakukan tadi?"
"Berbicara pada pohon." jawabnya enteng.
"Kakak bisa berbicara pada pohon?"
"Iya. Pohon dan tumbuhan juga makhluk hidup, kalau kau menguasai elemen pohon, kau juga bisa berbicara dengan pohon."
"Lalu? Kakak bertanya pada pohon itu dimana letak jari merah?"
"Iya. Katanya beberapa hari yang lalu masih ada beberapa jari merah di tepi sungai. Kalau kita beruntung mungkin kita bisa memetiknya."
"Kak Raisha, kebetulan sekali kita bertemu di sini." ujar seorang anak berambut merah.
Raisha menoleh ke asal suara, "Rico? Sedang apa kau di sini?"
"Oh, aku cuma ingin berjalan-jalan di kota saja. Kakak sendiri?"
"Aku baru saja mau membeli obat untuk Elise." Raisha menoleh ke toko obat yang didatanginya tadi, "Tapi ternyata obatnya sudah habis. Mereka bilang padaku kalau mereka bisa meramu obatnya kalau aku membawa bahan-bahannya."
"Lalu kakak akan mencarinya di hutan di luar kota itu?"
Raisha mengangguk sebagai jawaban.
"Tapi ini kan musim dingin, salju sudah turun beberapa hari yang lalu, apakah tanaman itu masih ada di sana?"
"Mungkin kemungkinannya kecil, tapi aku tetap akan mencarinya."
Rico diam sejenak, lalu berkata, "Aku akan ikut membantu kakak mencarinya, bagaimana? Kebetulan aku sedang tidak ada kesibukan."
"Eh? Kenapa?"
"'Kenapa?' mungkin karena aku tidak bisa membiarkan seorang perempuan pergi ke hutan sendirian, jadi aku akan membantu."
"Heee. Kau terdengar seperti laki-laki sejati." puji Raisha, yang langsung membuat wajah Rico memerah, "Baiklah, kau boleh ikut."
Tidak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk tiba di hutan di luar kota. Pepohonannya masih sama seperti biasa, hanya saja kali ini dahan-dahan dan ranting tertutup oleh salju. Jalan setapaknya juga tidak terlihat, hanya celah di antara dua deretan pohon yang memberitahu mereka bahwa sebelumnya pernah ada jalan setapak di situ.
"Omong-omong, tanaman obat apa yang kita cari?" tanya Rico.
"Jari merah, kau tahu?"
"Tanaman kecil berwarna merah yang daunnya berbentuk seperti jari itu? Aku tahu. Tapi di mana kita akan mencarinya?"
"Biar kutanyakan." setelah mengatakannya, Raisha mendekat ke salah satu pohon. Tangannya menyentuh batang pohon itu, lalu dia memejamkan matanya. Cahaya redup berwarna hijau bersinar dari tangan gadis itu, setelah beberapa saat, cahaya itu memudar. Raisha menoleh ke Rico lagi.
"Ayo. Aku sudah tahu di mana tempatnya." seru Raisha sebelum berjalan. Rico langsung menyusulnya.
"Apa yang kakak lakukan tadi?"
"Berbicara pada pohon." jawabnya enteng.
"Kakak bisa berbicara pada pohon?"
"Iya. Pohon dan tumbuhan juga makhluk hidup, kalau kau menguasai elemen pohon, kau juga bisa berbicara dengan pohon."
"Lalu? Kakak bertanya pada pohon itu dimana letak jari merah?"
"Iya. Katanya beberapa hari yang lalu masih ada beberapa jari merah di tepi sungai. Kalau kita beruntung mungkin kita bisa memetiknya."
Senin, 22 Juni 2015
Chapter 25: Escort mission
Paling tidak sudah tiga minggu berlalu sejak para pedagang keliling mengunjungi Recht. Hari-hari mulai berubah, musim dingin semakin terasa. Baru tadi malam salju turun untuk pertama kalinya. Membuat dunia tertutupi oleh lapisan putih dingin. Seorang lelaki muda berjalan lambat di atas lapisan itu, meninggalkan lubang-lubang seukuran telapak kakinya di belakangnya. Ia memeluk dirinya sendiri yang sudah memakai mantel tebal.
"Sial... dingin sekali..." keluh Ray sambil menggigil. Walaupun begitu, ia tetap berjalan menuju guild.
"Semoga siapapun yang meminta pertolongan nanti punya sup hangat untuk dinikmati." ujarnya dalam dingin.
Udara yang hangat menyambutnya begitu ia memasuki guild, dalam hatinya Ray berterimakasih pada siapapun itu yang menyalakan api di dalam perapian.
"Ke mana Ruby? Aku kira dia sudah sampai duluan, ternyata belum ya?" tanyanya sambil menggantungkan mantelnya di samping pintu.
"Hm? Sudah ada yang datang? Ini mantelnya Ketua Diaz, ini milik Nona Lucia, lalu ini..." pandangannya terhenti pada sebuah mantel berwarna merah dengan bulu putih di ujung lengannya. Ukuran mantel itu terlalu kecil bila dibandingkan dengan dirinya, atau Ruby.
"Mungkin Elise atau Raisha." dia menyimpulkan sendiri.
Ray mendapatkan jawabannya saat ia memasuki ruang permohonan misi. Raisha sudah ada di situ, memandangi kertas-kertas di papan misi.
"Hi Raisha." sapa Ray.
Raisha berbalik sebelum membalas, "Oh, hi Kak Ray."
"Kau sendirian? Tidak bersama Elise?"
"Oh, perutnya sedang sakit, jadi untuk sementara dia tidak bisa ikut menjalankan misi denganku."
"Hoo..." hanya itu jawaban Ray, sebelum ia mulai melihat-lihat kertas-kertas di papan misi.
"Omong-omong, aku boleh tanya? Kenapa kau ingin menjadi guru? Itu bukan cita-cita yang jelek sih, hanya saja orang-orang biasanya kan lebih memilih bergabung bersama guild, atau menjadi tentara di kerajaan. Jadi... cita-citamu itu tidak umum, kurasa."
"Hehe, tidak apa-apa kok kalau Kak Ray bertanya begitu. Dulu Ketua Diaz juga pernah menanyakan hal yang sama. Sebenarnya aku ingin menjadi seperti ayahku."
"Ayahmu?"
"Iya, beliau guru sihir di kota asalku. Semenjak aku kecil, aku sudah diajari sihir lebih intensif daripada orang lain. Secara teori dan praktek. Karena ayahkulah, aku bisa lulus sekolah lebih cepat daripada orang lain. Dan aku ingin menjadi seperti ayahku, berguna bagi orang banyak. Bukan cuma untuk generasi ini, tapi juga mendidik generasi yang akan datang. Karena itulah, aku ingin menjadi guru."
"Cita-cita yang bagus sekali. Semoga kau bisa meraihnya, berusahalah."
"Ya. Terimakasih Kak Ray."
"Ray? Kau di sini?" ujar sebuah suara. Ketika yang dipanggil menoleh, Ruby ada di sumbernya.
"Aku kira kau masih latihan bersama Area. Beberapa hari yang lalu juga kau masih latihan intensif bersamanya."
"Latihannya berakhir dua hari yang lalu." jawab Ray, "Uangku mulai habis, jadi aku rasa sebaiknya aku mulai menjalankan misi lagi."
"Benar juga, misi terakhir yang kau jalankan itu kan... misi menjaga pelelangan itu kan? Sudah lama sekali, dan sejak itu kau terus latihan bersama Area." sahut Ruby. Dalam hatinya, Ray masih terkejut bahwa bayaran dari misi itu cukup untuk menghidupi dirinya tanpa kerja sampai selama ini. Pekerjaan dari orang kaya memang beda.
"Bagaimana kalau kita mengambil misi yang ini saja?" Ruby menunjuk ke salah satu kertas, di situ tertulis 'Pengawalan' di bagian atasnya, dan detil misi di bawahnya.
Ray melihat kertas itu, sebelum menjawab "Mengawal? Boleh juga, bayarannya juga lumayan. Aku tidak keberatan, kau mau ikut, Raisha?"
"Tidak, terimakasih. Aku lebih suka mengajar daripada mengerjakan misi bertarung atau semacamnya."
"Hmm... ya sudah kalau begitu. Ayo kita berangkat, Ruby."
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di tempat pemohon. Rumahnya memang mencolok, dengan pagar tinggi menghalangi orang-orang yang ingin masuk ke dalamnya. Rumah ini memang terlihat seperti rumah orang kaya, dengan bangunan tingkat dua dan halaman yang cukup luas. Sebuah kereta kuda diparkir di halaman, beberapa orang tampak berdiri di sampingnya.
Ray dan Ruby menghampiri mereka.
"Permisi, kami dari Guild Silver Line, kami mendapat permohonan misi dari anda." ujar Ray.
Salah seorang pria menoleh ke Ray, topi coklatnya menutupi sebagian wajahnya.
"Ah, kalian datang tepat waktu, kami hampir saja berpikiran bahwa kalian tidak menerima permohonan kami. Seharusnya kalian datang lebih awal daripada waktu yang aku tulis."
"Sudahlah Dabro, yang penting mereka sudah datang," ucap seorang pria tua berjenggot, "Aku Ralvin, kepala rumah ini. Terimakasih kalian sudah menerima permohonan kami. Langsung saja, misi kalian sederhana: mengawal putriku dengan selamat sampai Luronda dan kembali kemari."
sesudah mengatakan itu, Ralvin menoleh ke dalam kereta kuda, saat itu Ray dan Ruby menyadari bahwa ada seorang remaja perempuan duduk di dalamnya. Tubuhnya tertutup mantel berwarna merah muda, rambut merahnya diikat ekor kuda. Ia tersenyum pada Ray dan Ruby saat tahu bahwa mereka melihatnya.
"Sephillia baru menginjak 17 tahun, sesuai tradisi keluarga kami, kami akan merayakannya di rumah keluarga tertua, yaitu kakakku, kebetulan dia sekarang tinggal di Luronda. Sebenarnya aku ingin ikut pergi dan menjaganya, tapi pekerjaanku menghalangiku. Karena itulah, aku minta bantuan kalian."
"Kami mengerti." sahut Ruby.
"Kami akan menjaganya dengan nyawa kami." sambung Ray.
"Aku senang kalau begitu. Perbekalan dan kuda-kuda sudah disiapkan. Kalian bisa berangkat sekarang juga."
beberapa pelayan mengikatkan tas-tas perbekalan di dua kuda yang akan ditunggangi Ray dan Ruby. Dabro naik ke kursi kemudi kereta kuda, dan dengan segera, perjalanan mereka dimulai.
Beberapa jam telah berlalu semenjak mereka bertolak dari Recht menuju selatan. Lapisan salju tipis menutupi semua yang ada di tanah. Ray memacu kudanya di depan, ancaman apapun yang menghadang mereka akan berhadapan dengan Ray terlebih dulu. Sementara itu, Ruby mengikuti kereta dari belakang, berjaga-jaga kalau ada bandit yang ingin mengagetkan mereka.
Sampai malam menjelang, tidak ada bahaya apapun yang menghadang mereka. Dabro membuat api unggun di tengah kemah sederhana mereka, dia lalu membuat sup kentang sederhana, tapi cukup untuk menghangatkan mereka.
"Pesta ulang tahun Nona Sephilia akan diadakan dua hari lagi, besok kita sudah harus mencapai Luronda." kata Dabro saat membuat makan malam. Ia lalu mencicipi supnya, sesudah puas dengan rasanya, dia menuangkan sebagian untuk Sephilia.
"Kami mengerti." jawab Ruby sambil mengambil makanannya sendiri.
"Omong-omong aku ingin tahu, bagaimana rasanya bekerja di guild?" tanya Sephilia tiba-tiba. Suaranya terdengar lebih halus dan lembut daripada suara perempuan lain yang pernah didengar Ray.
"Kenapa... kau ingin tahu?" kali ini Ruby yang bertanya.
"Karena aku merasa, mereka yang bekerja dalam guild adalah orang yang hebat. Kalian berani melakukan apapun untuk membantu orang-orang yang meminta bantuan pada kalian kan? Aku sering membaca tentang kalian, di buku-buku. Aku rasa, orang-orang seperti kalian itu hebat sekali."
"Nona, tolong jangan menjadi orang guild. Pekerjaan ini terlalu berbahaya. Tuan akan marah, lagipula, nona adalah anak semata wayang Tuan Ralvin."
"Aku tahu, tapi tetap saja aku tidak terlalu tertarik melanjutkan bisnis ayah."
"Nona, tolong jangan katakan itu di depan Tuan. Tuan akan sangat sedih."
"Aku tahu itu."
Mereka melanjutkan makan malam mereka. Seusai makan, Ruby berdiri dan mengajukan diri berjaga-jaga pertama kali.
"Sial... dingin sekali..." keluh Ray sambil menggigil. Walaupun begitu, ia tetap berjalan menuju guild.
"Semoga siapapun yang meminta pertolongan nanti punya sup hangat untuk dinikmati." ujarnya dalam dingin.
Udara yang hangat menyambutnya begitu ia memasuki guild, dalam hatinya Ray berterimakasih pada siapapun itu yang menyalakan api di dalam perapian.
"Ke mana Ruby? Aku kira dia sudah sampai duluan, ternyata belum ya?" tanyanya sambil menggantungkan mantelnya di samping pintu.
"Hm? Sudah ada yang datang? Ini mantelnya Ketua Diaz, ini milik Nona Lucia, lalu ini..." pandangannya terhenti pada sebuah mantel berwarna merah dengan bulu putih di ujung lengannya. Ukuran mantel itu terlalu kecil bila dibandingkan dengan dirinya, atau Ruby.
"Mungkin Elise atau Raisha." dia menyimpulkan sendiri.
Ray mendapatkan jawabannya saat ia memasuki ruang permohonan misi. Raisha sudah ada di situ, memandangi kertas-kertas di papan misi.
"Hi Raisha." sapa Ray.
Raisha berbalik sebelum membalas, "Oh, hi Kak Ray."
"Kau sendirian? Tidak bersama Elise?"
"Oh, perutnya sedang sakit, jadi untuk sementara dia tidak bisa ikut menjalankan misi denganku."
"Hoo..." hanya itu jawaban Ray, sebelum ia mulai melihat-lihat kertas-kertas di papan misi.
"Omong-omong, aku boleh tanya? Kenapa kau ingin menjadi guru? Itu bukan cita-cita yang jelek sih, hanya saja orang-orang biasanya kan lebih memilih bergabung bersama guild, atau menjadi tentara di kerajaan. Jadi... cita-citamu itu tidak umum, kurasa."
"Hehe, tidak apa-apa kok kalau Kak Ray bertanya begitu. Dulu Ketua Diaz juga pernah menanyakan hal yang sama. Sebenarnya aku ingin menjadi seperti ayahku."
"Ayahmu?"
"Iya, beliau guru sihir di kota asalku. Semenjak aku kecil, aku sudah diajari sihir lebih intensif daripada orang lain. Secara teori dan praktek. Karena ayahkulah, aku bisa lulus sekolah lebih cepat daripada orang lain. Dan aku ingin menjadi seperti ayahku, berguna bagi orang banyak. Bukan cuma untuk generasi ini, tapi juga mendidik generasi yang akan datang. Karena itulah, aku ingin menjadi guru."
"Cita-cita yang bagus sekali. Semoga kau bisa meraihnya, berusahalah."
"Ya. Terimakasih Kak Ray."
"Ray? Kau di sini?" ujar sebuah suara. Ketika yang dipanggil menoleh, Ruby ada di sumbernya.
"Aku kira kau masih latihan bersama Area. Beberapa hari yang lalu juga kau masih latihan intensif bersamanya."
"Latihannya berakhir dua hari yang lalu." jawab Ray, "Uangku mulai habis, jadi aku rasa sebaiknya aku mulai menjalankan misi lagi."
"Benar juga, misi terakhir yang kau jalankan itu kan... misi menjaga pelelangan itu kan? Sudah lama sekali, dan sejak itu kau terus latihan bersama Area." sahut Ruby. Dalam hatinya, Ray masih terkejut bahwa bayaran dari misi itu cukup untuk menghidupi dirinya tanpa kerja sampai selama ini. Pekerjaan dari orang kaya memang beda.
"Bagaimana kalau kita mengambil misi yang ini saja?" Ruby menunjuk ke salah satu kertas, di situ tertulis 'Pengawalan' di bagian atasnya, dan detil misi di bawahnya.
Ray melihat kertas itu, sebelum menjawab "Mengawal? Boleh juga, bayarannya juga lumayan. Aku tidak keberatan, kau mau ikut, Raisha?"
"Tidak, terimakasih. Aku lebih suka mengajar daripada mengerjakan misi bertarung atau semacamnya."
"Hmm... ya sudah kalau begitu. Ayo kita berangkat, Ruby."
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di tempat pemohon. Rumahnya memang mencolok, dengan pagar tinggi menghalangi orang-orang yang ingin masuk ke dalamnya. Rumah ini memang terlihat seperti rumah orang kaya, dengan bangunan tingkat dua dan halaman yang cukup luas. Sebuah kereta kuda diparkir di halaman, beberapa orang tampak berdiri di sampingnya.
Ray dan Ruby menghampiri mereka.
"Permisi, kami dari Guild Silver Line, kami mendapat permohonan misi dari anda." ujar Ray.
Salah seorang pria menoleh ke Ray, topi coklatnya menutupi sebagian wajahnya.
"Ah, kalian datang tepat waktu, kami hampir saja berpikiran bahwa kalian tidak menerima permohonan kami. Seharusnya kalian datang lebih awal daripada waktu yang aku tulis."
"Sudahlah Dabro, yang penting mereka sudah datang," ucap seorang pria tua berjenggot, "Aku Ralvin, kepala rumah ini. Terimakasih kalian sudah menerima permohonan kami. Langsung saja, misi kalian sederhana: mengawal putriku dengan selamat sampai Luronda dan kembali kemari."
sesudah mengatakan itu, Ralvin menoleh ke dalam kereta kuda, saat itu Ray dan Ruby menyadari bahwa ada seorang remaja perempuan duduk di dalamnya. Tubuhnya tertutup mantel berwarna merah muda, rambut merahnya diikat ekor kuda. Ia tersenyum pada Ray dan Ruby saat tahu bahwa mereka melihatnya.
"Sephillia baru menginjak 17 tahun, sesuai tradisi keluarga kami, kami akan merayakannya di rumah keluarga tertua, yaitu kakakku, kebetulan dia sekarang tinggal di Luronda. Sebenarnya aku ingin ikut pergi dan menjaganya, tapi pekerjaanku menghalangiku. Karena itulah, aku minta bantuan kalian."
"Kami mengerti." sahut Ruby.
"Kami akan menjaganya dengan nyawa kami." sambung Ray.
"Aku senang kalau begitu. Perbekalan dan kuda-kuda sudah disiapkan. Kalian bisa berangkat sekarang juga."
beberapa pelayan mengikatkan tas-tas perbekalan di dua kuda yang akan ditunggangi Ray dan Ruby. Dabro naik ke kursi kemudi kereta kuda, dan dengan segera, perjalanan mereka dimulai.
Beberapa jam telah berlalu semenjak mereka bertolak dari Recht menuju selatan. Lapisan salju tipis menutupi semua yang ada di tanah. Ray memacu kudanya di depan, ancaman apapun yang menghadang mereka akan berhadapan dengan Ray terlebih dulu. Sementara itu, Ruby mengikuti kereta dari belakang, berjaga-jaga kalau ada bandit yang ingin mengagetkan mereka.
Sampai malam menjelang, tidak ada bahaya apapun yang menghadang mereka. Dabro membuat api unggun di tengah kemah sederhana mereka, dia lalu membuat sup kentang sederhana, tapi cukup untuk menghangatkan mereka.
"Pesta ulang tahun Nona Sephilia akan diadakan dua hari lagi, besok kita sudah harus mencapai Luronda." kata Dabro saat membuat makan malam. Ia lalu mencicipi supnya, sesudah puas dengan rasanya, dia menuangkan sebagian untuk Sephilia.
"Kami mengerti." jawab Ruby sambil mengambil makanannya sendiri.
"Omong-omong aku ingin tahu, bagaimana rasanya bekerja di guild?" tanya Sephilia tiba-tiba. Suaranya terdengar lebih halus dan lembut daripada suara perempuan lain yang pernah didengar Ray.
"Kenapa... kau ingin tahu?" kali ini Ruby yang bertanya.
"Karena aku merasa, mereka yang bekerja dalam guild adalah orang yang hebat. Kalian berani melakukan apapun untuk membantu orang-orang yang meminta bantuan pada kalian kan? Aku sering membaca tentang kalian, di buku-buku. Aku rasa, orang-orang seperti kalian itu hebat sekali."
"Nona, tolong jangan menjadi orang guild. Pekerjaan ini terlalu berbahaya. Tuan akan marah, lagipula, nona adalah anak semata wayang Tuan Ralvin."
"Aku tahu, tapi tetap saja aku tidak terlalu tertarik melanjutkan bisnis ayah."
"Nona, tolong jangan katakan itu di depan Tuan. Tuan akan sangat sedih."
"Aku tahu itu."
Mereka melanjutkan makan malam mereka. Seusai makan, Ruby berdiri dan mengajukan diri berjaga-jaga pertama kali.
Jumat, 24 April 2015
chapter 24: Edge
Lagu-lagu indah yang memenuhi siang itu perlahan memudar sebelum akhirnya berhenti. Seorang pemain gitar membungkukkan badan beberapa kali ke arah penonton yang bertepuk tangan. Seorang anak kecil berkeliling sambil menadahkan topi lebar, ke sanalah para penonton melempar koin-koin mereka.
Lilly, Edge, Raisha, Lucia, Diaz, dan Mad juga termasuk diantara yang melemparkan koin mereka ke anak kecil itu.
"Lagu yang indah ya? Sayang sekali Ruby tidak mendengarkannya." ujar Lilly.
"Elise juga." sahut Raisha, "Mereka sedang bersama Kak Ray."
"Hoo, beruntung sekali Ray, menghabiskan waktu bersama dua perempuan cantik." ujar Lilly lagi.
"Berarti aku yang bersamamu ini sedang sial, ya?" sambung Edge.
"Wah, Edge, kau mau musim dingin ini kubuat jadi musim dingin yang terakhir untukmu?" Lilly mengeluarkan serulingnya.
"Tidak, terima kasih. Aku masih ingin menikmati musim semi."
"Edge?" tiba-tiba sebuah suara memanggil.
Semuanya menoleh ke asal suara, dan mereka melihat seorang perempuan berumur sekitar pertengahan 20-an, tingginya tidak jauh beda dengan Lilly, mungkin cuma lebih tinggi sedikit. Rambutnya sama merahnya dengan rambut Edge, hanya saja lebih panjang hingga melewati bahu.
"Kak Arieta." panggil Edge pada perempuan itu, sebelum mendekat. Semua orang saling bertukar pandang saat Edge memanggil perempuan itu.
"Edge tidak pernah memberitahuku dia punya kakak." ujar Lilly.
"Iya, dia juga tidak memberitahuku." sahut Diaz. Lucia juga memberi respon yang sama.
"Ya... kalau Kak Edge tidak memberitahu Kak Lilly, wajar saja kalau dia tidak menceritakannya pada yang lain."
"Tunggu dulu Raisha, apa maksudmu dengan itu?"
Raisha menjawab Lilly dengan setengah berbisik, "Soalnya, semua orang juga sudah tahu perasaan tersembunyi Kak Edge pada Kak Lilly."
Diaz, Lucia, dan Mad mengangguk setuju terhadap kata-kata Raisha.
"Kenapa kau tidak pernah pulang? Ayah dan ibu khawatir setiap kali aku kembali ke rumah. Kau tambah tinggi ya? Terakhir kali aku melihatmu kau tidak setinggi ini. Bagaimana makanmu? Sehat? Bagaimana kabarmu di guildmu?"
"Aku kan sudah menulis surat kak. Ya, aku bertambah tinggi, aku masih dalam masa pertumbuhan. Aku makan dengan baik kok kak. Dan, orang-orang di guild menerimaku dengan baik." jawab Edge pada pertanyaan kakaknya yang bertubi-tubi.
"Omong-omong soal guild, kebetulan anggota guildku sedang bersamaku." Edge mengacungkan ibu jarinya ke rombongan di belakangnya.
Arieta berjalan ke samping Edge, ia membuka mulutnya untuk memperkenalkan diri, namun mendadak kata-katanya berhenti di tenggorokannya. Matanya membelalak tak berkedip saat melihat Lilly.
"Iris?"
Lilly, Edge, Raisha, Lucia, Diaz, dan Mad juga termasuk diantara yang melemparkan koin mereka ke anak kecil itu.
"Lagu yang indah ya? Sayang sekali Ruby tidak mendengarkannya." ujar Lilly.
"Elise juga." sahut Raisha, "Mereka sedang bersama Kak Ray."
"Hoo, beruntung sekali Ray, menghabiskan waktu bersama dua perempuan cantik." ujar Lilly lagi.
"Berarti aku yang bersamamu ini sedang sial, ya?" sambung Edge.
"Wah, Edge, kau mau musim dingin ini kubuat jadi musim dingin yang terakhir untukmu?" Lilly mengeluarkan serulingnya.
"Tidak, terima kasih. Aku masih ingin menikmati musim semi."
"Edge?" tiba-tiba sebuah suara memanggil.
Semuanya menoleh ke asal suara, dan mereka melihat seorang perempuan berumur sekitar pertengahan 20-an, tingginya tidak jauh beda dengan Lilly, mungkin cuma lebih tinggi sedikit. Rambutnya sama merahnya dengan rambut Edge, hanya saja lebih panjang hingga melewati bahu.
"Kak Arieta." panggil Edge pada perempuan itu, sebelum mendekat. Semua orang saling bertukar pandang saat Edge memanggil perempuan itu.
"Edge tidak pernah memberitahuku dia punya kakak." ujar Lilly.
"Iya, dia juga tidak memberitahuku." sahut Diaz. Lucia juga memberi respon yang sama.
"Ya... kalau Kak Edge tidak memberitahu Kak Lilly, wajar saja kalau dia tidak menceritakannya pada yang lain."
"Tunggu dulu Raisha, apa maksudmu dengan itu?"
Raisha menjawab Lilly dengan setengah berbisik, "Soalnya, semua orang juga sudah tahu perasaan tersembunyi Kak Edge pada Kak Lilly."
Diaz, Lucia, dan Mad mengangguk setuju terhadap kata-kata Raisha.
"Kenapa kau tidak pernah pulang? Ayah dan ibu khawatir setiap kali aku kembali ke rumah. Kau tambah tinggi ya? Terakhir kali aku melihatmu kau tidak setinggi ini. Bagaimana makanmu? Sehat? Bagaimana kabarmu di guildmu?"
"Aku kan sudah menulis surat kak. Ya, aku bertambah tinggi, aku masih dalam masa pertumbuhan. Aku makan dengan baik kok kak. Dan, orang-orang di guild menerimaku dengan baik." jawab Edge pada pertanyaan kakaknya yang bertubi-tubi.
"Omong-omong soal guild, kebetulan anggota guildku sedang bersamaku." Edge mengacungkan ibu jarinya ke rombongan di belakangnya.
Arieta berjalan ke samping Edge, ia membuka mulutnya untuk memperkenalkan diri, namun mendadak kata-katanya berhenti di tenggorokannya. Matanya membelalak tak berkedip saat melihat Lilly.
"Iris?"
Senin, 02 Maret 2015
Chapter 23: Winter comes
Dua
bulan telah berlalu semenjak insiden penyerangan White Moon yang
mengambil artefak purba. Cuaca sudah semakin dingin, walaupun salju
belum turun. Musim dingin sudah datang di Arkascha. Di musim ini Recht
kedatangan tamu musiman: para pedagang keliling yang selalu berkelana ke
seluruh penjuru Arkascha, membeli dan menjual barang-barang mereka dan
barang-barang orang lokal.
Musim
dingin ini adalah giliran Recht yang mereka datangi. Mereka semua
mendirikan tenda-tenda di luar Recht, kereta kuda masing-masing tidak
jauh dari tenda. Ada penjual daging yang diasinkan, ada penjual baju,
ada penjual perhiasan, dan ada banyak lagi pedagang yang mendirikan
tendanya di luar kota Recht.
Semua
penduduk Recht keluar dari rumah mereka, ada yang sekedar
melihat-lihat, ada yang membeli barang, ada juga yang menjual barang
mereka.
Termasuk
juga para penyihir Silver Line. Diaz, Lucia, Ray, Ruby, Lilly, Edge,
Area, Raisha, dan Elise, tapi ada pemandangan yang berbeda, ada satu
orang yang jarang terlihat, tapi kali ini hadir bersama mereka. Mad
Vrey.
Mad
berjalan di sebelah Elise, paling jauh dari Diaz. Wajahnya tidak
berekspresi selain sesekali melirik ke Diaz, seakan berhati-hati
padanya.
Raisha melirik ke Mad dengan tatapan yang tajam, dia berbisik "Jangan macam-macam ya."
Mad hanya mendengus kesal.
"Aku akan pergi sendiri." ujar Mad sambil berlalu. Raisha memandangi dia pergi.
"Aku akan mengikuti Mad, aku tidak ingin dia berbuat onar seperti sebelumnya." ujar Raisha pada Elise.
"Kalau begitu, aku ikut denganmu, Raisha." balas Elise. Mereka berdua berjalan mengikuti Mad.
"Mau apa kalian ikut?" tanya Mad agak kasar kepada dua gadis yang membuntutinya.
"Bukan
kenapa-kenapa, cuma memastikan kau tidak dengan tanpa sengaja membuat
keributan yang akan mempermalukan guild." jawab Raisha.
"Demi menjaga nama baik guild? Apa pentingnya guild ini bagi kalian?"
"Guild
ini... sangat penting bagiku." kali ini Elise yang menjawab, "Ketua
Diaz menerimaku... saat aku tidak punya tempat lagi... guild ini...
sudah seperti rumahku sendiri. Aku tidak akan membiarkan... kau
mengotori namanya."
Mad menoleh ke Elise, tatapannya dibalas sorot mata yang kuat dan tegas, beda dengan Elise yang biasanya.
"Terserah kalianlah." jawab Mad, sekenanya.
Mereka
bertiga berjalan bersama bagai satu rombongan. Rombongan aneh yang
terdiri dari seorang pria tinggi besar botak, bersama dua orang gadis
kecil.
Jumat, 20 Februari 2015
Chapter 22: Land's map
Awan
tebal berarak di langit, menutup setiap jengkal langit dengan warna
putih yang damai. Tidak jauh dari gulungan awan itu, jauh di ujung utara
Kerajaan Arkascha, berdiri dengan megah deretan pegunungan Callian. Di
puncak salah satu gunung, berdiri dengan megah sebuah kuil yang entah
sejak kapan dibangunnya. Kuil itu adalah titik tertinggi di gunung itu,
seolah-olah ujung gunung dipotong untuk kemudian dibangun kuil ini.
Deretan anak tangga yang diukir melingkar di tepi gunung merupakan
satu-satunya jalan keluar masuk ke kuil ini, pepohonan menutupi mereka.
Tembok batu tinggi menutup pandangan orang luar terhadap kuil ini,
kecuali atap sebuah bangunan yang dibuat mengerucut. Gerbang kayu yang
dibuat menyerupai huruf A menjadi pintu masuknya. Beberapa pendeta
dengan kepala yang dicukur dan pakaian longgar berlalu lalang di dalam
kuil itu, dua orang pendeta menjaga pintu masuk.
Dua
orang perempuan dan seorang laki-laki menanjaki deretan anak tangga
menuju kuil itu. Yang laki-laki adalah Zivon, pria yang pernah merebut
artifak di benteng Galtar. Seorang perempuan berambut hitam pendek
sebahu, sementara satunya lagi pirang panjang hingga sepinggang.
"Harta
purbakala yang satu lagi ada di sini ya? Terpencil sekali, tempat yang
cocok untuk menyimpan harta sepenting itu." ujar yang berambut panjang
"Selain
tempatnya susah dicapai, kuil itu juga dijaga oleh banyak sekali
penyihir tingkat tinggi. Orang biasa tidak akan bisa menyerang kuil ini
sendirian, karena itu para penjaga kami serahkan padamu, Mirabel." kali
ini Zivon yg berbicara.
"Tenang
saja, tidak ada orang yang bisa mengalahkanku," balas perempuan
berambut pendek, "Karena aku adalah penyihir pilihan dewa, yang sudah
ditakdirkan untuk menjadi yang terkuat."
"Kau tidak menghilangkan dirimu sebelum menyerbu masuk, Zivon?" tanya perempuan berambut panjang itu.
"Tidak
Selena, penyihir sepertiku tau walau dari jauh, kuil itu bukan tempat
sembarangan, sudah ada perisai khusus. Sihir penghilangku akan langsung
tidak befungsi di dalam kuil itu."
"Begitu... yah, kau yang lebih tau soal itu Zivon, jadi aku percaya saja."
Begitu
sampai di gerbang kuil itu, mereka dihadang oleh kedua penjaga, salah
seorang diantaranya berkata, "Berhenti! Tempat ini terlarang untuk
dimasuki orang luar."
Selena
melemparkan dua buah jarum tipis ke arah para penjaga itu, keduanya
menghindar dengan sigap, tapi jarum itu tetap menggores pipi mereka.
"Kalian
berniat menyerang kuil suci ini? Kalian membuat keputusan yang salah."
ujar salah satu penjaga, dia dan rekannya mengacungkan tangan mereka ke
depan, bersiap menyerang.
"Percuma
melawan, kalian sudah kalah." ujar Selena. Tidak sampai dua detik
sesudah mengatakannya, kedua penjaga itu langsung ambruk.
"Racunku sangat kuat, tergores sedikit saja sudah lebih dari cukup untuk membunuh siapapun." ujarnya lagi.
Sewaktu
mereka bertiga memasuki lapangan utama kuil, ribuan pendeta langsung
berhamburan keluar entah dari mana, mengelilingi mereka bertiga.
"Kalian,
apa kalian yang menyerang Benteng Galtar? Kami sudah mendengar
kabarnya, tapi salah sekali kalau kalian menyamakan kami dengan para
penyihir itu. Kami adalah orang-orang yang sejak bayi dibesarkan di kuil
ini, dengan tujuan melindungi rahasia kuil ini. Kemampuan kami jauh
berbeda dengan mereka." ujar salah satu pendeta.
"Begitu...
sempurna. Aku memang menginginkan musuh yang kuat." ujar Mirabel.
Sesaat kemudian, angin berputar kencang di sekitarnya, bersamaan dengan
menguatnya auranya, hingga menyerupai api perak. Sesaat kemudian tubuh
Mirabel bersinar terang, berbarengan dengan meledaknya auranya. Ketika
cahaya memudar, apa yang dilihat para pendeta itu sungguh di luar
dugaan.
Kaki
berbentuk Z seperti kaki burung, sebagian tertutup bulu perak dan
sebagiannya lagi tulang yang kuat. Lengan perempuan itu yang tadinya
berbentuk tangan, kini sepasang sayap besar yang juga tertutup bulu
perak bagai bulu burung. Perempuan itu seorang penyihir shapeshift.
Yang
membedakan dari makhluk shapeshift lainnya adalah dada dan wajah
perempuan itu yang masih berupa dada perempuan dan wajah manusia,
menjadikan perempuan itu makhluk setengah burung dan setengah wanita.
"Kau.. jangan-jangan kau... Mirabel Sang Harpy?" tanya salah seorang pendeta.
"Ya." jawab Mirabel, "Aku adalah penyihir pilihan dewa yang memiliki kekuatan tiada tara, shapeshift murni!"
Selasa, 10 Februari 2015
Chapter 21: Rivalry
Awan
tipis memenuhi langit, hanya menyisakan sedikit ruang bagi matahari
untuk mengintip. Di bawah sana, di jalanan kota, seorang gadis kecil
berjalan sendiri. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai,
sesekali dibelai oleh angin.
Elise Campbell, nama gadis belia itu, baru beberapa saat yang lalu dia meninggalkan sahabatnya untuk mengambil misi sendirian.
"Bagaimana ya sekarang?" gumamnya pada dirinya sendiri.
"Biasanya aku mengambil misi bersama Raisha, kalau sendirian... aku... tidak terbiasa..."
setelah
menghela nafas panjang, dia melanjutkan gumamannya, "Yaah, paling tidak
coba kembali ke guild dulu, mungkin ada misi yang bisa kuambil
sendiri."
Tak
berapa lama kemudian, Elise sampai di Silver Line. Sambil berjalan
pelan, ia masuk ke guild lalu menuju ruang misi. Di sana, ia mendapati
dirinya tidak sendirian.
"Kak Ruby?" ujarnya spontan.
"Oh, hi Elise, apa kabar? Hah? Raisha tidak bersamamu kali ini?"
"Hi Kak Ruby, Raisha sedang.... mengambil misi sendirian, pemohon misi cuma ingin... menyewa satu orang."
"Hoo, begitu..."
"Kakak sendiri... sedang apa di sini? Bukannya kakak sedang terluka, dan... tidak boleh mengambil misi?"
"Tidak
apa-apa, yang dilarang kan misi bertarung atau misi berbahaya
semacamnya, aku bisa mencari misi yang tidak terlalu membahayakanku
kok." jawab Ruby sambil tersenyum tak bersalah.
'Tapi aku yakin Raisha melarang kakak mengambil misi apapun' batin Elise dalam hati.
Sedetik kemudian, Elise menyadari ada yang aneh, seseorang yang seharusnya berada di situ tidak ada di situ.
"Kak Ruby... di mana Kak Ray? Bukannya... biasanya Kak Ruby selalu mengambil misi... bersama Kak Ray?"
"Oh,
dia? Sekarang dia sedang latihan bersama Area, belakangan ini selalu
begitu kok. Ray mulai jarang mengambil misi, dia lebih rajin berlatih.
Yaah, itu bukan hal yang jelek sih, mengingat kemampuannya yang
biasa-biasa saja, tapi tetap saja dia mengabaikan permohonan misi di
guild. Coba lihat, banyak orang yang membutuhkan bantuan kita di sini,
tapi dia malah mengabaikannya." Ruby menunjuk ke papan permohonan misi
di akhir kalimatnya.
"Tapi...
Kak Ray melatih dirinya supaya bisa mengambil... misi yang lebih susah
kan? Berarti itu bagus, lagipula... selain kita, ada juga Gold Hawk di
sini." balas Elise.
"Tapi
tetap saja, aku tidak suka tidak mengambil misi apapun, dan di saat
sekarang ini, Ray tidak mau diajak mengambil misi. Pergi melakukan misi
sendirian rasanya membosankan."
"Jadi...
Kak Ruby bukannya tidak suka kalau Kak Ray pergi latihan, tapi... tidak
suka kalau Kak Rau tidak mau diajak pergi... dalam misi bersama?"
wajah Ruby memerah sedikit, "Memangnya kenapa dengan itu? Tidak masalah kan?"
"Tapi apa Kak Ray... suka mengambil misi bersama... Kak Ruby?"
Ekspresi wajah Ruby berubah kaget, lalu dia bertanya, "Apa maksudmu dengan itu?"
entah kenapa suasana terasa berubah, udara terasa dingin menyesak, seolah-olah angin berhenti berhembus.
"Tidak... cuma penasaran saja... soal Kak Ray..."
"Kenapa dengan Ray?"
Elise menelan ludah dengan susah payah, sebelum menjawab, "Bagaimana... perasaan Kak Ray pada Kak Ruby?"
"Kenapa, kenapa kau ingin tahu?"
Langganan:
Komentar (Atom)