Cahaya matahari di hari itu masih tetap sama saja seperti hari lainnya, menguasai langit tanpa awan, meninggalkan bayangan panjang di tanah. Area saat ini sedang bersantai di bawah perlindungan salah satu bayangan itu. Ia memandangi langit sambil merebahkan diri di atas rumput, daun dan ranting menghalangi pandangannya tapi dia tidak protes soal itu.
"Diaz memanggilmu, kelihatannya soal urusan penting."
Dia menoleh ke asal suara, dan melihat Lucia di sana, rambut pirangnya bersinar lebih terang di bawah cahaya matahari. Berdiri di samping tempatnya merebahkan diri. Area duduk sebelum bertanya, "Ada apa ya? Jarang sekali dia membicarakan urusan penting denganku."
"Mungkin karena sekarang kau termasuk orang yang bisa dipercayainya dalam urusan ini."
Mimik wajah Area berubah serius mendengarnya
"Oh, urusan itu ya? Baiklah aku akan segera menemuinya." dia bangkit, lalu berjalan meninggalkan Lucia.
"Area." panggil Lucia, yang dipanggil pun berhenti.
"Ada apa, Lucia?"
"Guild kita ke arah sana." jari telunjuk Lucia menunjuk ke arah yang berlawanan dengan tujuan Area.
"Ah iya, aku lupa." Area berbalik menuju arah yang ditunjukkan asisten ketua guild.
"Akan kutemani kau, kalau pergi sendiri kau pasti tersesat."
"Jangan berlebihan ah, mana mungkin aku tersesat di kota ini."
"Sudah ada tiga kejadian yang membuktikan omonganmu itu salah."
"Yaaah, tapi tidak mungkin aku tersesat untuk yang keempat kalinya kan?"
"Dulu kau bilang tidak akan tersesat untuk yang ketiga kalinya, ingat?"
"Aku lebih memilih untuk melupakannya."
Akhirnya mereka berdua sampai di Silver Line. Kesunyian menyapa mereka berdua ketika pintu guild dibuka.
"Hari ini sepi sekali? Aku tahu Edge dan Lilly sedang pergi dalam misi, tapi kemana Ruby dan anak baru itu?"
"Setahuku Ray pergi untuk berlatih, aku tidak tahu soal Ruby." jawab Lucia.
Area memilih untuk tidak melanjutkan percakapan, atau kalau dia ingin melanjutkan, kelihatannya tidak ada topik yang muncul dari kepalanya.
Mereka berdua berhenti di depan pintu ketua guild di lantai dua. Lucia mengetuk pintunya sebelum membukanya.
Diaz sedang meminum apapun itu yang ada di dalam gelasnya ketika mereka berdua memasuki ruangan. Saat gelasnya diletakkan kembali, tidak ada petunjuk apapun di gelas itu yang bisa membuat Area menebak apa yang baru saja dia minum.
"Area, aku senang kau datang." suara Diaz tetap berwibawa seperti biasa.
"Lucia sudah memberitahuku urusan apa yang membuatku dipanggil. Aku tidak bisa tidak datang."
"Ya, utusan dari istana baru saja datang dan dia memberi kabar yang tidak terlalu menggembirakan."
Area ingin bertanya, tapi dia menahan keinginannya untuk menanyakannya pada Diaz. Ia akan memberitahunya beberapa detik lagi.
"Benteng Galtar diserang oleh kelompok misterius belum lama ini."
"Lalu?" hanya itu pertanyaan yang keluar dari mulut Area.
"Galtar juga menyimpan harta purbakala."
sunyi.
Saking sunyinya, suara kicau burung dari luar pun terdengar jelas.
"Begitu... jadi mereka sudah mulai bergerak." ujar Area akhirnya.
"Kita masih tidak tahu kenapa mereka mencari dan mengumpulkan harta purbakala, tapi kita tetap harus waspada. Semua tempat yang menjaga harta purbakala sudah diberi peringatan, kita juga diminta untuk meningkatkan penjagaan."
"Aku mengerti." ujar Area.
"Ah, sebenarnya... kau bukan satu-satunya orang yang kumintai pertolongan, tapi karena mereka berdua belum datang, aku malah menjelaskannya padamu. Kalau dipikir-pikir seharusnya aku menunggu sampai kalian semua berkumpul ya?" ujar Diaz, kali ini dengan nada santai.
"Mereka? Siapa?" tanya Area.
"Aku sudah memanggil mereka sebelum mencarimu, mungkin sebentar lagi mereka datang." ujar Lucia
Baru saja Lucia menutup mulut, pintu sudah diketuk.
"Masuklah, itu kalian berdua kan?" Lucia menjawab ketukan pintu.
Ketika pintu dibuka, Area terkejut melihat siapa yang masuk.
"Mereka? Ketua, apa kau serius?"
"Tentu saja." jawab Diaz dengan senyum lebar.
"Apa kau kaget? Kak Area?" tanya salah satu dari mereka.
Pada siang yang sama, di padang rumput tak jauh dari Recht, Ray sedang berlatih seorang diri. Mengumpulkan energi angin di telapak tangannya hingga angin itu berputar-putar di situ. Setelah puas dengan jumlah angin yang berkumpul, dia melepaskannya pada sebatang pohon di hadapannya. Serangan itu kena telak, tapi pohon itu masih berdiri di tempatnya.
"Apa harus dengan wind buster ya?"
Ray kembali menghimpun energi angin, kali ini lebih besar dari sebelumnya.
"Wind Buster!" teriaknya sambil melepaskan energi angin yang tak bisa lagi ia bendung.
Peluru angin raksasa itu menghantam pohon targetnya, mematahkannya. Energi angin yang terkonsentrasi pun terburai, mengoyak tanah di sekitarnya.
Nafas Ray memburu, keringat membasahi dahinya.
"Itu memang kuat, tapi aku butuh waktu untuk mengumpulkan energi yang cukup. Dan lagi, sihir ini menghabiskan tenagaku."
Ia diam sejenak, mencoba mengatur nafas.
"Aku butuh sihir lain, yang lebih kuat tapi tidak menghabiskan banyak tenaga."
Ray mengumpulkan energi lagi.
"Masalahnya: membuat sihir baru itu tidak semudah menginginkannya."
Ray mengulangi apa yang diulanginya dari tadi: mengumpulkan energi angin lalu melepaskannya, tapi setiap perulangan dia mengumpulkan energi dalam jumlah yang berbeda dan melepaskannya dengan cara yang berbeda, berharap menemukan formula yang pas untuk sihir baru.
Matahari sudah bergeser cukup jauh dari tempatnya, ketika Ray yang kelelahan kini terkapar di tanah. Ia bernafas seperti ikan yang dilemparkan ke atas tanah, bedanya hanyalah dia tidak punya insang.
"Capek? Kau kelihatannya baru saja latihan keras."
Ray menoleh untuk mencari tau siapa yang mengucapkannya. Ruby. Rambut pendeknya berkibar ditiup angin lewat.
"Ah... iya." hanya itu jawaban Ray.
"Ini." Ruby menyodorkan kantong kulit berisi air. Ray mengucapkan terima kasih saat menerimanya.
"Darimana kau tahu aku ada di sini?" tanya Ray sesudah dua teguk air.
Ruby duduk di sebelah Ray sebelum menjawab, "Sudah dua hari kamu tidak kelihatan di guild. Aku juga tidak melihatmu di kota. Jadi aku simpulkan kamu ada di suatu tempat di luar kota. Kebetulan saja aku melihatmu latihan di sini."
mereka berdua terdiam, menikmati hembusan angin dan kesunyian yang mendadak mendatangi mereka berdua.
Ray tiba-tiba berdiri, "Oke, aku mau lanjutkan latihanku."
"Mau kutemani? Lebih baik daripada latihan sendiri kan?"
"Boleh."
Ruby pun ikut berdiri, mereka berdua berhadap-hadapan. Tidak butuh waktu lama sampai air dan angin bertemu di udara. Masing-masing mencoba mengungguli yang lain, yang terbukti bukan hal susah bagi Ruby, mungkin karena dia lebih tidak kehabisan tenaga dibanding Ray.
Matahari sudah mulai mengubah warna dunia ini menjadi kemerahan ketika mereka berdua memutuskan untuk berhenti sejenak, duduk di padang rumput. Ray terlihat lebih kepayahan dari sebelumnya. Nafasnya lebih berat, keringat juga sudah membasahi seluruh tubuhnya.
"Kau hebat juga." ujar Ray
"Sama denganmu." balas Ruby.
"Jadi apa yang kalian berdua lakukan di tempat ini sampai kalian kecapekan seperti itu?"
dikagetkan oleh pertanyaan itu, mereka berdua berbalik, sebelum melihat Area di belakang mereka.
"Area? Sedang apa kau di sini?" tanya Ray
"Oh, aku hanya kebetulan lewat." jawabnya, "Kalian sendiri?"
"Ah, kami sedang latihan. Tadinya Ray berlatih sendiri, lalu aku menemaninya." jawab Ruby.
"Hoo... jadi kau sedang latihan...." Area sedang memikirkan sesuatu, atau terlihat seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu, tiba-tiba dia melanjutkan kalimatnya, "Bagaimana kalau aku melatihmu Ray? Aku bisa menurunkan beberapa sihirku padamu."
"Ah... terima kasih kalau kau mau, tapi... kenapa?" tanya Ray.
"Aku hanya sedang ingin saja. Lagipula, tidak ada salahnya mengajari anggota yang lebih junior kan? Ini juga untuk memperkuat keseluruhan guild."
Tidak lama kemudian, Ray mulai berlatih lagi. Kali ini di bawah bimbingan Area.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar