Cahaya bulan membelah awan di langit, menerangi sebagian bumi dengan cahaya redupnya. Serangga malam berbunyi di beberapa sudut hutan, meramaikan suasana malam yang sunyi, selain suara serangga-serangga itu yang terdengar hanyalah bunyi burung hantu di kejauhan.
Cahaya bulan menyinari seorang pria yang sedang duduk di atas sebongkah batu Rambut putih pendeknya tidak sesuai dengan wajahnya yang masih muda. Pandangan matanya bersinar lebih terang dari cahaya rembulan, memancarkan keteguhan hati dan tekad yang luar biasa. Jubah hitamnya tidak membantu memantulkan sinar bulan. Wajah tampannya menambah daya tarik dari tubuhnya yang atletis.
Ia dikelilingi beberapa orang, yang keseluruhan sosoknya tertutup bayangan ranting, dahan, dan pepohonan sehingga tidak jelas rupanya. Ada yang tinggi besar, ada yang lebih pendek, salah seorang jelas berambut panjang.
"Kita akan mulai mengambil kembali harta-harta purbakala. Lokasi harta purbakala yang pertama sudah diketahui." ujar pria itu, suaranya benar-benar penuh karisma, suara seorang pemimpin.
"Akhirnya, dimana?" balas salah seorang dari pengikutnya. Suaranya berat dan menakutkan.
"Benteng Galtar." jawab si pemimpin, "Yang menjaganya adalah seorang jenderal sihir bernama Sagas. Harta purbakala itu disimpan dalam ruangan tersegel di bawah tanah benteng, karena itu Zivon kau akan pergi, kalau kau pasti bisa membuka segel seperti apapun."
"Bagaimana dengan jenderal itu?" tanya yang dipanggil Zivon, "Aku tidak bisa melawannya dan mencuri harta purbakala bersamaan."
Si pemimpin itu menoleh ke yang berbadan tinggi besar lalu berkata, "Kau ikut, Jack. Buat jenderal itu sibuk, dan kalau bisa bunuh dia juga."
"Apa maksudmu 'kalau bisa'? Apa kau meremehkan kemampuanku?" balas Jack dengan suaranya yang berat.
"Aku juga ikut, aku juga ingin bersenang-senang." ujar salah seorang dari mereka.
"Baiklah Dagarath, kau boleh ikut kalau mau. Sisanya diam di sini, kita akan tunggu kepulangan mereka bertiga."
Langit siang itu cerah tak berawan. Menghangatkan bumi dan memanasi empat orang anggota guild yang sedang mengerjakan misi mereka. Ray, Ruby, Elise dan Raisha sedang berada di sebuah bukit agak jauh di luar Recht, di arah yang berlawanan dengan hutan tempat mereka kemping sebelumnya. Ray dan Ruby memimpin jalan, Raisha hanya beberapa langkah di belakang mereka, Elise seperti biasa berjalan sambil memeluk lengan Raisha erat.
"Jadi bunga apa yang kita cari tadi? Aku lupa." tanya Ray pada teman-temannya.
"Bunga Laura Biru." jawab Ruby, "Bunga langka yang hanya mekar dua kali dalam setahun. Bunga itu tumbuh di puncak bukit ini, atau mungkin di tempat lain di bukit ini, aku tidak yakin. Yang pasti kita harus menemukannya dan membawanya ke klien kita, karena dia tidak bisa pergi sendiri karena kakinya patah."
"Klien kita akan memberikan bunga itu untuk istrinya sebagai hadiah peringatan ulang tahun mereka yang ke-25, romantis kan?" ujar Raisha dengan penuh semangat, "Karena itu kita harus bisa menemukannya."
"Tapi itu bunga langka kan? Apalagi dia cuma mekar dua kali dalam setahun, apa kita bisa menemukannya?"
"Kata-kata kak Ray terdengar seperti kata-kata Kak Edge." balas Raisha
"Pasti bisa kok, klien kita sendiri bilang dia memetik bunga itu di sekitar bulan ini 25 tahun yang lalu sewaktu dia melamar istrinya." ujar Ruby, yang disambut teriakan bersemangat dari para gadis sewaktu mendengar kata 'melamar'.
"Lamaran ya? Kira-kira kapan ya akan datang orang yang akan melamarku?" tanya Ruby, wajahnya sedikit memerah dan matanya menerawang, mengimajinasikan masa depannya. Raisha dan Elise tersenyum lebar mendengarnya, sementara Ray hanya bereaksi aneh.
"Ray? Apa kau sedang menahan tawamu?" pertanyaan Ruby disertai dengan hawa membunuh.
"Tihihidak kok... ubh."
Ruby membuat pedang air, menodongkannya ke punggung Ray, lalu mengulangi pertanyaannya, "Apa kau sedang menahan tawamu?" hawa membunuh itu semakin besar.
"Aku merasa nyawaku terancam, tidak peduli aku menjawab pertanyaanmu atau tidak."
"Benar sekali, nyawamu memang sedang terancam sekarang, jadi kusarankan kau jangan menambah ancaman yang sudah mengancam nyawamu sekarang. Jalan saja dan jangan banyak bicara."
"Siap nona."
Dan mereka pun melanjutkan perjalanan dengan Ruby menodongkan pedang ke Ray
"Omong-omong, kenapa Edge dan Lilly tidak ikut kita?" tanya Ruby.
"Oh, Kak Lilly perutnya sedang sakit jadi dia tidak ikut, dia bilang dia tidak mood melakukan apa-apa. Kalau Kak Edge sih, dia bilang dia tidak mau ikut." jawab Raisha, "Menurutku sih, Kak Edge tidak ikut karena Kak Lilly juga tidak ikut. Mereka kan selalu bersama."
"Apa ada hubungan khusus antara Edge dan Lilly?" tanya Ruby, dari nada bicaranya dia terdengar bersemangat.
"Aku sih tidak yakin soal perasaan Kak Lilly, tapi kelihatannya Kak Edge menyukai Kak Lilly."
"Begitu... kita harus tanya Lilly kalau ada kesempatan." lanjut Ruby dengan semangat yang sama.
Langkah mereka terhenti ketika mereka melihat apa yang ada di depan mata mereka. Bebungaan dalam berbagai macam jenis terhampar di depan mereka. Keharumannya menerpa hidung mereka ketika angin berhembus pelan. Beberapa kupu-kupu terlihat beterbangan dari satu bunga ke bunga yang lain.
"Ini kah padang bunganya?" tanya Ray
"Cantik sekali" ujar Ruby dalam kekaguman.
"Ayo kita mulai mencari bunganya." ajak Raisha.
"Tapi, seperti apa bunga Laura Biru itu? Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya." Tanya Ray.
"Bunganya berwarna biru, dan cuma ada sekuntum bunga itu dalam satu padang bunga. Karena bentuknya berbeda sendiri, jadi dia mencolok, kalau kita melihatnya pasti tahu." jawab Raisha.
Mereka berempat pun mencari bunga yang dimaksud di padang bunga itu. Ray dan Ruby agak terpisah, sementara Elise menempel erat pada Raisha. Mereka berempat terus mencari, hingga matahari mulai bergeser ke barat. Hasilnya: mereka mengatakannya pada satu sama lain.
"Tidak ketemu."
"Aku tidak melihat bunga yang mencolok di sini."
"Aku juga tidak menemukannya kak."
"Aku.... tidak... juga...."
"Mungkin ini padang bunga yang salah, mungkin saja ada padang bunga lain di sekitar sini." ujar Ray.
"Yeah, bunga langka itu memang tidak mudah dicari ya." lanjut Ruby
"Ayo kita cari padang bunga lain." usul Raisha, mereka pun lalu beranjak pergi dari tempat itu.
Mereka pun pergi meninggalkan padang bunga itu, mendaki bukit ke tempat yang lebih tinggi. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah padang bunga lain, tidak jauh berbeda dari yang pertama mereka temukan, hanya saja padang bunga ini letaknya di tepi jurang.
Mereka berempat mencari lagi. Ruby dan Raisha di sisi jauh dari jurang, sedangkan Elise dan Ray mencari di sisi yang lebih dekat dari jurang. Elise tetap menjaga jarak dari Ray.
'Anak itu selalu diam dan jelas sekali pemalu, aku penasaran apa dia benar-benar penyihir? Sihir apa yang digunakannya? Dan lagi dia dan Raisha sudah menjadi anggota guild di usia semuda itu? Bukannya seharusnya mereka masih belajar di sekolah sihir?' tanya Ray dalam batinnya. Sepenuhnya terdorong oleh rasa ingin tahunya, dia menoleh ke Elise. Ia melihat Elise sedang memunggunginya, hanya saja karena anak perempuan itu sedang mencari sesuatu diantara bebungaan, tubuhnya merangkak di atas taman bunga. Wajah Ray memerah, dan dia langsung membuang muka.
"Ketemu!" teriak seseorang. Ketika semuanya menoleh ke sumber suara, Elise sedang berdiri di tengah bebungaan sambil memegang sekuntum bunga biru di tangannya. Senyum cerah di wajah Elise digantikan rona merah ketika menyadari semua orang sedang menatapnya.
"Anu... benar ini... bunganya... kan?" wajahnya menunduk, bunganya diangkat, seolah sekuntum bunga kecil itu sanggup menyembunyikan dirinya.
"Benar Elise, kau berhasil menemukannya!" seru Raisha.
Belum sempat Raisha mengatupkan mulutnya, sesuatu terjadi. Bumi bergerak, atau lebih tepat kalau disebut berguncang dengan keras. Menggoyangkan semua yang ada di atas bumi.
"Gempa!" teriak Ruby saat dia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah. Ray dan Raisha juga goyah.
Elise kehilangan keseimbangan, langkahnya terhuyung-huyung mundur ke bibir jurang. Hingga tanpa disadarinya, dia jatuh ke jurang.
"Elise!!" jerit Raisha.
Dengan cepat Ray melompat menyusul Elise menuju jurang. Ketika berada di udara, di antara bibir dan dasar jurang, Ray mengulurkan tangannya untuk menggapai Elise. Elise menawarkan tangannya pada Ray. Ketika Ray sudah menggenggam Elise, dia mengumpulkan elemen anginnya di tangannya yang kosong, lalu menghempaskannya sekuat tenaga ke tanah. Daya tolak dari serangannya membuatnya dan Elise terlempar kembali ke bibir jurang, dimana mereka mendarat.
"Elise! Kau tidak apa-apa?" tanya Raisha saat dia mendekati sahabatnya itu.
"A... aku tidak apa-apa... lihat... bunganya juga... selamat."
"Aku tidak mengkhawatirkan bunganya! Aku senang kau selamat."
"Maaf membuatmu... khawatir... dan juga..." dia menoleh ke Ray yang terduduk di sampingnya. Sambil menunduk dan wajah berona, Elise berkata, "Terima... kasih..."
"Oh iya, sama-sama." balas Ray.
"Baiklah, karena kalian semua tidak apa-apa, sebaiknya kita segera kembali ke Recht dan memberikan bunga itu pada klien kita." ujar Ruby. Semuanya setuju dan mereka pun berjalan kembali ke Recht.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar