Matahari siang ini tidak menunjukkan rasa kasihan sedikitpun pada mereka yang di atas tanah, awan-awan yang bertebaran di langit memberikan perlindungan sia-sia, yang hanya membuat beberapa bayangan awan di tempat dimana tak ada orang berteduh.
"Dimana Ruby? Dia terlambat." gerutu Ray saat dia menunggu rekannya di bawah pohon rindang di depan guild. Ray menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari kemungkinan temannya itu mendadak muncul di sudut jalan. Tapi kemungkinannya terbukti nol.
"Mungkin lebih baik aku menunggu di dalam guild saja, ngapain juga aku menunggu di depan guild dari tadi?" setelah menggerutu pada diri sendiri, Ray berjalan memasuki guild.
Pintu masuk guild terbuka tanpa perlawanan, menampakkan kebesaran Silver Line di dalamnya. Ray berjalan lurus, tak menghiraukan tangga yang menuju ruangan ketua guild, dia berjalan ke arah aula utama guild.
Aula utama itu hanyalah ruangan luas yang kosong dari perabot yang tak perlu. Cahaya matahari berusaha menyelinap masuk dari jendela-jendela, melalui jendela itu Ray bisa melihat halaman belakang guild yang dipenuhi rerumputan. Tempat lilin besar menggantung dari langit-langit untuk menggantikan peran matahari saat malam tiba. Di atas deretan jendela, sederet panjang lukisan berukuran besar dipaku di dinding. Semua lukisan itu adalah potret diri seseorang yang semuanya tidak Ray kenali, ada pria dan wanita, semuanya dilukis dalam pose gagah dan berwibawa, mencoba menunjukkan kekuatan mereka yang tak bisa digambarkan oleh lukisan semata. Di ujung lukisan itu ada potret seseorang yang akhirnya dikenali Ray. Seorang pria berambut hitam pendek, tatapan matanya sama seperti saat Ray menatap matanya pertama kali di guild ini. Yang membalas tatapan Ray dari balik lukisan itu adalah sosok Diaz yang diabadikan oleh si pelukis.
"Kenapa kau terkejut begitu? Apa ini pertama kalinya kau melihat foto para ketua guild?" sebuah suara familiar mengagetkan Ray dari bengongnya, saat dia menoleh ke belakang, Diaz yang asli berdiri di belakangnya.
"Ah, ketua? Ah iya, ini pertama kalinya saya melihat lukisan-lukisan itu. Saat saya memasuki aula sebelum-sebelum ini, saya tidak menyadari ada lukisan di atas jendela."
Diaz berjalan maju, memandangi para pendahulunya di tembok itu.
"Mereka semua adalah orang-orang yang dipercaya untuk memimpin guild ini, dan dengan itu juga, untuk menjaga kota ini dari apapun yang mencoba menyerangnya. Sebagai orang yang melanjutkan kepercayaan yang dibebankan pada mereka, akupun akan menjaga dan melindungi semua anggota guildku, dan kota ini juga." Diaz menoleh ke Ray sebelum melanjutkan, "Apa kau ingin menjadi ketua Silver Line berikutnya?"
"Akh? Aku? Tapi aku tidak merasa mampu untuk menjadi ketua."
Diaz tertawa kecil mendengar jawaban Ray, lalu melanjutkan, "Waktumu masih panjang sebelum tiba saatnya kau dicalonkan jadi ketua guild, teruslah berlatih aku yakin kau bisa."
Mendadak mereka mendengar bunyi daun pintu terbuka, saat mereka menoleh mereka melihat Ruby berdiri di ujung sana.
"Oh, dia sudah datang. Maaf ketua, tapi kami sudah berjanji untuk mengambil misi bersama jadi saya permisi dulu." dengan kata-kata itu, Ray melangkah mendekati Ruby.
"Kau baru saja ngobrol dengan ketua?"
"Iya sedikit, ayo kita pilih misi kita." mereka berdua pun pergi menuju ruang misi.
Mata mereka berdua menelusuri pilihan misi yang menawarkan diri mereka sendiri pada mereka. Ruby memeriksa dari ujung papan misi sebelah kanan, Ray mencari mulai dari ujung kiri.
"Bagaimana kalau yang ini?" tanya Ray sambil mengambil satu permohonan misi
"Apa itu? Menjaga pelelangan? Waktunya besok malam. Aku tidak begitu tertarik dengan... eh tunggu dulu?!" Ruby menyambar kertas itu dari tangan Ray, dia memperhatikan permohonan itu begitu seksama, kertasnya hanya beberapa senti di depan wajahnya.
"Em... Ruby?"
"BAYARANNYA BESAR BANGEEEET" teriak Ruby
"Hah? Bayaran?"
"Ini! Ini! Apa kau belum melihatnya?" Ruby mengangkat kertas misi itu hingga tepat di depan mata Ray.
"Em... bayarannya sebesar... HAAAH??"
"Ya kan? Ya kan?" tanya Ruby, senyumnya melebar dari pipi satu ke pipi satunya
"Aku tidak melihat jumlah bayarannya sebelumnya. Pemilik pelelangan memang kaya banget ya?"
"Iya, aku dari tadi mencari yang bayarannya besar, tapi tidak ketemu. Kau hebat bisa menemukannya."
"Hah? Jadi dari tadi yang kau lihat dari permohonan misi adalah jumlah bayarannya ya?"
"Tentu saja, kenapa? Kau mau komentar?"
"Demi keselamatan diriku sendiri, aku lebih memilih untuk diam."
"Itu pilihan yang pintar. Jadi besok kita mengambil misi ini, oke?"
Dewa manapun yang bertugas malam ini, Dia lupa memunculkan bulan di langit. Malam ini gelap pekat kecuali di tempat-tempat yang bisa dijangkau cahaya lilin. Untungnya hampir seluruh sudut Recht sudah dilengkapi lilin jalan, tak ada seorangpun yang mempermasalahkan absennya bulan. Kota itu bercahaya malam ini.
Ray dan Ruby menghentikan langkah mereka di depan sebuah bangunan dua lantai di satu sudut kota. Bangunan itu lebarnya lebih lebar dari kebanyakan bangunan lain, mungkin malah lebih lebar dari guild Silver Line. Beberapa orang berjalan memasuki gedung, beberapa lainnya sudah di dalam. Ray dan Ruby bisa melihat persamaan dari semua orang itu: pakaian mereka mahal-mahal, beberapa perempuan mengenakan perhiasan berkilau terang, saking terangnya perhiasan-perhiasan itu seakan berteriak 'curi aku! Curi aku!' pada setiap orang yang melihat.
"Sekarang kita harus bagaimana?" tanya Ray
"Tentu saja kita mencari pemohon misi, coba kita masuk lewat pintu belakang"
Ray dan Ruby lalu mengitari gedung itu untuk menuju pintu belakang. Sesampainya di sana, mereka bertemu beberapa orang yang sedang sibuk menata barang-barang berharga untuk dilelang. Salah seorang dari mereka menghampiri mereka berdua.
"Kalian tidak boleh kemari, di sini hanya untuk kru balai lelang dan para penjaga." ujarnya
"Kami yakin kamilah penjaganya." balas Ray sambil menyodorkan kertas permohonan misi, "kalian mencari orang untuk menjaga lelang ini kan?"
Lelaki yang menghampiri mereka mengambil permohonan misi itu, lalu menyuruh mereka untuk tetap di situ sementara dia memanggil bosnya.
Beberapa saat kemudian pria itu kembali, kali ini bersama seorang pria berpakaian mewah: sebuah tuxedo, kemeja putih, dan celana panjang hitam. Rambutnya ditutupi topi sutra yang juga berwarna hitam, dan yang menghiasi wajahnya hanyalah kumis tebalnya yang mencuat ke kedua sisi.
"Anda pasti Tuan Garrow, kami dari Guild Silver Line. Anda meminta permohonan untuk penjagaan lelang." ujar Ruby begitu pria itu cukup dekat.
"Ya, saya Garrow. Saya senang kalian berdua datang, karena kami melelang banyak sekali benda-benda berharga. Tak bisa saya bayangkan apa jadinya kalau mereka sampai dicuri. Mari ikuti saya."
Ray dan Ruby mengikuti Garrow menuju lantai dua balai lelang. Sepanjang jalan, Garrow bercerita tentang barang seni dan nilai sejarahnya, yang jelas tidak dimengerti Ray dan Ruby. Selain itu dia juga menjelaskan tentang tugas yang harus mereka berdua lakukan, pada intinya pelelangan akan dilakukan di lantai satu dan mereka berdua bebas berkeliling di lantai satu dan dua untuk penjagaan. Walau begitu ia lebih menyarankan mereka berdua berjaga dari lantai dua, karena mereka dapat mengawasi dengan lebih baik, dan para tamu juga tidak akan merasa terganggu.
"Baiklah, akan saya tinggalkan kalian di sini. Ada hal lain yang harus saya urus, selamat bekerja kalian berdua." ujar Garrow ketika mereka bertiga sampai di lantai dua, dari sini mereka bisa melihat panggung tempat barang lelang akan dipamerkan dan deretan kursi-kursi tempat para penawar akan duduk.
"Hei, menurutmu barang seperti apa yang akan dilelang di sini?" tanya Ruby tiba-tiba.
"Barang apa katamu? Mungkin barang seni bernilai tinggi, seperti lukisan orang terkenal."
"Orang terkenal? Misalnya siapa?"
"Eh... entahlah, aku tidak mengerti lukisan."
"Payah."
"Payah."
"Kau sendiri bagaimana? Menurutmu apa yang dilelang di sini?"
"Hm... mungkin artifak sihir yang langka atau semacamnya?"
Sewaktu mereka sedang berbicara, semakin banyak orang-orang kaya memasuki balai lelang, kursi yang disediakan untuk para penawar hampir sepenuhnya terisi.
"Banyak sekali orangnya, aku tidak tahu jumlah orang kaya di Recht sebanyak ini." ujar Ray.
"Pastinya banyak orang yang datang dari luar kota juga."
"Ah! Ternyata kalian berdua ada di sini!"
Menyadari bukan satu diantara keduanya yang berbicara baru saja, Ray dan Ruby menoleh ke belakang mereka. Mereka melihat Elise dan Raisha menghampiri mereka
"Elise dan Raisha? Kenapa kalian di sini? Dan bagaimana kalian bisa di sini? Harusnya hanya penjaga yang bisa ke sini." ujar Ray.
"Oh? Kami belum bilang ya? Anak orang kaya yang kami ajari sihir itu adalah anak paman Garrow, karena itu dia membolehkan kami masuk ke sini." jawab Raisha.
"Kalian menerima misi dari Garrow? Berarti... berarti... bayaran kalian lumayan dong?" tanya Ruby
"Yaaah begitulah." jawab Raisha.
'Kenapa aku tidak memikirkan untuk mengajar anak orang kaya ya dari dulu?' tanya Ruby pada diri sendiri.
"Begitu kah? Tapi aku masih ada satu pertanyaan: kenapa kalian di sini?" lanjut Ray.
"Hoo... jadi Kak Ray ingin tahu kenapa kami di sini? Hei Elise, Kak Ray ingin tahu kenapa kamu di sini."
"Dia bertanya padamu." jawab Elise
"Tidakkah kau ingin menjawabnya?"
"Tidak... tidak usah." jawab Elise dengan suara yang tak lebih dari bisikan, wajahnya mulai merona.
"Hm? Ada apa?" tanya Ray.
"Tidak... tidak ada apa-apa... jangan... pedulikan... Raisha." jawab Elise, wajahnya masih merona.
"Hei Kak Ray, aku beritahu hal yang lucu deh, sebenarnya Elise itu..." Raisha tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Elise membekap mulutnya dari belakang. Ia lalu menarik Raisha ke belakang.
"Jangan... pedulikan... Raisha..." wajah Elise semakin merah. Pada saat itu Elise menyadari sesuatu dari Ruby. Ruby memandangnya dengan tatapan mata tajam, kalau mata Ruby bisa melakukan sesuatu lebih dari sekedar menatap seseorang, mata itu pasti melempar pisau pada Elise sekarang.
"Hey Ray bagaimana kalau kita berjaga di lantai satu saja, daripada di sini." ujar Ruby tiba-tiba
"Eh? Kenapa?" tanya Ray.
"Apa maksudmu 'kenapa'? Lelangnya diadakan di lantai bawah kan? Para pengunjung juga ada di situ, bukannya lebih mudah buat kita kalau kita menjaga di bawah?"
"Yaaa... omonganmu memang benar sih."
"Ya kan? Ayo kita pergi. Maaf ya kalian berdua, tapi kami sedang bekerja sekarang." Ruby meraih tangan Ray lalu membawanya turun ke lantai satu. Mereka berhenti di balik salah satu pilar yang menyangga lantai dua. Ruby masih menggenggam tangan Ray.
"Anu... Ruby? Aku tidak menyangka kau begitu ingin memegang tanganku."
"JANGAN SALAH SANGKA YA!" Ruby melepaskan tangannya, lalu membuat dua pedang air, menodongkannya pada Ray. "Kenapa juga aku ingin menggenggam tanganmu bodoh?"
"Ah... iya.. benar juga hehe..." suara Ray bergetar saat mengucapkannya.
Mendadak sebuah gong dibunyikan dari panggung, pembawa acara mengumumkan pelelangan dimulai. Ray dan Ruby mulai bersiaga.
Barang pertama yang ditawarkan adalah sebuah vas bunga dengan ukiran-ukiran unik yang merupakan hasil karya terakhir dari seorang pengrajin terkenal. Para penawar langsung bertanding harga, mencoba mengalahkan lawannya dalam permainan adu berani menawar tinggi. Akhirnya vas itu laku ke tangan seorang perempuan paruh baya dengan harga yang hanya bisa membuat Ray dan Ruby tercengang.
"Mereka bisa dengan mudahnya membelanjakan uang sebesar itu ya? Orang-orang ini sebenarnya seberapa kaya?" tanya Ray.
"Oh, barang pertama sudah terjual ya?" ujar sebuah suara dari belakangnya.
"Raisha?" ujar Ray terkejut.
"Hi Kak Ray." balas Raisha dengan nada cerianya yang biasa sambil melambaikan satu tangan. Seperti biasa, Elise bersembunyi di baliknya, "Tenang saja, kami tidak akan mengganggu pekerjaan kalian kok."
Barang kedua mulai dilelang, kali ini adalah lukisan dari seorang pelukis terkenal. Seperti sebelumnya, para penawar langsung berlomba-lomba memberi harga setinggi mungkin. Pada saat itu, mata Elise tertuju ke salah seorang penawar, seorang pria bertuxedo. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, usianya tidak terlalu tua, mungkin akhir tigapuluhan atau sekitar itu. Elise langsung menyembunyikan diri di balik Raisha.
"Ada apa Elise?" tanya Raisha yang menyadari sifat sahabatnya. Elise tidak menjawab kecuali dengan tunjukan jari ke orang yang tadi dilihatnya.
"Apa mungkin... lelaki itu?" tanya Raisha, Elise menjawabnya dengan anggukan.
Pada saat itu lukisan itu sudah terjual ke pria tua beruban. Sama seperti tadi, pembawa acara menyebutkan nama pemenang dan harga terakhir benda yang terjual.
Barang ketiga yang dijual adalah patung batu seorang wanita hasil pahatan saudara dari seniman pelukis yang lukisannya baru saja terjual. Kali ini para penawar yang belum kebagian jatah kemenangan langsung menawar dengan lebih membabi buta dari sebelumnya.
Setelah beberapa lama, pria yang menarik perhatian Elise tadi menawar dengan harga 200 juta Oeri. Pembawa acara menghitung satu hitungan, tidak ada yang menawar lebih tinggi. Dua, masih tidak ada yang menawar lebih tinggi. Ia menunggu beberapa saat untuk kesempatan terakhir, lalu menghitung sampai tiga. Hitungannya selesai.
"Patung Alexandra terjual seharga 200 juta Oeri kepada Tuan William Campbell." teriak si pembawa acara.
"Campbell? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu... Campbell... Campbell..." Ray mengelus-elus dagunya saat ia mencoba mengingat-ingat.
"OH!" seru Ray saat ia akhirnya ingat darimana ia mendengar nama itu sebelumnya, dia menoleh pada Elise, namun sebelum sempat berkata apa-apa, Raisha membungkam mulutnya.
"Ssstt" Raisha menempelkan jari telunjuknya di depan mulutnya, "Aku tahu kakak punya pertanyaan, tapi jangan tanya apa-apa dulu ke Elise. Nanti akan kujelaskan."
Ray hanya mengangguk setuju dengan perkataan Raisha. Setelah itu, pelelangan berlanjut seperti biasa, satu demi satu barang bernilai tinggi terjual. Hingga akhirnya, hari sudah mendekati tengah malam ketika acara lelang usai.
Ray dan Ruby berjalan keluar dari balai lelang, Ray menguap.
"Capek?" tanya Ruby
"Iya." jawab Ray pendek, "Rasanya aku ingin segera tidur."
"Kita baru bisa melapor ke guild besok, dan aku juga capek. Aku ingin kembali ke penginapan sekarang."
"Baiklah kalau begitu, sampai ketemu besok."
Ray dan Ruby berpisah jalan, menuju penginapan masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar