Matahari tampak kehilangan kekuatannya di ufuk barat langit, mewarnai dunia dengan perpaduan warna merah dan oranye. Angin berhembus pelan, mengelus rerumputan di padang yang luas. Di padang itu, Lilly menunjuk ke kaki langit
"Lihat Edge, sudah kubilang ada desa di sekitar sini kan?" ujarnya pada rekannya yang terduduk lemas, rambut merahnya semakin mencolok di bawah siraman cahaya senja.
"Itu ketiga kalinya kau bilang di dekat sini ada desa, untung saja kali ini kau benar."
"Edge, kau mau kubuat tidak bisa berjalan ke desa itu, begitu?" Lilly menarik keluar serulingnya dan tetap tersenyum.
"Tidak, terima kasih. Aku lebih suka sampai kesana dalam keadaan utuh."
"Kalau begitu cepat berdiri, dan jalan. Masak kau sudah capek?"
Edge berdiri sebelum menanggapi ucapan Lilly, "Apa kamu lupa kalau aku yang harus membawa semua persediaan makanan kita? Atau kamu sudah lupa seberapa banyak kamu bisa ma-" sekelebat angin berhembus sebelum Edge sempat menyelesaikan kalimatnya. Setelah angin itu lewat, sebagian ujung rambut Edge terpotong.
"Em... kau mau bilang apa tadi?" tanya Lilly, seruling di bibirnya.
"Tidak, tidak jadi." balas Edge
"Kalau begitu ayo kita pergi, aku ingin sekali beristirahat sesudah selesai satu misi tadi." ujar Lilly
Matahari tidak lagi terlihat di langit ketika Lilly dan Edge akhirnya tiba di desa kecil itu. Tepian luarnya dipenuhi sawah-sawah hijau para penduduk, sebuah sungai kecil berada di tepian terluar. Desa itu tidak terlalu besar, tapi tembok kayu tinggi membatasi antara sawah dan desa, mungkin tembok itu yang menghalangi desa untuk tumbuh lebih besar lagi dari sekarang. Beberapa pria dewasa terlihat berjaga di luar tembok, Lilly dan Edge langsung mengenali bahwa mereka penyihir.
"Siapa kalian? Kalian pengelana?" tanya seorang penjaga.
"Kami anggota Guild Silver Line dari Recht, kami baru saja menyelesaikan misi di sekitar sini, dan kami melihat desamu dari kejauhan, jadi kami ingin bermalam di sini."
"Oh, penyihir dari kota besar ya? Kami senang kalian datang, silahkan masuk." dan dengan persetujuan penjaga itu, mereka berdua memasuki desa.
Di dalam sana, suasananya sepi. Anak-anak semuanya sudah masuk rumah kecuali mereka yang tidak menuruti panggilan orang tuanya untuk berhenti bermain. Obor dinyalakan di jalan desa setiap beberapa puluh langkah, selain dari itu, sumber penerangan lainnya adalah cahaya lilin yang menyala lemah dari dalam rumah.
Ketika melihat ke atas, baru saja Edge menyadari bahwa selain tembok kayu, ada satu lagi yang menjulang tinggi di langit, sebuah bukit. Desa ini kelihatannya terletak di tepi padang rumput dari arah kedatangan mereka tadi dengan tanah yang topografinya lebih tinggi. Memang tidak terlihat jelas di malam hari dan dari kejauhan, bukit itu terlihat seperti memiliki sebuah hutan kecil.
Lilly menghentikan langkahnya lalu berkata, "Nah, ini kelihatannya seperti penginapan."
Mereka berdua berdiri di depan sebuah bangunan kecil berlantai tiga. Lebar bangunan itu tidak sebesar tingginya, membuatnya terlihat seperti raksasa kurus. Kalau dilihat, bangunan itu memang bangunan terbesar di desa ini. Sebuah papan nama menggantung di atas pintu masuk, menandakan bahwa bangunan itu memang penginapan.
Ketika mereka berdua masuk, mereka disambut oleh aroma alkohol yang menyebar ke seluruh ruangan. Salah satu sudut penginapan adalah sebuah bar yang kini dipenuhi oleh pemabuk. Lilly berjalan sambil mencoba mengenyahkan bau yang mengganggu itu. Seorang pria tua menyambutnya dari balik meja panjang.
"Menginap atau minum?" tanyanya dengan suara serak.
"Menginap. Kami ingin dua kamar untuk semalam." jawab Lilly
"Sayang sekali nona, tapi hanya tinggal satu kamar yang tersedia."
"Penginapanmu cukup besar, bagaimana bisa hanya tersisa satu kamar?"
"Sebenarnya penginapan ini tidak terlalu besar, karena lantai satu digunakan sebagai bar, lantai dua untuk penginapan, dan lantai tiga untuk tempat tinggalku dan keluargaku. Jadi hanya ada tiga kamar untuk disewakan, dan kebetulan hanya ada satu yang kosong."
"Aku tidak keberatan kok." sahut Edge
Lilly berbalik menatapnya, lalu berkata "Aku yang keberatan."
"Ayolah, kita butuh tempat bermalam, dan di sini lebih baik daripada tidur di jalan. Bagaimana?"
"Kau tidur di lantai."
"Oke, aku tidak keberatan."
Lilly berbalik lalu bertanya pada pemilik penginapan, "Baiklah, kami menginap. Dan omong-omong di mana kamar mandinya?"
"Kamar mandinya terpisah di belakang penginapan ini." jawab pemilik penginapan sambil menunjuk bagian belakang penginapan.
"Apa kau ingin langsung ke kamar?" tanya Lilly pada Edge.
"Aku ingin makan dulu sebelumnya." jawab yang ditanya.
Meninggalkan Edge yang memenuhi kebutuhannya di bar, Lilly berjalan menuju pemandian terpisah di tempat yang tadi ditunjukkan pemilik penginapan. Sebuah rumah kecil berbentuk kubus yang terbuat dari batu bata berada di sana, selain pintu kayu dan ventilasi kecil di bagian atas rumah itu, tidak ada tempat lain yang membolongi rumah mandi itu.
Lilly masuk dan menguncinya dari dalam. Sebatang lilin menempel di sudut rumah, dari cahaya lilin itu Lilly melihat gantungan baju, sabun, dan handuk. Sebuah cekungan sebesar orang dewasa digali di lantai di tepi rumah, air dingin memenuhinya.
"Bak mandinya menyatu dengan tanah? Unik juga desa ini."
Lilly meletakkan serulingnya, lalu mulai menanggalkan pakaian. Menarik bajunya melewati dada. Melepaskan celananya melalui paha. Mengikat rambut pirangnya yang panjang di atas kepala. Ketika dia akan berendam, Lilly menyadari sesuatu.
"Suara apa itu?"
Bar masih ramai dengan omongan-omongan para pemabuk yang entah sedang berbicara apa. Semuanya berbicara, tertawa, bahkan ada yang menyanyi. Di tengah-tengah keributan pemabuk dan aroma alkohol itu, Edge duduk di salah satu meja, menunggu makanannya datang. Kesabarannya hampir habis ketika akhirnya sup kentangnya dihidangkan. Memang bukan makanan mewah, tapi di desa ini tidak ada banyak pilihan.
Baru saja Edge akan menikmatinya, ketika mendadak ada seseorang yang menarik bajunya dari belakang, memaksanya berdiri. Saat ia berbalik, Lilly berdiri di belakangnya, berpakaian lengkap.
"Kenapa sih denganmu?" tanya Edge setengah berteriak.
"Situasi darurat, Edge! Ikut denganku." perintah Lilly sambil berjalan keluar penginapan.
Edge mengikutinya, "Apa maksudmu situasi darurat?"
"Apa kau tidak mendengarnya? Sesuatu datang."
"Kau lupa ya kalau sihirku beda denganmu? Aku tidak bisa mendengarkan suara-suara sepertimu."
"Ada sesuatu yang mendekat Edge, aku rasa-" suara dentuman besar memotong Lilly dari menyelesaikan kalimatnya. Mereka menoleh ke asal suara, ledakan terjadi di luar tembok desa.
Di luar tembok desa, tiga orang penjaga sedang bertarung melawan seekor laba-laba. Hanya saja laba-laba ini besarnya lebih besar dari mayoritas rumah di desa ini. Keenam kakinya lebih besar dari para penjaga yang melawannya. Rambut-rambut halus tumbuh lebat di kakinya. Bola matanya sebesar kepala manusia. Tanah tak jauh dari laba-laba itu terbakar, kelihatannya itu sumber ledakan tadi. Seorang pria melancarkan sihir angin ke kaki laba-laba itu, yang tampaknya tidak ada hasil. Laba-laba itu menerjang seorang pria terdekat dengan dua taringnya, pria itu terjerembab di tanah dengan luka besar di dada.
Beberapa bola api terbang menerangi malam sesaat, ketika serangan itu mengenai laba-laba raksasa itu.
"Apa yang terjadi? Makhluk apa ini?" tanya Lilly kepada para penjaga, saat dia dan Edge tiba di lokasi.
"Tarantula raksasa" jawab salah seorang pria, "Tinggal di hutan dekat desa, terkadang dia mendekat, dan kami harus mengusirnya."
"Kenapa kalian mau tinggal dekat dengan makhluk seperti ini?" tanya Edge.
"Dia jarang menyerang desa, biasanya hanya sekali atau dua kali dalam setahun. Dan lagi para pemburu kami biasa berburu di hutan itu untuk mencari daging."
"Hanya saja kelihatannya dia yang memburu kalian kali ini."
"Edge! Cukup!" bentak Lilly, "Tuan penjaga, kami akan membantu kalian melawan laba-laba ini."
"Tidak bisa. Kalian hanya pengelana yang mampir, kami tidak akan menyeret orang luar dalam per-" belum sempat pria itu menutup mulutnya, laba-laba itu menerjang lagi, kali ini suara seruling Lilly yang menghentikannya.
"Tidak ada waktu berdebat. Kami tidak akan berpaling dari orang yang membutuhkan bantuan kami. Titik." ujar Lilly.
Edge dan Lilly mendekat, berhadap-hadapan dengan tarantula raksasa itu.
"Edge, apa yang kau tahu tentang tarantula?"
"Mereka serangga tak bertulang belakang yang menggunakan exoskeleton untuk bergerak. Aku dengar, untuk jenis yang ini, tulang luar mereka itu kuat sekali."
tarantula itu menyerang dengan taringnya, kedua penyihir itu melompat berlawanan arah. Lilly memainkan nada-nada indah, dan sihirnya mulai membelah udara, walaupun sepertinya tidak ada efek ketika mengenai musuhnya.
"Giliranku! Fire tongue!" Edge mengeluarkan lidah api panjang yang membakar laba-laba itu. Serangga raksasa itu melompat mundur menjauhi Edge.
"Bagus Edge!"
Meski begitu, api itu tidak memperlambat gerakan si tarantula raksasa, karena detik berikutnya dia kembali menerjang Lilly.
"AWAS!" teriak Edge.
Lilly menempelkan serulingnya di mulut, bersiap memainkan lagu. Tapi terlambat. Lilly terjatuh ke samping, sementara Edge terkapar di tanah, darah mengucur dari lengannya.
"EDGE!" teriak Lilly.
Laba-laba itu baru mau menghujamkan taringnya ke Edge, tapi serangan angin dari para penjaga mencegahnya melakukan itu.
Lilly pun memainkan nada-nada dengan serulingnya, suaranya membelah udara sebelum mengenai tarantula itu dengan telak.
Laba-laba raksasa itu diam sejenak, memandangi para penyihir di sekelilingnya, sebelum kemudian berbalik dan memutuskan untuk pergi.
"Dia... pergi?" ujar Lilly. Sesaat kemudian dia teringat sesuatu, dan langsung menghampiri Edge.
"Kau tidak apa-apa? Salah seorang, adakah penyembuh diantara kalian?"
"Ada, tapi dia sedang sibuk menyembuhkan teman kami di situ. Kita harus membawanya ke dokter desa."
Edge berbaring di kamar penginapan. Dokter desa sudah selesai merawatnya, kini tangan kanannya dibalut perban, diikat rapi di atas dadanya. Lilly duduk di kursi di samping tempat tidur. Dokter sudah pergi. Hanya tinggal mereka berdua di kamar. Cahaya lilin bergetar tertiup angin. Ruangan itu dipenuhi kesunyian, karena tidak ada satupun dari mereka berdua yang mencoba berbicara.
"Kau tidak perlu berbuat begitu, aku bisa melindungi diri sendiri." akhirnya Lilly mencoba memecahkan keheningan.
"Mana bisa, sihirmu kan lamban. Kau harus memainkan nada-nada tertentu dulu sebelum sihirmu bekerja."
Lilly tidak berusaha mengalahkan argumentasi Edge. Untuk sesaat suasana kembali sunyi.
"Tidurlah."
"Bukannya aku harusnya tidur di lantai?"
"Tidak, aku tarik kata-kataku tadi. Kau boleh tidur di kasur."
Sunyi lagi.
Lilly menatap ke luar, ke malam yang berbintang, sebelum berkata, "Terima kasih ya... Edge."
Sunyi. Tidak ada jawaban dari Edge. Ketika Lilly menoleh, mata Edge sudah terpejam, dan nafasnya dalam.
"Kau menyebalkan."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar