Tidak seperti hari biasanya, siang itu lebih banyak awan memenuhi langit, mempersusah usaha matahari untuk menghangatkan padang rumput jauh di bawah sana. Di tengah-tengah padang rumput itu, sebuah jalan setapak membelahnya. Jalan yang cukup luas untuk dilewati kereta kuda itu berakhir di sebuah bangunan pertahanan yang megah dan kokoh. Tembok luarnya terbuat dari batu berdiri tinggi menantang para penyerang. Dua buah daun pintu raksasa yang digunakan untuk keluar masuk saat ini tertutup rapat. Di balik tembok pertama itu ada sebuah lapangan untuk apel prajurit dan lokasi bertarung pertama ketika ada musuh menyerang. Setelah itu tembok kedua benteng memisahkan lapangan apel dengan bagian terdalam benteng, dimana sebuah menara tunggal menjulang tinggi di sana, tempat jenderal benteng itu memberi perintahnya. Dari kejauhan, benteng itu terlihat bagai lawan yang tangguh bagi penyerang.
Dua orang prajurit sedang berjaga di lengkungan di atas pintu masuk benteng, tiba-tiba saja salah satu dari mereka menunjuk ke sesuatu di jalan setapak, dimana tiga orang pria berdiri di sana. Salah seorang dari mereka tinggi besar dengan rambut pirang yang dicukur pendek. Ia mengenakan jubah yang menjuntai sampai ke mata kakinya. Seorang lagi wajahnya tertutup perban seluruhnya hingga hanya kedua matanya yang terlihat. Perban itu dipenuhi oleh tulisan-tulisan dalam bahasa yang tidak bisa dimengerti. Pria itu mengenakan pakaian lengan panjang dengan lengan baju yang membesar di pergelangan tangan, membuat pakaiannya terlihat sedikit kedodoran. Seorang lagi tingginya tidak berbeda dengan pria yang diperban, rambutnya hitam pendek tapi masih lebih panjang dari pria berbadan besar itu. Baju yang ia kenakan terlihat mewah dengan tunik berwarna hijau.
"Itu dia Benteng Galtar, aku merasa bersemangat sekali." ujar yang berbadan besar.
"Tenanglah Jack" sahut yang berperban, "Biarkan Zivon maju dulu."
"Aku mengerti Dagarath." balas Jack.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu." ujar Zivon. Tak lama kemudian tubuh Zivon memudar, hingga transparan, hingga kemudian menghilang.
Segera sesudah Zivon menghilang, Jack dan Dagarath berlari menuju pintu Benteng Galtar, sebuah tindakan yang membuat para penjaga gerbang membunyikan terompet tanduk pertanda bahaya.
"Akan kuhancurkan gerbang kayu itu!" seru Jack.
"Tahan dulu Jack, gerbang itu merupakan jalan keluar masuk gerbang, titik terlemah dibandingkan tembok batunya. Aku rasa gerbang itu dimantrai dengan sihir pelindung, biar aku duluan yang menyerang. Sihirku bisa menihilkan efek seperti itu." sahut Dagarath.
Dagarath mengayunkan tangannya, lalu setengah lusin kertas persegi empat melesat keluar dari lengan bajunya yang kedodoroan, masing-masing kertas dengan tulisan aneh dalam bahasa yang tidak dimengerti.
Dengan ajaib, kertas-kertas itu menempel di pintu gerbang bagai memiliki perekat. Pada saat itu, huruf-huruf aneh di kertas-kertas itu menyala merah terang.
"Hancurlah!" seru Dagarath. Seakan mendengarkan komandonya, kertas-kertas itu meledak bersamaan dan menghancurkan pintu gerbang. Jack dan Dagarath masuk melalui gerbang yang kini menganga.
Di balik tembok pertama, mereka berdua disambut oleh ratusan prajurit dengan tongkat sihir teracung.
"Hoo... banyak sekali, kalau sebanyak ini bisa merepotkan. Paling tidak akan kuhabisi sebagian." ujar Jack. Ia lalu menghantamkan telapak tangannya ke tanah dan berseru, "V Quake!"
Mendadak tanah terbelah, dimulai dari tangan Jack dan menuju 2 arah yang berbeda sehingga membentuk retakan huruf V di tanah. Para prajurit beterbangan terlontar oleh serangan itu, lainnya terkena bongkahan batu seukuran pria dewasa. Tapi walaupun bisa menghancurkan tanah, serangan itu terhenti ketika menghantam tembok batu.
"Temboknya juga dimantrai, tidak mengejutkan." Dagarath mengucapkannya dengan santai.
Beberapa bola api melesat dari udara, menyerang kedua orang itu. Dagarath dengan cepat mengibaskan tangannya, mengeluarkan beberapa kertas, membentuk perisai pelindung untuknya dan Jack. Bola-bola api itu meledak di perisai dalam upaya mereka yang sia-sia untuk melukai musuh mereka.
Terdengar bisik-bisik dari para prajurit benteng, mereka berkata "Itu rune." "Orang itu bisa memakai rune." "Siapa dia sebenarnya?" dan kata-kata lain yang sejenis, setelah melihat sihir Dagarath.
Dagarath melirik tembok lapis kedua benteng itu, dan para penyihir di atas tembok itu yang tadi menyerangnya.
"Tembok-tembok dan mantra-mantra sihir ini benar-benar merepotkan, sebaiknya aku mulai membuat ruang atau kita yang akan kesulitan."
Setelah mengucapkannya, dia melemparkan beberapa kertas, yang menempel di sepanjang tembok lapis dua.
"Hancurlah!"
Kertas-kertas rune itu berhancuran bersamaan, menghancurkan konstruksi tembok kedua. Batu-batu bata yang ada di bawah berhamburan ke segala arah, batu-batu bata yang di atasnya berjatuhan, beberapa detik kemudian debu-debu memenuhi udara. Pemandangan berikutnya, tembok kedua sudah runtuh.
Belum sempat para prajurit itu sembuh dari kagetnya, aura yang luar biasa kuat menyembur keluar dari tubuh Jack. Begitu kuatnya sampai-sampai semua orang bisa melihat api putih yang menjilat-jilat dari tubuhnya.
"Mengoyak langit, merobek bumi, meraunglah... Ground Slasher!" sambil meneriakkannya, Jack menghantamkan tinjunya ke tanah, dan apa yang terjadi berikutnya amat mencengangkan.
Api aura Jack melesat keluar dari tubuhnya, membentuk sesuatu seperti sirip ikan hiu raksasa yang membelah tanah, meninggalkan lubang garis lurus yang menganga. Serangan itu terus merengsek maju sampai menghancurkan tembok benteng di sisi seberang, dan terus sampai beberapa meter keluar benteng.
"Heh. Ternyata kalau dihajar dengan cukup kuat, bisa hancur juga. Perlindungan ini bukanlah apa-apa."
"Fire dragon's breath!"
Kobaran api raksasa menyerang Dagarath dan Jack, tak sempat untuk menghindar, mereka berdua menghilang ditelan api. Ketika serangan itu sudah reda, sebuah kubah dari batu berdiri di tempat mereka berdua tadi berada.
Jack menghancurkan setengah kubah, kemudian berjalan keluar.
"Serangan yang hebat, tapi sehebat apapun api tetap tidak bisa membakar batu."
Jack berhenti sejenak untuk mengamati lawan yang kini berdiri di hadapannya.
Seorang pria setengah baya berdiri di depannya. Jubah putih yang dia kenakan tampak kebesaran, tatapan matanya yang tajam bagai membakar apapun yang dilihatnya, lebih baik dari apinya.
"Kau pasti Sagas, jenderal benteng ini?" tanya Jack.
"Dan kalian berdua, aku tahu kalian. Dagarath si manusia rune, dan Jack si dewa bumi. Kalian berdua adalah salah satu penjahat paling dicari dan termasuk kriminal berbahaya level S. Apa yang kalian inginkan di sini?"
"Yang kami inginkan? Harusnya kau tahu kan?" Dagarath menjawabnya dengan pertanyaan lain.
"Jadi... kalian tahu tentang itu? Dari mana kalian tahu?"
"Itu tidak penting. Sekarang, kau akan mati." jawab Jack.
Jack menempelkan tangannya di tanah, dan tanahpun terbelah mulai dari telapak tangannya, menuju dimana Sagas berdiri sekarang. Sagas menghindari serangan itu, lalu membalas dengan semburan bola api raksasa.
"Jack, aku percayakan dia padamu. Sementara itu, aku akan bersenang-senang dengan para prajurit di sini." seru Dagarath, dia lalu berpaling kepada barisan prajurit.
"Ayo. Buat aku senang." ujar Dagarath, sesaat kemudian puluhan kertas bertuliskan rune keluar dari lengan bajunya.
Sementara Dagarath dan Jack membuat keributan di luar sana, Zivon dengan mudah menginfiltrasi benteng. Ia sudah masuk jauh ke dalam ruang bawah tanah benteng. Setelah lama berjalan, ia berhenti di depan sebuah pintu kayu besar. Pintu dipenuhi dengan simbol-simbol yang bagi orang lain mungkin hanyalah rangkaian lingkaran dan rantai segitiga, dan kumpulan bangun-bangun yang lainnya. Tapi Zivon kenal betul rangkaian segel ini. Ia menempelkan tangannya di salah satu lambang segitiga, sambil mengamati gambar-gambar lainnya.
"Tidak, bukan ini. Rantai pertama yang harus dilepas bukan ini, dia... siapapun yang membuat segel ini sudah menyiapkan tipuan yang cerdik. Kalau ini yang kulepas terlebih dulu, segelnya akan menjadi semakin rumit."
Ia berpindah menyentuh lambang segiempat, ketika ia memutar tangannya 90 derajat ke kanan, secara ajaib lambang segiempat itu juga ikut berputar 90 derajat ke kanan. Setelah itu ia berpindah ke lambang lain, memutarnya ke kiri, lalu memutar lambang lainnya lagi. Setiap gerakan dilakukan dengan sangat hati-hati, seakan-akan satu kesalahan saja sudah cukup untuk membuatnya terbunuh.
Ketika ia selesai, terdengar bunyi klik secara bersamaan dari seluruh lambang dan secara perlahan pintu itu terbuka ke dalam.
Ketika dia melangkah ke dalam, ruangan tujuannya ternyata sederhana. Ruangan itu adalah ruangan berbentuk kubus dipenuhi dengan marmer warna putih di setiap sentinya. Selain itu di tembok, lantai, dan atap ruangan dipenuhi oleh tulisan-tulisan rune yang tidak dikenalinya. Tapi itu semua tidak menarik perhatiannya, tujuan kedatangannya ada di tengah ruangan, terletak di atas meja batu yang juga berwarna putih. Sebuah artefak berbentuk bola segenggaman tangan berwarna emas. Sekujur permukaan bola emas itu dipenuhi dengan ukiran rumit di seluruh sisinya, tapi di satu sisi ukirannya berupa dua lingkaran yang bertumpuk, membuatnya terlihat seperti bola mata.
"Inikah dia... Royal Eye. Satu dari lima harta purbakala." Zivon mengambil harta purbakala itu. Setelah itu, dia berjalan keluar.
Sesampainya di luar, benteng itu sudah tidak seperti yang Zivon kenali. Sebagian besar temboknya sudah runtuh, tanah berlubang di sana-sini, mayat prajurit bertebaran di mana-mana. Dagarath duduk dengan malas di salah satu puing menara.
"Dimana Jack?" tanya Zivon. Dagarath menjawabnya dengan tudingan jari, saat Zivon mengikuti arahnya, dia melihat Jack berdiri di atas mayat seorang pria berjubah.
"Itukah Sagas? Jadi kalian sudah membunuhnya?"
"Jack yang melakukannya sendirian, aku hanya membereskan kroco-kroco kecil ini. Membosankan."
mendadak Jack mendekat lalu bertanya, "Jadi? Kau dapat harta purbakala itu?"
Zivon menjawab dengan mengacungkan Royal Eye yang didapatnya.
"Hoo, itukah harta purbakalanya. Terlihat cocok menyandang namanya." ujar Jack.
"Tinggal tiga lagi." sahut Dagarath.
"Ya, tapi saat ini kita kembali dulu. Kita masih belum tahu lokasi harta purbakala lainnya." balas Zivon.
Dagarath melompat turun dari puing yang dia duduki, dan mereka bertiga pun melangkah pergi dari situ, sama misteriusnya dengan saat mereka datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar