Jumat, 20 Februari 2015

Chapter 22: Land's map

Awan tebal berarak di langit, menutup setiap jengkal langit dengan warna putih yang damai. Tidak jauh dari gulungan awan itu, jauh di ujung utara Kerajaan Arkascha, berdiri dengan megah deretan pegunungan Callian. Di puncak salah satu gunung, berdiri dengan megah sebuah kuil yang entah sejak kapan dibangunnya. Kuil itu adalah titik tertinggi di gunung itu, seolah-olah ujung gunung dipotong untuk kemudian dibangun kuil ini. Deretan anak tangga yang diukir melingkar di tepi gunung merupakan satu-satunya jalan keluar masuk ke kuil ini, pepohonan menutupi mereka. Tembok batu tinggi menutup pandangan orang luar terhadap kuil ini, kecuali atap sebuah bangunan yang dibuat mengerucut. Gerbang kayu yang dibuat menyerupai huruf A menjadi pintu masuknya. Beberapa pendeta dengan kepala yang dicukur dan pakaian longgar berlalu lalang di dalam kuil itu, dua orang pendeta menjaga pintu masuk.



Dua orang perempuan dan seorang laki-laki menanjaki deretan anak tangga menuju kuil itu. Yang laki-laki adalah Zivon, pria yang pernah merebut artifak di benteng Galtar. Seorang perempuan berambut hitam pendek sebahu, sementara satunya lagi pirang panjang hingga sepinggang.

"Harta purbakala yang satu lagi ada di sini ya? Terpencil sekali, tempat yang cocok untuk menyimpan harta sepenting itu." ujar yang berambut panjang

"Selain tempatnya susah dicapai, kuil itu juga dijaga oleh banyak sekali penyihir tingkat tinggi. Orang biasa tidak akan bisa menyerang kuil ini sendirian, karena itu para penjaga kami serahkan padamu, Mirabel." kali ini Zivon yg berbicara.

"Tenang saja, tidak ada orang yang bisa mengalahkanku," balas perempuan berambut pendek, "Karena aku adalah penyihir pilihan dewa, yang sudah ditakdirkan untuk menjadi yang terkuat."

"Kau tidak menghilangkan dirimu sebelum menyerbu masuk, Zivon?" tanya perempuan berambut panjang itu.

"Tidak Selena, penyihir sepertiku tau walau dari jauh, kuil itu bukan tempat sembarangan, sudah ada perisai khusus. Sihir penghilangku akan langsung tidak befungsi di dalam kuil itu."

"Begitu... yah, kau yang lebih tau soal itu Zivon, jadi aku percaya saja."

Begitu sampai di gerbang kuil itu, mereka dihadang oleh kedua penjaga, salah seorang diantaranya berkata, "Berhenti! Tempat ini terlarang untuk dimasuki orang luar."

Selena melemparkan dua buah jarum tipis ke arah para penjaga itu, keduanya menghindar dengan sigap, tapi jarum itu tetap menggores pipi mereka.

"Kalian berniat menyerang kuil suci ini? Kalian membuat keputusan yang salah." ujar salah satu penjaga, dia dan rekannya mengacungkan tangan mereka ke depan, bersiap menyerang.

"Percuma melawan, kalian sudah kalah." ujar Selena. Tidak sampai dua detik sesudah mengatakannya, kedua penjaga itu langsung ambruk.

"Racunku sangat kuat, tergores sedikit saja sudah lebih dari cukup untuk membunuh siapapun." ujarnya lagi.

Sewaktu mereka bertiga memasuki lapangan utama kuil, ribuan pendeta langsung berhamburan keluar entah dari mana, mengelilingi mereka bertiga.

"Kalian, apa kalian yang menyerang Benteng Galtar? Kami sudah mendengar kabarnya, tapi salah sekali kalau kalian menyamakan kami dengan para penyihir itu. Kami adalah orang-orang yang sejak bayi dibesarkan di kuil ini, dengan tujuan melindungi rahasia kuil ini. Kemampuan kami jauh berbeda dengan mereka." ujar salah satu pendeta.

"Begitu... sempurna. Aku memang menginginkan musuh yang kuat." ujar Mirabel. Sesaat kemudian, angin berputar kencang di sekitarnya, bersamaan dengan menguatnya auranya, hingga menyerupai api perak. Sesaat kemudian tubuh Mirabel bersinar terang, berbarengan dengan meledaknya auranya. Ketika cahaya memudar, apa yang dilihat para pendeta itu sungguh di luar dugaan.

Kaki berbentuk Z seperti kaki burung, sebagian tertutup bulu perak dan sebagiannya lagi tulang yang kuat. Lengan perempuan itu yang tadinya berbentuk tangan, kini sepasang sayap besar yang juga tertutup bulu perak bagai bulu burung. Perempuan itu seorang penyihir shapeshift.

Yang membedakan dari makhluk shapeshift lainnya adalah dada dan wajah perempuan itu yang masih berupa dada perempuan dan wajah manusia, menjadikan perempuan itu makhluk setengah burung dan setengah wanita.

"Kau.. jangan-jangan kau... Mirabel Sang Harpy?" tanya salah seorang pendeta.

"Ya." jawab Mirabel, "Aku adalah penyihir pilihan dewa yang memiliki kekuatan tiada tara, shapeshift murni!"

Selasa, 10 Februari 2015

Chapter 21: Rivalry

Awan tipis memenuhi langit, hanya menyisakan sedikit ruang bagi matahari untuk mengintip. Di bawah sana, di jalanan kota, seorang gadis kecil berjalan sendiri. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai, sesekali dibelai oleh angin.

Elise Campbell, nama gadis belia itu, baru beberapa saat yang lalu dia meninggalkan sahabatnya untuk mengambil misi sendirian.

"Bagaimana ya sekarang?" gumamnya pada dirinya sendiri.

"Biasanya aku mengambil misi bersama Raisha, kalau sendirian... aku... tidak terbiasa..."

setelah menghela nafas panjang, dia melanjutkan gumamannya, "Yaah, paling tidak coba kembali ke guild dulu, mungkin ada misi yang bisa kuambil sendiri."



Tak berapa lama kemudian, Elise sampai di Silver Line. Sambil berjalan pelan, ia masuk ke guild lalu menuju ruang misi. Di sana, ia mendapati dirinya tidak sendirian.

"Kak Ruby?" ujarnya spontan.

"Oh, hi Elise, apa kabar? Hah? Raisha tidak bersamamu kali ini?"

"Hi Kak Ruby, Raisha sedang.... mengambil misi sendirian, pemohon misi cuma ingin... menyewa satu orang."

"Hoo, begitu..."

"Kakak sendiri... sedang apa di sini? Bukannya kakak sedang terluka, dan... tidak boleh mengambil misi?"

"Tidak apa-apa, yang dilarang kan misi bertarung atau misi berbahaya semacamnya, aku bisa mencari misi yang tidak terlalu membahayakanku kok." jawab Ruby sambil tersenyum tak bersalah.

'Tapi aku yakin Raisha melarang kakak mengambil misi apapun' batin Elise dalam hati.

Sedetik kemudian, Elise menyadari ada yang aneh, seseorang yang seharusnya berada di situ tidak ada di situ.

"Kak Ruby... di mana Kak Ray? Bukannya... biasanya Kak Ruby selalu mengambil misi... bersama Kak Ray?"

"Oh, dia? Sekarang dia sedang latihan bersama Area, belakangan ini selalu begitu kok. Ray mulai jarang mengambil misi, dia lebih rajin berlatih. Yaah, itu bukan hal yang jelek sih, mengingat kemampuannya yang biasa-biasa saja, tapi tetap saja dia mengabaikan permohonan misi di guild. Coba lihat, banyak orang yang membutuhkan bantuan kita di sini, tapi dia malah mengabaikannya." Ruby menunjuk ke papan permohonan misi di akhir kalimatnya.

"Tapi... Kak Ray melatih dirinya supaya bisa mengambil... misi yang lebih susah kan? Berarti itu bagus, lagipula... selain kita, ada juga Gold Hawk di sini." balas Elise.

"Tapi tetap saja, aku tidak suka tidak mengambil misi apapun, dan di saat sekarang ini, Ray tidak mau diajak mengambil misi. Pergi melakukan misi sendirian rasanya membosankan."

"Jadi... Kak Ruby bukannya tidak suka kalau Kak Ray pergi latihan, tapi... tidak suka kalau Kak Rau tidak mau diajak pergi... dalam misi bersama?"

wajah Ruby memerah sedikit, "Memangnya kenapa dengan itu? Tidak masalah kan?"

"Tapi apa Kak Ray... suka mengambil misi bersama... Kak Ruby?"

Ekspresi wajah Ruby berubah kaget, lalu dia bertanya, "Apa maksudmu dengan itu?"

entah kenapa suasana terasa berubah, udara terasa dingin menyesak, seolah-olah angin berhenti berhembus.

"Tidak... cuma penasaran saja... soal Kak Ray..."

"Kenapa dengan Ray?"

Elise menelan ludah dengan susah payah, sebelum menjawab, "Bagaimana... perasaan Kak Ray pada Kak Ruby?"

"Kenapa, kenapa kau ingin tahu?"

Selasa, 09 Desember 2014

Chapter 20: Teacher

Lilly terbaring lemah di atas tempat tidur, luka-lukanya sudah terobati tapi perban masih menutupi beberapa bagian tubuhnya. Raisha menarik selimut menutupi tubuhnya. Ia berpaling ke arah Elise yang tertidur di lantai.


"Kau tidak bisa tidur seperti itu." ujarnya, lalu mengambil selimutnya yang satu lagi, kemudian menyelimuti Elise dengan itu.


Raisha melihat ke luar jendela, ke bulan tak sempurna yang sebagian tertutup awan.


"Aku harap... Kak Area baik-baik saja, Kak Area memang kuat tapi tetap saja aku khawatir..." ujarnya pada diri sendiri, "Lagipula, kadang dia tidak sekuat kelihatannya."


Baru saja dia selesai mengucapkan itu, sebuah cahaya biru bersinar di belakangnya, sewaktu dia menoleh, cahaya itu digantikan oleh Area, Ruby, Edge, dan Ray.


"Kak Area! Oh, Kak Ruby terluka parah, duduklah kak, biar kuobati." ujarnya pada mereka semua, dengan sigap dia membimbing Ruby duduk di kursi, lalu memulai sihir pengobatannya.


"Bagaimana Lilly?" tanya Edge.


"Tidak perlu dikhawatirkan, luka-luka yang parah sudah kusembuhkan, Kak Lilly cuma perlu istirahat." jawab Raisha sambil menyembuhkan Ruby, "Luka Kak Ruby tidak separah Kak Lilly, dalam waktu singkat, aku bisa menyembuhkan kakak."


"Iya, beberapa orang penyembuh menyembuhkanku, mereka tidak ingin aku mati sebelum pertarungan kehormatan berakhir." ujar Ruby.


"Apa kalian juga terluka? Aku bisa menyembuhkan kalian juga." tanya Raisha, masih sambil menyembuhkan Ruby.


"Edge, dan Area terluka, aku sih tidak karena tidak sempat bertarung. Tapi apa kau tidak capek menyembuhkan banyak orang sekaligus, Raisha?" jawab Ray.


"Tidak apa-apa, aku sempat istirahat sebentar kok tadi. Kak Ruby, kakak sudah selesai kusembuhkan, tapi jangan bertarung dulu untuk sementara atau lukanya akan terbuka." Raisha mengakhiri pengobatannya pada Ruby, lalu menghampiri Edge. Tanpa menunggu lama, dia menggunakan sihir penyembuhannya ke bahu Edge, dalam waktu singkat luka itu sembuh.


"Sekarang giliran Kak Area." ujarnya sambil mendekati Area. Ia lalu menyentuh sisi tubuh Area, yang disentuh mengerang sebagai respons.


"Pelan-pelan, sakit."


"Kak Ray, Kak Edge, dan Kak Ruby, bisa pulang sekarang, kalian sebaiknya istirahat. Khusus Kak Ruby jangan bertarung atau mengambil misi dulu untuk sementara sampai benar-benar pulih. Aku akan menyembuhkan Kak Area."


"Baiklah, aku mengerti." ujar Ruby sambil berdiri dari kursi, menyadari Area juga akan dirawat di situ. Tanpa mengucapkan apa-apa, mereka keluar dari ruangan.


"Ayo, duduk di sini." ujarnya sambil menuntun Area ke kursi, sesudah Area duduk, ia langsung memulai sihir pengobatannya.


"Bagaimana kakak bisa terluka? Kakak pasti menganggap enteng lawan lagi kan?"


"Tidak kok. Hanya saja musuhku kali ini punya taktik serangan yang tidak biasa."


"Kakak selalu menganggap enteng lawan, kakak memang punya sihir pertahanan yang hebat tapi kalau kakak ceroboh begini, aku kan jadi... um... jadi..."


"Khawatir?"


wajah Raisha merona merah sebagai jawaban.


"Tidak usah khawatir, kalau dalam keadaan bahaya, aku akan serius kok."


"Jadi harus menunggu kakak dalam bahaya dulu?" Raisha memprotes.


"Haha, tenang saja. Aku senang kau mengkhawatirkanku, tapi tenang saja, aku bisa menjaga diri kok."


Raisha menghentikan penyembuhannya, sambil mengela nafas, dia berkata, "Sudah selesai kak, tapi kakak jangan memaksakan diri kalau bertarung."


"Berarti kalau bertarung biasa boleh kan?"


"Tetap tidak boleh!" Larang Raisha, "Aku tidak akan menyembuhkan kakak kalau kakak tidak mendengarkanku!"


"Baiklah, baiklah." ujar Area.


Suasana sunyi sejenak, sebelum Area mengganti topik.


"Maaf ya aku meninggalkan kalian berdua. Di saat Mad tidak di kota, Lilly terluka, dan aku pergi, guild kita lumayan kosong. Kalau terjadi sesuatu, kita harus bergantung pada kalian berdua."


"Kakak khawatir ya?"


Area tidak menjawab, dia cuma menggaruk-garuk belakang kepalanya.


"Kakak tenang saja, masih ada Ketua Diaz dan Guild Gold Hawk di sini. Dan jangan lupa, kita juga punya Elise, biarpun dia tidak bisa menggunakan sihirnya karena masih takut tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Tapi aku senang kalau kakak khawatir." Raisha mengakhiri kalimatnya dengan senyuman khasnya, tapi senyumannya kali ini beda, rona merah di wajahnya membuat wajahnya terlihat lebih manis.



Senin, 20 Oktober 2014

Chapter 19: Efreet's eye

Edge berjalan mantap menuju tengah lingkaran, saat berhenti di situ, dia berkata "Aku Edge Reddam, aku petarung selanjutnya, mana wakil kalian?"

Seolah menjawab pertanyaannya, seorang pria melangkah maju, rambut merahnya yang sepanjang bahu berkibar ditiup angin. Matanya yang sama merahnya seperti terbakar api, hanya saja tidak ada kehangatan yang terpancar dari situ, melainkan tatapan dingin seorang pembunuh.

"Namaku Marva Sang Penebas Api, akulah yang akan menjadi lawanmu." ujar orang itu. Seketika itu juga, pria itu membuat pedang api di tangannya.

"Pengguna elemen api hah? Kebetulan, aku juga sama." Edge membuka telapak tangannya, bola api membara di situ.

"Kalau begini, kemenanganku sudah dipastikan" ujar Marva, "Kau tahu kenapa aku disebut Sang Penebas Api? Karena apiku mengalahkan api lain, tidak peduli sekuat apapun itu."

"Kalau begitu, mari kita buktikan!" Edge melemparkan bola api itu ke Marva, yang langsung menebasnya menjadi dua bagian, melewati bagian kiri dan kanan tubuhnya.

Marva menerjang Edge, menyabetkan pedangnya beberapa kali. Edge dengan lincahnya menghindari semua tebasan itu.

Edge melompat mundur, mengambil jarak sebelum akhirnya dia melemparkan satu api pada Marva, "Fire finger!" teriaknya. Api tipis dan panjang melesat menuju sasarannya.

Marva menahan serangan itu dengan pedangnya, sebuah ledakan tercipta, tapi dia tidak terlihat terluka sama sekali.

"Hee... boleh juga kau." puji Edge.

"Sudah kubilang, kan? Apiku mengalahkan api yang lain, termasuk apimu juga!"

Chapter 18: Wood controller

Semua penonton terdiam seolah leher mereka tercekat. Wajar saja, dua orang petarung mereka baru saja dijatuhkan oleh satu orang, hal yang pasti sulit dipercaya oleh siapapun juga. Beberapa orang berbisik-bisik tentang nama Area Sang Perisai dari Guild Silver Line, sebagian lagi tak percaya dengan kemampuannya.

Ruby berjalan ke tengah arena pertarungan, matanya menantang Niozo, tanpa perlu kata-kata sekalipun, laki-laki itu tahu apa yang ingin dikatakan Ruby.

Ia menoleh ke arah para petarungnya, lalu berteriak, "Farast! Kini giliranmu bertarung!"

Seorang perempuan berambut panjang dan indah menjawab panggilan itu, sebagian rambutnya menutupi mata kanannya saat dia berjalan. Perempuan itu membawa tas kecil di balik pinggangnya.

"Aku sudah mendengar tentangmu" ujar Farast tiba-tiba

"Oh ya? Apa yang kau dengar?" tanya Ruby

"Kudengar kau kalah telak dalam upaya penangkapan beberapa hari lalu, kalau bukan karena Sang Perisai, saat ini kau pasti sudah mati dan kami tak perlu melakukan pertarungan merepotkan ini. Karena hasilnya akan sama saja."

"Saat itu aku dikeroyok, kalau pertarungan keroyokan yang bisa kalian banggakan, berarti kalian pasti payah dalam pertarungan satu lawan satu. Lagipula, sudah terbukti dua penyihir kalian kalah dengan mudah."

Ekspresi wajah Farast berubah, dari yang tadinya tersenyum mengejek menjadi marah.

"Akan kubuat kau menyesal karena sudah mengatakan itu." ujarnya.

Farast meraih ke dalam tas kecil di pinggangnya, mengeluarkan sebatang tongkat kecil. Ia menodongkannya pada Ruby, sesaat kemudian tongkat itu memanjang. Bukan cuma memanjang, tapi juga meliuk-liuk bak ular hidup.

Ruby yang terkejut mencoba menghindar, tapi tongkat itu berhasil melilit lengan kiri Ruby. Dengan mudahnya, Farast membanting Ruby ke tanah.

"Kau... pengguna elemen kayu?" tanya Ruby, masih setengah terkejut.

Jumat, 10 Oktober 2014

Chapter 17: Battle of honor

Matahari sudah tertidur di ufuk barat, di langit yang gelap ini bulan menggantikannya untuk menjadi penerang, walaupun bentuknya tidak bulat sempurna. Persiapan untuk pertarungan kehormatan sudah selesai dilakukan. Tiang-tiang obor dideretkan membentuk lingkaran besar di alun-alun desa, sebuah api unggun besar menyala di tengah-tengah alun-alun. Ruby dan pria tinggi besar yang mereka temui tadi kini berdiri berhadap-hadapan, mereka berdua memegang gelas yang dibuat dari tanah liat, cairan berwarna kuning memenuhinya.

Pria itu mengangkat gelasnya lalu berkata, "Aku, Niozo Faren, menginginkan hancurnya Klan Siren dengan kematian Ruby Siren. Sebagai harganya, aku mempertaruhkan nyawaku sendiri." setelah mengucapkannya, dia menenggak gelasnya hingga tandas.

Setelah itu, giliran Ruby yang mengangkat gelasnya, "Aku, Ruby Siren, menginginkan terputusnya hubunganku dengan intrik politik di Nameless Sea. Sebagai harganya, aku menawarkan diriku sebagai budak pemenang." Ruby pun meminum habis minumannya.

Setelah itu mereka berdua berbalik dan kembali ke grupnya masing-masing, Ruby menemui teman-temannya, dan Niozo ke para petarungnya.

"Biar kujelaskan aturan bertarungnya." ujar Ruby, "Pertarungannya adalah pertarungan 5 ronde, pihak yang memenangkan 3 pertarungan terlebih dahulu yang menang dan dia mendapatkan apa yang diinginkannya tadi. Pihak yang kalah harus membayar kekalahannya dengan apa yang tadi dijanjikannya. Siapa saja dari masing-masing pihak boleh maju, termasuk yang mengucapkan keinginannya, tapi diwakili 5 petarung lain pun boleh. Walaupun ada 5 ronde, tapi tiap petarung dari masing-masing pihak boleh bertarung lebih dari sekali kalau dia merasa mampu."

"Begitu? Cukup mudah dimengerti." ujar Ray.

"Oh iya, tidak ada wasit di pertarungan ini. Kalian dianggap kalah kalau menyerah atau tidak mampu melanjutkan pertarungan."

"Aku ada pertanyaan: apa yang terjadi pada kami kalau kita kalah?" tanya Edge.

"Tidak ada. Karena aku tidak menawarkan kalian sebagai bayaran. Kalian boleh pulang kalau kita kalah, aku tidak ingin ikut menyusahkan kalian lebih dari ini."

"Tenang saja, kita tidak akan kalah." ujar Area, Ruby tersenyum mendengarnya.

"Jadi? Siapa yang akan bertarung pertama?" Edge bertanya lagi.

"Biar aku saja, rasanya aku cocok menjadi pembuka." jawab Area sambil melangkah maju.

Di tengah Arena, tak jauh dari api unggun, Area berhadap-hadapan dengan lawannya, seorang pria kurus kering dengan baju yang sama tipisnya dengan dagingnya.

"Kau lawanku? Kau tidak terlihat seperti penyihir tangguh." ledek Area.

"Jangan khawatir, aku bisa mengubah pendapatmu soal itu."

Mendadak, tekanan sihir yang besar dan menekan meluap keluar dari laki-laki ceking itu. Tekanannya mengagetkan Edge, Ray, dan Ruby, walaupun Area terlihat tenang saja. Angin kecil berputar di kaki orang itu, lambat laun angin berputar semakin cepat. Tak lama kemudian, tubuhnya diselimuti cahaya keperakan.

"Shapeshift ya?" ujar Area pelan.

Ketika cahaya keperakan itu memudar, pria itu sudah berwujud ular perak raksasa, panjangnya dari kepala hingga ekor paling tidak enam meter. Ular itu mengangkat kepalanya tinggi di atas tanah, menatap rendah Area di depannya. Mulutnya menganga lebar memamerkan dua taringnya, lidah hitamnya menjilat-jilat udara.

"Masih mengira aku tidak terlihat seperti musuh yang tangguh?"

"Sebenarnya sih... iya." jawab Area santai.

Ular yang tersinggung itu marah, ia menerjang Area yang tampak kecil di hadapannya.

Chapter 16: Challenge

Matahari terik menyinari pohon kelapa, pasir pantai, dan laut. Debur ombak menghantam jinak bibir pantai, seekor kepiting berjalan menyusuri pantai. Di pantai tak berdosa itu, sesuatu bersinar di tepi hutan di pantai itu, sebuah cahaya biru menyala terang. Cahaya berbentuk lingkaran itu lama kelamaan memudar, dan ketika cahaya itu menghilang seluruhnya, empat orang berdiri di tempatnya. Ray, Ruby, Edge, dan Area.

"Di mana kita?" tanya Ray

Ruby melihat sekeliling sebelum menjawab, "Aku tahu tempat ini, pantai di salah satu pulau. Cukup dekat dengan pulau utama."

"Untunglah Area tidak membawa kita ke tempat yang salah." ujar Edge

"Maaf ya, tapi aku tidak pernah salah kalau teleportasi."

"Jadi sekarang kita ke mana?" tanya Ray lagi.

"Aku tahu harus ke mana, ikuti aku." ujar Ruby.

"Tunggu, apa tidak bisa dengan teleportasi saja?" cegat Edge

"Bukannya kau tidak percaya pada teleportasiku?"

"Tidak, lebih baik kita jalan kaki saja, Area tidak kenal daerah ini, kalau salah kita bisa tercebur di laut atau rawa."

"Kalau begitu lebih baik kita jalan saja" ujar Edge.

Ruby pun memimpin rombongan itu ke dalam hutan, melalui jalan setapak. Batang-batang pepohonan mengepung mereka dari kanan dan kiri, sementara dahan, cabang, dan ranting berusaha sekuat tenaga mereka untuk mencegah cahaya matahari menyentuh tanah.

Untuk kesekian kalinya, Ray mendapati dirinya berada di hutan, hingga kini dia merasa sudah terbiasa berada di tengah-tengah suasana seperti ini. Aroma pepohonan yang khas, serangga yang beterbangan, dan suara-suara dari balik rerumputan.

Mereka berbelok beberapa kali di jalan setapak itu, semakin lama semakin jauh ke dalam hutan. Di beberapa persimpangan, Ruby terdiam sebentar sebelum memilih jalan yang tepat, tapi di sebagian besar persimpangan yang lain, langkahnya penuh percaya diri.

"Sepertinya kita semakin ke tengah hutan? Apa kita menuju tempat yang tepat?" tanya Ray.

"Tujuan kita ada di balik hutan ini." jawab Ruby, "setelah keluar di sisi seberang hutan, kita bisa melanjutkan perjalanan hingga ke pulau utama. Kebetulan kita tidak jauh."

"Begitu... lalu berapa luas hutan ini?" sekarang Edge yang bertanya.

"Kira-kira satu hari perjalanan."

"Aku bisa lho men-teleport kalian."

"Terima kasih Area, tapi aku ingin berjalan, berjalan di hutan ini lagi membuatku mengingat kembali masa kecilku dulu."

dan setelah percakapan singkat itu, mereka semua melanjutkan perjalanan.