Lagu-lagu indah yang memenuhi siang itu perlahan memudar sebelum akhirnya berhenti. Seorang pemain gitar membungkukkan badan beberapa kali ke arah penonton yang bertepuk tangan. Seorang anak kecil berkeliling sambil menadahkan topi lebar, ke sanalah para penonton melempar koin-koin mereka.
Lilly, Edge, Raisha, Lucia, Diaz, dan Mad juga termasuk diantara yang melemparkan koin mereka ke anak kecil itu.
"Lagu yang indah ya? Sayang sekali Ruby tidak mendengarkannya." ujar Lilly.
"Elise juga." sahut Raisha, "Mereka sedang bersama Kak Ray."
"Hoo, beruntung sekali Ray, menghabiskan waktu bersama dua perempuan cantik." ujar Lilly lagi.
"Berarti aku yang bersamamu ini sedang sial, ya?" sambung Edge.
"Wah, Edge, kau mau musim dingin ini kubuat jadi musim dingin yang terakhir untukmu?" Lilly mengeluarkan serulingnya.
"Tidak, terima kasih. Aku masih ingin menikmati musim semi."
"Edge?" tiba-tiba sebuah suara memanggil.
Semuanya menoleh ke asal suara, dan mereka melihat seorang perempuan berumur sekitar pertengahan 20-an, tingginya tidak jauh beda dengan Lilly, mungkin cuma lebih tinggi sedikit. Rambutnya sama merahnya dengan rambut Edge, hanya saja lebih panjang hingga melewati bahu.
"Kak Arieta." panggil Edge pada perempuan itu, sebelum mendekat. Semua orang saling bertukar pandang saat Edge memanggil perempuan itu.
"Edge tidak pernah memberitahuku dia punya kakak." ujar Lilly.
"Iya, dia juga tidak memberitahuku." sahut Diaz. Lucia juga memberi respon yang sama.
"Ya... kalau Kak Edge tidak memberitahu Kak Lilly, wajar saja kalau dia tidak menceritakannya pada yang lain."
"Tunggu dulu Raisha, apa maksudmu dengan itu?"
Raisha menjawab Lilly dengan setengah berbisik, "Soalnya, semua orang juga sudah tahu perasaan tersembunyi Kak Edge pada Kak Lilly."
Diaz, Lucia, dan Mad mengangguk setuju terhadap kata-kata Raisha.
"Kenapa kau tidak pernah pulang? Ayah dan ibu khawatir setiap kali aku kembali ke rumah. Kau tambah tinggi ya? Terakhir kali aku melihatmu kau tidak setinggi ini. Bagaimana makanmu? Sehat? Bagaimana kabarmu di guildmu?"
"Aku kan sudah menulis surat kak. Ya, aku bertambah tinggi, aku masih dalam masa pertumbuhan. Aku makan dengan baik kok kak. Dan, orang-orang di guild menerimaku dengan baik." jawab Edge pada pertanyaan kakaknya yang bertubi-tubi.
"Omong-omong soal guild, kebetulan anggota guildku sedang bersamaku." Edge mengacungkan ibu jarinya ke rombongan di belakangnya.
Arieta berjalan ke samping Edge, ia membuka mulutnya untuk memperkenalkan diri, namun mendadak kata-katanya berhenti di tenggorokannya. Matanya membelalak tak berkedip saat melihat Lilly.
"Iris?"
Jumat, 24 April 2015
Senin, 02 Maret 2015
Chapter 23: Winter comes
Dua
bulan telah berlalu semenjak insiden penyerangan White Moon yang
mengambil artefak purba. Cuaca sudah semakin dingin, walaupun salju
belum turun. Musim dingin sudah datang di Arkascha. Di musim ini Recht
kedatangan tamu musiman: para pedagang keliling yang selalu berkelana ke
seluruh penjuru Arkascha, membeli dan menjual barang-barang mereka dan
barang-barang orang lokal.
Musim
dingin ini adalah giliran Recht yang mereka datangi. Mereka semua
mendirikan tenda-tenda di luar Recht, kereta kuda masing-masing tidak
jauh dari tenda. Ada penjual daging yang diasinkan, ada penjual baju,
ada penjual perhiasan, dan ada banyak lagi pedagang yang mendirikan
tendanya di luar kota Recht.
Semua
penduduk Recht keluar dari rumah mereka, ada yang sekedar
melihat-lihat, ada yang membeli barang, ada juga yang menjual barang
mereka.
Termasuk
juga para penyihir Silver Line. Diaz, Lucia, Ray, Ruby, Lilly, Edge,
Area, Raisha, dan Elise, tapi ada pemandangan yang berbeda, ada satu
orang yang jarang terlihat, tapi kali ini hadir bersama mereka. Mad
Vrey.
Mad
berjalan di sebelah Elise, paling jauh dari Diaz. Wajahnya tidak
berekspresi selain sesekali melirik ke Diaz, seakan berhati-hati
padanya.
Raisha melirik ke Mad dengan tatapan yang tajam, dia berbisik "Jangan macam-macam ya."
Mad hanya mendengus kesal.
"Aku akan pergi sendiri." ujar Mad sambil berlalu. Raisha memandangi dia pergi.
"Aku akan mengikuti Mad, aku tidak ingin dia berbuat onar seperti sebelumnya." ujar Raisha pada Elise.
"Kalau begitu, aku ikut denganmu, Raisha." balas Elise. Mereka berdua berjalan mengikuti Mad.
"Mau apa kalian ikut?" tanya Mad agak kasar kepada dua gadis yang membuntutinya.
"Bukan
kenapa-kenapa, cuma memastikan kau tidak dengan tanpa sengaja membuat
keributan yang akan mempermalukan guild." jawab Raisha.
"Demi menjaga nama baik guild? Apa pentingnya guild ini bagi kalian?"
"Guild
ini... sangat penting bagiku." kali ini Elise yang menjawab, "Ketua
Diaz menerimaku... saat aku tidak punya tempat lagi... guild ini...
sudah seperti rumahku sendiri. Aku tidak akan membiarkan... kau
mengotori namanya."
Mad menoleh ke Elise, tatapannya dibalas sorot mata yang kuat dan tegas, beda dengan Elise yang biasanya.
"Terserah kalianlah." jawab Mad, sekenanya.
Mereka
bertiga berjalan bersama bagai satu rombongan. Rombongan aneh yang
terdiri dari seorang pria tinggi besar botak, bersama dua orang gadis
kecil.
Jumat, 20 Februari 2015
Chapter 22: Land's map
Awan
tebal berarak di langit, menutup setiap jengkal langit dengan warna
putih yang damai. Tidak jauh dari gulungan awan itu, jauh di ujung utara
Kerajaan Arkascha, berdiri dengan megah deretan pegunungan Callian. Di
puncak salah satu gunung, berdiri dengan megah sebuah kuil yang entah
sejak kapan dibangunnya. Kuil itu adalah titik tertinggi di gunung itu,
seolah-olah ujung gunung dipotong untuk kemudian dibangun kuil ini.
Deretan anak tangga yang diukir melingkar di tepi gunung merupakan
satu-satunya jalan keluar masuk ke kuil ini, pepohonan menutupi mereka.
Tembok batu tinggi menutup pandangan orang luar terhadap kuil ini,
kecuali atap sebuah bangunan yang dibuat mengerucut. Gerbang kayu yang
dibuat menyerupai huruf A menjadi pintu masuknya. Beberapa pendeta
dengan kepala yang dicukur dan pakaian longgar berlalu lalang di dalam
kuil itu, dua orang pendeta menjaga pintu masuk.
Dua
orang perempuan dan seorang laki-laki menanjaki deretan anak tangga
menuju kuil itu. Yang laki-laki adalah Zivon, pria yang pernah merebut
artifak di benteng Galtar. Seorang perempuan berambut hitam pendek
sebahu, sementara satunya lagi pirang panjang hingga sepinggang.
"Harta
purbakala yang satu lagi ada di sini ya? Terpencil sekali, tempat yang
cocok untuk menyimpan harta sepenting itu." ujar yang berambut panjang
"Selain
tempatnya susah dicapai, kuil itu juga dijaga oleh banyak sekali
penyihir tingkat tinggi. Orang biasa tidak akan bisa menyerang kuil ini
sendirian, karena itu para penjaga kami serahkan padamu, Mirabel." kali
ini Zivon yg berbicara.
"Tenang
saja, tidak ada orang yang bisa mengalahkanku," balas perempuan
berambut pendek, "Karena aku adalah penyihir pilihan dewa, yang sudah
ditakdirkan untuk menjadi yang terkuat."
"Kau tidak menghilangkan dirimu sebelum menyerbu masuk, Zivon?" tanya perempuan berambut panjang itu.
"Tidak
Selena, penyihir sepertiku tau walau dari jauh, kuil itu bukan tempat
sembarangan, sudah ada perisai khusus. Sihir penghilangku akan langsung
tidak befungsi di dalam kuil itu."
"Begitu... yah, kau yang lebih tau soal itu Zivon, jadi aku percaya saja."
Begitu
sampai di gerbang kuil itu, mereka dihadang oleh kedua penjaga, salah
seorang diantaranya berkata, "Berhenti! Tempat ini terlarang untuk
dimasuki orang luar."
Selena
melemparkan dua buah jarum tipis ke arah para penjaga itu, keduanya
menghindar dengan sigap, tapi jarum itu tetap menggores pipi mereka.
"Kalian
berniat menyerang kuil suci ini? Kalian membuat keputusan yang salah."
ujar salah satu penjaga, dia dan rekannya mengacungkan tangan mereka ke
depan, bersiap menyerang.
"Percuma
melawan, kalian sudah kalah." ujar Selena. Tidak sampai dua detik
sesudah mengatakannya, kedua penjaga itu langsung ambruk.
"Racunku sangat kuat, tergores sedikit saja sudah lebih dari cukup untuk membunuh siapapun." ujarnya lagi.
Sewaktu
mereka bertiga memasuki lapangan utama kuil, ribuan pendeta langsung
berhamburan keluar entah dari mana, mengelilingi mereka bertiga.
"Kalian,
apa kalian yang menyerang Benteng Galtar? Kami sudah mendengar
kabarnya, tapi salah sekali kalau kalian menyamakan kami dengan para
penyihir itu. Kami adalah orang-orang yang sejak bayi dibesarkan di kuil
ini, dengan tujuan melindungi rahasia kuil ini. Kemampuan kami jauh
berbeda dengan mereka." ujar salah satu pendeta.
"Begitu...
sempurna. Aku memang menginginkan musuh yang kuat." ujar Mirabel.
Sesaat kemudian, angin berputar kencang di sekitarnya, bersamaan dengan
menguatnya auranya, hingga menyerupai api perak. Sesaat kemudian tubuh
Mirabel bersinar terang, berbarengan dengan meledaknya auranya. Ketika
cahaya memudar, apa yang dilihat para pendeta itu sungguh di luar
dugaan.
Kaki
berbentuk Z seperti kaki burung, sebagian tertutup bulu perak dan
sebagiannya lagi tulang yang kuat. Lengan perempuan itu yang tadinya
berbentuk tangan, kini sepasang sayap besar yang juga tertutup bulu
perak bagai bulu burung. Perempuan itu seorang penyihir shapeshift.
Yang
membedakan dari makhluk shapeshift lainnya adalah dada dan wajah
perempuan itu yang masih berupa dada perempuan dan wajah manusia,
menjadikan perempuan itu makhluk setengah burung dan setengah wanita.
"Kau.. jangan-jangan kau... Mirabel Sang Harpy?" tanya salah seorang pendeta.
"Ya." jawab Mirabel, "Aku adalah penyihir pilihan dewa yang memiliki kekuatan tiada tara, shapeshift murni!"
Selasa, 10 Februari 2015
Chapter 21: Rivalry
Awan
tipis memenuhi langit, hanya menyisakan sedikit ruang bagi matahari
untuk mengintip. Di bawah sana, di jalanan kota, seorang gadis kecil
berjalan sendiri. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai,
sesekali dibelai oleh angin.
Elise Campbell, nama gadis belia itu, baru beberapa saat yang lalu dia meninggalkan sahabatnya untuk mengambil misi sendirian.
"Bagaimana ya sekarang?" gumamnya pada dirinya sendiri.
"Biasanya aku mengambil misi bersama Raisha, kalau sendirian... aku... tidak terbiasa..."
setelah
menghela nafas panjang, dia melanjutkan gumamannya, "Yaah, paling tidak
coba kembali ke guild dulu, mungkin ada misi yang bisa kuambil
sendiri."
Tak
berapa lama kemudian, Elise sampai di Silver Line. Sambil berjalan
pelan, ia masuk ke guild lalu menuju ruang misi. Di sana, ia mendapati
dirinya tidak sendirian.
"Kak Ruby?" ujarnya spontan.
"Oh, hi Elise, apa kabar? Hah? Raisha tidak bersamamu kali ini?"
"Hi Kak Ruby, Raisha sedang.... mengambil misi sendirian, pemohon misi cuma ingin... menyewa satu orang."
"Hoo, begitu..."
"Kakak sendiri... sedang apa di sini? Bukannya kakak sedang terluka, dan... tidak boleh mengambil misi?"
"Tidak
apa-apa, yang dilarang kan misi bertarung atau misi berbahaya
semacamnya, aku bisa mencari misi yang tidak terlalu membahayakanku
kok." jawab Ruby sambil tersenyum tak bersalah.
'Tapi aku yakin Raisha melarang kakak mengambil misi apapun' batin Elise dalam hati.
Sedetik kemudian, Elise menyadari ada yang aneh, seseorang yang seharusnya berada di situ tidak ada di situ.
"Kak Ruby... di mana Kak Ray? Bukannya... biasanya Kak Ruby selalu mengambil misi... bersama Kak Ray?"
"Oh,
dia? Sekarang dia sedang latihan bersama Area, belakangan ini selalu
begitu kok. Ray mulai jarang mengambil misi, dia lebih rajin berlatih.
Yaah, itu bukan hal yang jelek sih, mengingat kemampuannya yang
biasa-biasa saja, tapi tetap saja dia mengabaikan permohonan misi di
guild. Coba lihat, banyak orang yang membutuhkan bantuan kita di sini,
tapi dia malah mengabaikannya." Ruby menunjuk ke papan permohonan misi
di akhir kalimatnya.
"Tapi...
Kak Ray melatih dirinya supaya bisa mengambil... misi yang lebih susah
kan? Berarti itu bagus, lagipula... selain kita, ada juga Gold Hawk di
sini." balas Elise.
"Tapi
tetap saja, aku tidak suka tidak mengambil misi apapun, dan di saat
sekarang ini, Ray tidak mau diajak mengambil misi. Pergi melakukan misi
sendirian rasanya membosankan."
"Jadi...
Kak Ruby bukannya tidak suka kalau Kak Ray pergi latihan, tapi... tidak
suka kalau Kak Rau tidak mau diajak pergi... dalam misi bersama?"
wajah Ruby memerah sedikit, "Memangnya kenapa dengan itu? Tidak masalah kan?"
"Tapi apa Kak Ray... suka mengambil misi bersama... Kak Ruby?"
Ekspresi wajah Ruby berubah kaget, lalu dia bertanya, "Apa maksudmu dengan itu?"
entah kenapa suasana terasa berubah, udara terasa dingin menyesak, seolah-olah angin berhenti berhembus.
"Tidak... cuma penasaran saja... soal Kak Ray..."
"Kenapa dengan Ray?"
Elise menelan ludah dengan susah payah, sebelum menjawab, "Bagaimana... perasaan Kak Ray pada Kak Ruby?"
"Kenapa, kenapa kau ingin tahu?"
Selasa, 09 Desember 2014
Chapter 20: Teacher
Lilly terbaring lemah di atas tempat tidur, luka-lukanya sudah terobati tapi perban masih menutupi beberapa bagian tubuhnya. Raisha menarik selimut menutupi tubuhnya. Ia berpaling ke arah Elise yang tertidur di lantai.
"Kau tidak bisa tidur seperti itu." ujarnya, lalu mengambil selimutnya yang satu lagi, kemudian menyelimuti Elise dengan itu.
Raisha melihat ke luar jendela, ke bulan tak sempurna yang sebagian tertutup awan.
"Aku harap... Kak Area baik-baik saja, Kak Area memang kuat tapi tetap saja aku khawatir..." ujarnya pada diri sendiri, "Lagipula, kadang dia tidak sekuat kelihatannya."
Baru saja dia selesai mengucapkan itu, sebuah cahaya biru bersinar di belakangnya, sewaktu dia menoleh, cahaya itu digantikan oleh Area, Ruby, Edge, dan Ray.
"Kak Area! Oh, Kak Ruby terluka parah, duduklah kak, biar kuobati." ujarnya pada mereka semua, dengan sigap dia membimbing Ruby duduk di kursi, lalu memulai sihir pengobatannya.
"Bagaimana Lilly?" tanya Edge.
"Tidak perlu dikhawatirkan, luka-luka yang parah sudah kusembuhkan, Kak Lilly cuma perlu istirahat." jawab Raisha sambil menyembuhkan Ruby, "Luka Kak Ruby tidak separah Kak Lilly, dalam waktu singkat, aku bisa menyembuhkan kakak."
"Iya, beberapa orang penyembuh menyembuhkanku, mereka tidak ingin aku mati sebelum pertarungan kehormatan berakhir." ujar Ruby.
"Apa kalian juga terluka? Aku bisa menyembuhkan kalian juga." tanya Raisha, masih sambil menyembuhkan Ruby.
"Edge, dan Area terluka, aku sih tidak karena tidak sempat bertarung. Tapi apa kau tidak capek menyembuhkan banyak orang sekaligus, Raisha?" jawab Ray.
"Tidak apa-apa, aku sempat istirahat sebentar kok tadi. Kak Ruby, kakak sudah selesai kusembuhkan, tapi jangan bertarung dulu untuk sementara atau lukanya akan terbuka." Raisha mengakhiri pengobatannya pada Ruby, lalu menghampiri Edge. Tanpa menunggu lama, dia menggunakan sihir penyembuhannya ke bahu Edge, dalam waktu singkat luka itu sembuh.
"Sekarang giliran Kak Area." ujarnya sambil mendekati Area. Ia lalu menyentuh sisi tubuh Area, yang disentuh mengerang sebagai respons.
"Pelan-pelan, sakit."
"Kak Ray, Kak Edge, dan Kak Ruby, bisa pulang sekarang, kalian sebaiknya istirahat. Khusus Kak Ruby jangan bertarung atau mengambil misi dulu untuk sementara sampai benar-benar pulih. Aku akan menyembuhkan Kak Area."
"Baiklah, aku mengerti." ujar Ruby sambil berdiri dari kursi, menyadari Area juga akan dirawat di situ. Tanpa mengucapkan apa-apa, mereka keluar dari ruangan.
"Ayo, duduk di sini." ujarnya sambil menuntun Area ke kursi, sesudah Area duduk, ia langsung memulai sihir pengobatannya.
"Bagaimana kakak bisa terluka? Kakak pasti menganggap enteng lawan lagi kan?"
"Tidak kok. Hanya saja musuhku kali ini punya taktik serangan yang tidak biasa."
"Kakak selalu menganggap enteng lawan, kakak memang punya sihir pertahanan yang hebat tapi kalau kakak ceroboh begini, aku kan jadi... um... jadi..."
"Khawatir?"
wajah Raisha merona merah sebagai jawaban.
"Tidak usah khawatir, kalau dalam keadaan bahaya, aku akan serius kok."
"Jadi harus menunggu kakak dalam bahaya dulu?" Raisha memprotes.
"Haha, tenang saja. Aku senang kau mengkhawatirkanku, tapi tenang saja, aku bisa menjaga diri kok."
Raisha menghentikan penyembuhannya, sambil mengela nafas, dia berkata, "Sudah selesai kak, tapi kakak jangan memaksakan diri kalau bertarung."
"Berarti kalau bertarung biasa boleh kan?"
"Tetap tidak boleh!" Larang Raisha, "Aku tidak akan menyembuhkan kakak kalau kakak tidak mendengarkanku!"
"Baiklah, baiklah." ujar Area.
Suasana sunyi sejenak, sebelum Area mengganti topik.
"Maaf ya aku meninggalkan kalian berdua. Di saat Mad tidak di kota, Lilly terluka, dan aku pergi, guild kita lumayan kosong. Kalau terjadi sesuatu, kita harus bergantung pada kalian berdua."
"Kakak khawatir ya?"
Area tidak menjawab, dia cuma menggaruk-garuk belakang kepalanya.
"Kakak tenang saja, masih ada Ketua Diaz dan Guild Gold Hawk di sini. Dan jangan lupa, kita juga punya Elise, biarpun dia tidak bisa menggunakan sihirnya karena masih takut tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Tapi aku senang kalau kakak khawatir." Raisha mengakhiri kalimatnya dengan senyuman khasnya, tapi senyumannya kali ini beda, rona merah di wajahnya membuat wajahnya terlihat lebih manis.
"Kau tidak bisa tidur seperti itu." ujarnya, lalu mengambil selimutnya yang satu lagi, kemudian menyelimuti Elise dengan itu.
Raisha melihat ke luar jendela, ke bulan tak sempurna yang sebagian tertutup awan.
"Aku harap... Kak Area baik-baik saja, Kak Area memang kuat tapi tetap saja aku khawatir..." ujarnya pada diri sendiri, "Lagipula, kadang dia tidak sekuat kelihatannya."
Baru saja dia selesai mengucapkan itu, sebuah cahaya biru bersinar di belakangnya, sewaktu dia menoleh, cahaya itu digantikan oleh Area, Ruby, Edge, dan Ray.
"Kak Area! Oh, Kak Ruby terluka parah, duduklah kak, biar kuobati." ujarnya pada mereka semua, dengan sigap dia membimbing Ruby duduk di kursi, lalu memulai sihir pengobatannya.
"Bagaimana Lilly?" tanya Edge.
"Tidak perlu dikhawatirkan, luka-luka yang parah sudah kusembuhkan, Kak Lilly cuma perlu istirahat." jawab Raisha sambil menyembuhkan Ruby, "Luka Kak Ruby tidak separah Kak Lilly, dalam waktu singkat, aku bisa menyembuhkan kakak."
"Iya, beberapa orang penyembuh menyembuhkanku, mereka tidak ingin aku mati sebelum pertarungan kehormatan berakhir." ujar Ruby.
"Apa kalian juga terluka? Aku bisa menyembuhkan kalian juga." tanya Raisha, masih sambil menyembuhkan Ruby.
"Edge, dan Area terluka, aku sih tidak karena tidak sempat bertarung. Tapi apa kau tidak capek menyembuhkan banyak orang sekaligus, Raisha?" jawab Ray.
"Tidak apa-apa, aku sempat istirahat sebentar kok tadi. Kak Ruby, kakak sudah selesai kusembuhkan, tapi jangan bertarung dulu untuk sementara atau lukanya akan terbuka." Raisha mengakhiri pengobatannya pada Ruby, lalu menghampiri Edge. Tanpa menunggu lama, dia menggunakan sihir penyembuhannya ke bahu Edge, dalam waktu singkat luka itu sembuh.
"Sekarang giliran Kak Area." ujarnya sambil mendekati Area. Ia lalu menyentuh sisi tubuh Area, yang disentuh mengerang sebagai respons.
"Pelan-pelan, sakit."
"Kak Ray, Kak Edge, dan Kak Ruby, bisa pulang sekarang, kalian sebaiknya istirahat. Khusus Kak Ruby jangan bertarung atau mengambil misi dulu untuk sementara sampai benar-benar pulih. Aku akan menyembuhkan Kak Area."
"Baiklah, aku mengerti." ujar Ruby sambil berdiri dari kursi, menyadari Area juga akan dirawat di situ. Tanpa mengucapkan apa-apa, mereka keluar dari ruangan.
"Ayo, duduk di sini." ujarnya sambil menuntun Area ke kursi, sesudah Area duduk, ia langsung memulai sihir pengobatannya.
"Bagaimana kakak bisa terluka? Kakak pasti menganggap enteng lawan lagi kan?"
"Tidak kok. Hanya saja musuhku kali ini punya taktik serangan yang tidak biasa."
"Kakak selalu menganggap enteng lawan, kakak memang punya sihir pertahanan yang hebat tapi kalau kakak ceroboh begini, aku kan jadi... um... jadi..."
"Khawatir?"
wajah Raisha merona merah sebagai jawaban.
"Tidak usah khawatir, kalau dalam keadaan bahaya, aku akan serius kok."
"Jadi harus menunggu kakak dalam bahaya dulu?" Raisha memprotes.
"Haha, tenang saja. Aku senang kau mengkhawatirkanku, tapi tenang saja, aku bisa menjaga diri kok."
Raisha menghentikan penyembuhannya, sambil mengela nafas, dia berkata, "Sudah selesai kak, tapi kakak jangan memaksakan diri kalau bertarung."
"Berarti kalau bertarung biasa boleh kan?"
"Tetap tidak boleh!" Larang Raisha, "Aku tidak akan menyembuhkan kakak kalau kakak tidak mendengarkanku!"
"Baiklah, baiklah." ujar Area.
Suasana sunyi sejenak, sebelum Area mengganti topik.
"Maaf ya aku meninggalkan kalian berdua. Di saat Mad tidak di kota, Lilly terluka, dan aku pergi, guild kita lumayan kosong. Kalau terjadi sesuatu, kita harus bergantung pada kalian berdua."
"Kakak khawatir ya?"
Area tidak menjawab, dia cuma menggaruk-garuk belakang kepalanya.
"Kakak tenang saja, masih ada Ketua Diaz dan Guild Gold Hawk di sini. Dan jangan lupa, kita juga punya Elise, biarpun dia tidak bisa menggunakan sihirnya karena masih takut tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Tapi aku senang kalau kakak khawatir." Raisha mengakhiri kalimatnya dengan senyuman khasnya, tapi senyumannya kali ini beda, rona merah di wajahnya membuat wajahnya terlihat lebih manis.
Senin, 20 Oktober 2014
Chapter 19: Efreet's eye
Edge berjalan mantap menuju tengah lingkaran, saat berhenti di situ, dia berkata "Aku Edge Reddam, aku petarung selanjutnya, mana wakil kalian?"
Seolah menjawab pertanyaannya, seorang pria melangkah maju, rambut merahnya yang sepanjang bahu berkibar ditiup angin. Matanya yang sama merahnya seperti terbakar api, hanya saja tidak ada kehangatan yang terpancar dari situ, melainkan tatapan dingin seorang pembunuh.
"Namaku Marva Sang Penebas Api, akulah yang akan menjadi lawanmu." ujar orang itu. Seketika itu juga, pria itu membuat pedang api di tangannya.
"Pengguna elemen api hah? Kebetulan, aku juga sama." Edge membuka telapak tangannya, bola api membara di situ.
"Kalau begini, kemenanganku sudah dipastikan" ujar Marva, "Kau tahu kenapa aku disebut Sang Penebas Api? Karena apiku mengalahkan api lain, tidak peduli sekuat apapun itu."
"Kalau begitu, mari kita buktikan!" Edge melemparkan bola api itu ke Marva, yang langsung menebasnya menjadi dua bagian, melewati bagian kiri dan kanan tubuhnya.
Marva menerjang Edge, menyabetkan pedangnya beberapa kali. Edge dengan lincahnya menghindari semua tebasan itu.
Edge melompat mundur, mengambil jarak sebelum akhirnya dia melemparkan satu api pada Marva, "Fire finger!" teriaknya. Api tipis dan panjang melesat menuju sasarannya.
Marva menahan serangan itu dengan pedangnya, sebuah ledakan tercipta, tapi dia tidak terlihat terluka sama sekali.
"Hee... boleh juga kau." puji Edge.
"Sudah kubilang, kan? Apiku mengalahkan api yang lain, termasuk apimu juga!"
Chapter 18: Wood controller
Semua penonton terdiam seolah leher mereka tercekat. Wajar saja, dua orang petarung mereka baru saja dijatuhkan oleh satu orang, hal yang pasti sulit dipercaya oleh siapapun juga. Beberapa orang berbisik-bisik tentang nama Area Sang Perisai dari Guild Silver Line, sebagian lagi tak percaya dengan kemampuannya.
Ruby berjalan ke tengah arena pertarungan, matanya menantang Niozo, tanpa perlu kata-kata sekalipun, laki-laki itu tahu apa yang ingin dikatakan Ruby.
Ia menoleh ke arah para petarungnya, lalu berteriak, "Farast! Kini giliranmu bertarung!"
Seorang perempuan berambut panjang dan indah menjawab panggilan itu, sebagian rambutnya menutupi mata kanannya saat dia berjalan. Perempuan itu membawa tas kecil di balik pinggangnya.
"Aku sudah mendengar tentangmu" ujar Farast tiba-tiba
"Oh ya? Apa yang kau dengar?" tanya Ruby
"Kudengar kau kalah telak dalam upaya penangkapan beberapa hari lalu, kalau bukan karena Sang Perisai, saat ini kau pasti sudah mati dan kami tak perlu melakukan pertarungan merepotkan ini. Karena hasilnya akan sama saja."
"Saat itu aku dikeroyok, kalau pertarungan keroyokan yang bisa kalian banggakan, berarti kalian pasti payah dalam pertarungan satu lawan satu. Lagipula, sudah terbukti dua penyihir kalian kalah dengan mudah."
Ekspresi wajah Farast berubah, dari yang tadinya tersenyum mengejek menjadi marah.
"Akan kubuat kau menyesal karena sudah mengatakan itu." ujarnya.
Farast meraih ke dalam tas kecil di pinggangnya, mengeluarkan sebatang tongkat kecil. Ia menodongkannya pada Ruby, sesaat kemudian tongkat itu memanjang. Bukan cuma memanjang, tapi juga meliuk-liuk bak ular hidup.
Ruby yang terkejut mencoba menghindar, tapi tongkat itu berhasil melilit lengan kiri Ruby. Dengan mudahnya, Farast membanting Ruby ke tanah.
"Kau... pengguna elemen kayu?" tanya Ruby, masih setengah terkejut.
Langganan:
Postingan (Atom)