Senin, 03 Agustus 2015

Chapter 27: Cold hearted flame

Setelah Raisha memberikan obat yang dibuat dari pencariannya ke Elise yang sakit, dia kembali ke apartemennya untuk membuatkan Rico sebuah sup hangat. Raut wajah anak laki-laki itu terlihat sangat senang saat memakannya. Di pagi yang sama, Edge sedang memelanai kuda, Lilly di sebelahnya sudah selesai mengerjakan hal yang sama.

"Kau sudah siap, Edge?" tanya si perempuan. Tubuhnya mengenakan mantel berwarna putih yang agak tebal.

"Ya. Baru saja." jawab yang ditanya. Edge langsung melompat ke punggung kuda, tangannya yang dibungkus sarung tangan memegang tali kekang. Penyihir api itu mengenakan mantel berwarna merah terang, seolah menegaskan identitasnya sebagai penyihir api.

"Ayo kita bergegas, ada seorang gadis yang perlu diselamatkan." katanya kemudian, kepada rekannya.

Lilly lalu naik ke atas kudanya, "Para bandit itu mengharapkan orang tua gadis itu memberikan tebusan waktu matahari terbenam nanti, tapi kita akan menghancurkan harapan itu."

Mereka berdua memacu kudanya, meninggalkan jejak-jejak tapak kuda di sepanjang jalan bersalju di luar kota.

Hari sudah mendekati tengah hari, sewaktu mereka bisa melihat tempat yang diinginkan para bandit untuk menyerahkan tebusan. Edge dan Lilly berhenti di sebuah bukit tinggi, dari situ, mereka melihat Pohon eik besar dengan dahan tertutup salju yang menyebar ke segala arah. Di bawah pohon itu, terlihat seperti titik-titik kecil di atas salju, tujuh orang bandit sedang mengelilingi seseorang yang diikat di tengah-tengah mereka.

"Itu dia, orang yang harus kita selamatkan." ujar Edge, "Ada ide bagaimana kita akan melakukannya? Menyerang langsung dari depan bukanlah gagasan yang bagus."

"Bagaimana dengan strategi sederhana? Aku akan memancing perhatian mereka dari depan, sementara itu kau mendekat dari belakang dan menolong anak itu." usul Lilly.

"Dan bagaimana caraku mendekati mereka dari belakang? Tanah salju ini begitu terbuka. Tidak ada apapun yang bisa kupakai untuk bersembunyi sambil mendekat dalam jarak 300 meter."

"Kenakan mantelku dan menunduklah, dan juga jangan terlalu membuat suara."

Segera, mereka bertukar mantel. Lilly merasa agak dingin karena mantel Edge tidak setebal miliknya, tapi ia tidak mempermasalahkan hal itu. Kuda-kuda ditinggalkan, Lilly bergerak terlebih dulu, baru setelah beberapa langkah kemudian Edge berjalan mendekat.

 

Senin, 29 Juni 2015

Chapter 26: Forest Trip

Sore itu sudah tiga hari berlalu sejak Ray dan Ruby pergi dalam misi mereka. Raisha berjalan keluar dari sebuah toko dengan lambang tanaman obat di atas pintunya. Wajahnya tertunduk lesu, tangannya memasukkan secarik perkamen ke tas kecil di pinggangnya. Gadis itu menghela nafas sebelum mulai berjalan.

"Kak Raisha, kebetulan sekali kita bertemu di sini." ujar seorang anak berambut merah.

Raisha menoleh ke asal suara, "Rico? Sedang apa kau di sini?"

"Oh, aku cuma ingin berjalan-jalan di kota saja. Kakak sendiri?"

"Aku baru saja mau membeli obat untuk Elise." Raisha menoleh ke toko obat yang didatanginya tadi, "Tapi ternyata obatnya sudah habis. Mereka bilang padaku kalau mereka bisa meramu obatnya kalau aku membawa bahan-bahannya."

"Lalu kakak akan mencarinya di hutan di luar kota itu?"

Raisha mengangguk sebagai jawaban.

"Tapi ini kan musim dingin, salju sudah turun beberapa hari yang lalu, apakah tanaman itu masih ada di sana?"

"Mungkin kemungkinannya kecil, tapi aku tetap akan mencarinya."

Rico diam sejenak, lalu berkata, "Aku akan ikut membantu kakak mencarinya, bagaimana? Kebetulan aku sedang tidak ada kesibukan."

"Eh? Kenapa?"

"'Kenapa?' mungkin karena aku tidak bisa membiarkan seorang perempuan pergi ke hutan sendirian, jadi aku akan membantu."

"Heee. Kau terdengar seperti laki-laki sejati." puji Raisha, yang langsung membuat wajah Rico memerah, "Baiklah, kau boleh ikut."



Tidak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk tiba di hutan di luar kota. Pepohonannya masih sama seperti biasa, hanya saja kali ini dahan-dahan dan ranting tertutup oleh salju. Jalan setapaknya juga tidak terlihat, hanya celah di antara dua deretan pohon yang memberitahu mereka bahwa sebelumnya pernah ada jalan setapak di situ.

"Omong-omong, tanaman obat apa yang kita cari?" tanya Rico.

"Jari merah, kau tahu?"

"Tanaman kecil berwarna merah yang daunnya berbentuk seperti jari itu? Aku tahu. Tapi di mana kita akan mencarinya?"

"Biar kutanyakan." setelah mengatakannya, Raisha mendekat ke salah satu pohon. Tangannya menyentuh batang pohon itu, lalu dia memejamkan matanya. Cahaya redup berwarna hijau bersinar dari tangan gadis itu, setelah beberapa saat, cahaya itu memudar. Raisha menoleh ke Rico lagi.

"Ayo. Aku sudah tahu di mana tempatnya." seru Raisha sebelum berjalan. Rico langsung menyusulnya.

"Apa yang kakak lakukan tadi?"

"Berbicara pada pohon." jawabnya enteng.

"Kakak bisa berbicara pada pohon?"

"Iya. Pohon dan tumbuhan juga makhluk hidup, kalau kau menguasai elemen pohon, kau juga bisa berbicara dengan pohon."

"Lalu? Kakak bertanya pada pohon itu dimana letak jari merah?"

"Iya. Katanya beberapa hari yang lalu masih ada beberapa jari merah di tepi sungai. Kalau kita beruntung mungkin kita bisa memetiknya."

Senin, 22 Juni 2015

Chapter 25: Escort mission

Paling tidak sudah tiga minggu berlalu sejak para pedagang keliling mengunjungi Recht. Hari-hari mulai berubah, musim dingin semakin terasa. Baru tadi malam salju turun untuk pertama kalinya. Membuat dunia tertutupi oleh lapisan putih dingin. Seorang lelaki muda berjalan lambat di atas lapisan itu, meninggalkan lubang-lubang seukuran telapak kakinya di belakangnya. Ia memeluk dirinya sendiri yang sudah memakai mantel tebal.

"Sial... dingin sekali..." keluh Ray sambil menggigil. Walaupun begitu, ia tetap berjalan menuju guild.

"Semoga siapapun yang meminta pertolongan nanti punya sup hangat untuk dinikmati." ujarnya dalam dingin.

Udara yang hangat menyambutnya begitu ia memasuki guild, dalam hatinya Ray berterimakasih pada siapapun itu yang menyalakan api di dalam perapian.

"Ke mana Ruby? Aku kira dia sudah sampai duluan, ternyata belum ya?" tanyanya sambil menggantungkan mantelnya di samping pintu.

"Hm? Sudah ada yang datang? Ini mantelnya Ketua Diaz, ini milik Nona Lucia, lalu ini..." pandangannya terhenti pada sebuah mantel berwarna merah dengan bulu putih di ujung lengannya. Ukuran mantel itu terlalu kecil bila dibandingkan dengan dirinya, atau Ruby.

"Mungkin Elise atau Raisha." dia menyimpulkan sendiri.

Ray mendapatkan jawabannya saat ia memasuki ruang permohonan misi. Raisha sudah ada di situ, memandangi kertas-kertas di papan misi.

"Hi Raisha." sapa Ray.

Raisha berbalik sebelum membalas, "Oh, hi Kak Ray."

"Kau sendirian? Tidak bersama Elise?"

"Oh, perutnya sedang sakit, jadi untuk sementara dia tidak bisa ikut menjalankan misi denganku."

"Hoo..." hanya itu jawaban Ray, sebelum ia mulai melihat-lihat kertas-kertas di papan misi.

"Omong-omong, aku boleh tanya? Kenapa kau ingin menjadi guru? Itu bukan cita-cita yang jelek sih, hanya saja orang-orang biasanya kan lebih memilih bergabung bersama guild, atau menjadi tentara di kerajaan. Jadi... cita-citamu itu tidak umum, kurasa."

"Hehe, tidak apa-apa kok kalau Kak Ray bertanya begitu. Dulu Ketua Diaz juga pernah menanyakan hal yang sama. Sebenarnya aku ingin menjadi seperti ayahku."

"Ayahmu?"

"Iya, beliau guru sihir di kota asalku. Semenjak aku kecil, aku sudah diajari sihir lebih intensif daripada orang lain. Secara teori dan praktek. Karena ayahkulah, aku bisa lulus sekolah lebih cepat daripada orang lain. Dan aku ingin menjadi seperti ayahku, berguna bagi orang banyak. Bukan cuma untuk generasi ini, tapi juga mendidik generasi yang akan datang. Karena itulah, aku ingin menjadi guru."

"Cita-cita yang bagus sekali. Semoga kau bisa meraihnya, berusahalah."

"Ya. Terimakasih Kak Ray."

"Ray? Kau di sini?" ujar sebuah suara. Ketika yang dipanggil menoleh, Ruby ada di sumbernya.

"Aku kira kau masih latihan bersama Area. Beberapa hari yang lalu juga kau masih latihan intensif bersamanya."

"Latihannya berakhir dua hari yang lalu." jawab Ray, "Uangku mulai habis, jadi aku rasa sebaiknya aku mulai menjalankan misi lagi."

"Benar juga, misi terakhir yang kau jalankan itu kan... misi menjaga pelelangan itu kan? Sudah lama sekali, dan sejak itu kau terus latihan bersama Area." sahut Ruby. Dalam hatinya, Ray masih terkejut bahwa bayaran dari misi itu cukup untuk menghidupi dirinya tanpa kerja sampai selama ini. Pekerjaan dari orang kaya memang beda.

"Bagaimana kalau kita mengambil misi yang ini saja?" Ruby menunjuk ke salah satu kertas, di situ tertulis 'Pengawalan' di bagian atasnya, dan detil misi di bawahnya.

Ray melihat kertas itu, sebelum menjawab "Mengawal? Boleh juga, bayarannya juga lumayan. Aku tidak keberatan, kau mau ikut, Raisha?"

"Tidak, terimakasih. Aku lebih suka mengajar daripada mengerjakan misi bertarung atau semacamnya."

"Hmm... ya sudah kalau begitu. Ayo kita berangkat, Ruby."



Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di tempat pemohon. Rumahnya memang mencolok, dengan pagar tinggi menghalangi orang-orang yang ingin masuk ke dalamnya. Rumah ini memang terlihat seperti rumah orang kaya, dengan bangunan tingkat dua dan halaman yang cukup luas. Sebuah kereta kuda diparkir di halaman, beberapa orang tampak berdiri di sampingnya.

Ray dan Ruby menghampiri mereka.

"Permisi, kami dari Guild Silver Line, kami mendapat permohonan misi dari anda." ujar Ray.

Salah seorang pria menoleh ke Ray, topi coklatnya menutupi sebagian wajahnya.

"Ah, kalian datang tepat waktu, kami hampir saja berpikiran bahwa kalian tidak menerima permohonan kami. Seharusnya kalian datang lebih awal daripada waktu yang aku tulis."

"Sudahlah Dabro, yang penting mereka sudah datang," ucap seorang pria tua berjenggot, "Aku Ralvin, kepala rumah ini. Terimakasih kalian sudah menerima permohonan kami. Langsung saja, misi kalian sederhana: mengawal putriku dengan selamat sampai Luronda dan kembali kemari."

sesudah mengatakan itu, Ralvin menoleh ke dalam kereta kuda, saat itu Ray dan Ruby menyadari bahwa ada seorang remaja perempuan duduk di dalamnya. Tubuhnya tertutup mantel berwarna merah muda, rambut merahnya diikat ekor kuda. Ia tersenyum pada Ray dan Ruby saat tahu bahwa mereka melihatnya.

"Sephillia baru menginjak 17 tahun, sesuai tradisi keluarga kami, kami akan merayakannya di rumah keluarga tertua, yaitu kakakku, kebetulan dia sekarang tinggal di Luronda. Sebenarnya aku ingin ikut pergi dan menjaganya, tapi pekerjaanku menghalangiku. Karena itulah, aku minta bantuan kalian."

"Kami mengerti." sahut Ruby.

"Kami akan menjaganya dengan nyawa kami." sambung Ray.

"Aku senang kalau begitu. Perbekalan dan kuda-kuda sudah disiapkan. Kalian bisa berangkat sekarang juga."

beberapa pelayan mengikatkan tas-tas perbekalan di dua kuda yang akan ditunggangi Ray dan Ruby. Dabro naik ke kursi kemudi kereta kuda, dan dengan segera, perjalanan mereka dimulai.



Beberapa jam telah berlalu semenjak mereka bertolak dari Recht menuju selatan. Lapisan salju tipis menutupi semua yang ada di tanah. Ray memacu kudanya di depan, ancaman apapun yang menghadang mereka akan berhadapan dengan Ray terlebih dulu. Sementara itu, Ruby mengikuti kereta dari belakang, berjaga-jaga kalau ada bandit yang ingin mengagetkan mereka.

Sampai malam menjelang, tidak ada bahaya apapun yang menghadang mereka. Dabro membuat api unggun di tengah kemah sederhana mereka, dia lalu membuat sup kentang sederhana, tapi cukup untuk menghangatkan mereka.

"Pesta ulang tahun Nona Sephilia akan diadakan dua hari lagi, besok kita sudah harus mencapai Luronda." kata Dabro saat membuat makan malam. Ia lalu mencicipi supnya, sesudah puas dengan rasanya, dia menuangkan sebagian untuk Sephilia.

"Kami mengerti." jawab Ruby sambil mengambil makanannya sendiri.

"Omong-omong aku ingin tahu, bagaimana rasanya bekerja di guild?" tanya Sephilia tiba-tiba. Suaranya terdengar lebih halus dan lembut daripada suara perempuan lain yang pernah didengar Ray.

"Kenapa... kau ingin tahu?" kali ini Ruby yang bertanya.

"Karena aku merasa, mereka yang bekerja dalam guild adalah orang yang hebat. Kalian berani melakukan apapun untuk membantu orang-orang yang meminta bantuan pada kalian kan? Aku sering membaca tentang kalian, di buku-buku. Aku rasa, orang-orang seperti kalian itu hebat sekali."

"Nona, tolong jangan menjadi orang guild. Pekerjaan ini terlalu berbahaya. Tuan akan marah, lagipula, nona adalah anak semata wayang Tuan Ralvin."

"Aku tahu, tapi tetap saja aku tidak terlalu tertarik melanjutkan bisnis ayah."

"Nona, tolong jangan katakan itu di depan Tuan. Tuan akan sangat sedih."

"Aku tahu itu."

Mereka melanjutkan makan malam mereka. Seusai makan, Ruby berdiri dan mengajukan diri berjaga-jaga pertama kali.


Jumat, 24 April 2015

chapter 24: Edge

Lagu-lagu indah yang memenuhi siang itu perlahan memudar sebelum akhirnya berhenti. Seorang pemain gitar membungkukkan badan beberapa kali ke arah penonton yang bertepuk tangan. Seorang anak kecil berkeliling sambil menadahkan topi lebar, ke sanalah para penonton melempar koin-koin mereka.

Lilly, Edge, Raisha, Lucia, Diaz, dan Mad juga termasuk diantara yang melemparkan koin mereka ke anak kecil itu.

"Lagu yang indah ya? Sayang sekali Ruby tidak mendengarkannya." ujar Lilly.

"Elise juga." sahut Raisha, "Mereka sedang bersama Kak Ray."

"Hoo, beruntung sekali Ray, menghabiskan waktu bersama dua perempuan cantik." ujar Lilly lagi.

"Berarti aku yang bersamamu ini sedang sial, ya?" sambung Edge.

"Wah, Edge, kau mau musim dingin ini kubuat jadi musim dingin yang terakhir untukmu?" Lilly mengeluarkan serulingnya.

"Tidak, terima kasih. Aku masih ingin menikmati musim semi."

"Edge?" tiba-tiba sebuah suara memanggil.

Semuanya menoleh ke asal suara, dan mereka melihat seorang perempuan berumur sekitar pertengahan 20-an, tingginya tidak jauh beda dengan Lilly, mungkin cuma lebih tinggi sedikit. Rambutnya sama merahnya dengan rambut Edge, hanya saja lebih panjang hingga melewati bahu.

"Kak Arieta." panggil Edge pada perempuan itu, sebelum mendekat. Semua orang saling bertukar pandang saat Edge memanggil perempuan itu.

"Edge tidak pernah memberitahuku dia punya kakak." ujar Lilly.

"Iya, dia juga tidak memberitahuku." sahut Diaz. Lucia juga memberi respon yang sama.

"Ya... kalau Kak Edge tidak memberitahu Kak Lilly, wajar saja kalau dia tidak menceritakannya pada yang lain."

"Tunggu dulu Raisha, apa maksudmu dengan itu?"

Raisha menjawab Lilly dengan setengah berbisik, "Soalnya, semua orang juga sudah tahu perasaan tersembunyi Kak Edge pada Kak Lilly."

Diaz, Lucia, dan Mad mengangguk setuju terhadap kata-kata Raisha.

"Kenapa kau tidak pernah pulang? Ayah dan ibu khawatir setiap kali aku kembali ke rumah. Kau tambah tinggi ya? Terakhir kali aku melihatmu kau tidak setinggi ini. Bagaimana makanmu? Sehat? Bagaimana kabarmu di guildmu?"

"Aku kan sudah menulis surat kak. Ya, aku bertambah tinggi, aku masih dalam masa pertumbuhan. Aku makan dengan baik kok kak. Dan, orang-orang di guild menerimaku dengan baik." jawab Edge pada pertanyaan kakaknya yang bertubi-tubi.

"Omong-omong soal guild, kebetulan anggota guildku sedang bersamaku." Edge mengacungkan ibu jarinya ke rombongan di belakangnya.

Arieta berjalan ke samping Edge, ia membuka mulutnya untuk memperkenalkan diri, namun mendadak kata-katanya berhenti di tenggorokannya. Matanya membelalak tak berkedip saat melihat Lilly.

"Iris?"

Senin, 02 Maret 2015

Chapter 23: Winter comes

Dua bulan telah berlalu semenjak insiden penyerangan White Moon yang mengambil artefak purba. Cuaca sudah semakin dingin, walaupun salju belum turun. Musim dingin sudah datang di Arkascha. Di musim ini Recht kedatangan tamu musiman: para pedagang keliling yang selalu berkelana ke seluruh penjuru Arkascha, membeli dan menjual barang-barang mereka dan barang-barang orang lokal.

Musim dingin ini adalah giliran Recht yang mereka datangi. Mereka semua mendirikan tenda-tenda di luar Recht, kereta kuda masing-masing tidak jauh dari tenda. Ada penjual daging yang diasinkan, ada penjual baju, ada penjual perhiasan, dan ada banyak lagi pedagang yang mendirikan tendanya di luar kota Recht.

Semua penduduk Recht keluar dari rumah mereka, ada yang sekedar melihat-lihat, ada yang membeli barang, ada juga yang menjual barang mereka.

Termasuk juga para penyihir Silver Line. Diaz, Lucia, Ray, Ruby, Lilly, Edge, Area, Raisha, dan Elise, tapi ada pemandangan yang berbeda, ada satu orang yang jarang terlihat, tapi kali ini hadir bersama mereka. Mad Vrey.

Mad berjalan di sebelah Elise, paling jauh dari Diaz. Wajahnya tidak berekspresi selain sesekali melirik ke Diaz, seakan berhati-hati padanya.

Raisha melirik ke Mad dengan tatapan yang tajam, dia berbisik "Jangan macam-macam ya."

Mad hanya mendengus kesal.

"Aku akan pergi sendiri." ujar Mad sambil berlalu. Raisha memandangi dia pergi.

"Aku akan mengikuti Mad, aku tidak ingin dia berbuat onar seperti sebelumnya." ujar Raisha pada Elise.

"Kalau begitu, aku ikut denganmu, Raisha." balas Elise. Mereka berdua berjalan mengikuti Mad.

"Mau apa kalian ikut?" tanya Mad agak kasar kepada dua gadis yang membuntutinya.

"Bukan kenapa-kenapa, cuma memastikan kau tidak dengan tanpa sengaja membuat keributan yang akan mempermalukan guild." jawab Raisha.

"Demi menjaga nama baik guild? Apa pentingnya guild ini bagi kalian?"

"Guild ini... sangat penting bagiku." kali ini Elise yang menjawab, "Ketua Diaz menerimaku... saat aku tidak punya tempat lagi... guild ini... sudah seperti rumahku sendiri. Aku tidak akan membiarkan... kau mengotori namanya."

Mad menoleh ke Elise, tatapannya dibalas sorot mata yang kuat dan tegas, beda dengan Elise yang biasanya.

"Terserah kalianlah." jawab Mad, sekenanya.

Mereka bertiga berjalan bersama bagai satu rombongan. Rombongan aneh yang terdiri dari seorang pria tinggi besar botak, bersama dua orang gadis kecil.

Jumat, 20 Februari 2015

Chapter 22: Land's map

Awan tebal berarak di langit, menutup setiap jengkal langit dengan warna putih yang damai. Tidak jauh dari gulungan awan itu, jauh di ujung utara Kerajaan Arkascha, berdiri dengan megah deretan pegunungan Callian. Di puncak salah satu gunung, berdiri dengan megah sebuah kuil yang entah sejak kapan dibangunnya. Kuil itu adalah titik tertinggi di gunung itu, seolah-olah ujung gunung dipotong untuk kemudian dibangun kuil ini. Deretan anak tangga yang diukir melingkar di tepi gunung merupakan satu-satunya jalan keluar masuk ke kuil ini, pepohonan menutupi mereka. Tembok batu tinggi menutup pandangan orang luar terhadap kuil ini, kecuali atap sebuah bangunan yang dibuat mengerucut. Gerbang kayu yang dibuat menyerupai huruf A menjadi pintu masuknya. Beberapa pendeta dengan kepala yang dicukur dan pakaian longgar berlalu lalang di dalam kuil itu, dua orang pendeta menjaga pintu masuk.



Dua orang perempuan dan seorang laki-laki menanjaki deretan anak tangga menuju kuil itu. Yang laki-laki adalah Zivon, pria yang pernah merebut artifak di benteng Galtar. Seorang perempuan berambut hitam pendek sebahu, sementara satunya lagi pirang panjang hingga sepinggang.

"Harta purbakala yang satu lagi ada di sini ya? Terpencil sekali, tempat yang cocok untuk menyimpan harta sepenting itu." ujar yang berambut panjang

"Selain tempatnya susah dicapai, kuil itu juga dijaga oleh banyak sekali penyihir tingkat tinggi. Orang biasa tidak akan bisa menyerang kuil ini sendirian, karena itu para penjaga kami serahkan padamu, Mirabel." kali ini Zivon yg berbicara.

"Tenang saja, tidak ada orang yang bisa mengalahkanku," balas perempuan berambut pendek, "Karena aku adalah penyihir pilihan dewa, yang sudah ditakdirkan untuk menjadi yang terkuat."

"Kau tidak menghilangkan dirimu sebelum menyerbu masuk, Zivon?" tanya perempuan berambut panjang itu.

"Tidak Selena, penyihir sepertiku tau walau dari jauh, kuil itu bukan tempat sembarangan, sudah ada perisai khusus. Sihir penghilangku akan langsung tidak befungsi di dalam kuil itu."

"Begitu... yah, kau yang lebih tau soal itu Zivon, jadi aku percaya saja."

Begitu sampai di gerbang kuil itu, mereka dihadang oleh kedua penjaga, salah seorang diantaranya berkata, "Berhenti! Tempat ini terlarang untuk dimasuki orang luar."

Selena melemparkan dua buah jarum tipis ke arah para penjaga itu, keduanya menghindar dengan sigap, tapi jarum itu tetap menggores pipi mereka.

"Kalian berniat menyerang kuil suci ini? Kalian membuat keputusan yang salah." ujar salah satu penjaga, dia dan rekannya mengacungkan tangan mereka ke depan, bersiap menyerang.

"Percuma melawan, kalian sudah kalah." ujar Selena. Tidak sampai dua detik sesudah mengatakannya, kedua penjaga itu langsung ambruk.

"Racunku sangat kuat, tergores sedikit saja sudah lebih dari cukup untuk membunuh siapapun." ujarnya lagi.

Sewaktu mereka bertiga memasuki lapangan utama kuil, ribuan pendeta langsung berhamburan keluar entah dari mana, mengelilingi mereka bertiga.

"Kalian, apa kalian yang menyerang Benteng Galtar? Kami sudah mendengar kabarnya, tapi salah sekali kalau kalian menyamakan kami dengan para penyihir itu. Kami adalah orang-orang yang sejak bayi dibesarkan di kuil ini, dengan tujuan melindungi rahasia kuil ini. Kemampuan kami jauh berbeda dengan mereka." ujar salah satu pendeta.

"Begitu... sempurna. Aku memang menginginkan musuh yang kuat." ujar Mirabel. Sesaat kemudian, angin berputar kencang di sekitarnya, bersamaan dengan menguatnya auranya, hingga menyerupai api perak. Sesaat kemudian tubuh Mirabel bersinar terang, berbarengan dengan meledaknya auranya. Ketika cahaya memudar, apa yang dilihat para pendeta itu sungguh di luar dugaan.

Kaki berbentuk Z seperti kaki burung, sebagian tertutup bulu perak dan sebagiannya lagi tulang yang kuat. Lengan perempuan itu yang tadinya berbentuk tangan, kini sepasang sayap besar yang juga tertutup bulu perak bagai bulu burung. Perempuan itu seorang penyihir shapeshift.

Yang membedakan dari makhluk shapeshift lainnya adalah dada dan wajah perempuan itu yang masih berupa dada perempuan dan wajah manusia, menjadikan perempuan itu makhluk setengah burung dan setengah wanita.

"Kau.. jangan-jangan kau... Mirabel Sang Harpy?" tanya salah seorang pendeta.

"Ya." jawab Mirabel, "Aku adalah penyihir pilihan dewa yang memiliki kekuatan tiada tara, shapeshift murni!"

Selasa, 10 Februari 2015

Chapter 21: Rivalry

Awan tipis memenuhi langit, hanya menyisakan sedikit ruang bagi matahari untuk mengintip. Di bawah sana, di jalanan kota, seorang gadis kecil berjalan sendiri. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai, sesekali dibelai oleh angin.

Elise Campbell, nama gadis belia itu, baru beberapa saat yang lalu dia meninggalkan sahabatnya untuk mengambil misi sendirian.

"Bagaimana ya sekarang?" gumamnya pada dirinya sendiri.

"Biasanya aku mengambil misi bersama Raisha, kalau sendirian... aku... tidak terbiasa..."

setelah menghela nafas panjang, dia melanjutkan gumamannya, "Yaah, paling tidak coba kembali ke guild dulu, mungkin ada misi yang bisa kuambil sendiri."



Tak berapa lama kemudian, Elise sampai di Silver Line. Sambil berjalan pelan, ia masuk ke guild lalu menuju ruang misi. Di sana, ia mendapati dirinya tidak sendirian.

"Kak Ruby?" ujarnya spontan.

"Oh, hi Elise, apa kabar? Hah? Raisha tidak bersamamu kali ini?"

"Hi Kak Ruby, Raisha sedang.... mengambil misi sendirian, pemohon misi cuma ingin... menyewa satu orang."

"Hoo, begitu..."

"Kakak sendiri... sedang apa di sini? Bukannya kakak sedang terluka, dan... tidak boleh mengambil misi?"

"Tidak apa-apa, yang dilarang kan misi bertarung atau misi berbahaya semacamnya, aku bisa mencari misi yang tidak terlalu membahayakanku kok." jawab Ruby sambil tersenyum tak bersalah.

'Tapi aku yakin Raisha melarang kakak mengambil misi apapun' batin Elise dalam hati.

Sedetik kemudian, Elise menyadari ada yang aneh, seseorang yang seharusnya berada di situ tidak ada di situ.

"Kak Ruby... di mana Kak Ray? Bukannya... biasanya Kak Ruby selalu mengambil misi... bersama Kak Ray?"

"Oh, dia? Sekarang dia sedang latihan bersama Area, belakangan ini selalu begitu kok. Ray mulai jarang mengambil misi, dia lebih rajin berlatih. Yaah, itu bukan hal yang jelek sih, mengingat kemampuannya yang biasa-biasa saja, tapi tetap saja dia mengabaikan permohonan misi di guild. Coba lihat, banyak orang yang membutuhkan bantuan kita di sini, tapi dia malah mengabaikannya." Ruby menunjuk ke papan permohonan misi di akhir kalimatnya.

"Tapi... Kak Ray melatih dirinya supaya bisa mengambil... misi yang lebih susah kan? Berarti itu bagus, lagipula... selain kita, ada juga Gold Hawk di sini." balas Elise.

"Tapi tetap saja, aku tidak suka tidak mengambil misi apapun, dan di saat sekarang ini, Ray tidak mau diajak mengambil misi. Pergi melakukan misi sendirian rasanya membosankan."

"Jadi... Kak Ruby bukannya tidak suka kalau Kak Ray pergi latihan, tapi... tidak suka kalau Kak Rau tidak mau diajak pergi... dalam misi bersama?"

wajah Ruby memerah sedikit, "Memangnya kenapa dengan itu? Tidak masalah kan?"

"Tapi apa Kak Ray... suka mengambil misi bersama... Kak Ruby?"

Ekspresi wajah Ruby berubah kaget, lalu dia bertanya, "Apa maksudmu dengan itu?"

entah kenapa suasana terasa berubah, udara terasa dingin menyesak, seolah-olah angin berhenti berhembus.

"Tidak... cuma penasaran saja... soal Kak Ray..."

"Kenapa dengan Ray?"

Elise menelan ludah dengan susah payah, sebelum menjawab, "Bagaimana... perasaan Kak Ray pada Kak Ruby?"

"Kenapa, kenapa kau ingin tahu?"

Selasa, 09 Desember 2014

Chapter 20: Teacher

Lilly terbaring lemah di atas tempat tidur, luka-lukanya sudah terobati tapi perban masih menutupi beberapa bagian tubuhnya. Raisha menarik selimut menutupi tubuhnya. Ia berpaling ke arah Elise yang tertidur di lantai.


"Kau tidak bisa tidur seperti itu." ujarnya, lalu mengambil selimutnya yang satu lagi, kemudian menyelimuti Elise dengan itu.


Raisha melihat ke luar jendela, ke bulan tak sempurna yang sebagian tertutup awan.


"Aku harap... Kak Area baik-baik saja, Kak Area memang kuat tapi tetap saja aku khawatir..." ujarnya pada diri sendiri, "Lagipula, kadang dia tidak sekuat kelihatannya."


Baru saja dia selesai mengucapkan itu, sebuah cahaya biru bersinar di belakangnya, sewaktu dia menoleh, cahaya itu digantikan oleh Area, Ruby, Edge, dan Ray.


"Kak Area! Oh, Kak Ruby terluka parah, duduklah kak, biar kuobati." ujarnya pada mereka semua, dengan sigap dia membimbing Ruby duduk di kursi, lalu memulai sihir pengobatannya.


"Bagaimana Lilly?" tanya Edge.


"Tidak perlu dikhawatirkan, luka-luka yang parah sudah kusembuhkan, Kak Lilly cuma perlu istirahat." jawab Raisha sambil menyembuhkan Ruby, "Luka Kak Ruby tidak separah Kak Lilly, dalam waktu singkat, aku bisa menyembuhkan kakak."


"Iya, beberapa orang penyembuh menyembuhkanku, mereka tidak ingin aku mati sebelum pertarungan kehormatan berakhir." ujar Ruby.


"Apa kalian juga terluka? Aku bisa menyembuhkan kalian juga." tanya Raisha, masih sambil menyembuhkan Ruby.


"Edge, dan Area terluka, aku sih tidak karena tidak sempat bertarung. Tapi apa kau tidak capek menyembuhkan banyak orang sekaligus, Raisha?" jawab Ray.


"Tidak apa-apa, aku sempat istirahat sebentar kok tadi. Kak Ruby, kakak sudah selesai kusembuhkan, tapi jangan bertarung dulu untuk sementara atau lukanya akan terbuka." Raisha mengakhiri pengobatannya pada Ruby, lalu menghampiri Edge. Tanpa menunggu lama, dia menggunakan sihir penyembuhannya ke bahu Edge, dalam waktu singkat luka itu sembuh.


"Sekarang giliran Kak Area." ujarnya sambil mendekati Area. Ia lalu menyentuh sisi tubuh Area, yang disentuh mengerang sebagai respons.


"Pelan-pelan, sakit."


"Kak Ray, Kak Edge, dan Kak Ruby, bisa pulang sekarang, kalian sebaiknya istirahat. Khusus Kak Ruby jangan bertarung atau mengambil misi dulu untuk sementara sampai benar-benar pulih. Aku akan menyembuhkan Kak Area."


"Baiklah, aku mengerti." ujar Ruby sambil berdiri dari kursi, menyadari Area juga akan dirawat di situ. Tanpa mengucapkan apa-apa, mereka keluar dari ruangan.


"Ayo, duduk di sini." ujarnya sambil menuntun Area ke kursi, sesudah Area duduk, ia langsung memulai sihir pengobatannya.


"Bagaimana kakak bisa terluka? Kakak pasti menganggap enteng lawan lagi kan?"


"Tidak kok. Hanya saja musuhku kali ini punya taktik serangan yang tidak biasa."


"Kakak selalu menganggap enteng lawan, kakak memang punya sihir pertahanan yang hebat tapi kalau kakak ceroboh begini, aku kan jadi... um... jadi..."


"Khawatir?"


wajah Raisha merona merah sebagai jawaban.


"Tidak usah khawatir, kalau dalam keadaan bahaya, aku akan serius kok."


"Jadi harus menunggu kakak dalam bahaya dulu?" Raisha memprotes.


"Haha, tenang saja. Aku senang kau mengkhawatirkanku, tapi tenang saja, aku bisa menjaga diri kok."


Raisha menghentikan penyembuhannya, sambil mengela nafas, dia berkata, "Sudah selesai kak, tapi kakak jangan memaksakan diri kalau bertarung."


"Berarti kalau bertarung biasa boleh kan?"


"Tetap tidak boleh!" Larang Raisha, "Aku tidak akan menyembuhkan kakak kalau kakak tidak mendengarkanku!"


"Baiklah, baiklah." ujar Area.


Suasana sunyi sejenak, sebelum Area mengganti topik.


"Maaf ya aku meninggalkan kalian berdua. Di saat Mad tidak di kota, Lilly terluka, dan aku pergi, guild kita lumayan kosong. Kalau terjadi sesuatu, kita harus bergantung pada kalian berdua."


"Kakak khawatir ya?"


Area tidak menjawab, dia cuma menggaruk-garuk belakang kepalanya.


"Kakak tenang saja, masih ada Ketua Diaz dan Guild Gold Hawk di sini. Dan jangan lupa, kita juga punya Elise, biarpun dia tidak bisa menggunakan sihirnya karena masih takut tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Tapi aku senang kalau kakak khawatir." Raisha mengakhiri kalimatnya dengan senyuman khasnya, tapi senyumannya kali ini beda, rona merah di wajahnya membuat wajahnya terlihat lebih manis.



Senin, 20 Oktober 2014

Chapter 19: Efreet's eye

Edge berjalan mantap menuju tengah lingkaran, saat berhenti di situ, dia berkata "Aku Edge Reddam, aku petarung selanjutnya, mana wakil kalian?"

Seolah menjawab pertanyaannya, seorang pria melangkah maju, rambut merahnya yang sepanjang bahu berkibar ditiup angin. Matanya yang sama merahnya seperti terbakar api, hanya saja tidak ada kehangatan yang terpancar dari situ, melainkan tatapan dingin seorang pembunuh.

"Namaku Marva Sang Penebas Api, akulah yang akan menjadi lawanmu." ujar orang itu. Seketika itu juga, pria itu membuat pedang api di tangannya.

"Pengguna elemen api hah? Kebetulan, aku juga sama." Edge membuka telapak tangannya, bola api membara di situ.

"Kalau begini, kemenanganku sudah dipastikan" ujar Marva, "Kau tahu kenapa aku disebut Sang Penebas Api? Karena apiku mengalahkan api lain, tidak peduli sekuat apapun itu."

"Kalau begitu, mari kita buktikan!" Edge melemparkan bola api itu ke Marva, yang langsung menebasnya menjadi dua bagian, melewati bagian kiri dan kanan tubuhnya.

Marva menerjang Edge, menyabetkan pedangnya beberapa kali. Edge dengan lincahnya menghindari semua tebasan itu.

Edge melompat mundur, mengambil jarak sebelum akhirnya dia melemparkan satu api pada Marva, "Fire finger!" teriaknya. Api tipis dan panjang melesat menuju sasarannya.

Marva menahan serangan itu dengan pedangnya, sebuah ledakan tercipta, tapi dia tidak terlihat terluka sama sekali.

"Hee... boleh juga kau." puji Edge.

"Sudah kubilang, kan? Apiku mengalahkan api yang lain, termasuk apimu juga!"

Chapter 18: Wood controller

Semua penonton terdiam seolah leher mereka tercekat. Wajar saja, dua orang petarung mereka baru saja dijatuhkan oleh satu orang, hal yang pasti sulit dipercaya oleh siapapun juga. Beberapa orang berbisik-bisik tentang nama Area Sang Perisai dari Guild Silver Line, sebagian lagi tak percaya dengan kemampuannya.

Ruby berjalan ke tengah arena pertarungan, matanya menantang Niozo, tanpa perlu kata-kata sekalipun, laki-laki itu tahu apa yang ingin dikatakan Ruby.

Ia menoleh ke arah para petarungnya, lalu berteriak, "Farast! Kini giliranmu bertarung!"

Seorang perempuan berambut panjang dan indah menjawab panggilan itu, sebagian rambutnya menutupi mata kanannya saat dia berjalan. Perempuan itu membawa tas kecil di balik pinggangnya.

"Aku sudah mendengar tentangmu" ujar Farast tiba-tiba

"Oh ya? Apa yang kau dengar?" tanya Ruby

"Kudengar kau kalah telak dalam upaya penangkapan beberapa hari lalu, kalau bukan karena Sang Perisai, saat ini kau pasti sudah mati dan kami tak perlu melakukan pertarungan merepotkan ini. Karena hasilnya akan sama saja."

"Saat itu aku dikeroyok, kalau pertarungan keroyokan yang bisa kalian banggakan, berarti kalian pasti payah dalam pertarungan satu lawan satu. Lagipula, sudah terbukti dua penyihir kalian kalah dengan mudah."

Ekspresi wajah Farast berubah, dari yang tadinya tersenyum mengejek menjadi marah.

"Akan kubuat kau menyesal karena sudah mengatakan itu." ujarnya.

Farast meraih ke dalam tas kecil di pinggangnya, mengeluarkan sebatang tongkat kecil. Ia menodongkannya pada Ruby, sesaat kemudian tongkat itu memanjang. Bukan cuma memanjang, tapi juga meliuk-liuk bak ular hidup.

Ruby yang terkejut mencoba menghindar, tapi tongkat itu berhasil melilit lengan kiri Ruby. Dengan mudahnya, Farast membanting Ruby ke tanah.

"Kau... pengguna elemen kayu?" tanya Ruby, masih setengah terkejut.

Jumat, 10 Oktober 2014

Chapter 17: Battle of honor

Matahari sudah tertidur di ufuk barat, di langit yang gelap ini bulan menggantikannya untuk menjadi penerang, walaupun bentuknya tidak bulat sempurna. Persiapan untuk pertarungan kehormatan sudah selesai dilakukan. Tiang-tiang obor dideretkan membentuk lingkaran besar di alun-alun desa, sebuah api unggun besar menyala di tengah-tengah alun-alun. Ruby dan pria tinggi besar yang mereka temui tadi kini berdiri berhadap-hadapan, mereka berdua memegang gelas yang dibuat dari tanah liat, cairan berwarna kuning memenuhinya.

Pria itu mengangkat gelasnya lalu berkata, "Aku, Niozo Faren, menginginkan hancurnya Klan Siren dengan kematian Ruby Siren. Sebagai harganya, aku mempertaruhkan nyawaku sendiri." setelah mengucapkannya, dia menenggak gelasnya hingga tandas.

Setelah itu, giliran Ruby yang mengangkat gelasnya, "Aku, Ruby Siren, menginginkan terputusnya hubunganku dengan intrik politik di Nameless Sea. Sebagai harganya, aku menawarkan diriku sebagai budak pemenang." Ruby pun meminum habis minumannya.

Setelah itu mereka berdua berbalik dan kembali ke grupnya masing-masing, Ruby menemui teman-temannya, dan Niozo ke para petarungnya.

"Biar kujelaskan aturan bertarungnya." ujar Ruby, "Pertarungannya adalah pertarungan 5 ronde, pihak yang memenangkan 3 pertarungan terlebih dahulu yang menang dan dia mendapatkan apa yang diinginkannya tadi. Pihak yang kalah harus membayar kekalahannya dengan apa yang tadi dijanjikannya. Siapa saja dari masing-masing pihak boleh maju, termasuk yang mengucapkan keinginannya, tapi diwakili 5 petarung lain pun boleh. Walaupun ada 5 ronde, tapi tiap petarung dari masing-masing pihak boleh bertarung lebih dari sekali kalau dia merasa mampu."

"Begitu? Cukup mudah dimengerti." ujar Ray.

"Oh iya, tidak ada wasit di pertarungan ini. Kalian dianggap kalah kalau menyerah atau tidak mampu melanjutkan pertarungan."

"Aku ada pertanyaan: apa yang terjadi pada kami kalau kita kalah?" tanya Edge.

"Tidak ada. Karena aku tidak menawarkan kalian sebagai bayaran. Kalian boleh pulang kalau kita kalah, aku tidak ingin ikut menyusahkan kalian lebih dari ini."

"Tenang saja, kita tidak akan kalah." ujar Area, Ruby tersenyum mendengarnya.

"Jadi? Siapa yang akan bertarung pertama?" Edge bertanya lagi.

"Biar aku saja, rasanya aku cocok menjadi pembuka." jawab Area sambil melangkah maju.

Di tengah Arena, tak jauh dari api unggun, Area berhadap-hadapan dengan lawannya, seorang pria kurus kering dengan baju yang sama tipisnya dengan dagingnya.

"Kau lawanku? Kau tidak terlihat seperti penyihir tangguh." ledek Area.

"Jangan khawatir, aku bisa mengubah pendapatmu soal itu."

Mendadak, tekanan sihir yang besar dan menekan meluap keluar dari laki-laki ceking itu. Tekanannya mengagetkan Edge, Ray, dan Ruby, walaupun Area terlihat tenang saja. Angin kecil berputar di kaki orang itu, lambat laun angin berputar semakin cepat. Tak lama kemudian, tubuhnya diselimuti cahaya keperakan.

"Shapeshift ya?" ujar Area pelan.

Ketika cahaya keperakan itu memudar, pria itu sudah berwujud ular perak raksasa, panjangnya dari kepala hingga ekor paling tidak enam meter. Ular itu mengangkat kepalanya tinggi di atas tanah, menatap rendah Area di depannya. Mulutnya menganga lebar memamerkan dua taringnya, lidah hitamnya menjilat-jilat udara.

"Masih mengira aku tidak terlihat seperti musuh yang tangguh?"

"Sebenarnya sih... iya." jawab Area santai.

Ular yang tersinggung itu marah, ia menerjang Area yang tampak kecil di hadapannya.

Chapter 16: Challenge

Matahari terik menyinari pohon kelapa, pasir pantai, dan laut. Debur ombak menghantam jinak bibir pantai, seekor kepiting berjalan menyusuri pantai. Di pantai tak berdosa itu, sesuatu bersinar di tepi hutan di pantai itu, sebuah cahaya biru menyala terang. Cahaya berbentuk lingkaran itu lama kelamaan memudar, dan ketika cahaya itu menghilang seluruhnya, empat orang berdiri di tempatnya. Ray, Ruby, Edge, dan Area.

"Di mana kita?" tanya Ray

Ruby melihat sekeliling sebelum menjawab, "Aku tahu tempat ini, pantai di salah satu pulau. Cukup dekat dengan pulau utama."

"Untunglah Area tidak membawa kita ke tempat yang salah." ujar Edge

"Maaf ya, tapi aku tidak pernah salah kalau teleportasi."

"Jadi sekarang kita ke mana?" tanya Ray lagi.

"Aku tahu harus ke mana, ikuti aku." ujar Ruby.

"Tunggu, apa tidak bisa dengan teleportasi saja?" cegat Edge

"Bukannya kau tidak percaya pada teleportasiku?"

"Tidak, lebih baik kita jalan kaki saja, Area tidak kenal daerah ini, kalau salah kita bisa tercebur di laut atau rawa."

"Kalau begitu lebih baik kita jalan saja" ujar Edge.

Ruby pun memimpin rombongan itu ke dalam hutan, melalui jalan setapak. Batang-batang pepohonan mengepung mereka dari kanan dan kiri, sementara dahan, cabang, dan ranting berusaha sekuat tenaga mereka untuk mencegah cahaya matahari menyentuh tanah.

Untuk kesekian kalinya, Ray mendapati dirinya berada di hutan, hingga kini dia merasa sudah terbiasa berada di tengah-tengah suasana seperti ini. Aroma pepohonan yang khas, serangga yang beterbangan, dan suara-suara dari balik rerumputan.

Mereka berbelok beberapa kali di jalan setapak itu, semakin lama semakin jauh ke dalam hutan. Di beberapa persimpangan, Ruby terdiam sebentar sebelum memilih jalan yang tepat, tapi di sebagian besar persimpangan yang lain, langkahnya penuh percaya diri.

"Sepertinya kita semakin ke tengah hutan? Apa kita menuju tempat yang tepat?" tanya Ray.

"Tujuan kita ada di balik hutan ini." jawab Ruby, "setelah keluar di sisi seberang hutan, kita bisa melanjutkan perjalanan hingga ke pulau utama. Kebetulan kita tidak jauh."

"Begitu... lalu berapa luas hutan ini?" sekarang Edge yang bertanya.

"Kira-kira satu hari perjalanan."

"Aku bisa lho men-teleport kalian."

"Terima kasih Area, tapi aku ingin berjalan, berjalan di hutan ini lagi membuatku mengingat kembali masa kecilku dulu."

dan setelah percakapan singkat itu, mereka semua melanjutkan perjalanan.


Chapter 15: The last of the clan

Suara langkah kaki yang cepat terdengar dari lantai bawah, semakin lama suara itu semakin jelas terdengar, hingga akhirnya suara langkah itu berwujud menjadi Edge yang terengah-engah karena berlari. Lengannya masih dibalut perban. Tatapan matanya bertemu dengan mata Ray dan Area yang menunggu di depan kamar Raisha.

"Dimana Lilly?" tanyanya akhirnya.

Area mengacungkan jempolnya ke kamar Raisha, "Masih dirawat, bersama dengan Ruby."

Edge berjalan mendekat, hingga ke depan daun pintu kamar Raisha.

"Jangan masuk dulu, sudah kubilang mereka masih dirawat."

Edge berhenti, lalu menatap Area, "Apa yang terjadi? Oh tidak, pertanyaanku seharusnya... kenapa kau tidak membawanya ke dokter, tapi kemari?"

"Sebenarnya sih aku berniat membawanya ke dokter, tapi karena panik dan terburu-buru aku jadi salah tujuan teleport. Untungnya Raisha bisa sihir penyembuhan."

"Tapi... seberapa hebat kemampuan penyembuhnya?" tanya Edge.

"Raisha.... bisa... menyembuhkan Kak Lilly.... pasti." ujar sebuah suara, yang ternyata adalah Elise. Ia berdiri di tepi tangga dengan nafas berat, tubuhnya sampai membungkuk, rambut panjangnya jatuh di sisi wajahnya.

"Ya, dia pasti bisa melakukannya. Kau tenang saja, Edge." ujar Ray. Edge tidak menjawab, tapi raut wajahnya mengatakan bahwa dia setuju.

Mereka berempat pun hanya bisa menunggu di koridor. Kesunyian malam terasa berlalu lebih lama ketika tidak ada satupun dari mereka yang berbicara.

Matahari baru saja memperlihatkan sinarnya di ufuk timur, ketika pintu kamar Raisha terbuka, si penghuni kamar melangkah keluar.

Edge yang pertama kali melemparkan pertanyaan, "Bagaimana Lilly?" pertanyaan yang disambut senyum kecil dari Raisha.

"Tenang saja Kak Edge, kondisi Kak Lilly sudah stabil, dia baik-baik saja. Kalau kalian mau menemuinya, kalian boleh masuk sekarang."

Edge tidak menunggu untuk diberi ijin dua kali.

Di dalam kamar itu, Lilly terbaring di atas kasur, sebagian tubuhnya yang tidak tertutup selimut tampak di perban, ia terkejut saat melihat Edge.

Ruby sendiri duduk di sebuah kursi, kalau dilihat sekilas, tidak tampak kalau dia baru saja terluka, entah apakah sihir penyembuh Raisha yang hebat atau ada perban di balik bajunya.

"Edge? Kenapa kau ada di sini?" tanya Lilly spontan.

"Elise yang memberitahuku." semua mata memandang Elise setelah mereka mendengar jawaban Edge.

"Em... anu... setelah tahu... Kak Lilly terluka... aku jadi ber..pikir untuk... memanggil Kak... Edge."

Lilly membalas kata-kata Elise dengan ekspresi wajah yang berkata 'dari mana kau bisa berpikir begitu?'

"Ruby? Kau tidak apa-apa?" kali ini Ray yang bertanya.

"Tadinya memang sakit, tapi sekarang aku sudah tidak-apa-apa kok. Sihir penyembuh Raisha memang hebat." jawabnya.

"Jadi Ruby, apa kau bisa ceritakan pada kami siapa orang-orang yang menyerangmu itu?" tanya Area.

Kamis, 02 Oktober 2014

Chapter 14: Princess Siren

Angin dingin meniup malam, membuat tubuh Ruby dan Lilly menggigil kedinginan. Lampu jalanan membantu bulan menerangi malam saat kedua gadis itu menyusuri jalan. Jalanan itu sepi. Hanya ada seekor kucing hitam di jalan itu selain mereka berdua. Saat mereka berdua berbelok di persimpangan jalan, Lilly berhenti, memaksa Ruby juga ikut berhenti.

"Ada apa Lilly?"

"Jangan kaget ya, kita sedang diikuti."

"Hah? Benarkah? Darimana kau tahu?"

"Aku mendengar suaranya, kamu mungkin tidak dengar tapi aku bisa mendengar hal-hal yang tidak didengar orang lain."

"Lalu bagaimana? Apa kita pergoki dia?"

"Iya, tapi jangan di sini, lebih baik kita pergi ke luar kota dulu baru menanyai dia."

"Kenapa? Kenapa tidak langsung saja kita tangkap orang itu sekarang?"

"Dia juga bisa sihir, aku bisa tahu. Lebih baik kita temui dia di tempat sepi."

"Baiklah kalau begitu."

dengan kesepakatan itu mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju gerbang kota, melewati gerbang itu sampai ke padang rumput di luar kota. Di tengah padang itu mereka berdua berhenti, Lilly berbalik badan dan berkata "Jadi? Ada apa kau membuntuti kami?"

seseorang berdiri beberapa meter di hadapannya, terbuka luas tak terlindungi perlindungan rumah & bangunan, wajahnya tertutup kerudung kusam berwarna coklat. Ia menyingkap kerudungnya sebelum menjawab pertanyaan Lilly.

"Aku tidak ada urusan denganmu, tapi dengan perempuan yang bersamamu." jawab orang itu, seorang pria dengan brewok tebal.

Ruby berbalik, menatap pria itu, "Denganku?" tanyanya.

Seringai pria itu melebar saat melihat wajah Ruby, "Aku kenal sekali wajah itu... Ruby Siren, putri dari Regasa Siren."

Ruby menahan nafas saat pria itu menyebutkan namanya dan ayahnya, tanpa sadar dia mundur dua langkah.

"Siren?" tanya Lilly, menyadari nama keluarga yang berbeda, tapi Ruby tidak menjawabnya.

"Kalau aku bisa menghabisimu di sini, suku kami akan bisa benar-benar berkuasa." ujar pria itu.

"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, tapi aku tidak akan membiarkanmu mendekati Ruby." ancam Lilly.

"Kau kira kau bisa mengalahkan kami?" setelah mengucapkannya, pria itu menempelkan dua jari ke keningnya, terdiam.

"Itu... telepati?"

mendadak sebuah cahaya biru bersinar di samping pria itu, setelah cahaya memudar, lima orang pria muncul di tempatnya. Perawakan mereka tidak jelas terlihat karena awan menghalangi usaha bulan untuk menerangi mereka.

"Jadi kau berhasil menemukannya, Garaf?" tanya salah satu dari mereka.

"Ya, Vern. Ia perempuan yang itu" jawab pria brewok itu sambil menuding Ruby.

Pria yang bernama Vern berjalan maju, "Selamat malam Putri Ruby Siren, saya Vern Randau. Anda mungkin tidak mengenal saya, tapi Garaf mengenal wajah anda dengan baik. Mohon maaf atas tindakan saya yang lancang ini, tapi saya akan memaksa anda untuk turun takhta... dengan membunuh anda."

Vern melemparkan dua bola api ke Ruby, Ruby dengan sigap membuat perisai untuk menahan serangan itu.

Lilly memainkan serulingnya, satu serangan suara membelah udara melesat ke Vern. Vern langsung membuat perisai, yang pecah saat menahan serangan Lilly, pria itu terhempas mundur karena tekanannya.

Seseorang berlari menghampiri Lilly, saat sudah cukup dekat, pria itu membuat pedang api di tangannya lalu menyabetkannya ke Lilly.

Lilly menunduk, tapi pria itu tidak berhenti di situ, dia menyerang Lilly dengan beberapa sabetan lagi. Lilly menghindari semuanya, saat rentetan serangan itu berhenti dan Lilly melompat mundur, dia menyadar bahunya tergores sedikit.

"Aku Marva, ingatlah nama itu dan kabarkan pada penghuni neraka siapa pembunuhmu." ujar pemilik pedang api itu.

Sebuah panah angin melesat cepat, Lilly tidak sempat menghindar, serangan itu kena telak dan meledak di sasarannya, menghempaskan angin ke segala arah. Lilly terpental dan terguling di tanah.

"Namaku Reiss, aku juga akan menjadi lawanmu." ujar pria lain jauh di belakang Marva, busur di tangannya tapi dia tidak membawa tabung anak panah.

Lilly bersusah payah untuk bangkit, menatap kedua lawannya kini, "Kelihatannya lawan-lawanku ini lumayan hebat juga."

Lilly memainkan sulingnya lagi, serangan suara menerjang Reiss, tapi sebelum serangan itu mencapai targetnya, seorang pria berdiri di antara keduanya. Pria itu mengibaskan tangan, serangan Lilly pun berbelok mengikuti kibasan tangannya.

"Apa? Bagaimana dia bisa membelokkan sihirku?"

"Namaku Trey, dan ini bisa menjawab pertanyaanmu." pria itu menodongkan telapak tangannya ke Lilly, walaupun jaraknya jauh tapi Lilly merasa ada sesuatu menghantam tubuhnya, dia pun terhempas ke belakang.

"Telekinesis?" tebaknya, "boleh juga dia."